
Besok adalah hari pernikahan Cindy dan Roger. Cindy merasa gelisah malam ini dia tidak bisa tidur. Padahal besok dia harus bangun pagi-pagi untuk persiapan pernikahannya.
Cindy mencoba menghubungi Roger dengan mengirim pesan di ponselnya.
"Kak Roger sudah tidur? Aku tidak bisa tidur"
Beberapa saat kemudian Roger malah melakukan panggilan video ke ponsel Cindy. Dengan cepat Cindy segera bangkit dari ranjang dan merapikan rambutnya.
"Hai... kenapa tidak bisa tidur sayang?" sapa Roger dalam panggilan.
"Aku tidak tahu, padahal besok pagi aku harus merias diri"
"Baiklah aku akan temani sampai kamu mengantuk" jawab Roger dengan sabar.
Cindy begitu senang. Dia juga memperhatikan wajah tampan Roger dalam panggilan video tersebut.
Tak terasa setengah jam berlalu Cindy berbincang dengan Roger sampai tiba-tiba ada sebuah panggilan masuk di ponsel Roger.
"Sebentar sayang, mama meneleponku. Aku matikan dulu tidak apa-apa kan?" tanya Roger.
"Baiklah.. Selamat Malam" balas Cindy.
Akhirnya Cindy mulai merasakan kantuk dan dia memandangi fotonya bersama Roger di ponsel.
"Aku tidak sabar untuk besok sayang" Cindy mengecup foto Roger yang ada di ponselnya.
.
Cindy bangun pagi-pagi sekali dan bergegas untuk mandi. Kali ini Mama Grace tidak memanggilnya untuk sarapan tetapi dia mengantar sendiri sarapan Cindy ke kamarnya.
"Cindy, sarapan dulu sayang" Cindy yang hanya berbalut handuk kimono menghampiri Mama Grace.
"Terimakasih, kenapa Mama repot-repot mengantarkan makananku kesini?" ucap Cindy sembari menerima nampan dari Ibunya.
Mama Grace tidak menjawab dan hanya memandangi putrinya dengan penuh arti. Dia membelai rambut Cindy lalu menangkap salah satu pipinya.
"Tidak ku sangka anak Mama sudah mau menikah" Ucap Mama Grace sambil berkaca-kaca"
Cindy meletakkan nampan ke meja sebelah ranjang dan langsung memeluk tubuh ibunya.
"Ma, jangan sedih aku akan sering berkunjung kesini"
"Mama tidak sedih sayang, Mama hanya terharu. Semoga pernikahanmu diberi kelancaran" Mama Grace mencium kening putri satu-satunya tersebut.
Selesai sarapan Cindy sekarang sedang merias diri dibantu oleh perias yang audah dipesannya jauh-jauh hari bersama Roger.
Cindy meminta riasan tipis namun elegan. Dia tidak ingin terlalu menor. Ketiga sahabatnya kini sudah datang menemaninya sebagai Bridesmaids. Cindy nampak sangat anggun dengan penampilannya sekarang.
"Kau nampak seperti bidadari Cindy. Roger nanti pasti sangat terpukau melihatmu" Puji Tika.
Cindy tersenyum malu-malu. Dia terlihat begitu bahagia.
Aldho dan pak Tirta sudah bersiap. mereka mengenakan setelan tuksedo hitam membuat penampilannya bertambah gagah.
Pak Tirta menghampiri Cindy. Dia mengelus kepala Cindy dengan penuh kasih sayang.
"Ayah" ucap Cindy dengan mata berkaca-kaca.
"Semoga kau bahagia nak, Ayah hanya bisa berdoa untukmu" Pak Tirta mencium kening Cindy dan dipeluk erat.
"Ayah terima kasih aku sangat menyayangimu"
Pak Tirta melepas pelukannya dan memberikan Aldho waktu untuk berbicara dengan Cindy.
Aldho mendekati Cindy seraya tersenyum. Cindy juga membalas senyuman Aldho.
"Kau tampak sangat cantik hari ini" ucap Aldho.
"Terimakasih kak"
Kemudian Aldho mencium pipi Cindy dan mengusap kepalanya.
"Adikku sudah dewasa sekarang. Sebentar lagi menikah dan menjadi seorang ibu"
"kau juga harus secepatnya menyusul" Cindy memeluk tubuh Aldho.
Suasana di ruangan ini menjadi begitu emosional. Para sahabat Cindy yang menyaksikan ikut terharu.
" Sudah jangan menangis, ayo kita bersiap sebentar lagi pendeta datang"
Mereka berbincang santai di ruang keluarga sembari menunggu keluarga Roger datang.
"mungkin mereka masih di jalan" ucap Aldho menenangkan.
Beberapa saat kemudian Datang sebuah mobil yaitu milik Pak Theo ayah Roger.
Semua orang merasa lega saat mengetahui kedatangan Roger.
Pak Theo datang sendirian menemui Cindy dan keluarganya.
"Di mana Roger?" tanya Pak Tirta.
Pak Theo tidak menjawab pertanyaan Pak Tirta. Dia hanya membungkuk serta memberikan secarik kertas.
"Maafkan saya" ucap Pak Theo lirih.
Pak Tirta membaca tulisan di kertas tersebut dan langsung melemparkannya. Dia terlihat begitu marah hingga membuat semua orang bingung.
"Kau pikir ini semua bercanda? kenapa kalian mempermainkan putriku seperti ini?" ucap Pak Tirta dengan nada marah.
Aldho memungut kertas yang dilempar ayahnya tadi dan membacanya. Cindy yang penasaran ikut membaca tulisan tersebut yang berisi:
^^^Ayah, maafkan aku tidak bisa melakukan pernikahan ini. Ada sesuatu yang tidak bisa ku jelaskan. Tolong sampaikan maafku kepada Cindy dan keluarganya.^^^
Tatapan Cindy menjadi nanar. Perlahan air matanya meloloskan diri mengalir di pipinya. Dia langsung berlari menuju kamar dan mengunci pintunya.
"Cindy... Cindy kau mau kemana?" teriak Aldho namun tak di gubris sama sekali oleh Cindy.
Di dalam kamar Cindy langsung mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Roger namun hasilnya nihil. Ponselnya sudah tidak aktif dan tidak ada pesan sama sekali dari Roger.
"Tidak, ini tidak mungkin. Kau pasti bercanda kan kak Roger" ucap Cindy panik.
Dia berteriak dan menangis sekencang kencangnya di kamar. Meluapkan segala kekecewaan yang dia rasakan. Lagi-lagi Roger telah menghancurkan hatinya.
Aldho terus mengetuk pintu kamar Cindy namun tidak ada jawaban.
Mama Grace yang mengetahui hal tersebut langsung jatuh lemas membuat suasana semakin kacau.
Para tamu undangan juga sudah memenuhi kursi di halaman. Sebentar lagi pendeta juga akan datang. Namun pengantin pria malah kabur entah kemana membuat Aldho semakin pusing.
"Aku sudah mencari kemana-mana namun tidak menemukannya. Maafkan aku" Ucap Pak Theo merasa bersalah.
Pak Tirta hanya bisa tertunduk menangis di kursi. Dia bingung bagaimana menghadapi Cindy dan juga para tamu. Sekali lagi dia begitu dikecewakan.
Cindy menatap sekeliling kamar. Dia melihat sebuah kain syal yang diberikan Roger beberapa waktu lalu saat berjalan-jalan malam.
Dengan putus asa dia mulai mencari kursi dan mengaitkan kain tersebut ke sebuah kipas angin di atap.
"Ku rasa inilah akhirnya" Cindy mengulum senyum pahit dalam tangisannya. Dia melilitkan tali tersebut ke lehernya tanpa mempedulikan sura Aldho yang terus berteriak menggedor pintunya.
"Maafkan aku kak" ucap Cindy lirih.
Aldho yang tidak sabar akhirnya mencoba untuk mendobrak pintu kamar Cindy. Dia begitu terkejut saat melihat Cindy yang hampir saja mengakhiri hidupnya.
"CINDY...." Dengan segera Aldho langsung berlari menangkap tubuh Cindy hingga mereka berdua terjatuh di lantai.
"Cindy.. Cindy, kau baik-baik saja?" tanya Aldho panik.
Cindy tidak menjawab hanya menangis. Aldho langsung memeluk Cindy dan berusaha menenangkannya.
Mendengar kehebohan di lantai atas tepatnya di kamar Cindy membuat beberapa orang mendatangi kamar Cindy.
Pak Tirta dan Mama Grace yang mengetahui kain tergantung di langit-langit membuat mereka semakin panik.
"Cindy apa yang kau lakukan. Jangan seperti ini Cindy" ucap Mama Grace sambil terisak.
"Cindy lelah ma, kenapa dia menghancurkan hatiku lagi. Ku rasa aku tidak pantas hidup lagi" ucap Cindy menelan kecewa.
Salah satu kerabat mendatangi kamar Cindy dan mengatakan bahwa pendeta sudah menunggu di luar. Hal itu membuat semua irang jadi bingung.
Windy yang saat itu juga berada di kamar Cindy mulai menatap Aldho dengan penuh arti. Dia mengangguk seperti memberi kode kepada Aldho.
Aldho yang mulai memahami Windy langsung angkat bicara.
"Aku yang akan menikahi Cindy" Hal itu langsung membuat semua orang terkejut.
.
.
.
jangan lupa like, dan dukung karyaku teman-teman...