Baby Blues

Baby Blues
bab 69 menyakitkan hati



Cindy tak berhenti menyalahkan dirinya sendiri. Kesibukannya yang terus menyiapkan lomba tanpa mempedulikan kondisi tubuhnya kini harus kehilangan janinnya. Terlebih itu adalah anak pertama Aldho.


Meskipun Aldho tidak pernah mempermasalahkannya namun rasa tidak enak terus menghantui Cindy.


Dua hari Cindy di rawat di rumah sakit. Aldho dan ayahnya menemani secara bergantian karena Mama Grace harus merawat si kecil Selina di rumah. Terkadang Pak Theo juga menemani saat yang lain sibuk.


"Papa, maafkan Cindy. Papa jadi kehilangan calon cucu Papa" Cindy terisak ketika bertemu Pak Theo.


"Tidak apa-apa Cindy, ini sudah takdirnya dan bukan kesalahanmu. Yang terpenting sekarang kamu harus sehat."


Hari ini Pak Tirta sedang bekerja dan Aldho ada operasi sehingga mau tidak mau Cindy harus sendirian di ruangannya. Beberapa perawat kadang menemaninya saat senggang.


Cindy hendak tidur tiba-tiba dia mendengar suara pintu terbuka. Ternyata Viona yang datang. Walaupun sangat enggan bertemu namun dia tetap ibu mertua Cindy. Dia harus sabar menerima ocehan Viona yang tak jarang menyakiti hatinya.


"Se-selamat siang Ibu Vio" sapa Cindy sedikit gemetar.


Viona tak langsung menjawab. Tatapannya tampak sangat mengerikan.


"Aku dengar kamu keguguran Cindy?"


Cindy hanya mengangguk pelan selanjutnya dia terus menunduk tak berani menatap Viona.


"Aku tidak menyangka kamu bisa seceroboh ini Cindy, apa sih mau kamu? Menyembunyikan kehamilan hingga menggugurkannya? Drama apa lagi ini?" ujar Viona dengan emosinya.


"A-aku tidak tahu jika hamil bu, dan aku sungguh menyesal. Maafkan aku" Cindy tetap menunduk.


Kemudian Viona meraih dagu Cindy dan mengangkatnya hingga pandangan itu sejajar dengannya.


"Mudah sekali kamu minta maaf. Apa kamu tidak memikirkan perasaan Aldho? Dia banyak berkorban untukmu tapi kau begitu egois Cindy, selalu mementingkan kesenanganmu sendiri" Viona menghempas dagu Cindy dengan kasar.


"Kali ini aku memaafkanmu tapi jika kamu membuat putraku dalam kesulitan lagi aku tidak akan tinggal diam. Dan ya, jika kamu mengadukan aku kepada orang lain tentang saat ini berarti dugaanku benar. Kamu wanita yang sangat egois" Viona langsung pergi meninggalkan Cindy.


Ternyata di luar Renata sudah menguping pembicaraan mereka. Dalam hatinya dia sangat senang dengan kejadian ini.


Cindy hanya bisa menangis terisak sendirian di ruangan itu. Sekuat-kuatnya dia menahan cacian Viona tetap saja hal itu begitu melukai hatinya.


Bahkan saat ini dia begitu membenci dirinya sendiri. Cindy menganggap bahwa dirinya tidak pernah menjadi sosok yang baik untuk orang lain. Yang ada hanyalah membebani orang lain terutama Aldho dan kedua orang tuanya.


Kondisi psikis yang tidak stabil membuat Cindy terus memikirkan hal-hal yang diluar kendalinya. Bahkan sempat dia hampir menyayat pergelangan tangannya menggunakan pisau buah. Untung saja saat itu gagal karena Aldho sedang menemuinya.


Cindy segera menyimpan pisau itu di bawah bantal.


"Hai sayang, bagaimana keadaanmu?" Aldho menghampiri Cindy karena pekerjaannya sudah selesai.


Dia tahu Cindy sedang tidak baik-baik saja. Sebisa mungkin dia menghibur Cindy. Mulai dari melakukan panggilan Video bersama Selina yang akhirnya berujung tangis dari bocah itu karena mencari papa dan mamanya.


"Cindy kenapa menangis sayang?" Baru saja Aldho meninggalnya sebentar dan Cindy sudah terisak.


"Aku... Aku tidak bisa menjadi istri yang baik untukmu" Cindy terus terisak.


Kesabaran Aldho kali ini kembali diuji. Kondisi psikis Cindy yang tidak stabil membuatnya mengalami perubahan emosi dengan cepat.


Aldho langsung naik ke atas ranjang Cindy walaupun sempit dia duduk memunggungi Cindy dan memeluknya dari belakang. Hal yang paling disukai Cindy dan merasa begitu nyaman.


"Sayang, kamu adalah istri terbaikku. Memang setiap orang memiliki masalah tapi bukan berarti kamu tidak baik"


Cindy terdiam, dia menatap jemari Aldho yang tengah mendekap perutnya.


Meskipun di rumah sakit Aldho tetap memperlakukan Cindy dengan mesra. Renata yang mengintip dari balik pintu merasa panas hatinya.


Harapannya untuk merebut kembali Aldho nampaknya masih sulit. Namun melihat keadaan Cindy yang masih mengalami trauma membuatnya segera mencari celah untuk mempengaruhi mental Cindy.


Renata lebih sering mengunjungi Cindy di ruangannya dan tak jarang selalu membahas masa lalunya bersama Aldho. Terkadang dia sengaja mengobrol dengan Aldho di depan Cindy.


Jelas saja Cindy mulai cemburu dan semakin stres. Belum lagi Viona yang sering datang dan mengomeli Cindy.


Hari ini Viona kembali datang, karena ada Aldho di ruangannya jadi dia menjaga sikap sebaik mungkin. Seolah dia tidak pernah berbuat buruk kepada Cindy.


Kemudian Aldho dipanggil Renata dengan alasan membahas diagnosa pasien. Mereka mengobrol di depan ruangan Cindy dengan serius.


"Bukankah mereka terlihat serasi Cindy?" ucap Viona sembari memandangi Aldho dan Cindy.


Cindy sangat terkejut dengan ucapan Viona namun dia tidak ingin menambah masalah dan mencoba mengabaikannya.


"Cindy, apa kau tidak pernah bertanya apa kemauan Aldho? Apa Aldho bahagia bersamamu?" Viona mulai duduk mendekati Cindy.


"Lihatlah, apa kamu pernah berpikir bahwa Aldho menikahimu hanya karena balas budi terhadap orang tuamu?"


Kali ini Cindy mulai bereaksi. "Tapi Kak Aldho mencintaiku"


Viona tersenyum picik. Sorot matanya yang tajam tak sedikitpun teralihkan dari Cindy.


"Cinta? Apa ada cinta yang isinya hanya mengorbankan diri sendiri. Mungkin Aldho mencintaimu tapi apakah kau tidak berpikir bahwa dia sama sekali tidak bahagia denganmu? Hidupmu hanya beban dan kau terus memberikan beban itu kepada Aldho"


"A-aku.." Lidah Cindy mulai kelu, ucapannya terhenti dan tubuhnya mulai gemetar.


"Kau memanfaatkan kebaikan Aldho hanya untuk kepentinganmu. Dia terpaksa menikahimu lalu mengakui anak yang sama sekali bukan darah dagingnya. Kau egois Cindy" Kali ini Viona berani berucap lebih keras karena Aldho sedang pergi meninggalkan ruangan.


Cindy mulai terisak. Kepalanya mulai pusing mendengarkan cemoohan Viona.


"Jika kamu mencintainya. Biarkan Aldho bebas menentukan hidupnya Cindy, Aldho berhak bahagia."


Masih dalam keadaan terpuruk Viona meninggalkan Cindy sendirian. Dia terus memikirkan setiap perkataan Viona.


"Apakah benar kamu tidak bahagia denganku?" gumam Cindy dalam hati.


Aldho tak kunjung kembali ke ruangan Cindy membuat gadis itu semakin resah. Kepalanya yang terasa pusing membuatnya semakin mengantuk. Hingga akhirnya dia mulai terlelap.


Aldho yang sudah selesai dengan urusanya segera kembali menemui Cindy. Dilihatnya Cindy yang telah tertidur pulas. Aldho mendekati Cindy dan mencium keningnya.


"Cepat sembuh sayang" Kemudian Aldho menyelimuti dan membetulkan posisi kepala Cindy.


Aldho menggeser bantal yang Cindy pakai agar lebih nyaman. Namun tiba-tiba sesuatu dari balik bantal Cindy jatuh ke lantai dan Aldho terkejut melihat benda itu.


"Kenapa ada pisau di bawah bantal Cindy?


.


.


...****************...