Baby Blues

Baby Blues
bab 62 cemburu lagi



Cindy menatap Aldho dengan begitu tajam. Hal itu membuat Aldho menjadi resah.


"Sayang, aku bisa jelaskan. Aku tadi memang makan malam bersama teman-teman alumni tapi aku tidak tahu bahwa Renata juga datang" ujar Aldho.


"Tapi kenapa kalian duduk sedekat itu?" protes Cindy.


"Tadi dia tiba-tiba menghampiriku, kami hanya mengobrol sebentar dia tanya kabarku. Itu saja tidak lebih" Aldho coba menjelaskan.


Cindy hanya diam kemudian dia pergi berbaring di ranjang dan menutupi wajahnya dengan bantal seolah tidak mempedulikan Aldho.


"Sayang, jangan begitu dong. Sumpah aku tidak pernah berhubungan dengan Renata lagi. Kamu bisa cek ponselku jika tidak percaya" Aldho mencoba untuk membuat Cindy mengerti.


Cindy memang sedikit posesif jika menyangkut Renata. Perbedaan usia antara Cindy dan Aldho yang terpaut sepuluh tahun memang kerap membuat Cindy merasa kurang percaya diri dan menganggap dirinya kurang menarik di mata Aldho.


Aldho berbaring di sebelah Cindy dan mencoba memeluknya dari belakang. Dia mendengar isak tangis lirih dari Cindy dan langsung saja menarik tubuh istrinya.


"Kenapa menangis Cindy?" tanya Aldho.


"A-aku... Aku takut" ucap Cindy sambil terisak.


"Aku takut Kak Aldho bosan lalu meninggalkanku" Cindy menundukkan wajahnya.


"Cindy lihatlah aku" pinta Aldho.


Cindy tetap tak bergeming. Dia masih terus terisak. Aldho meraih dagu Cindy dan mengangkat wajahnya hingga sejajar dengannya.


" Cindy, apa terlihat di mataku bahwa aku bosan denganmu? Kau adalah satu-satunya cinta di hatiku dan tidak ada yang lain. Aku jatuh cinta kepadamu dan tidak sedikitpun terpikirkan untuk berpaling darimu." Aldho menatap Cindy dengan serius.


"Maafkan aku" ucap Cindy lirih.


Tanpa Menunggu lama Aldho langsung menarik tubuh Cindy ke pelukannya dan menciumnya dengan lembut. Cindy membalas ciuman itu dan sekarang dia beranjak ke pangkuan Aldho. Dipeluknya Aldho dengan erat.


"Kenapa badanmu besar sekali? Tanganku tidak muat memeluknya" protes Cindy.


Aldho terkekeh kemudian semakin merapatkan tubuh Cindy ke dalam pelukannya hingga gadis itu seolah tenggelam dalam dekapan Aldho.


"Karena aku rajin ke Gym dan masa ototku bertambah. Mungkin juga tubuhmu yang terlalu kecil" goda Aldho.


Tentu saja Cindy kembali meradang. Dia langsung melepaskan diri dari Aldho.


"oh begitu, jadi kak Aldho maksud aku kurang menarik?" protes Cindy.


"Siapa bilang? Aku tidak mengatakan itu. Justru aku sangat suka gadis mungil sepertimu. Benar-benar menggemaskan" Aldho mencubit kedua pipi Cindy dengan gemas.


Mereka terus bergurau layaknya anak kecil dan tak menghiraukan jika saat ini tengah malam.


Sedangkan di tempat lain Renata masih memikirkan tentang Aldho. Dia tidak menyangka bahwa Aldho adalah anak dari Pak Theo yang terkenal sebagai konglomerat kaya raya di sini.


"Bertemu denganmu dan mengobrol benar-benar mengobati kerinduanku kepadamu Aldho" gumam Renata sembari menatap foto Aldho di layar ponselnya.


Dahulu Renata sempat hampir dijodohkan dengan Roger oleh orang tuanya. Saat itu dia menolak keras dan hanya mau menikah dengan Aldho.


Keluarga Renata yang juga seorang konglomerat jelas menganggap Aldho kurang cocok untuknya karena keluarga Pak Tirta dianggap kurang kaya. Sehingga mereka terus berupaya memisahkan Renata dan Aldho.


" Jika saja Aldho tidak bersama Cindy pasti aku akan mengupayakan orang tuaku untuk menyetujui hubunganku" gumam Renata.


Renata memang masih sangat mencintai Aldho bahkan hal itu pula yang membuat rumah tangganya dengan suami pilihan orang tuanya berakhir. Dia tidak bisa membuka hati untuk pria lain.


.


...****************...


Dengan tertatih Rebecca Mengikuti Roger menuju apartemennya. Dia tidak menolak ajakan Roger karena saat ini tak ada lagi tujuan Rebecca untuk tinggal.


Lift berhenti di lantai tiga dan Roger berjalan di sebuah pintu paling ujung. Rebecca agak kesulitan mengikuti Roger karena tubuhnya yang masih sakit.


Roger menyadari hal itu dan langsung saja menggendong Renata.


"Aku bisa jalan sendiri" protes Rebecca.


"Tidak, kamu masih sakit" balas Roger singkat.


"Mulai sekarang kamu akan tinggal bersamaku di sini" ungkap Roger.


Rebecca duduk di sofa ruang tamu. Dia masih mengamati apartemen Roger. Terdapat dua lantai dan dia melihat di luar ada kolam renang juga.


"Maklum, dia kan orang kaya" gumam Rebecca sembari merebahkan dirinya di sofa. Lehernya masih terasa sakit akibat cekikan ibu tirinya. Seandainya Roger tidak kembali tadi mungkin Rebecca benar-benar sudah meninggal.


Tak terasa air mata mengalir membasahi wajah cantik itu. Dia teringat akan ibunya yang dulu sangat menyayangi Rebecca.


"Hey, kamu baik-baik saja?" Seketika lamunan Rebecca buyar saat Roger menanyainya.


"Aku sangat berterima kasih kepadamu Roger. Jika saja tadi kamu tidak datang mungkin aku sudah.." belum sempat Rebecca melanjutkan ucapannya Roger langsung memeluknya.


"Sudah jangan dipikirkan. Kamu aman di sini dan aku tidak akan membiarkan orang lain menyakitimu"


Rebecca semakin menangis di pelukan Roger. Antara senang dan sedih semua emosi dalam hatinya dia tumpahkan semua dengan derai air mata.


Rebecca merasa begitu nyaman berada di pelukan Roger. Mungkin karena dia tidak pernah merasakan kasih sayang dari orang lain selama ini. Perlahan dia mulai menganggap Roger adalah orang yang dikirim Tuhan untuk melindunginya.


"Roger, boleh aku sampaikan sesuatu kepadamu?" ungkap Rebecca saat tangisnya mulai mereda.


"Iya, katakanlah" balas Roger masih memeluk Rebecca.


"Meski saat ini kamu tidak bisa menemui putrimu jangan pernah kamu menyia-nyiakan dia. Suatu saat nanti kalian pasti akan saling membutuhkan. Jangan sampai seperti aku dan ayahku" ungkap Rebecca.


"Tentu saja Rebecca. Dia adalah putriku dan dia selalu ada dalam hatiku" balas Roger.


"Andai saja ayahku memiliki hati seperti itu"


...****************...


Aldho menggeliat meregangkan tubuhnya di atas ranjang. Matanya masih tertutup namun tangannya meraba sesuatu di sampingnya.


Dia mencari Cindy namun tidak ada. Tentu saja Cindy sudah bangun untuk menyiapkan sarapan serta mengurus Selina.


Dulu sebelum ada Selina Aldho selalu menggoda Cindy karena bangun tidurnya selalu telat.


Setelah bangun dan membersihkan diri Aldho bergegas turun ke bawah untuk menemui semua orang. Dilihatnya Cindy sedang sibuk memasak sementara Pak Tirta yang menggendong Selina di taman.


"Mama dimana sayang?" tanya Aldho sembari mengambil minum.


"Mama masih di toilet" balas Cindy masih sibuk memasak.


Tiba-tiba Aldho langsung memeluk Cindy dari belakang dan menciumi pipinya dengan gemas.


"Selamat pagi cintaku" bisik Aldho.


"Selamat pagi, sayang malu ah nanti dilihat mama sama ayah" protes Cindy.


"Biar saja toh mereka juga sudah pernah" goda Aldho.


"Oh iya Cindy, aku sudah merencanakan untuk menjadwalkan Honeymoon kita lagi" ungkap Aldho.


"Benarkah? Makasih sayang" Cindy langsung menoleh kebelakang dan mencium pipi Aldho.


Aldho tak mau kalah dan langsung saja mencium bibir Cindy. Mereka benar-benar dimabuk asmara hingga panggilan mama Grace tidak dipedulikan lagi.


Namun ponsel Aldho terus berdering dan mengganggu suasana.


"Sayang angkat dulu siapa tahu penting" ucap Cindy menyudahi kegiatan mereka.


Dengan kesal Aldho merogoh ponselnya di saku dan melihat siapa yang menelepon.


"Renata?"


.


.