
Aldho tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Sejak semalam dia diberitahu bahwa Cindy sedang hamil rasanya seolah mendapat sebuah ketenangan di hatinya setelah musibah yang dialami Selina.
Aldho percaya semua ujian dan cobaan yang dia alami saat ini akan ada hikmah dan kebahagiaan yang akan menghampiri mereka.
Pagi ini setelah berjaga malam dia begitu semangat untuk pulang. Rasa kantuk dan lelah seolah tak ada dalam dirinya.
Dia mampir ke salah satu toko bunga dan membeli sebuah buket bunga mawar merah cantik untuk Cindy sebagai ucapan terimakasih telah mengandung benihnya.
Sampai di rumah dia langsung mencari keberadaan Cindy. Di dalam rumah masih ada Rebecca dan Roger serta Mama Grace dan Pak Tirta mengobrol di ruang tengah.
"Selamat pagi semuanya" sapa Aldho dengan ceria sembari membawa buket bunga dan berjalan cepat menaiki tangga. Sudah pasti mencari keberadaan Cindy.
Tampak Cindy berada di ujung tangga hendak berjalan turun. Dia lantas tersenyum melihat Aldho yang menghampirinya.
Aldho langsung memeluk Cindy sambil mencium bibirnya dengan begitu mesra.
"Ih sayang, malu tau dilihatin orang-orang" bisik Cindy malu-malu.
Aldho menoleh ke bawah melihat Keempat orang yang mengawasi mereka. Dia hanya terkekeh.
Kemudian Aldho memberikan buket bunga mawar merah untuk Cindy.
"Ini untuk bidadari cantikku" ucap Aldho penuh Cinta.
Sementara di bawah mereka berempat hanya bisa tersenyum geli melihat kelakuan mereka berdua.
"Sayang aku juga mau seperti Kak Aldho" rengek Rebecca.
"Iya-iya nanti beli" ujar Roger.
"Bukan masalah belinya sayang, tapi kejutannya, romantisnya" ujar Rebecca. Sedangkan Roger hanya mengangguk-angguk. Memang dasarnya Roger tidak bisa seromantis Aldho.
"Hahaha... Dasar anak-anak dimabuk cinta" Pak Tirta terkekeh melihat tingkah anak-anaknya.
Namun tawanya langsung terhenti ketika Mama Grace melototinya.
"Oh.. Jadi selama ini ayah tidak pernah dimabuk cinta? Kok Mama gak pernah dikasih begitu. Kalah dong sama Aldho." protes Mama Grace.
Dua pria itu dibuat bingung gara-gara Aldho.
"Gara-gara Aldho sih.." gumam Pak Tirta dan Roger.
Di dalam kamar Aldho tak berhenti menciumi perut Cindy.
"Sayang sudah dong.. Geli nih..." rengek cindy.
Bukannya berhenti justru Aldho semakin gemas menciumi Cindy. Dia membelai wajah cantik istrinya dan mengecup bibirnya dengan begitu lembut. Cindy membalas kecupan itu hingga menjadi ciuman yang mesra.
"Sayang apa kamu sudah memberitahu Selina?" tanya Aldho disela-sela ciumannya.
"Belum sayang, rencananya setelah ini. Dia masih tidur" jawab Cindy.
Aldho tak henti-hentinya mengulas senyuman saat memandangi istrinya.
"Sayang sebenarnya ada yang ingin aku ceritakan padamu" ujar Cindy.
"Iya, apa memangnya?" jawab Aldho.
"Sebenarnya, dua hari yang lalu aku mencoba memakai alat tes kehamilan dan hasilnya positif. Tapi aku tidak yakin bahwa itu akurat jadi aku mencobanya lagi keesokannya. Niatnya aku ingin memberi kejutan romantis kepadamu tapi keburu Roger dan Rebecca membawaku ke rumah sakit. Jadi aku hanya memotretnya saja" Ucap Cindy sembari menunjukkan foto Aldho yang tengah tidur dan tes kehamilan Cindy.
Aldho tersenyum melihat potret dirinya yang tengah tertidur.
"Ternyata aku masih terlihat tampan saat tidur. Pantas saja ada wanita yang begitu tergila-gila padaku"
"Wanita? Siapa?" tanya Cindy dengan sarkas.
"Ada.. Kenalan lama. Kami sempat berpisah lama namun kini kami kembali bersama" ujar Aldho menggoda.
Cindy yang terburu emosi tidak menangkap ucapan Aldho dengan benar.
"Apa? Kak Aldho punya pacar lagi? Jahat" Cindy hampir menangis dan langsung memukul dada Aldho.
"Sayang.. Sayang jangan salah paham.. Itu kamu. Bukankah kita sempat pisah dan kembali lagi?" Aldho mencoba menjelaskan. Seketika Cindy langsung beringsut dan tertunduk malu.
"maaf," ucap Cindy lirih.
Melihat ekspresi Cindy membuat Aldho semakin gemas.
"Kenapa kamu begitu menggemaskan cintaku..." Aldho kembali memeluk Cindy.
Aldho dan Cindy langsung menghampiri karena Roger dan Rebecca sudah pulang.
"Sayang, kamu sudah bangun?" sambut Cindy.
"Mama.. Mama sudah sembuh? Kata Mommy kemarin mama sakit" Selina langsung meraih tangan Cindy.
"Mama baik-baik saja sayang, ada kejutan buat kamu" ucap Cindy.
"Apa ma?" Selina penasaran.
"Mama kamu sedang hamil sayang, dia mengandung adik kamu" ujar Aldho.
Selina langsung melotot tak percaya.
"Mama sungguh hamil?" Selina kembali menanyai Cindy. Dan Cindy pun mengangguk.
"Yeeeyyyy..." Selina langsung berteriak kegirangan. Tak lupa dia mengelus perut Cindy.
Selama ini dia begitu menginginkan keberadaan saudara. Kebahagiaan keluarga kecil itu lengkap sudah.
.
Di perjalanan Roger sambil menyetir mengingat saat Aldho melakukan hal romantis dengan Cindy. Dia tahu tidak sepatutnya memikirkan hal itu. Cindy sudah bahagia dengan Aldho sementara dia sudah memiliki Rebecca.
Namun perasaannya kepada Cindy masih saja membersit di pikirannya.
"Sayang, bahagia sekali ya. Aku melihat Cindy sedang mengandung. Kak Aldho juga terlihat sangat memanjakannya" ujar Rebecca memecah lamunan Roger.
"Eh, iya sayang. Tentu saja mereka bahagia. Itu yang ditunggu setiap pasangan bukan?" ujar Roger.
"Sayang, apa kamu juga akan memperlakukan aku seperti itu jika hamil nanti?" tanya Rebecca lagi.
"Tentu saja sayang. Apapun maumu akan aku turuti semua"
Sejenak Rebecca terdiam. Tiba-tiba muncul pikiran yang membuatnya mengganjal.
"Tapi jika aku tak kunjung hamil?"
Roger menatap Rebecca sekilas kemudian meraih tangannya dan mencium jemarinya.
"Aku akan tetap memanjakanmu sayang. Kamu adalah hidupku"
Akhirnya Rebecca bisa tenang. Dia sangat bahagia Roger selalu memperlakukannya dengan baik.
Sampai di rumah Rebecca langsung mencoba alat tes kehamilan yang dia beli beberapa waktu lalu. Memang saat ini dia belum telat datang bulan namun apa salahnya dicoba.
Dia juga sempat mengalami pusing beberapa waktu belakangan ini. Sama seperti yang dituturkan oleh Cindy.
Rebecca merasa jantungnya berdetak kencang saat menunggu hasil tes pada alat tersebut. Akhirnya indikator itu muncul dan hasilnya membuat dirinya tercengang.
"Satu garis merah?" gumam Rebecca.
Dia membaca petunjuk dari alat tersebut bahwa satu garis merah menandakan dia tidak hamil.
Dengan langkah gontai dia keluar dari kamar mandi.
Roger yang sedang bersiap ke kantor mengurus perusahaan Pak Theo melihat istrinya tampak cemberut.
"Sayang, ada apa kok wajahnya ditekuk gitu?"
Rebecca berjalan menghampiri Roger kemudian menunjukkan alat tes kehamilan kepada suaminya.
"Aku belum hamil" ucapnya lirih.
Kemudian Roger langsung memeluk Rebecca dan menenangkannya.
"Sayang, kenapa harus risau? Hamil dan tidak itu bukan kita yang menentukan. Kita sudah berusaha tapi Tuhan masih belum berkehendak. Sabar ya" ucap Roger sembari mengecup puncak kepala Rebecca.
"Sayang jangan berubah ya.. Aku sangat mencintaimu dan membutuhkanmu" ujar Rebecca.
"Tentu sayang. Aku juga mencintaimu" ucap Roger.
Meskipun Roger menyemangatinya namun Rebecca masih merasa risau. Dia masih kepikiran penyebab dirinya sering pusing akhir-akhir ini. Namun dia tak ingin berpikir terlalu dalam, mungkin saja penyebab pusingnya hanyalah stres dan kelelahan.
.
.
bersambung....