Baby Blues

Baby Blues
bab 116 Akhir bahagia



"Iya Pa, Papa jaga kesehatannya. Aku dan Selina lancar sampai tujuan"


"Maafin Roger harus meninggalkan Papa lagi. Nanti kalau urusannya selesai pasti balik lagi kok Pa."


"Oh iya Pa, bentar lagi Papa mau punya cucu lagi loh. Do'akan lancar ya"


Roger tampak sibuk menelepon Papanya. Sementara Rebecca memperhatikan pria itu dari tempat duduknya.


Meski kadang sikapnya plin plan dan kekanak kanakan namun dia adalah sosok yang penyayang.


Sudah seminggu ini Roger tinggal di kediaman Rebecca. Sejak saat itu pula Rebecca menjadi lebih semangat.


Roger terus memanjakan serta memberi apapun yang diinginkan Rebecca. Sehingga selama seminggu ini berat badannya sudah mulai naik.


"Rebecca, kamu harus banyak makan. Ingat sebentar lagi melahirkan jadi berat badanmu harus bertambah supaya kuat nanti" Roger menyuapi sandwich tuna.


"Tapi aku masih kenyang.." protes Rebecca.


"Hmmm.. Baiklah, tapi nanti dimakan ya. Ini spesial buatanku untukmu. Pasti rasanya sangat enak." dengan percaya diri Roger selalu memuji makanan buatannya.


"Iya Chef..." Rebecca tertawa geli melihat tingkah Roger.


Perlahan Roger duduk disamping Rebecca. Dia mengusap lembut perutnya dan mengecup puncak perut itu.


"Sayang, nanti kalau keluar tidak boleh menyusahkan Mommy ya. Harus jadi anak pinter" bisik Roger di perut Rebecca.


Bisikan itu tak sepenuhnya lirih. Buktinya Rebecca bisa mendengar setiap ucapan Roger. Ucapan itu membuat Rebecca tersentuh.


Selama delapan bulan ini dia berjuang sendirian mengatasi segala macam masalah kehamilannya.


Mendapat perhatian dari Roger membuatnya menjadi lebih semangat. Dia mulai mengesampingkan egonya dan berusaha menerima Roger kembali.


Yang terpenting sekarang dirinya merasa bahagia.


Mengingat hal itu membuat Rebecca mulai berkaca-kaca. Roger yang menyadari hal itu segera memeluk dan mencium kening wanita kesayangannya.


"Sayang, ada apa? Kamu sedih lagi?" Roger mengusap air mata yang mulai keluar dari netra Rebecca.


"Tidak apa-apa, aku hanya teringat saat dulu aku sendirian. Ku kira dengan tidak memberitahumu akan membuat semuanya baik-baik saja. Ternyata hal itu sangat berat." Rebecca merapatkan pelukannya kepada Roger.


"Maafkan aku..."


Rebecca mengangkat kepalanya dan langsung menatap Roger.


"Ayolah.. Jangan bilang minta maaf terus. Setiap jam kamu sudah mengatakan itu. Aku bosan" Rebecca memanyunkan bibirnya.


"Lalu, aku harus bilang apa.. Bilang kalau Aku sangat mencintaimu?" ujar Roger sembari tersenyum.


Seketika wajah Rebecca bersemu merah. Kata-kata itu sudah lama tak dia dengar dan saat Roger Mengatakannya seolah hatinya ingin copot.


"Kau sungguh masih mencintaiku?" kali ini Rebecca memberanikan diri bertanya.


Roger pun menghela nafas. "Jika aku tidak sungguhan mencintaimu, lantas untuk apa aku jauh-jauh mencarimu kesini?" Roger mencubit ujung hidung Rebecca.


Biasanya Rebecca akan bereaksi namun kali ini dia justru semakin mendekatkan wajahnya.


Rebecca membelai lembut pipi Roger kemudian menyentuh bibirnya.


"I miss you, i wanna kiss your lips.." Sedetik kemudian bibir itu telah beradu.


...****************...


"Jadi rumah Papa tidak ada halamannya? Lalu kalau Papa ingin menanam bunga bagaimana?" Selina mengitari seluruh ruangan di Apartemen Aldho.


Apartemen Aldho memang tidaklah besar. Hanya terdapat ruang tamu, dapur, serta dua kamar dan satu kamar mandi.


Letaknya berada di lantai sebelas sehingga tidak ada halamannya hanya sebuah balkon yang menghadap langsung pemandangan kota Los Angeles.


"Sementara Papa tidak menanam bunga sayang, tapi kalau ingin sekedar menikmati kesejukan kita bisa jalan-jalan di taman kota" ujar Aldho.


Selina memang selalu penasaran dengan tempat baru. Dahulu saat Cindy masih sering mengajaknya ke Milan dia juga banyak bertanya.


Pertanyaannya pasti seputar arsitektur bangunan tersebut.


"Tapi papa, kalau aku mau main jangan tinggalkan aku ya, karena aku bisa tersesat mencari pintu rumah kita. Kan sama semua" dengan polosnya gadis kecil itu berucap membuat Aldho dan Cindy yang baru selesai menidurkan Baby Al semakin gemas.


Maklum, Selina selalu tinggal di sebuah rumah tunggal dengan halaman rumah yang luas. Bahkan di Rumah Pak Theo luasnya dua kali lipat lebih besar daripada rumah Pak Tirta sehingga gadis kecil itu sangat senang bermain sepeda di sana.


"Anak mama kenapa semakin cerewet ya.. Memangnya ini turunan siapa sih?" protes Cindy sembari menggelitiki Selina. Aldho pun ikut mengangkat tubuh Selina dan menggodanya. Mengobati rasa rindu karena jauh dari bidadari kecilnya.


"Ahahahaha... Papa, Mama geliii..." tawa Selina yang lepas.


...****************...


Satu bulan berlalu, seharian ini perut Rebecca sudah mulai terasa mulas. Roger yang tidak ingin terjadi sesuatu kepada Rebecca segera membawanya ke rumah sakit.


Benar saja Rebecca saat ini sudah waktunya melahirkan. Dia ingin sekali melahirkan secara normal dan dokter mengijinkannya.


Saat mengalami kontraksi Rebecca terus menahan sakit. Peluh membasahi sekujur tubuhnya.


"Sayang, kamu pasti bisa. Kuat ya" Roger terus menyemangati Rebecca.


Hingga akhirnya setelah tiga kali kontraksi Rebecca berhasil melahirkan bayinya.


"That's a Girl" ujar sang dokter.


Roger tak kuasa menahan tangisnya. Sebuah tangis haru dan bahagia.


Akhirnya dia bisa menemani secara langsung buah hatinya yang lahir.


Sementara Pak Anton yang menunggu di luar sangat bahagia mendengar tangis pertama cucunya.


Semua orang bersuka cita atas kelahiran bayi Rebecca.


Namun tiba-tiba Roger menghilang begitu saja entah kemana.


"Ayah, dimana Roger?" Rebecca mulai bingung. Dia takut jika Roger kabur meninggalkannya.


"Sebentar Ayah cari dulu" Pak Anton bergegas keluar ruangan mencari keberadaan Roger.


Dia mencari Roger di setiap sudut ruangan namun tidak ada. Kemudian saat melintasi balkon dia melihat Roger yang duduk termenung diasana.


"Roger, kamu disini rupanya. Rebecca mencarimu" ujar Pak Anton menghampiri Roger.


Namun saat melihat wajah Roger tampak Sembab. Sepertinya dia habis menangis.


"Ada apa nak?" Pak Anton mengusap bahu Roger.


"Ayah, aku benar-benar tidak bisa melihat Rebecca kesakitan seperti itu. Aku tidak tega. Ini semua gara-gara aku. Jika tahu melahirkan sesakit itu maka aku rela dia tidak hamil asalkan tidak kesakitan" ujar Roger.


"Roger, seorang melahirkan ya seperti itu. Tapi diantara sakit itu ada sebuah kebahagiaan. Mungkin kamu merasa bahwa sakit yang dialami Rebecca adalah beban. Namun belum tentu yang dirasakan Rebecca seperti itu juga." ujar Pak Anton.


Jika seperti ini. Roger jadi mirip dengan Selina, Dia sangat tidak tahan dengan rasa sakit apalagi jika orang kesayangannya yang merasakannya.


...****************...


Hari-hari Roger menjadi bahagia. Satu bulan setelah Rebecca melahirkan, Roger resmi mempersunting Rebecca menjadi istrinya lagi.


Sementara Aldho masih fokus dengan studi dan pekerjaannya. Aldho juga masuk dalam jajaran mahasiswa berprestasi sehingga dia dapat banyak promosi. Hal itu jelas meningkatkan kariernya menjadi seorang dokter dan pendidik profesional. Cita-citanya perlahan mulai terwujud.


Sementara Cindy, kini masih fokus merawat dan membesarkan kedua malaikatnya. Entah kapan dia akan memulai kariernya sebagai desainer lagi yang pasti dia ingin fokus dengan keluarganya.


Tak ada yang lebih indah dibanding hangatnya keluarga. Memiliki suami dan anak-anak yang sangat menyayanginya adalah anugerah terbesar untuk Cindy.


Lika-liku perjalanan hidup Cindy yang mungkin sangat menyakitkan di awal hingga menorehkan sejumlah trauma kini terbayar sudah dengan kebahagiaan rumah tangganya.


Bersama Aldho, Cindy tak takut lagi menghadapi kerasnya dunia.


NB: Bonus visual karakter



Cindy dan Baby Alexander.



Mama Cindy dan Selina



Papa Aldho dan Daddy Roger lagi mantai.



Mommy Rebecca hang out with Mama Cindy.



Mommy Rebecca with her Baby



Papa Aldho with Baby Alexander.



Selina


...~~ THE END ~~...


"Halo teman-teman pembaca setia yang sudah mengikuti kisah Cindy dan Aldho dalam Baby Blues ini, saya sebagai author mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya. Maaf jika dalam penulisan masih banyak kekurangan dan koreksi. Mohon dimaklumi ya karena ini karya pertama saya.


Mungkin akhir dari kisah ini ada yang kurang berkenan di hati para readers saya mohon maklum ya..


See you soon.. Mohon untuk mampir di karya-karya saya selanjutnya.


Salam berkarya..."