Baby Blues

Baby Blues
bab 94 ketidakadilan



Selina sudah selesai operasi dan kini dipindahkan ke ruang perawatan intensif. Meski tanda vital tubuhnya cukup stabil namun dia masih belum sadarkan diri.


Aldho terus memantau keadaan Selina. Dia tak pernah meninggalkan rumah sakit sejak Selina mengalami musibah. Sudah dua hari ini Cindy dan Aldho tinggal di rumah sakit. Cindy menolak untuk meninggalkan Selina.


"Sayang, istirahatlah di ruanganku. Kamu terlihat pucat aku tidak mau kamu ikut sakit" pinta Aldho.


Cindy masih berdiri didepan ruang ICU memperhatikan Selina dari balik dinding kaca.


"Iya Cindy, kamu istirahatlah biar kami yang menunggu Selina" pinta Roger yang juga berada di tempat itu.


Akhirnya Cindy diantar oleh Aldho ke ruangannya. Sebelum istirahat Aldho membelikan puding untuk Cindy karena seharian dia tidak makan apapun.


"Sayang makan dulu ya, perutmu harus terisi sesuatu" meski awalnya menolak namun Aldho tetap memaksa Cindy hingga dia mau. Dengan telaten Aldho menyuapi Cindy.


"Apa Selina akan sembuh? Kapan dia sadar?" sambil berkaca-kaca Cindy terus bertanya mengenai putrinya.


Aldho mengangguk, "Selina akan baik-baik saja. Kita tunggu pasti dia akan siuman"


Cindy membenamkan wajahnya di pelukan Aldho. Perasaannya benar-benar kacau saat ini.


Sementara Roger masih berjaga di depan ruangan Selina. Tak lama kemudian Rebecca menyusul, dia ingin tahu keadaan Selina.


"Bagaimana dengan Selina?" tanya Rebecca.


"Dia belum sadar" ucap Roger lirih.


"Dimana Kak Aldho dan Julieta? Aku ingin menyampaikan sesuatu" ujar Rebecca.


Kemudian mereka berdua menghampiri Cindy dan Aldho di ruangannya.


"Maaf kak, aku mengganggu istirahat kalian tapi ada yang ingin aku sampaikan" ujar Rebecca.


"Ada apa Becca,?" tanya Cindy penasaran.


"Apa Selina akhir-akhir ini terjadi sesuatu yang janggal? Maksudku dia mengalami perubahan sikap ataupun bekas kekerasan di tubuhnya?" tanya Rebecca lagi.


"Perubahan sikap ya menurutku akhir-akhir ini dia sering mengalami mimpi buruk namun tidak mau menceritakannya dan tidak bersemangat berangkat sekolah. Bahkan terakhir dia rewel tidak mau sekolah. Kalau bekas kekerasan ku rasa tidak ada" ujar Cindy.


"Oh, bekas luka aku ingat. Beberapa waktu lalu saat memandikannya aku melihat bekas lebam di paha kirinya saat aku tanya dia bilang terbentur meja saat bermain" imbuhnya.


"Oh tidak, aku khawatir Selina mengalami perundungan di sekolahnya. Hanya saja dia tidak berani menceritakannya" Rebecca pernah mengalami hal serupa saat dia masih kecil.


"Ini tidak bisa dibiarkan. Kita harus mencari tahu kebenarannya kalau bisa kita serahkan kasus ini ke polisi" Roger begitu emosional ketika mendengar putrinya mengalami masalah.


Saat sibuk berdiskusi di ruangan Aldho tiba-tiba perawat datang dan memberitahu bahwa Selina sudah siuman.


Semua orang langsung bahagia bukan kepalang. Aldho langsung berlari untuk memeriksa keadaan putrinya.


Aldho dan Cindy masuk ke ruangan lebih dulu sementara Roger dan Rebecca Menunggu di luar ruangan.


"Sayang, akhirnya kamu bangun" Cindy tak berhenti mengecupi punggung tangan Selina.


"Mama... Papa.."ucap Selina lirih.


"Papa disini sayang, kami bersamamu" ucap Aldho dengan berkaca-kaca.


Kemudian Aldho memeriksa keadaan Selina.


"Syukurlah, sensor otaknya bekerja dengan baik" Aldho merasa lega. Kemudian dia keluar ruangan untuk memberitahu Roger.


Rebecca jadi teringat saat dia masih kecil pernah mengalami hal seperti Selina namun tak sampai separah ini. Dia korban Bullying saat sekolah karena keberadaan ayahnya yang tak jelas.


"Sayang cepat sembuh ya, Mommy kangen main bareng kamu lagi" Rebecca mengecup lembut kening Selina.


Setelah sadar kini Selina dipindahkan ke kamar rawat inap disana lebih leluasa saat ada keluarga dan kerabat yang menjenguk.


Semenjak kejadian itu berita tentang sosok ayah kandung Selina mulai tersebar.


Kisah rumah tangga Aldho memang menjadi perhatian banyak orang di Rumah Sakit semenjak pernikahan dan kehamilan Cindy yang sempat menghebohkan banyak orang.


"Ternyata ayah biologis Selina adalah adik Pak dokter Aldho sendiri. Benar-benar Pak Dokter Aldho adalah pria dengan hati sekuat baja." ujar salah satu perawat.


Meski mengetahui Aldho enggan untuk menghiraukan. Dia tidak pernah menutupi dan menyebar berita tentang dirinya. Biarlah orang lain tau dengan sendirinya.


Semua keluarga kini sedang berkumpul di ruangan Selina, kakek dan neneknya juga hadir. Cindy dan Rebecca fokus merawat Selina.


Sementara Aldho dan Roger kini sedang berunding, mereka memutuskan untuk melaporkan kasus Selina ke polisi. Dia tidak ingin kejadian yang Selina alami bisa terjadi lagi di kemudian hari.


Polisi segera bertindak cepat dengan menyelidiki kasus Selina ke sekolahnya. Dari hasil pemantauan kamera CCTV memang benar Selina jatuh bukan karena terjatuh sendiri namun ada salah satu temannya yang sengaja mendorongnya.


Sementara di kejadian sebelumnya terlihat Selina juga mengalami perundungan oleh beberapa siswa. Dia terlihat dipukul dan dilempari balok puzzle oleh teman-temannya dan hal itu sama sekali tidak ditolong oleh gurunya.


Roger dan Aldho murka melihat putrinya mengalami ketidakadilan. Akhirnya Polisi memanggil siswa dan orang tuanya serta guru dan kepala sekolah untuk dimintai keterangan.


Selina sempat takut saat Polisi meminta keterangan sebagai korban. Untung saja Aldho mampu membujuk putrinya untuk berkata jujur.


"Jangan takut sayang, ada Papa. Semua menyayangimu. Ini untuk kebaikanmu" Aldho mencoba memberi pengertian Selina.


Akhirnya anak itu menceritakan kejadiannya.


"Aku dipukul dan diejek teman-temanku karena mereka bilang aku tidak punya mama, lalu aku bilang aku punya Mama dan mereka terus mengataiku katanya aku anak haram karena ayahku banyak" sambil terisak Selina menceritakan kejadian yang dia alami.


Hati Cindy terasa hancur saat putri kecilnya mengalami perundungan seperti itu. Ternyata ini semua adalah imbas dari masa lalunya. Meski semua telah berdamai namun pemikiran orang lain tak segampang itu.


Para orang tua yang membicarakan masalah orang lain dan anak-anak yang masih di bawah umur menangkap pembicaraan itu tanpa mengetahui kejadian sebenarnya. Akhirnya dengan mudahnya seorang anak menyimpulkan hal-hal yang diluar dugaan.


Anak-anak yang masih berusia tujuh tahun tidak mungkin mengetahui masalah rumah tangga orang dewasa jika tidak mendengarkan ucapan orang tuanya.


Akhirnya Aldho dan Roger dipertemukan dengan para orang tua perundung dan pihak sekolah. Meski sakit hati namun mereka masih punya hati nurani dan memutuskan untuk damai.


Namun mereka akan tetap melaporkan kasus ini ke lembaga pendidikan karena kelalaian pihak sekolah yang menyebabkan siswanya hampir meregang nyawa.


"Saya sangat menyesalkan kejadian ini. Ini benar-benar pukulan berat untuk keluarga saya. Selina adalah anak yang baik, mungkin masa lalu kami tidak sebaik kalian tapi putri kami tidak salah. Dia dilahirkan ke dunia karena kehendak Tuhan. Tolong untuk para orang tua jaga tutur kata kita. Anak-anak masih terlalu kecil untuk mengetahui masalah orang dewasa.


Betapa hancurnya hati saya ketika harus memakai pisau bedah untuk membedah kepala putriku sendiri. Saya harap ini kejadian terakhir dan tak pernah terulang lagi. Dan untuk bapak ibu guru saya mohon lebih peka kepada siswa. Kami menitipkan anak-anak karena percaya kepada kalian bukan malah seperti ini" Aldho tak kuasa menahan air matanya saat meluapkan semua isi hatinya.


Sementara para orang tua dan guru yang ada di ruangan itu hanya bisa tertunduk malu. Kejadian ini benar-benar menjadi tamparan keras untuk mereka.


"Pak Aldho, Pak Roger kami sungguh minta maaf. Kami memang salah tidak mendidik anak-anak kami dengan baik. Tapi kami tahu Selina adalah anak yang sangat baik dan istimewa. Mungkin karena itu anak-anak kami menjadi iri"


.


.


Bersambung...