
Cindy terus mencium Aldho dengan kasar kemudian menghimpitnya hingga bersandar di dinding sebelum akhirnya mendorong tubuh kekar Aldho ke atas ranjang.
Gadis polos dan pemalu itu berubah menjadi wanita yang cukup agresif. Rasa cemburunya yang membuat Cindy ingin memiliki Aldho seutuhnya.
"Aku ingin malam ini jadi malam yang tak terlupakan untuk kita" Cindy mulai membuka jas Aldho lalu menarik kancing kemejanya hingga terekspos dada bidang Aldho.
"Cindy kamu yakin mau melakukannya?" Aldho ingin memastikan betul apakah Cindy benar-benar mau melakukannya. Dia tidak ingin berhenti di tengah jalan dan berakhir pelepasan di toilet.
Cindy mengangguk. Wajahnya sudah memerah.
"Ajari aku menyenangkanmu sayang" suara Cindy mulai terdengar parau.
Dengan senang hati Aldho melakukannya. Namun dia juga harus mengerti batasan-batasannya mengingat kondisi Cindy yang masih hamil trimester dua.
Aldho mulai melucuti pakaiannya dan membuangnya ke sembarang tempat. Tinggal menyisakan satu kain yang melekat di tubuhnya bagian bawah.
Cindy yang masih memakai gaun lengkap kini ikut raib dilucuti oleh Aldho hingga tak menyisakan sehelai pakaianpun.
Tubuh polos Cindy kini bukan hanya angan-angan bagi Aldho. Terlihat Cindy yang sedikit gemetar membuat Aldho ingin memperlakukan sebaik mungkin hingga dia bisa melupakan traumanya.
Perlahan Aldho mengangkat dan menidurkan Cindy di atas ranjang. Cindy yang masih malu-malu menutupi beberapa bagian tubuhnya dengan tangan.
"Tubuhku jelek" gumam Cindy.
"Tidak sayang, kamu sangat cantik dan sexy" melihat perut Cindy yang membuncit membuat Aldho semakin bergairah. Gadis itu justru terlihat begitu sexy.
Aldho mulai menciumi dengan seksama setiap jengkal tubuh Cindy. Namun dia tidak menyentuh dua benda kenyal di tubuh Cindy karena hal itu dilarang saat seorang sedang hamil.
Menyentuh kulit Cindy dan merasakan aroma tubuhnya saja sudah bagaikan candu untuk Aldho.
Perlahan Aldho melepaskan pakaian terakhir yang tersisa. Hal itu langsung membuat Cindy terkejut.
Seorang pria yang tumbuh bersamanya sejak kecil kini telah berubah menjadi suaminya. Perasaan canggung mulai mempengaruhi Cindy.
Tiba-tiba Aldho meraih salah satu tangan Cindy dan mengarahkannya ke bagian tubuh Aldho yang sangat ingin disentuhnya.
"Touch me baby..." bisik Aldho yang membuat Cindy semakin meremang.
Cindy hanya bisa menuruti permintaan Aldho karena memang dia sama sekali belum berpengalaman dalam hal ini.
Nafsu Aldho sudah di ubun-ubun membuat dirinya semakin gencar membuat Cindy meremang. Tanpa sadar Cindy mengeluarkan suara yang begitu merdu membuat Aldho semakin semangat memuaskan Cindy.
"Cindy, bolehkah aku melakukannya?" Aldho meminta ijin dulu kepada Cindy sebelum penyatuannya. Dia tidak ingin Cindy menahan beban ketakutan lagi.
"i will do it slowly baby, so enjoy" Aldho membisikkan kata-kata yang membuat Cindy semakin bernafsu.
Pelan tapi pasti Aldho mulai memacu dirinya. Cindy merasakan sensasi luar biasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Bayang-bayang kesakitan yang dulu ia rasakan dengan Roger kini telah sirna. Ternyata melakukannya dengan Aldho benar-benar jauh dari dugaannya.
Pria itu berhasil membawa Cindy terbang ke awang-awang. Menembus batas gelora yang begitu nikmat hingga Cindy tak mampu mengungkapkan dengan kata-kata. Hanya ******* dan racauan yang keluar dari mulut indahnya.
"Call me my name Baby, my name"
Mendengar hal itu membuat Cindy semakin bersemangat.
"Ahh... Aldho.." ucap Cindy di antara desahannya.
Sebuah sensasi tersendiri saat Cindy memanggil namanya disaat menggelora seperti ini. Aldho merasa Cindy adalah satau-satunya miliknya yang begitu berharga.
Berbagai posisi yang sekiranya membuat Cindy terasa nyaman sudah dilakukan Aldho. Sekeras apapun Cindy menjerit tidak akan terdengar oleh orang lain.
Ternyata ini yang Cindy inginkan. Dia benar-benar menginginkan privasi dengan tidak melakukan di rumahnya. Dia ingin bebas mengekspresikan dirinya tanpa batas.
Cindy terkejut ketika Aldho melepaskan dirinya. Merasa ada sesuatu yang hilang.
"Kenapa di lepas?" protes Cindy.
"Ini tidak baik untuk janinmu sayang" bisik Aldho lirih.
"Terima kasih sayang" Cindy mengecup bibir Aldho dengan penuh cinta.
"Ini belum berakhir sayang, malam ini akan jadi malam yang panjang untuk kita berdua" Aldho tidak akan membiarkan Cindy terlelap malam ini. Dia harus bekerja keras atas apa yang dinantikan selama ini.
Entah melakukan berapa kali membuat Cindy tidak lelah sama sekali. Karena Aldho memang melakukannya dengan sangat baik.
Aldho seperti mendapatkan kekuatan super malam ini. Kemenangan atas apa yang dinantikannya selama ini akhirnya terwujud.
Sementara di rumah Mama Grace terbangun dari tidurnya. Dia berjalan menuju dapur untuk mengambil minum namun saat melihat ke arah garasi tidak ada mobil Aldho. Padahal sudah pukul 02.00 dini hari tetapi mereka berdua belum pulang.
Akhirnya Mama Grace naik lantai atas ke kamar Cindy untuk memastikan. Ternyata benar Aldho dan Cindy belum pulang. Hal itu membuat Mama Grace menjadi cemas. Jangan-jangan terjadi sesuatu dengan mereka.
Mama Grace buru-buru membangunkan Pak Tirta untuk menghubungi mereka.
"Ayah, anak-anak kenapa belum pulang sampai sekarang? Jangan-jangan terjadi sesuatu dengan mereka"
Pak Tirta mengerjapkan matanya dengan malas. "Mungkin mereka menginap di suatu tempat ma,"
"Tapi kenapa mereka tidak mengabari kita?"
Akhirnya Mama Grace mencoba untuk menghubungi Cindy dan Aldho. Berkali-kali menelepon mereka tidak ada jawaban sama sekali membuat Mama Grace semakin khawatir.
"Mungkin mereka sudah tidur ma, kita tunggu besok pagi saja" ucap Pak Tirta malas.
.
Di tempat lain Aldho dan Cindy masih melanjutkan olah raganya. Kekuatan super Aldho benar-benar membuat Cindy terus terjaga. Aldho memimpin sepanjang malam ini dan Cindy sebagai penerima hanya pasrah dengan apa yang Aldho perbuat.
Entah berapa kali pelepasan Aldho dan jeritan Cindy sudah tak terhitung jumlahnya. Suara itu bahkan menjadi candu bagi Aldho yang membuatnya ingin terus dan terus mendengar dari mulut Cindy. Dering ponsel keduanya tak terdengar lagi.
Hingga waktu menunjukkan pukul 03.10 dini hari barulah mereka menyudahi permainannya. Rasa kantuk dan tenaga yang terkuras habis membuat mereka akhirnya terlelap.
Sinar mentari menyeruak lewat dinding-dinding kaca ruangan itu membuat Cindy mulai membuka matanya dan melihat Aldho yang masih terlelap. Dia memperhatikan dengan seksama wajah tampan Aldho lalu mengecup keningnya membuat Aldho ikut terbangun.
"Selamat pagi sayang" Ucap Aldho saat memandang Cindy.
"Selamat pagi, apa Kak Aldho masih mengantuk?" tanya Cindy.
"Tentu sayang, ayo kita lanjutkan tidur lagi" Aldho merengkuh tubuh polos Cindy dan menjatuhkan ke dalam dekapannya.
"Apa Kak Aldho tidak ke rumah sakit?"
"Tidak, aku cuti hari ini sayang" ucap Aldho malas lalu melanjutkan tidurnya lagi.
.
.
Cindy mulai nackal yah teman-teman... yuk jangan sampai ketinggalan kisahnya. Jangan lupa dukungannya teman-teman semoga menikmati karyaku ini.
lanjut bab selanjutnya..