Baby Blues

Baby Blues
bab 51 secercah harapan



Sarah kini sudah mulai rajin memberikan ASI kepada putrinya. Walaupun tidak secara langsung namun hal itu cukup membuat Aldho dan orang tuanya merasa senang.


Entah kenapa saat mengeluarkan ASI dia merasa ada sesuatu yang berbeda. Walaupun dia masih tidak menyangka bahwa sudah memiliki seorang bayi. Namun di dalam hati kecilnya sebagai seorang ibu tentu merasa memiliki ikatan batin yang kuat dengan bayi itu.


Aldho juga semakin rajin untuk membaca tentang parenting. Bagaimana cara mengurus bayi.


Pagi ini saat sarapan dimeja makan Aldho menceritakan tentang kondisi Cindy yang mulai membaik.


Pak Tirta dan Mama Grace merasa sedikit lebih lega. Dia takut jika keadaan Cindy akan berdampak terhadap kesehatannya.


Walaupun begitu Cindy masih enggan untuk turun ke bawah bergabung dengan kedua orang tuanya. Dia hanya berdiam diri sembunyi di balik dinding kamarnya, mau bertemu dengan kedua orang tuanya saat mereka naik ke lantai atas saja.


"Sayang, ini sarapan dulu. Makan sayur dan buah yang banyak supaya sehat." Aldho menyuapi Cindy dengan telaten. Baginya melihat Cindy yang lebih baik itu sangat melegakan.


"Sebenarnya makanan ini untuk memperlancar ASI kan?"


"Emm.. Iya.. Dia membutuhkanmu Cindy. Setidaknya dengan minum ASI mu setiap hari ini akan membuatnya sehat"


"Aku ibu yang buruk" Cindy menolak suapan dari Aldho. Matanya mulai berkaca-kaca.


"Ayolah sayang jangan seperti itu. Kau tidak buruk, hanya butuh waktu saja"


Cindy menghela nafas. Dadanya mulai terasa sesak.


"Sebenarnya aku tidak mau seperti ini, aku lelah... Aku terus merasa terjebak dalam situasi ini." Cindy mulai terisak.


Aldho langsung meletakkan piring ke meja kamar dan memegangi kedua bahu Cindy.


"Cindy, lihat aku.. Dengarkan aku.. Semua sudah terjadi. Kita tidak bisa mengubah takdir tapi kita pasti bisa melalui semua ini" Aldho terus meyakinkan dan menguatkan Cindy. Cindy langsung memeluk Aldho dan menangis di dalam dekapannya.


"maafkan aku... Maafkan aku..." gumam Cindy di sela tangisannya.


"Tidak apa-apa sayang.. Semua akan baik-baik saja"


Setelah Cindy mulai tenang dan beristirahat Aldho beranjak keluar dari kamar. Dia memeriksa putrinya yang ternyata sedang tidur ditemani Mama Grace.


Diperhatikannya wajah imut Selina yang sedang tertidur. Dalam hati Aldho sangat kasian terhadap bayi mungil itu. Belum pernah sekalipun dia merasakan pelukan seorang ibu.


Dikecupnya kening putri mungilnya lalu dia berjalan menuju taman samping rumah. Aldho mengeluarkan sebatang rokok. Bukannya menyalakan dia malah memainkannya dengan jarinya sambil melamun.


Dia terus berpikir bagaimana caranya Cindy bisa menerima keberadaan Selina putrinya serta meyakinkan ibunya bahwa Cindy bukanlah gadis yang buruk, dia hanya korban.


Berkali-kali Aldho mendengus kesal dan mengusap kasar wajahnya. Sebagai manusia normal tentu saja Aldho memiliki kesabaran yang terbatas. Namun hanya dia yang bisa membuat Cindy merasa nyaman walaupun hal itu menguras banyak kesabarannya.


Cindy yang tak bisa tidur mencoba untuk mengalihkan pikirannya dan melihat-lihat ke luar kamar melalui jendelanya. Dia melihat Aldho yang tampak termenung di taman.


Dia tahu suaminya itu pasti sedang banyak pikiran termasuk karena dia. Hal itu membuat Cindy semakin bersalah. Aldho memang tak pernah terlihat mengeluh di depan Cindy namun dia pasti memendam semuanya sendiri.


"Maafkan aku kak Aldho.."


Sementara itu ponsel Aldho berbunyi. Dia melihat nomor asing meneleponnya.


"Halo, maaf ada yang bisa saya bantu?" tanya Aldho.


"Halo, Aldho.. Maaf ini aku Roger"


Seketika Aldho terkejut. Kenapa Roger menghubunginya.


"Apa maumu?" ucap Aldho ketus.


"Aldho, maafkan aku. Papa sudah menceritakan semua tentang kita. Aku hanya ingin menanyakan kabar Cindy"


"Untuk apa kau tanyakan Cindy? Apa untungnya untukmu?"


Aldho naik pitam saat mendengar ucapan Roger. Baginya dia hanyalah pria brengsek yang telah menghancurkan masa depan Cindy.


"Simpan rindumu itu kau sama sekali tak berhak untuk Cindy. Ingatlah dia adalah istriku. Jangan sekali-sekali kamu mengusiknya dan kau tak berhak atas anak itu. Sekali saja kau menyentuhnya akan ku pastikan kau akan membusuk di penjara."


Dengan kesal Aldho langsung menutup teleponnya dan memblokir nomor Roger.


"jangan harap kau bisa mengusik keluargaku lagi"


.


Siang ini Aldho bersiap untuk ke rumah sakit. Sore ini dia ada jadwal operasi jadi dia berpamitan kepada Cindy mungkin pulang agak telat. Tak lupa dia menghampiri putri kecilnya yang sedang menggeliat di atas keranjang bayi.


Aldho menggendongnya sebentar sembari mencium gemas pipi mungilnya.


"Sayang, hari ini Papa ada operasi transplantasi hati. Doakan ya semoga lancar"


Aldho berangkat dan Cindy melihatnya dari kejauhan sebelum mobil Aldho melesat.


Waktu terus berlalu hingga sore tiba. Di rumah hanya ada Cindy dan Mama Grace serta Selina kecil.


Saat Selina tertidur Mama Grace mencoba untuk menemui Cindy. Dia menghampirinya di kamar Cindy.


"Mama.. Silahkan masuk" ucap Cindy ketika Mama Grace sampai di depan pintu.


"Sayang, sedang apa?" sapa Mama Grace.


"Ini habis pumping ASI ma, nanti mama bawa sekalian ya. Semakin hari sepertinya semakin bertambah ma" ucap Cindy.


Mama Grace memperhatikan putrinya. Dia lihat kesedihan di dalam diri Cindy. Harusnya dia sekarang sudah berkuliah dan menjalani kehidupan normal layaknya remaja pada umumnya.


"Sayang, jika ada kesempatan kamu mau melanjutkan sekolah lagi?" tanya mama Grace.


Sejenak Cindy terdiam. Dia sedang memikirkan sesuatu.


"Apa aku masih pantas ma? Aku kan sudah menikah dan punya anak. Apa ada sekolah yang masih mau menampungku? Dan aku tidak siap menghadapi cemooh orang-orang tentangku"


Mama Grace meraih tangan Cindy. Digenggamnya dengan lembut.


"Cindy, tidak ada yang tidak mungkin selama kamu mau berusaha. Tak perlu dengarkan omongan orang lain yang hanya ingin menjatuhkan mu. Masa depanmu masih panjang sayang" Mama Grace mencoba meyakinkan Cindy.


Cindy menatap mata Mamanya. Terlihat secercah harapan kepadanya membuat dia akhirnya mulai mempertimbangkan saran Mama Grace.


Kemudian Mama Grace beranjak dari duduknya dan mengambil buku sketsa milik Cindy. Dibukanya satu persatu hasil gambaran desain gaun buatan Cindy.


"Mama ingin suatu saat nanti kamu tidak hanya menggambar ini semua. Wujudkan ini menjadi nyata dan kamu memakainya"


.


Roger begitu kalut. Dia ingin sekali melihat anaknya namun jika dia kembali pasti polisi akan mengincarnya karena Aldho telah melaporkan Roger dan sekarang statusnya adalah buron.


Saat ini dia sedang duduk termenung di meja bar sembari menenggak beberapa gelas minuman. Di seberang ada seorang wanita cantik yang terus memperhatikannya. Saat Roger mulai mabuk wanita itu datang menghampiri Roger.


"Come on.." ucap wanita itu sembari memapah tubuh Roger.


.


.


.