
Langkah Rebecca terhenti ketika Ayahnya yang baru datang dan berdiri di depannya.
"Rebecca mau kemana kamu?" Tatapan ayahnya seolah menganggap Rebecca melakukan kesalahan besar.
"Ayah, aku tidak bisa tinggal disini lagi.." tiba-tiba ibu tiri Rebecca datang sambil pura-pura menangis.
"Dia mengambil cincin berlianku"
Rebecca yang tidak merasa mengambil jelas membela diri.
Namun saat ayahnya menggeledah tas Rebecca cincin itu benar di di dalam.
"Apa ini?" tanya Ayahnya sembari menunjuk cincin.
"Ayah, aku tidak pernah mengambilnya" tak lama Rebecca berbicara tiba-tiba tamparan keras melayang di pipinya.
Ayah Rebecca begitu murka dan langsung di mengusirnya.
Rebecca yang sakit hati segera pergi meninggalkan rumah itu.
Ibu tiri Rebecca diam-diam memang memasukkan cincinnya ke dalam tas Rebecca agar dia bisa mencari kesalahan.
Gadis itu terus berjalan sembari memegangi bonekanya yang rusak. Air matanya terus mengalir hingga dia tak sanggup berjalan lagi.
Rebecca berhenti di sebuah trotoar dan menangis bersimpuh disana sembari memeluk boneka dari mendiang ibunya.
Kala itu Roger sedang perjalanan pulang dari meeting, dia tak sengaja menangkap sosok yang tak asing baginya.
"Rebecca?" Segera Roger menghampirinya dan benar saja. Gadis itu terlihat kacau. Segera Roger mengantarnya ke apartemen.
"Dari mana kamu? Kenapa bisa seperti ini?" Roger Memeriksa pipi Rebecca yang nampak memar.
"Aku, pulang mengambil ini" dia menunjukkan foto ibunya serta boneka yang sudah terputus kepalanya.
"Kamu kembali ke rumah itu hanya untuk mengambil ini?" Roger meraih bonek tersebut.
"Ini hadiah terakhir dari ibuku. Dan sekarang telah rusak" tangisnya kembali pecah.
Roger bangkit dan pergi mencari sesuatu. Tak lama kemudian dia datang membawa sebuah kotak berisi benang dan jarum.
Dia mencoba memperbaiki dengan menjahitnya kembali.
"Ini milikmu. Setidaknya sudah tersambung. Maaf jika tidak rapi" Roger memberikan boneka itu kepada Rebecca. Seketika Rebecca langsung memeluknya.
"Terimakasih Roger, selama ini tidak ada yang peduli kepadaku selain dirimu"
Roger menyambut pelukan Rebecca. Setelah itu mereka saling memandang. Kedua pasang netra itu saling bertemu dan lama kelamaan Roger mulai terbuai dengan kecantikan Rebecca.
"Menangis saja kau terlihat cantik" gumam Roger.
...****************...
Cindy disibukkan oleh persiapan lomba fashion yang akan digelar besok lusa. Akhir-akhir ini Cindy gampang sekali merasa lelah. Tubuhnya begitu ringkih namun hal itu tidak mengurangi semangatnya.
Ditengah-tengah jadwalnya yang padat dia tetap berusaha melakukan semuanya dengan maksimal.
"Huffttt... Sabar. Sebentar lagi selesai" gumamnya ketika mempersiapkan gaun yang akan dia gunakan untuk lomba.
Kebetulan tema lomba kali ini adalah bridal, sehingga Cindy harus ekstra detail dalam merepresentasikan hasil karyanya.
Hari yang ditunggu tiba. Cindy sudah bersiap untuk lombanya, Aldho sengaja mengambil cuti untuk menemani Cindy secara khusus karena ini adalah pertama kali Cindy mengikuti lomba.
Cindy sedang sibuk mempersiapkan gaunnya untuk dipakai model serta harus memperhatikan semua detailnya. Saat lomba berlangsung Cindy merasa mual, mungkin saja hal itu terjadi karena dia kelelahan.
"Sayang kamu baik-baik saja kan? Wajahmu terlihat pucat" bisik Aldho saat memperhatikan Cindy.
Tiba saat penjurian dan ternyata gaun milik Cindy mendapatkan juara pertama. Ini adalah hal yang paling menggembirakan untuk Cindy juga Aldho. Dengan begitu percaya diri Cindy menerima penghargaan dan juga hadiah.
"Sayang aku menang" Cindy langsung berlari memeluk Aldho.
Tiba-tiba pandangannya menjadi kabur dan berkunang-kunang. Cindy terkulai lemas di pelukan Aldho.
"Cindy, bangun sayang" semua orang menjadi panik dan Aldho segera memeriksa keadaan Cindy.
Masih dalam keadaan pingsan Aldho memeriksa tekanan darahnya. Ternyata tekanan darahnya rendah dan gula darahnya dibawah normal.
Setengah jam berlalu Cindy mulai sadar. Untung saja Aldho menemani sehingga dia tidak perlu dilarikan ke rumah sakit. Walaupun akhirnya dia mendapat omelan dari Aldho karena kurang menjaga kesehatannya.
Saat Cindy sudah sadar sepenuhnya Aldho meminta ijin ke toilet lalu salah satu juri menghampirinya.
"Hai Cindy, aku sangat mengapresiasi karyamu. Sebagai desainer pemula kamu sangat berbakat untuk itu aku menawarkan sebuah kesempatan untukmu" wanita itu mengeluarkan sebuah brosur untuk Cindy. Dan dia langsung membacanya.
"Accademia Del Lusso? Bukankah ini sekolah mode terkenal di Milan?" Cindy nampak terkejut.
"Iya Cindy, jika kamu mau kamu bisa mendaftar beasiswa tersebut. Semua biaya gratis jika kamu lolos, bahkan keberangkatanmu akan ditanggung"
Sejenak Cindy berpikir mungkin ini kesempatan bagus untuknya namun meninggalkan Aldho dan Selina akan begitu sulit. Sehingga dia menyembunyikan hal ini dulu dari Aldho. Dia akan melihat keadaan sebelum memutuskannya.
.
Setelah lomba berakhir Cindy menjadi lebih santai, namun kondisi tubuhnya masih gampang lelah padahal saat ini tensi juga gula darahnya sudah normal.
Setiap pagi Cindy juga masih mual namun hari ini perutnya terasa sakit bahkan semakin lama semakin sakit.
Di toilet Cindy merasakan sebuah darah mengalir dari tubuhnya namun rasanya sakit luar biasa hingga Cindy tidak kuat lagi.
Aldho yang kebetulan ke toilet dikejutkan dengan Cindy yang terkulai lemas dengan baju penuh darah.
"Cindy...." Segera Aldho mengangkat tubuh Cindy dan memeriksanya.
Pak Tirta segera menelepon ambulans dan kemudian Cindy dibawa ke rumah sakit.
"Untung saja Pak Aldho segera membawa nona Cindy ke rumah sakit jika tidak mungkin nyawanya akan terancam" ucap Dokter Helena.
"Memangnya apa yang terjadi dengan Cindy bu dokter?" Aldho masih terlihat khawatir.
"Nona Cindy mengalami keguguran. Usia kehamilannya masih dua minggu dan ini paling rawan. Mungkin karena terlalu banyak aktivitas yang berat menjadi pemicunya" ungkap Dokter Helena.
Aldho yang mendengar hal itu sangat terkejut "Tapi Cindy tidak pernah mengatakan bahwa dirinya hamil dok"
"Bisa saja dia belum mengetahuinya karena usia awal seperti ini banyak ibu yang belum menyadari"
Setelah menjalani serangkaian perawatan kondisi Cindy sudah mulai membaik. Aldho setia menemani Cindy sejak dia belum sadar hingga kini telah bangun.
"Sayang, apa yang terjadi denganku?" tanya Cindy lirih.
"Kamu keguguran sayang" balas Aldho.
Seketika Cindy terkejut, dia tidak pernah merasa bahwa dia hamil dan tiba-tiba dia keguguran?
"Ta-tapi.. Aku tidak tahu bahwa aku hamil" Tangis Cindy pecah seketika karena dia merasa gagal mempertahankan kehamilannya padahal itu darah daging Aldho.
"Sayang maafkan aku, aku benar-benar tidak tahu jika aku hamil dan aku benar-benar ceroboh karena tidak bisa menjaga amanat ini" Cindy begitu putus asa namun Aldho tetap berusaha menguatkan.
Renata yang mengetahui kabar keguguran Cindy segera memberitahu Viona. Jelas hal ini memicu kemarahan nenek sihir itu. Calon cucu kandungnya justru malah terjadi keguguran.
"Lihat saja Cindy, aku akan membuat perhitungan denganmu" gumam Viona penuh kesumat.
...****************...