
"Tidak bisa..." Rebecca seketika menolak ajakan Roger untuk menikah.
"Kenapa? Apa karena aku punya seorang anak?" Roger bingung dengan penolakan Rebecca. Niat baiknya langsung ditolak olehnya.
Rebecca menghela nafas panjang. Ditatapnya Roger dengan lekat."Tidak, bukan itu maksudku. Aku tidak mau kamu menikahiku semata karena rasa bersalahmu. Aku hanya ingin menjalani pernikahan atas dasar cinta. Aku tidak mau seperti ayah dan ibuku"
Mendengar penjelasan dari Rebecca membuat Roger sedikit lega. Setidaknya dia memiliki alasan yang masuk akal dan masih ada peluang untuknya.
Roger memang pernah melakukan kesalahan fatal terhadap Cindy dan kali ini dia tidak ingin mengulangi kesalahan itu kepada Rebecca.
"Baiklah, jika itu maumu tapi aku berjanji akan tetap bertanggung jawab kepadamu. Anggap saja kita sedang mengenal satu sama lain. Biarlah perasaan ini tumbuh perlahan jika bisa"
Rebecca hanya terdiam. Untuk sesaat dia memang melihat keseriusan Roger. Namun dia belum lama mengenal Roger, dan dia hanya ingin menjalani apa adanya.
...****************...
Rencana Viona kini perlahan mulai berjalan mulus. Renata diterima bekerja di rumah sakit meski awalnya di tentang oleh kedua orang tuanya.
Kehidupannya yang sudah tercukupi oleh keluarganya bahkan melebihi gaji sebagai dokter di rumah sakit.
Dengan dalih ingin mengabdikan diri akhirnya Renata mendapat ijin orang tuanya.
Hari pertama ke rumah sakit Aldho dibuat kaget dengan kehadiran Renata. Saat ini dia masih magang dan kebetulan satu tim dengan Aldho.
"Pak Aldho ini dokter baru yang akan bergabung dengan tim kita." Atasan Aldho mengenalkan Renata.
"Mohon kerja samanya" Renata menjabat tangan Aldho. Aldho hanya mengangguk tak banyak menimpali.
Dia hanya berpikir kenapa Renata masih ingin menjadi dokter padahal dahulu dia pernah berkata jika tidak telaten dengan hal itu. Apalagi menghadapi pasien.
" Aldho, aku senang akhirnya kita satu tim. Aku harap kamu cukup sabar membantuku ya" Renata menghampiri Aldho yang sedang mempelajari diagnosa pasien.
"Iya Renata, tentu" Aldho menjawab singkat.
"Aldho, bagaimana kabarmu? Kamu masih baik dengan Cindy kan?" Renata kembali menanyai Aldho.
"Iya kabarku baik. Cindy juga baik"
"Oh iya Aldho, untuk masalah tante Viona aku sebenarnya sudah kenal lama dan aku tidak menyangka dia adalah ibumu" Renata terus mencoba untuk mengajak Aldho mengobrol.
Namun situasinya kurang tepat. Saat ini Aldho sedang sibuk berkonsentrasi karena dokter utama memberi tugas Aldho untuk mempelajari diagnosa pasien sebelum operasi besok.
"Renata, aku sedang sibuk mempelajari diagnosa pasien. Tolong jangan bertanya hal-hal yang tidak penting karena aku butuh konsentrasi" Aldho kini mulai kesal dengan Renata.
"Ba-baiklah, maafkan aku Aldho" Akhirnya Renata mau diam dan dia masih duduk menemani Aldho. Tidak ada lagi obrolan di antara mereka.
Renata masih memperhatikan Aldho yang sedang berkonsentrasi. Dipandanginya wajah tampan Aldho yang tidak berubah sama sekali sejak dia bertemu untuk pertama kalinya. Kemudian Renata mengingat masa-masa mereka masih bersama, saat Aldho yang begitu perhatian dan mencintai Renata. Empat tahun bukanlah waktu yang singkat untuk memadu kasih bahkan selama itu Aldho tidak pernah merenggut kesucian Renata.
Aldho selalu berpegang teguh terhadap prinsipnya yang tidak pernah mau merusak masa depan wanita. Hal itu pula yang membuat Renata mempertahankan Aldho.
Namun apa dikata tetap saja orang tua Renata tidak merestui hubungan mereka. Renata adalah anak tunggal dan mereka sudah memilihkan jodoh yang sepadan. Setidaknya suami Renata harus berasal dari keluarga konglomerat.
.
Aldho sudah pulang dari kerjanya dan kini sedang bersantai bersama Cindy juga Selina. Hal terbaik untuknya adalah menghabiskan waktu bersama anak dan istrinya.
Apalagi kini Selina sudah mulai merangkak dan belajar berdiri.Aldho sangat bahagia melihat putrinya tumbuh dengan sehat.
"Sayang bagaimana kerjanya hari ini? Lancar?" seperti biasa Cindy selalu menanyakan aktivitas Aldho.
Aldho pun juga sering bertanya kepada Cindy tentang kegiatannya.
"Lancar sayang, besok lusa ada operasi. Kamu sendiri bagaimana?" Aldho hanya bercerita sedikit. Dia belum bicara bahwa Renata sekarang bekerja satu tim dengannya. Dia merasa saat ini belum tepa waktunya untuk berbicara dengan Cindy.
"Sementara tanganku sakit belum bisa membuat desain. Padahal bulan depan ada lomba desain pakaian. Tutorku sudah mendaftarkanku tapi aku masih tidak yakin" kali ini Cindy tampak gundah dan segera Aldho berusaha menghiburnya.
"Sayang, jangan menyerah. Sebentar lagi luka di tanganmu pasti sembuh. Dan aku percaya kamu berbakat pasti bisa" Hal paling melegakan ketika Aldho selalu mendukung Cindy. Hatinya terasa damai dan kepercayaan dirinya perlahan mulai kembali.
Hari Minggu Aldho dan Pak Tirta sedang libur. Cindy juga libur bimbingan jadi dia bisa lebih bersantai di pagi hari.
Mereka menyiapkan sarapan bersama dan semua orang sibuk dengan aktivitas masing-masing.
"Al, bisa bantu ayah memindahkan tanaman ini? Ayah mau packing untuk dikirim ke pembeli" Pak Tirta sibuk dengan tanamannya yang kini bukan sekedar hobi bahkan tanamannya memiliki nilai jual cukup tinggi.
"Iya ayah, Aldho bantu" begitupun Aldho yang mulai menggemari tanaman juga. Sepertinya hal itu akan menurun kepada Aldho.
Tiba-tiba terdengar suara bel pintu. Mama Grace segera membukakan pintu dan ternyata Viona yang bertamu.
"Hai Grace, selamat pagi" sapa Viona.
"Viona, selamat pagi. Ayo silahkan masuk"
"Aku kebetulan ada keperluan di dekat sini dan lagi kangen Selina. Dimana Selina?" ungkap Viona.
"Ada di dalam bermain dengan Cindy"
Viona segera menghampiri Cindy dan Selina. Hubungan mereka memang sudah membaik begitupun dengan yang lain.
Mama Grace mengajak Viona turut serta sarapan bersama keluarganya. Suasana harmonis dan bahagia menyelimuti mereka.
"Oh iya Aldho, Renata bilang kamu satu tim dengannya ya?" tiba-tiba Viona membuka pembicaraan setelah sarapan.
"Renata?" Cindy langsung terkejut mendengar nama Renata. Aldho hendak menjelaskan namun sudah didahului Viona.
"Iya Cindy, Renata teman Aldho. Beberapa waktu lalu ibu juga bertemu mereka saat makan siang bersama. Iya kan Aldho?" Viona sengaja membuat Cindy cemburu.
"Makan siang? Maksudnya?" Cindy semakin curiga.
"Ya makan siang Aldho dan Renata, mereka berdua kebetulan bertemu ibu. Wajarlah Cindy kan Renata teman Aldho satu angkatan. Lagi pula mereka sekarang kan juga partner"
Cindy langsung menatap Aldho. Dia benar-benar terkejut dengan ucapan ibu mertuanya. Selama ini Aldho bahkan selalu mengatakan bahwa tidak pernah bertemu Renata.
"Cindy, nanti aku jelaskan ya" Aldho mencoba merayu Cindy.
"Maaf aku mau ke toilet dulu" Cindy bergegas meninggalkan meja makan dan berlari menuju kamarnya.
"Ma, nitip Selina dulu ya" Aldho pergi berlalu menyusul Cindy.
.
.
...****************...