Baby Blues

Baby Blues
bab 74 enam tahun



Hubungan Cindy dan Rebecca kini terjalin semakin baik. Banyak kecocokan diantara mereka sehingga pertemanan mereka berubah menjadi persahabatan.


Rebecca bahkan tak sungkan menceritakan keluh kesahnya kepada Cindy tentang perasaannya.


Cindy terus mendukung Rebecca dan memberi saran agar Rebecca pantang menyerah.


Hingga bertahun-tahun mereka saling mendukung bak saudara. Namun Cindy enggan menceritakan banyak hal tentang masa lalunya karena hal itu hanya akan mengingatkannya kepada Aldho.


Rebecca pula yang selalu menyemangati Cindy hingga dia menjadi seorang pengusaha dan desainer pakaian sukses.


...enam tahun kemudian........


"Selina bangun sayang, ayo siap-siap ke sekolah" Mama Grace memanggil cucu semata wayangnya itu namun tak sedikitpun dia bergeming.


gadis kecil itu masih tidur tengkurap dengan pulasnya di atas ranjang bersama buku-buku sketsa serta pensil warna yang berserakan.


Mama Grace mencoba membangunkan dengan menepuk-nepuk bahunya namun sama sekali tak ada perubahan.


"Selina sudah bangun ma?" Aldho menghampiri ke kamar. Mama Grace hanya menggelengkan kepala sembari mengemasi buku-buku yang berceceran di lantai.


Aldho naik ke ranjang dan langsung menggelitiki putrinya.


"Akh.. Iya aku bangun Papa.. " Seketika Selina langsung tertawa karena Aldho tahu Selina pura-pura tidur agar dia yang membangunkannya.


"Papa Tahu kamu pura-pura tidur kan? Kenapa tidak mau bangun jika nenek yang datang?" Aldho duduk disamping Selina.


"Karena aku mau Papa yang membangunkanku dan digendong Papa" Selina langsung naik ke punggung Aldho.


"Sayang kau sudah besar, sudah SD masih minta gendong" protes Aldho.


"Biar saja, Pokoknya aku mau gendong sampai Papa tidak kuat menggendongku" Selina terus bergelayut manja di punggung Aldho.


Mama Grace memperhatikan kedekatan ayah dan anak itu. Aldho memang sangat menyayangi Selina dan memanjakannya sehingga Selina tak pernah kekurangan perhatian dari Papanya.


"Benar-benar persis seperti Cindy" gumam Mama Grace dalam hati. Sejenak dia mengingat tentang putrinya yang entah kemana sekarang.


Tak terasa air mata mulai terkumpul di sudut matanya. Buru-buru Mama Grace mengusap air matanya dan meninggalkan ruangan itu.


Selina sudah bersiap untuk berangkat sekolah. Hari ini Aldho sedang libur sehingga dia bisa menemani Selina sepenuhnya. Bisa dikatakan hari libur Aldho adalah hari milik Selina.



Selina tumbuh menjadi sosok anak gadis yang berparas cantik. Wajahnya yang mirip sekali dengan Cindy hanya kedua matanya mirip dengan Roger. Perpaduan sempurna ras kedua orangtuanya membuat setiap insan yang memandangnya pasti selalu terkagum akan keelokan wajahnya.


"Pa jangan lupa nanti pulang sekolah belikan aku baju baru untuk kencan besok malam ya, kan Papa sudah janji" obrolan Selina dan Aldho sebelum turun dari mobil.


"Tentu sayangku, sampai jumpa nanti. Sekolah yang rajin" Aldho mengecup kening putrinya sebelum pergi ke ruang kelas.


Pesona Aldho sebagai orang tua tunggal jelas menarik perhatian banyak orang terutama kaum hawa. Bagaimana tidak paras Aldho yang semakin tampan mempesona meski sudah hampir kepala empat serta kiprahnya sebagai dokter dan dosen pun tentu menjadi idaman para wanita.


Bahkan beberapa guru di sekolah Selina diam-diam mulai mencari perhatian kepada Aldho termasuk guru kelas Selina. Dia selalu menanyakan tentang Aldho kepada Selina.


"Selina, ini akhir pekan besok apa kegiatanmu dan Papamu di rumah sayang?" tanya Bu Nova, guru kelas Selina.


"Akhir pekan ini saya akan pergi kencan dengan Papa Bu" jawab Selina apa adanya.


Bu Nova terkejut ternyata Aldho sudah memiliki kekasih bahkan mengajak putrinya turut serta pergi berkencan. Pupus sudah harapannya mendekati Aldho.


Jam belajar Selina sudah usai dan kini waktunya pulang sekolah. Aldho sudah bersiap di depan sekolah untuk menjemput putrinya.


Aldho segera tancap gas menuju mall bersama Selina untuk berbelanja pakaian.


Selina langsung memilih beberapa pakaian dan dibantu Aldho. Dia begitu antusias.


"Aku harus terlihat cantik saat kencan besok malam." ujar Selina sembari mencoba pakaian satu persatu.


Selesai berbelanja pakaian mereka berjalan melihat-lihat seisi mall.


Perhatian Aldho tertuju pada sebuah gerai pakaian bermerk premium bernama Alsey Milano by Julietta. Sebuah brand pakaian berlabel internasional yang memiliki reputasi sejajar dengan merk-merk seperti Gucci, versace, Prada serta merk dagang yang lainnya.


"Kau luar biasa Cindy" gumam Aldho dalam hati.


Selina memperhatikan Papanya yang tersenyum sendiri melihat pakaian-pakaian itu. Kemudian dia segera menarik Papanya memasuki gerai itu.


"Papa juga harus beli pakaian untuk kencan. Ayo pa disitu sangat bagus-bagus"


Mau tidak mau Aldho akhirnya menuruti putrinya dan mencoba beberapa pakaian yang dipilihnya.



"bagaimana sayang? Ini cocok untuk Papa?" Aldho mengenakan setelan jas dan kemeja serba hitam.


Selina langsung mengacungkan kedua jempolnya sambil tersenyum lebar.


"Luar biasa Papa sangat tampan" ungkap Selina takjub. Aldho langsung membungkus pakaian itu dan membayarnya.


.


Sore ini Selina sedang bermain dengan kakek dan neneknya. Dia menunjukkan baju-baju yang dibelikan oleh Aldho.


Sementara Aldho sedang duduk di kamarnya memperhatikan pakaian yang dia beli siang tadi dengan Selina. Pakaian itu adalah hasil rancangan Cindy. Hanya dengan ini Aldho bisa merasakan keberadaan Cindy.


Enam tahun berlalu sejak Cindy pergi meninggalkan rumah tak menyurutkan perasaan Aldho. Meskipun dia tidak yakin apakah Cindy akan kembali kepadanya namun Aldho akan tetap mencintainya. Baginya cinta tak harus memiliki.


Saat merindukannya dia cukup melihat Selina. Karena putri kecilnya itu benar-benar mirip dengan Cindy.


"Papa, ayo kita makan malam" tiba-tiba Selina membuyarkan lamunan Aldho.


Aldho menuruti Selina dan pergi ke ruang makan namun dia dibuat terkejut dengan kehadiran Renata di meja makan.


"Hai Aldho, selamat sore" sapa Renata.


"Renata, kenapa kamu disini?" balas Aldho.


"Kebetulan Renata lewat sini dan mampir, sekalian saja mama ajak makan malam bersama" balas Mama Grace.


Aldho sedikit terganggu terutama saat Renata duduk di kursi tempat Cindy biasa duduk. Meski sudah bertahun-tahun lamanya namun ingatan tentang Cindy masih terus membekas di benaknya.


Selesai makan Renata langsung menemani Selina bermain. Aldho hanya mengamatinya dari kejauhan. Dia membayangkan jika Renata adalah Cindy mungkin kebahagiaannya akan lengkap.


Tiba-tiba Renata menghampiri Aldho. "Aldho, kedatanganku kesini sebenarnya ingin bertemu denganmu. Aku sangat merindukanmu" ungkap Renata.


"Bukankah kemarin kita bertemu di rumah sakit?" balas Aldho cuek.


Kali ini Renata rak ingin menyia-nyiakan kesempatannya.


"Aldho, sampai kapan kamu seperti ini? Tolong beri aku kesempatan Al, aku akan memberikan semua cintaku untukmu bahkan aku akan menganggap Selina seperti anakku sendiri. Bukalah perasaanmu Aldho. Selina butuh sosok ibu dan aku siap"


Aldho hanya tersenyum getir. Dia menghela nafas panjang.


"Renata, maafkan aku. Tapi perasaanku tidak bisa dipaksakan. Aku sudah nyaman seperti ini dan untuk Selina, aku bisa memberikan kebahagiaan melebihi seorang ibu. Ibu Selina hanyalah satu yaitu Cindy" ungkap Aldho.


Renata yang terlanjur kesal terhadap Aldho langsung berpamitan untuk pulang. Sudah kesekian kali Renata berusaha meyakinkan Aldho namun hal itu sia-sia.


Aldho tak pernah bisa membuka hatinya untuk orang lain. Yang ada di pikirannya hanyalah Cindy.


.


bersambung....