Baby Blues

Baby Blues
bab 33 kelulusan



Elisa begitu muak melihat kemesraan Cindy dan Aldho. Kekaguman terhadap Aldho kini berubah menjadi obsesi. Semakin Aldho jauh dengannya Elisa semakin tertantang untuk mendekatinya.


"Lihat saja aku akan membuat perhitungan denganmu dan Aldho bertekuk lutut padaku" gumam Elisa dalam hati.


.


Besok adalah hari kelulusan bagi Zara, Tika dan Windy. Cindy ingin sekali mengucapkan selamat secara langsung namun dia tidak memiliki kepercayaan diri untuk datang ke sekolahnya.


Kandungannya kini sudah memasuki usia 8 bulan. Perutnya yang semakin membuncit serta berat badannya makin bertambah membuat dirinya enggan keluar rumah.


Dia hanya bisa melamun membayangkan seandainya dia merayakan kelulusannya bersama sahabat-sahabatnya pasti sangat menyenangkan.


Tiba-tiba lamunan itu buyar ketika seseorang memeluknya dari belakang.


"Lagi melamun apa sih istriku?" Aldho memeluk Cindy dari belakang.


"Kak Aldho, kamu mengagetkanku" lamunan Cindy buyar seketika.


"Besok adalah hari kelulusan Windy, Zara dan Tika. Sebenarnya aku ingin memberi kejutan tapi aku malu untuk ke sekolah" Cindy nampak menunduk.


"Kenapa harus malu? Jadilah dirimu sendiri Cindy, kamu wanita yang hebat" Aldho berusaha menguatkan.


"Apa semua akan baik-baik saja?"


"Tentu, besok aku akan menemanimu"


Cindy benar-benar merasa beruntung memiliki Aldho sebagai penyemangat setiap saat.


.


Hari yang ditunggu tiba, Cindy mengumpulkan semua keberaniannya untuk bertemu teman-temannya di sekolah.


Dia harus menepati janjinya dulu disaat mereka lulus harus merayakan bersama. Segala hadiah dan buket bunga sudah disiapkan untuk masing-masing sahabatnya.


Mobil Cindy sudah tiba di depan gerbang sekolahnya. Suasana nampak ramai membuat Cindy mengurungkan niatnya.


"Sayang, sepertinya aku tidak jadi bertemu mereka. Kita pulang saja"


"Kenapa Cindy? kamu bilang ingin bertemu mereka. Kita sudah jauh-jauh ke sini" Aldho mencoba meyakinkan Cindy kembali namun nampaknya Cindy benar-benar tidak mau.


"Aku tidak mau, aku malu. Harusnya aku berada di sana sebagai siswa yang merayakan kelulusanku bukannya menjadi penonton. Dan lihat keadaanku kak, perutku semakin membesar dan... aku sangat malu" air mata Cindy berhasil meleleh melewati sudut netranya.


"Baiklah sayang, maafkan aku. Bagaimana jika kita menunggu di suatu tempat. Akan ku hubungi mereka" bujuk Aldho.


Akhirnya setelah menghubungi Zara, Aldho memutuskan untuk menunggu di cafe depan sekolah.


Setengah jam berlalu ketiga sahabatnya akhirnya datang dan memeluk Cindy satu persatu. Nampak bahagia sekali mereka.


"Selamat ya untuk kalian" ucap Cindy menahan air mata. Di dalam hatinya Cindy sangat iri dengan ketiga sahabatnya yang bisa merayakan kelulusan. Namun semua sudah terlanjur.


"Cindy, kelulusan ini tak ada artinya tanpamu, bagi kita kamu adalah sahabat terbaik" Windy dan teman-temannya berusaha memberi semangat Cindy. Sontak suasana haru menyertai mereka.


Tak ingin membuat suasana tidak nyaman akhirnya Aldho mengambil hadiah yang sudah dipersiapkan Cindy.


"Ini persembahan Cindy untuk kalian" ucap Aldho sembari membagikan hadiah dan buket bunga.


"Yaampun Cindy, terimakasih banyak. Kamu repot-repot membawa hadiah untuk kita" ungkap Tika bahagia.


Mereka mengobrol dan bercanda dengan begitu bahagia.


Lalu datanglah beberapa murid sekolah seangkatan Cindy ke cafe. Beberapa memang teman sekelasnya dulu.


"Cindy, kamu kah itu?" tanya salah seorang anak.


"Hai, Doni. Ya ini aku" sapa Cindy.


Melihat keadaan Cindy dengan perutnya yang terlihat besar membuat mereka langsung bergunjing.


"Lihatlah teman-teman. Dia Cindy gadis primadona unggulan sekolah kita dulu. Sekarang sudah hampir menjadi ibu. Bahkan kita baru lulus SMA. Ternyata rumor itu benar jika Cindy memang hamil diluar nikah" ucap salah seorang siswa lainnya.


Semua orang yang ada di cafe itu langsung melihat ke arah Cindy.


Mendengar cemooh temannya membuat Cindy sangat sedih sekaligus malu. Tanpa berkata apa-apa dia langsung berlari keluar dari cafe.


Dia terus berjalan sambil menangis tanpa mempedulikan arah.


"Jaga mulut kamu ya, jika tidak ingin berurusan denganku" Zara hampir memukul anak itu namun segera dicegah oleh Tika dan Windy.


"Cindy... tunggu jangan pergi..." Aldho berteriak memanggil Cindy yang masih terus berlari tanpa menghiraukan panggilannya.


Seluruh tubuhnya terasa bergetar dan dia mulai meremas perutnya. Sepertinya Cindy kembali mengalami serangan panik.


Dengan cepat Aldho memeluk Cindy dengan erat.


"Tutup matamu dan tarik nafas, lalu hembuskan"Aldho menuntun Cindy agar lebih tenang.


Cindy menuruti ucapan Aldho dan melakukan berkali-kali hingga kepanikannya berkurang.


Zara, Tika dan Windy kagum melihat Aldho yang dengan sabarnya berhasil menenangkan Cindy.


"Kak Aldho sangat sigap dan tenang menghadapi Cindy" gumam Zara.


"Itulah kenapa mereka disatukan sebagai suami istri" ucap Tika sembari tersenyum.


"Tumben sekali kata-katamu bijak Tika" goda Zara.


"Apa kau sedang ingin membangunkan singa yang tertidur Zara?" Tika nampak tersenyum sinis.


"Ayolah teman-teman jangan seperti Tom&jerry begini" rengek Windy.


.


"Cindy masuk ke dalam mobil. Karena suasana yang kurang nyaman akhirnya Aldho mengantar Cindy pulang. Namun di perjalanan terlihat Cindy masih belum baik akhirnya dia berinisiatif mengajak ke suatu tempat.


"Cindy mau lihat sunset?"


"Dimana?" Cindy penasaran.


Aldho tidak menjawab lalu menancap gasnya menuju ke sebuah danau.


"Ini tempatnya" Aldho mempersilahkan Cindy keluar untuk menikmati pemandangan.


Cindy terkejut saat melihat tempat yang di tuju oleh Aldho.


"Cindy?" Aldho nampak heran kenapa Cindy terdiam dan tidak mau keluar dari mobil. Namun setelah beberapa saat Cindy akhirnya keluar dari mobil.


"Ke-kenapa kita kesini?" ucap Cindy terbata.


"Tempat ini indah bukan, disini paling cocok untuk menikmati sunset. Air danaunya akan berwarna keemasan" Aldho nampak bersemangat. Namun sebaliknya dengan Cindy. Dia jadi teringat akan masa lalunya.


"Cindy kamu baik-baik saja?" Aldho mulai merasa Cindy terlihat gelisah.


Tak lama kemudian Cindy meneteskan air matanya. Entah kenapa hatinya terasa sesak.


"Tempat ini, aku pernah kesini. Bersama Roger" ungkap Cindy sembari menyeka air mata.


Dia masih ingat betul pertama kalinya Roger mengajak kencan dan juga di tempat ini Roger menyatakan perasaannya lalu berjanji untuk menikahi Cindy.


Aldho merasa tidak enak dengan Cindy.


"Maaf aku tidak tahu Cindy. Kalau begitu ayo kita pergi dari sini"


Aldho hendak berjalan menuju mobil namun dicegah oleh Cindy.


"Bukan tempatnya yang salah, dan bukan kak Aldho yang salah. Bisakah kita tetap disini?"


Aldho tersenyum melihat perubahan sikap Cindy. Perlahan istrinya mulai menyesuaikan diri.


"tentu sayang,"


"Aku mau hapus kenangan masa lalu itu dan menggantikannya dengan kenangan kita berdua. Agar jika aku kesini yang ku ingat adalah hal indah antara kita berdua"


Cindy memeluk Aldho dan mengecup bibirnya.


"Cindy, aku benar-benar mencintaimu. Jangan pernah meninggalkanku"


.


.