
Aldho mengecup bibir Cindy dengan lembut. Hal yang tak pernah terpikirkan oleh Cindy sebelumnya. Dia tidak mampu berkata-kata. Seakan waktu berhenti, tidak percaya bahwa Aldho akan melakukannya.
"A-apa ini..." ucap Cindy terbata.
"Ini bukti bahwa aku menyukaimu Cindy" balas Aldho.
"Sejak kapan?"
"Sejak lama..." Aldho tersenyum sembari membelai rambut Cindy dengan lembut.
ccuuppp....
Cindy langsung mengecup bibir Aldho. Kecupan lembut itu akhirnya dibalas dengan ciuman oleh Aldho. Dia merapatkan tangannya ke tubuh Cindy. Seolah tidak ingin berpisah dari wanita itu.
"aku menyukaimu sejak kakak masuk kuliah. Tapi aku sadar diri tidak mungkin bersamamu. Sejak kak Renata.." Cindy berhenti meneruskan ucapannya saat Aldho kembali menciumnya.
"Jangan dibahas lagi. Kita begitu naif saat itu. Yang terpenting sekarang kita menjalani apa yang saat ini terjadi. Cindy aku mau kita menjalani pernikahan ini sungguh-sungguh. Sebagai suami dan istri" pinta Aldho.
Mata Cindy berkaca-kaca dan langsung memeluk Aldho dengan erat.
"Aku mau kak... aku mau jadi istrimu" ucap Cindy bahagia.
"Aduhh..."
Aldho terlihat meringis kesakitan.
"Kenapa kak?" Cindy nampak bingung.
"Kau menyentuh punggungku yang tersengat lebah, itu sakit"
Cindy langsung tertawa ketika mendengar keluhan Aldho.
"Heyy..." protes Aldho.
"Tidak.. tidak.. baiklah aku akan mengobatimu lagi"
Cindy mengambil salep di laci kamarnya dan Aldho mulai melepas pakaiannya.
Di luar mama Grace sedang berjalan di ruang tamu melihat ponsel Cindy tergeletak di kursi. Akhirnya dia naik ke lantai atas menuju kamar Cindy untuk memberikannya. Saat berada di depan pintu Mama Grace mendengar suara gaduh dari dalam. Yang membuatnya bergidik geli.
"Awww.. Cindy sakit pelan-pelan" ucap Aldho.
"Iya sudah pelan ini. Tapi susah keluar"
"Coba pencet lebih keras"
"Sudah tapi susah sayang. Tanganku malah sakit nih..," Ternyata salep yang dipakai untuk mengobati Aldho mau habis.
"Baiklah ambilkan yang di kamarku saja"
Akhirnya dengan sedikit kesal Cindy berjalan keluar namun saat membuka pintu dia terkejut melihat Mama yang sedang berdiri di depan pintu.
"Mama, ada apa ma?" tanya Cindy keheranan.
Mama Grace tidak langsung menjawab. Dia sedikit mengintip ke dalam kamar Cindy. Terlihat Aldho sedang bertelanjang dada dan hanya memakai celana pendek.
"Mama?" panggil Cindy lagi yang membuat lamunan Mama Grace buyar.
"Eh.. ini, anu ponselmu ketinggalan di depan" Mama Grace merasa begitu canggung dan memberikan ponsel kepada Cindy. Setelah itu dia langsung buru-buru pergi membuat Cindy keheranan dengan tingkah mamanya.
Mama Grace berjalan sembari menepuk-nepuk jidatnya, membuat Pak Tirta penasaran dengan apa yang terjadi.
"Ada apa Ma?" tanya Pak Tirta.
Akhirnya Mama Grace menceritakan semua kepada suaminya tentang apa yang dia saksikan baru saja. Hal itu langsung mengundang gelak tawa dari suaminya.
"Mama ini seperti lupa kita dulu bagaimana, biar saja lah ma memang mereka lagi bahagia-bahagianya. Malah kita harus bersyukur anak-anak kita bisa menerima pernikahannya" ucap Pak Tirta menghibur istrinya.
"Benar juga ya Yah, setidaknya Cindy berada di tangan laki-laki yang tepat sekarang"
.
Cindy selesai mengobati punggung Aldho kemudian Aldho hendak tidur di sofa.
"Kak Aldho mau apa?" tanya Cindy saat melihat Aldho meletakkan bantal di sofa.
"Mau tidur Cindy, kakak mengantuk" jawab Aldho yang hampir merebahkan tubuhnya di sofa.
"Katanya suami istri, kenapa tidur disitu?"
Mendengar hal itu membuat Aldho melebarkan senyumnya. Cindy menepuk bantal di sebelahnya sebagai kode untuk tempat Aldho tidur.
Aldho merangkul tubuh Cindy dan membelai lembut perutnya yang sudah mulai mengembung. Cindy tersenyum melihat perlakuan manis Aldho.
"Kak, apa kelak kakak akan menerima anak ini?" tanya Cindy lirih.
"Tentu saja Cindy, dia juga anakku." ucap Aldho dengan tersenyum.
Cindy nampak diam merenungkan sesuatu.
"Aku masih belum percaya ini terjadi. Seharusnya sekarang ini aku masih memikirkan tugas sekolah bukannya kehamilan. Rasanya aku belum siap untuk semua ini"
Mendengar keluhan Cindy membuat Aldho mulai prihatin.
"Sayang, mungkin ini bukan kehendak yang kamu inginkan. Tapi semua sudah terjadi. Kita hanya bisa menjalani semua yang ada. Lagi pula kamu sudah dipilih menjalani takdir ini. Karena kamu adalah gadis yang kuat, sebentar lagi kamu akan menjadi ibu yang hebat" Aldho berusaha menghibur Cindy.
" Tapi bagaimana jika aku tidak bisa menerima kehadiran anak ini?"
"Kita lihat saja nanti Cindy"
"Kak Aldho aku sangat mengandalkanmu untuk semua ini" Cindy menoleh ke arah Aldho. Ternyata dia sudah tertidur pulas.
"Oh sayang, kamu pasti sangat lelah" Cindy mengecup lembut kening Aldho sebagai ucapan selamat malam.
.
Cindy bangun pagi-pagi sekali. Malam ini tidurnya sangat nyenyak karena ada Aldho bersamanya.
Dia menuju dapur dan berinisiatif untuk membuatkan sarapan untuk Aldho. Sebagai istri yang baik Cindy harus menyiapkan makanan untuk suaminya.
"Cindy, kamu sedang memasak? rajin sekali anak mama ini?" Mama Grace menghampiri Cindy yang sibuk memotong sayur.
"Aku ingin menyiapkan sarapan untuk kak Aldho ma," Mendengar hal itu membuat Mama Grace bahagia.
"Kamu istri yang baik sayang" puji mama Grace.
Cindy memasak dibantu Mama Grace. Mereka memang tidak menyewa jasa asisten rumah tangga. Jadi selalu melakukannya sendiri.
"Ma, Cindy boleh bertanya sesuatu?"
"Tentu sayang"
"Bagaimana Mama dan Ayah dulu jatuh cinta? Ku dengar kalian dulu dijodohkan" tanya Cindy penasaran.
"Dulu ayahmu sangat sabar memenangkan hati mama, seperti Aldho yang selalu ada untukmu sayang" ucap Mama Grace sembari mengelus rambut Cindy.
.
Hingga waktunya sarapan tiba Pak Tirta sudah duduk di meja makan tinggal menunggu Aldho yang tak kunjung turun. Akhirnya setelah beberapa saat Aldho turun dan sudah berpakaian rapi akan bekerja.
"Maafkan aku sepertinya aku tidak bisa sarapan bersama kalian. Aku lupa pagi ini ada rapat dengan dokter utama untuk transplantasi jantung" Aldho terlihat tergesa-gesa kemudian berpamitan kepada orang tuanya.
"Sayang maafkan aku ya" Aldho menangkap pipi Cindy dan langsung mengecup bibirnya.
Cindy hanya bisa bengong saat Aldho menciumnya didepan kedua orang tuanya. Pipinya langsung merah merona tersipu akan kelakuan Aldho.
Dia tersadar dan langsung berjalan mengikuti Aldho yang hampir menancap Gas mobilnya.
"Kak Aldho, nanti sarapannya aku antar ke rumah sakit ya, sekalian mau periksa" ucap Cindy sedikit berteriak.
Aldho hanya tersenyum dan mengangguk tanda menyetujui.
"Mereka benar-benar dimabuk cinta yah" ucap Mama Grace sembari tersenyum.
"Ma, sepertinya aku juga ingin melakukannya denganmu, ayo ma.." belum sempat Pak Tirta meneruskan ucapannya langsung dicubit oleh Mama Grace.
"Ingat umur ayah..."
Cindy yang kembali ke dalam rumah begitu heran dengan tingkah kedua orang tuanya.
"Kenapa Mama dan Ayah saling mencubit?"
"Tidak apa-apa sayang, ayahmu ini memang minta di cubit.
Cindy hanya geleng-geleng melihat kelakuan kedua orang tuanya
.
.