
Tubuh Cindy terasa lemas seketika saat menerima kabar bahwa Aldho mengalami kecelakaan. Padahal kemarin mereka menghabiskan waktu bersama dan sangat bahagia. Pagi ini pun masih bersama.
Mama Grace mendekati Cindy yang duduk terkulai di sofa. Dia merasa ada sesuatu dengan putrinya.
"Cindy, ada apa sayang?"
Cindy menatap mamanya dengan mata berkaca-kaca."Ma.. Kak Aldho.. Kak Aldho kecelakaan"
"Apa? yang benar kamu Cindy? Lantas dimana sekarang?" Mama Grace ikut terkejut.
"Di rumah sakit. Aku harus kesana sekarang, Ma aku titip Selina ya" Cindy tampak begitu panik.
"Baiklah kamu pergi bersama ayahmu. Mama akan jaga Selina"
Cindy langsung bergegas pergi ke rumah sakit bersama ayahnya. Mama Grace tidak ikut karena harus menjaga Selina. Dia terlalu kecil untuk diajak bepergian.
Di sepanjang perjalanan Cindy masih panik. Pak Tirta berusaha menenangkan Cindy.
" Cindy, sudah jangan berpikir macam-macam. Doakan saja semoga suamimu baik-baik saja"
Cindy hanya mengangguk pelan. Dia tak sabar segera menemui Aldho.
Sampai di rumah sakit Cindy segera berlari ke Instalasi Gawat Darurat untuk mencari Aldho.
"Selamat siang nyonya Cindy" sapa salah satu perawat yang berjaga di IGD dan kebetulan kenal dengan Cindy.
"Di-dimana Kak Aldho?" tanya Cindy buru-buru.
Perawat menunjuk salah satu bilik tempat Aldho di rawat. Tanpa menunggu lama Cindy langsung menghampiri bilik tersebut.
Dia membuka tirai penutup bilik dan mendapati Aldho yang sedang diobati lukanya oleh salah satu perawat.
"Cindy?" Ucap Aldho saat melihat Cindy di depannya.
"Kak Aldho..." Cindy langsung berhambur ke pelukan Aldho. Dia menangis terisak.
"Hey, aku tidak apa-apa sayang. Hanya luka sedikit" ungkap Aldho.
Bukannya berhenti justru tangis Cindy semakin menjadi hingga membuat beberapa orang disekitarnya heran.
Pak Tirta segera menghampiri Aldho dan Cindy.
"Aldho bagaimana keadaanmu?"
"Aku baik-baik saja Ayah. Hanya lecet-lecet sedikit dan kakiku keseleo." balas Aldho.
"Kenapa bisa begini Al, apa yang terjadi?" tanya Pak Tirta lagi.
"Tadi saat mau perjalanan pulang Aldho menabrak pembatas jalan depan rumah sakit. Mungkin karena kecapean dan mengantuk yah. Aldho semalam kurang tidur dan pagi tadi mendadak ada operasi darurat. Ayah jangan beritahu Papa dan ibu dulu ya. Aku tidak mau nanti suasana semakin heboh" ucap Aldho sambil melirik Cindy yang masih terisak di pelukannya.
Pak Tirta hanya tersenyum dan mengangguk selanjutnya memberi ruang untuk Aldho dan Cindy mengobrol berdua.
"Sayang, udah dong.. Kan aku yang celaka kenapa kamu yang menangis?" Aldho tersenyum geli melihat tingkah Cindy bak anak kecil.
"Aku takut, aku takut Kak Aldho kenapa-napa"
Melihat Aldho yang duduk lemas di atas ranjang dengan beberapa luka lecet di pelipis dan beberapa jari tangannya sudah membuat Cindy ketakutan.
Memang sejak kecil dia begitu dimanjakan oleh keluarganya terutama Aldho sehingga dia tidak bisa menerima sebuah luka sedikitpun.
"Aku baik-baik saja Cindy. Mungkin aku hanya mengantuk karena semalam tidak banyak tidur" ungkap Aldho berusaha menenangkan Cindy.
Tiba-tiba Cindy justru memukul dada Aldho.
"Aakkhh.. Kenapa memukulku?" protes Aldho.
"Salah sendiri. Siapa suruh main semalaman sampe pagi begitu. Kan akhirnya kecapean" omel Cindy.
Aldho terkekeh melihat ekspresi Cindy. "Ayolah sayang, aku sudah berpuasa selama tiga bulan sejak kamu hamil besar hingga pasca melahirkan dan ini momen yang paling aku tunggu. Lagian siapa yang tahan melihat tubuhmu yang begitu seksi dan.." belum sempat Aldho meneruskan ucapannya Cindy langsung membungkam mulut itu dengan tangannya dan benar saja saat bersamaan perawat datang menghampiri mereka.
"Emm.. Maaf, ini barang-barang Pak Dokter yang tadi tertinggal" ucap perawat itu sedikit kikuk saat melihat tingkah sepasang suami istri yang nampak aneh. Bagaimana tidak, Aldho yang terluka justru disumpal mulutnya dengan telapak tangan Cindy.
Perawat itu pergi meninggalkan bilik dengan menggelengkan kepala heran.
"Habisnya Kak Aldho cerita begituan gak kecilin suaranya. Kan malu didengar banyak orang" ujar Cindy dengan wajah cemberut.
Aldho hanya tersenyum geli. Melihat wajah istrinya yang merona.
Pak Tirta selesai mengobrol dengan beberapa rekan lama sesama dokternya di rumah sakit itu kemudian menghampiri Cindy dan Aldho untuk pulang.
Di jalan Pak Tirta mengobrol dengan Aldho dan Cindy yang duduk sendirian di bangku belakang sesekali menimpali obrolan mereka.
"Ayah sudah bawa ke bengkel mobil kamu." ucap Pak Tirta sambil menyetir.
"Terimakasih ayah, mungkin aku akan kembali kerja setelah kakiku sembuh dan pakai mobil dari Papa Theo" balas Aldho mengingat kerusakan mobilnya yang cukup parah.
"Oh iya Al, lain kali kamu harus jaga istirahat kamu, lagian kamu kenapa semalaman tidak tidur?" ujar Pak Tirta.
"Ayah tidak tahu saja, kan semalam aku menginap di resort ya pasti lagi bikin adik lah buat Sel.."
"EEHHMMM..."Cindy langsung berdehem untuk memotong ucapan Aldho.
Pak Tirta dan Aldho langsung menoleh ke belakang sejenak dan melihat ekspresi muram Cindy dengan sorot matanya yang tajam.
"Ayah, sepertinya ada yang tidak biasa dengan obrolan lelaki. Jadi kita sambung nanti saja" bisik Aldho yang masih disorot Cindy.
Pak Tirta hanya terkekeh sambil melanjutkan menyetirnya.
.
Roger semakin rajin mengunjungi Rebecca di rumah sakit. Setiap kali ada waktu luang dia tak segan langsung menemui Rebecca.
Mama Roger nampak senang saat melihat perubahan putranya itu. Karena sejak dia datang ke Italia Roger tak pernah terlihat senang. Bahkan tak pernah memperhatikan gadis manapun. Hanya Cindy yang ada di pikirannya.
Setidaknya dengan kejadian ini Roger sedikit melupakan Cindy.
"Apa kamu tidak bosan di kamar ini terus?" tanya Roger sembari menyuapi Rebecca makan.
"Ya mau bagaimana lagi, aku belum kuat untuk bangkit dari ranjang lama-lama" balas Rebecca.
"Mau cari udara segar di taman bersamaku?" tawar Roger yang langsung dibalas anggukan oleh Rebecca.
Roger segera mengambil kursi roda dan selimut untuk melindungi tubuh Rebecca dari hawa dingin.
Mereka mulai pergi meninggalkan ruangan dan Roger mendorong kursi roda yang ditumpangi Rebecca.
"Bagaimana lebih baik?" tanya Roger memastikan.
"Iya, udaranya sangat sejuk. Aku suka ini" balas Rebecca.
Roger duduk di sebuah bangku sementara Rebecca yang masih berada di kursi roda sedang mengamati pemandangan taman di rumah sakit itu.
Roger membuka ponsel dan melihat postingan foto di sosial media ayahnya.
"Selamat ulang tahun putriku, kebahagiaanku. Semoga sehat selalu dan dilimpahi kehidupan yang harmonis" tulis Pak Theo dalam unggahan tersebut. Nampak beberapa foto kebersamaan Pak Theo, Cindy dan keluarganya. Satu foto menjadi perhatian Roger adalah saat Cindy sedang menggendong Selina serta di peluk oleh Aldho dari belakang.
Roger menatap nanar foto itu dan tak terasa air matanya menetes keluar dari persembunyiannya.
"Roger, ada apa?" tanya Rebecca yang heran saat melihat kesedihan Roger.
"A-aku..."
biar gak lupa sama tampangnya bapak kandung Selina yaaa...
.
.
.
......................