
Selina tak henti-hentinya mengumbar senyum bahagia. Dia begitu senang dan bebas ketika Roger memperbolehkan dia mencoba semua wahana termasuk roller coaster.
"Om aku senang sekali ternyata naik roller coaster tidak terlalu menakutkan. Tapi papa pasti melarangnya karena takut aku pusing" ungkap Selina dengan begitu senang.
"Apapun yang kamu mau hari ini akan aku turuti semuanya." Roger hanya ingin putrinya bahagia didekat dia.
Selina terus memperhatikan wajah Roger. Dia merasa tidak asing dengan sosok itu.
"Apakah seorang di dalam foto yang ada di rumah Kakek Theo itu om?"
Roger mengangguk. Rupanya Selina mulai menyadari siapa Roger.
"Jadi om adalah adik dari Papaku?" ujar Selina semakin antusias.
"Iya sayang, akhirnya kamu mengerti sekarang. Jadi jangan takut lagi ya" Roger mengusap rambut Selina dan anak itu mengangguk.
"Mulai sekarang boleh dong jangan panggil om, panggilnya Daddy aja. Biar lebih akrab" Perlahan Roger ingin membiasakan putrinya dengan panggilan itu.
"Iya Daddy" Meski sederhana namun Roger merasa sangat bahagia ketika Selina memanggilnya Daddy untuk pertama kali. Namun dia tak ingin terburu-buru untuk memberitahu siapa dia sebenarnya.
Usai bermain hingga sore Selina merasa lelah dan mengantuk. Akhirnya Roger membawa Selina ke salah satu hotel terdekat dan mengajaknya beristirahat.
"Sayang tidur disini dulu ya biar hilang capeknya" dengan penuh kasih sayang Roger menggendong Selina menuju kamar hotel.
Sebelum tidur Roger mengganti pakaian Selina dengan baju yang sudah dia siapkan sebelumnya. Sebuah dress berwarna pink se lutut. Tentu saja itu warna favorit Selina.
"Daddy aku terlihat cantik ya" ungkap Selina dengan cerianya.
"Tentu sayang, mau bagaimanapun kamu tetap cantik"
Mereka saling mengobrol membicarakan kesukaan satu sama lain hingga akhirnya Selina ketiduran. Roger mencoba untuk mengecek ponselnya karena dia mematikannya sejak tadi.
Belasan panggilan tak terjawab serta pesan masuk begitu banyak dari Papanya. Tentu saja pasti mereka sangat khawatir dengan Selina karena Roger membawanya diam-diam.
Roger akhirnya mengabari Papanya dengan mengirim gambar-gambar dirinya dengan Selina.
"Pa, Selina baik-baik saja. Dia sedang bermain denganku, maaf aku mengajaknya secara mendadak. Tapi nanti malam aku akan mengantarnya pulang"
Pak Theo sedari siang berada di kediaman Aldho membaca pesan dari Roger merasa sangat lega. Dia langsung memberitahu Aldho dan Cindy tentang ini.
Meskipun lega tahu keadaan Selina namun tak serta merta membuat Aldho tenang. Beberapa kali dia mengurut dahinya dan menghela nafas kasar. Dia begitu kesal kepada Roger atas sikapnya yang seenaknya sendiri.
"awas saja jika terjadi sesuatu dengan Selina. Aku tidak akan tinggal diam meski dia saudaraku" Aldho yang masih dikuasai amarah terus menggerutu tak terima.
"Sayang, sudah jangan marah-marah terus. Kita tunggu nanti Selina pulang" Cindy mencoba untuk meyakinkan Aldho. Namun pria itu nampaknya tetap kesal.
"Bagaimana aku tidak marah Cindy? Dia membawa Selina tanpa ijin. Dia pria yang tak bertanggung jawab. Aku tidak akan tenang sampai Selina benar-benar kembali"
Semua orang menyadari kekhawatiran Aldho karena dia sangat menyayangi Selina. Selama ini Aldho pula yang berperan ganda sebagai seorang ayah sekaligus ibu untuk Selina.
Roger yang menemani Selina tidur akhirnya ikut tertidur pula. Hingga jam tujuh malam akhirnya Selina bangun. Dia mendapati dirinya masih bersama Roger. Seharian tidak bertemu Aldho membuatnya rindu.
"Daddy... Bangun... Aku mau pulang.. Aku mau ketemu papa.." rengek Selina sembari menggoyang-goyangkan bahu Roger.
Roger yang masih mengantuk akhirnya terpaksa membuka matanya. Dia melihat Selina yang menangis disampingnya.
"Sayang, kenapa menangis?"
"Aku kangen Papa... Aku mau pulang" sambil terisak Selina terus memanggil papanya.
"Baiklah kita pulang ya, tapi kita cari makan malam dulu baru pulang" perlakuan manis Roger mampu membuat Selina luluh.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Aldho semakin resah menunggu Selina yang tak kunjung datang. Dia terus wara wiri sambil mengepalkan tangannya.
Cindy menghampiri Aldho dan mengusap bahunya. Mencoba untuk membuat suaminya tenang. Dan benar saja, Aldho mulai sedikit tenang karena perlakuan Cindy.
Tak berselang lama terdengar suara mobil memasuki halaman rumah. Tampak mobil Roger yang datang. Aldho sudah bersiap untuk mendatangi Aldho.
"Aldho, ingat tenangkan dirimu jangan emosi" Pak Tirta berusaha menenangkan Aldho.
Namun rupanya hal itu tak berlaku bagi Aldho. Ketika Roger keluar dari mobil bersama Selina Aldho langsung menghampirinya.
BBUUKKKK...!!!
Aldho melayangkan tinjunya langsung ke wajah Roger hingga pria itu jatuh tersungkur. Darah segar mengalir dari hidungnya.
"Mama..." Selina yang melihat kemarahan Aldho langsung berlari memeluk Cindy. Dia benar-benar takut.
"Kurang ajar berani-beraninya membawa Selina tanpa ijin." Aldho hendak melayangkan kembali tinjunya namun segera dihalangi oleh Pak Tirta.
"Aku berhak atas Selina. Aku berhak karena aku ayah kandungnya. Kau hanya ayah pengganti untuknya" ucap Roger sembari memukul wajah Aldho dengan kepalan tangannya nya.
Selina yang hendak masuk kedalam rumah tak sengaja mendengar ucapan Roger. Dia segera menghampiri Aldho.
"Papa? Apa itu benar? Tidak kan Pa?" Selina benar-benar terkejut dengan apa yang dia dengar. Lantas dia langsung berlari ke kamarnya dan mengunci pintu dari dalam.
"Selina.. Buka pintunya sayang, mama bisa jelaskan" Seruan Cindy dari depan pintu nyatanya tak dihiraukan sama sekali oleh Selina.
Sementara di luar Pak Theo langsung menyeret Roger untuk pulang. Dia tidak ingin keadaan makin bertambah runyam.
Aldho digiring Pak Tirta ke dalam rumah. Pipi kirinya terlihat lebam karena pukulan dari Roger. Dia melihat Cindy yang berjalan lesu menghampiri Aldho.
"Dimana Selina?" Tanya Aldho kepada Cindy.
"Dia mengunci pintunya tidak mau keluar" sambil berkaca-kaca Cindy menangkap pipi Aldho.
"Sakit ya?" ucap Cindy dengan khawatir.
"Sedikit" balas Aldho.
"Sebaiknya kalian obati dulu lebamnya biar Selina ayah yang urus" ujar Pak Tirta.
Cindy mengambil air es batu dan waslap untuk mengompres pipi Aldho. Aldho meringis menahan sakit saat Cindy mengompres lukanya.
"Maafkan aku. Aku tak bisa mengontrol emosi hingga membuat Selina sedih" dengan tertunduk Aldho menyesali perbuatannya.
"Sayang, semua akan baik-baik saja. Selina hanya butuh waktu untuk memahaminya." Cindy memeluk Aldho.
"Aku tahu persis rasanya saat mengetahui fakta seperti itu. Hatiku benar-benar sakit namun aku harus menerima kenyataannya."
.
Sampai di rumah Pak Theo langsung mendudukkan Roger. Pak Theo yang biasanya selalu sabar terhadap Roger akhirnya harus mengungkapkan semua fakta tentang Aldho.
"Papa benar-benar kecewa dengan perbuatanmu Roger. Tidak seharusnya kamu mengatakan itu kepada Aldho. Ingatlah saat kau kabur dari pernikahanmu. Aldho yang menggantikan semuanya. Dia menerima Selina yang bukan darah dagingnya dengan sepenuh hati. Kini kau hancurkan perasaan seorang ayah seperti Aldho"
Seolah tak menyadari perbuatannya Roger masih membela dirinya.
"Jadi Papa sekarang mulai membela Aldho karena dia putra papa?"
.
...****************...