
"Ku mohon beri aku waktu untuk menjelaskan kepadanya. Aku sangat menyayangi Aldho. Bahkan aku mencintainya lebih dari diriku sendiri" ucap Mama Grace saat menelepon seseorang.
Air matanya mulai berlinang membasahi pipinya. Wanita paruh baya itu terlihat begitu putus asa.
Cindy hanya bisa menatap mamanya dari belakang. Sebenarnya dia sangat penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh orang tuanya kenapa dia menyebut nama Aldho.
Mama Grace berbalik dan terkejut ketika melihat Cindy dibelakangnya.
"Mama, apa mama baik-baik saja?" tanya Cindy penasaran.
Mama Grace langsung menyeka air matanya dan mencoba untuk menutupi kesedihannya.
"Mama baik-baik saja sayang, tadi bibimu menelepon. Tahu sendiri bibimu terkadang suka ngeyel" ucap Mama Grace berbohong.
Cindy langsung memeluk mamanya seolah dia tahu perasaan mamanya sekarang.
"Ma, sudah malam. Mama istirahatlah pasti seharian ini capek kan" Cindy berusaha menenangkan mamanya.
Akhirnya Mama Grace beranjak ke kamarnya.
"Yah, wanita itu meneleponku lagi. Dia mengancam akan membawa Aldho. Mama tidak ingin kehilangan Aldho, dia anakku" ucap Mama Grace kembali berlinang air matanya.
"Sayang, sudah jangan takut. Aldho sudah dewasa pasti dia bisa berpikir secara rasional." Pak Tirta mencoba menenangkan istrinya.
Cindy kembali ke kamar dan mendapati Aldho yang sudah terlelap. Sepertinya dia memang kelelahan karena seharian ini jadwalnya penuh.
Cindy mendekati Aldho dan membelai rambutnya dengan pelan. Mengingat kejadian siang tadi saat Cindy menampar Aldho membuat gadis itu tidak berhenti menahan tawa.
Walaupun hanya mimpi namun entah kenapa rasanya seperti nyata. Dan menampar Aldho membuat Cindy merasakan sesuatu yang berbeda. Ada kepuasan tersendiri namun di satu sisi juga bersalah.
.
Pagi-pagi sekali Aldho dan Cindy membantu vendor menata dekorasi dan menyiapkan segala perlengkapan untuk acaranya.
Pak Tirta dan Mama Grace hanya bisa pasrah melihat kesibukan Anak-anaknya.
"Mau ayah bantu?"
"Tidak ayah, ayah nanti adalah tamunya jadi cukup diam lihat kami saja" tolak Cindy.
Apa boleh buat Pak Tirta hanya pasrah dengan apa yang di minta Cindy. Sedangkan di dalam Mama Grace terlihat diam dan termenung. Itu tidak seperti biasanya. Mama Grace adalah orang paling ceria di rumah dan paling antusias saat ada acara.
"Ayah, Mama kemana?" Aldho merasa mamanya nampak berbeda.
"Ada di dalam, sepertinya dia sedang kurang enak badan" Pak Tirta sengaja membuat alasan agar Aldho tidak curiga.
Cindy langsung teringat tentang kejadian semalam. Sepertinya Mamanya memang menyimpan sebuah masalah.
Akhirnya Cindy mendatangi mamanya di kamar dan berusaha menghiburnya.
"Ma, boleh Cindy masuk?" Cindy mengetuk pintu kamar mamanya yang setengah terbuka.
"Tentu sayang kemarilah" balas Mama Grace tersenyum.
"Mama baik-baik saja kan? Cindy sangat menyayangi mama. Jika terjadi sesuatu jangan segan bilang padaku ma"
"Tentu sayang, mama baik-baik saja"
.
Tak berselang lama petugas katering datang mengantarkan makanan dan juga penata dekorasi. Sepertinya Cindy dan Aldho benar-benar menyiapkan acara ini dengan begitu niat.
Semua persiapan sudah selesai. Cindy tengah merias diri dan memakai pakaian terbaiknya. Gaun putih yang dipakainya tampak begitu elegan. Serta Aldho juga memakai kemeja berwarna putih.
Satu persatu sahabat dari Cindy dan Aldho yang diundang telah datang dan semua orang kini berkumpul di taman menikmati musik dan makanan yang sudah disediakan.
Tiba-tiba semua orang nampak terkejut ketika melihat kedatangan Pak Theo.
"Bukankah itu ayahnya Roger? untuk apa dia kesini?" gumam Zara.
Begitupun dengan Mama Grace dan Pak Tirta yang langsung menghampiri Cindy khawatir jika putrinya akan kembali bersedih.
Cindy menyambut Pak Theo dan mempersilahkan untuk bergabung dengan tamu yang lainnya.
"Ku kira om tidak akan datang" ucap Cindy.
"Aku pasti datang sayang, mana mungkin aku melewatkan undangan putriku" Pak Theo mengusap lembut rambut Cindy sembari memberikan sebuah buket bunga.
Sikap Cindy menuai pujian dari banyak orang termasuk kedua orang tuanya.
"Cindy, hatimu benar-benar seluas samudera. Mama bangga kepadamu sayang. Bagaimana kamu bisa melakukan semua ini?"
"Cindy hanya ingin berdamai dengan keadaan. Bagaimanapun Om Theo adalah kakek dari bayi ini juga" ucap Cindy sembari mengelus perutnya.
Tiba acara pengumuman jenis kelamin bayi, Cindy dan Aldho menyiapkan sebuah kotak besar dengan pita berwarna putih.
Pembawa Acara mempersilahkan Aldho dan Cindy membuka perlahan kotak itu. Dalam aba-aba hitungan dari para tamu akhirnya mereka berhasil membuka kotak dan keluarlah banyak balon berwarna pink bermunculan dari dalam kotak.
"IT'S A GIRL ..." teriak pembawa acara ditambah suara tepuk tangan riuh dari para tamu.
Aldho langsung memeluk dan mencium Cindy dengan penuh Cinta. Tak ada keraguan lagi dia menunjukkan kemesraan di depan semua orang termasuk kedua orang tuanya. Sontak hal itu membuat semua orang langsung bersorak sorai.
"Wah... Mereka benar-benar membuatku ingin cepat menikah" gumam Tika.
"Memangnya ada yang mau menikahimu?" ledek Zara.
Mulai lagi perdebatan kedua makhluk ini membuat Windy selalu jadi penengah.
Acara dilanjutkan dengan sesi foto. Masing-masing berfoto untuk mengabadikan momen sembari mengucapkan selamat kepada Cindy.
"Aku yakin dia akan secantik ibunya. Selamat ya Cindy semoga kamu dan bayimu sehat selalu" ucap Windy sembari mengelus perut Cindy.
"Terimakasih Windy, aku sangat senang kamu jadi sahabatku" Mereka saling berpelukan.
Aldho sedang berbincang dengan teman-temannya sembari sesekali mencuri pandang ke arah Cindy. Wanita itu nampak begitu cantik di mata Aldho hingga membuatnya jadi tidak fokus dengan teman-temannya. Sepertinya dia memang sedang dimabuk cinta.
"Aldho, sepertinya kamu harus cepat mengakhiri pesta ini." ucap salah satu temannya.
"Kenapa?" tanya Aldho heran.
"Dari tadi kamu terus memandangi Cindy. Cepat selesaikan pestanya dan hampiri istrimu. Kamu benar-benar sudah dimabuk cinta." tentu saja hal itu mengundang gelak tawa dari teman-temannya.
Aldho hanya tersenyum malu-malu karena kelakuannya dipergoki oleh teman-temannya.
Saat pesta hampir selesai tiba-tiba seorang wanita paruh baya datang ke acara tersebut. Baik Aldho dan Cindy tidak mengenali orang tersebut.
"Mungkin saja teman Mama atau ayah" gumam Cindy.
Wanita itu berjalan menghampiri kedua orang tua Cindy. "Halo Grace, Tirta" sapa wanita itu.
Mama Grace menoleh ke arah seorang wanita yang memanggilnya. Dia begitu terkejut hingga gelas yang dia pegang tak sengaja langsung jatuh.
"Ke-kenapa bisa... kamu kesini..." Mama Grace seperti sedang ketakutan. Dengan segera Pak Tirta menggenggam erat tangan istrinya.
"Sudah ku bilang. Kita bicarakan dulu secara pribadi. Jangan terlihat anak-anak." Pak Tirta nampak memasang wajah tegang.
Aldho dan Cindy yang penasaran ikut menghampiri wanita itu.
"Maaf, selamat siang. Ada yang bisa kami bantu?" tanya Cindy.
"Iya sayang, Aku kesini untuk menemui putraku. Aldho"
.
.
.
lanjuuttt....