Baby Blues

Baby Blues
bab 58 lamaran



"So will you marry me, honey?"


Seketika Cindy mengangguk mengiyakan tawaran Aldho. "yes, i will"


Dengan berurai air mata bahagia Cindy menerima lamaran Aldho.


Aldho sangat bahagia dan memasangkan cincin itu di jari manis Cindy. Lantas dia langsung berdiri memeluk dan mencium Cindy. Ciuman itu langsung dibalas oleh Cindy.


"Aku sangat mencintaimu" ungkap Cindy disela-sela ciumannya.


"Aku bahkan lebih mencintaimu." ungkap Aldho penuh ketulusan.


Orang lain mengira mungkin mereka adalah sepasang kekasih yang akan menikah. Aldho hanya ingin mengungkapkan keinginannya sejak dulu, yaitu melamar Cindy. Meski terlambat namun dia sangat bahagia karena semua berjalan dengan lancar.


Aldho meraih tangan Cindy dan menuntunnya ke salah satu kamar di resort itu. Kamar suite dengan dekorasi layaknya pengantin baru.


Rangkaian bunga mawar serta tebaran kelopaknya di lantai membuat suasana kian romantis.


"Kita akan menginap di sini?" tanya Cindy sembari mengamati kamarnya.


"Iya sayang. Aku ingin malam ini jadi malam yang indah" Aldho menciumi tengkuk Cindy sembari memeluknya dari belakang.


"Tapi Selina bagaimana?"


"Dia sama mama sayang, tidak apa-apa kita tinggal semalam" balas Aldho sambil melanjutkan aksinya.


Aldho mengangkat tubuh Cindy dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Diamatinya wajah cantik itu sambil mengecupi setiap bagiannya.


Dan malam itu menjadi malam yang panjang untuk mereka berdua...


...****************...


Roger begitu senang ketika Rebecca sudah sadar. Kekhawatirannya selama ini sedikit berkurang dan sekarang tugasnya adalah merawatnya hingga sembuh.


"Rebecca, bagaimana keadaanmu? Butuh sesuatu?" Roger berusaha menanyai Rebecca.


"Minum... Aku haus..." ungkap Rebecca lirih. Karena keadaannya memang masih sangat lemah.


Roger segera mengambilkan minum untuk Rebecca. Dengan telaten dia menuruti segala kemauannya.


Seharian ini Roger menemani Rebecca memang sejak tiga hari terakhir keluarganya sama sekali belum menjenguknya. Terakhir mamanya yang mampir hanya lima menit.


Dokter menjelaskan keadaan Rebecca yang sudah mulai stabil, namun lengan kirinya mengalami patah tulang sehingga perlu waktu untuk sembuh.


"Roger, kenapa kamu disini?" tanya Rebecca saat Roger menyuapinya makan.


"Aku disini untuk merawatmu. Maafkan aku Rebecca, aku sudah membuatmu seperti ini" ungkap Roger merasa bersalah.


Rebecca hanya diam dan mengangguk pelan. Namun tampaknya dia juga tidak marah.


"Aku tidak terlalu ingat kejadian itu, setahuku saat itu aku sedang terburu-buru dan menelepon seseorang. Selanjutnya aku sudah tidak ingat"


Roger menghela nafas panjang. Meskipun Rebecca tidak marah tapi dia masih merasa bersalah karena menyebabkan gadis itu cidera.


Rebecca yang menyadari kekalutan Roger segera menenangkannya.


"Ini bukan murni kesalahanmu, bisa jadi aku yang tidak fokus menyeberang" Rebecca berusaha menenangkannya.


"Emm.. Rebecca ada yang ingin aku tanyakan. Tapi jika kamu tidak ingin menjawabnya tidak masalah" ujar Roger.


"Iya, ada apa?" balas Rebecca.


"Selama kamu disini keluargamu jarang sekali menjenguk, hanya beberapa kali. Apa kalian baik-baik saja?" tanya Roger.


Rebecca terdiam sesaat. Terlihat dari raut mukanya sepertinya memang ada masalah antara dirinya dengan keluarganya.


Roger memegang tangan kanan Rebecca. Dia menatap Rebecca dengan lekat.


"Baiklah, tidak usah cerita jika kamu tidak ingin"


"Sebenarnya, mamaku adalah mama tiriku, dan ayahku sejak kecil tidak pernah mengasuhku. Saat ibuku meninggal aku jadi ikut ayah pindah ke sini. Itu sebabnya kami sangat jauh" ungkap Rebecca.


Roger merasa iba mendengar cerita Rebecca. Dia jadi teringat saat malam itu Rebecca begitu manja kepada Roger karena dia memang haus kasih sayang.


Entah kenapa saat mendengar ucapan Roger membuat Rebecca lebih tenang. Walaupun terkadang Roger cukup menyebalkan tapi disaat seperti ini pria itu bisa menyenangkan. Rebecca masih mengingat betul kejadian malam itu. Dan nama seseorang yang terus disebut oleh Roger saat mabuk masih terngiang di telinganya. Hal itu membuat Rebecca masih penasaran. Terlebih lagi Roger selalu nampak murung sejak pertama dia bertemu. Seperti ada beban yang dia sembunyikan.


.


Pagi mulai datang dan matahari menampakkan sinarnya dari celah jendela. Cindy yang tidur lelap mulai merasakan silau. Perlahan dia menggeliatkan badannya.


Tubuhnya terasa lelah akibat begadang hampir sepertiga malam. Aldho tak membiarkan dia istirahat hingga menjelang pagi sehingga Cindy begitu letih.


"Hmmm... Kejutan sih kejutan, tapi ujung-ujungnya tetap menguras tenaga" gumam Cindy dalam hati.


Dia mulai membuka matanya. Terlihat samar-samar suasana kamar yang begitu berbeda, dia memang masih di kamar resort itu.


Dia tidak melihat Aldho di sini namun suara gemericik air di toilet menandakan keberadaannya.


Tak lama kemudian Aldho keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan handuk kimono. Terlihat rambutnya yang masih basah serta aroma sabun membuat laki-laki itu terlihat semakin seksi.


Cindy masih berbaring dengan balutan selimut yang menutupi tubuh polosnya sembari memperhatikan Aldho.


"Selamat pagi sayang" sapa Aldho dengan senyuman mautnya.


Cindy hanya tersenyum sambil mengingat apa yang terjadi semalam.


"Selamat pagi juga sayang" balas Cindy yang masih bermalas-malasan di atas ranjang.


"Kamu lelah ya? Maaf semalam aku kelepasan" bisik Aldho.


Tak dipungkiri sebagai pria normal Aldho memang sangat membutuhkan hal itu. Sejak Cindy hamil besar dan melahirkan baru kali Aldho dapat menyalurkan hasratnya mengingat kondisi Cindy yang tidak stabil pasca melahirkan.


"Aku pasti berbeda ya, kan sudah pernah melahirkan" Cindy mulai tidak percaya diri.


"Tidak sayang, sama sekali tidak berubah. Kamu malah makin cantik dan membuatku tergila-gila" ungkap Aldho.


Tak berselang lama terdengar seseorang mengetuk pintu. Tak lain adalah petugas pengantar sarapan untuk mereka.


Setelah menikmati sarapan dan bersiap untuk pulang Aldho tiba-tiba mendapat telepon. Ternyata telepon dari rumah sakit.


"Cindy, kita harus cepat pulang, ada operasi mendadak dan aku harus segera ke rumah sakit" ucap Aldho buru-buru bersiap pulang. Cindy hanya bisa pasrah dan menuruti Aldho.


Aldho menyetir dengan terburu-buru mengejar waktu yang ada. Sampai juga fi rumah sakit dan terpaksa Cindy pulang sendiri dari rumah sakit dengan menaiki taksi.


"Sayang, maafkan aku tidak bisa mengantarmu sampai rumah" ucap Aldho sedikit menyesal.


"Tidak apa-apa, ya udah cepat bersiap nanti tertinggal" Cindy berpamitan untuk pulang.


Dia tahu profesi suaminya adalah seorang dokter berarti harus siap jika setiap saat ada panggilan operasi mendadak. Semua itu demi menyelamatkan sesama umat manusia.


Cindy pulang dengan taksi sendirian. Di perjalanan dia terus menatap cincin yang diberikan Aldho kemarin. Dia terus tersenyum memandangi cincin itu.


Sampai di rumah Cindy segera berganti pakaian dan menemui Selina. Semalam tidak bertemu dengannya cukup membuat Cindy rindu.


Seharian dia menemani Selina dan tiba-tiba Cindy mendengar ponselnya berdering.


"Halo, dengan siapa? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Cindy.


"Apa benar ini dengan ibu Cindy?"


"Iya saya sendiri?"


"Pak Dokter Aldho mengalami kecelakaan dan saat ini sedang di larikan di rumah sakit"


"A-apa? Kecelakaan?"


.


.


.


...****************...