
Cindy menatap Aldho dengan tajam. Hal itu membuat Aldho tampak bingung.
"Kak Aldho apa semalam kau..." Cindy belum sempat meneruskan kata-katanya langsung dipotong oleh Aldho.
"oh, ini aku bisa jelaskan" Aldho tidak ingin Cindy semakin salah paham.
"Kemarin aku sedang terjebak di lift. Kebetulan ada salah satu perawat disitu. Dia panik dan tidak sengaja membenturkan wajahnya di lenganku. Jadi mungkin itu asal noda ini" Aldho berusaha menceritakan kejadiannya kepada Cindy.
"Benar begitu?"
Aldho meraih tangan Cindy dan menggenggamnya.
"iya Cindy, aku tidak mungkin macam-macam. Aku hanya bekerja" Aldho meyakinkan Cindy.
Cindy kemudian mengangguk dan terlihat senyum kecil di sudut bibirnya.
"Baiklah aku harus mandi dulu. Badanku sudah terasa bau" Aldho meninggalkan Cindy untuk membersihkan diri.
Cindy sedang membantu menyiapkan sarapan. Mama Grace memintanya untuk memanggil Aldho sarapan karena makanan sudah siap.
Cindy berjalan menuju kamar Aldho. Dia mengetuk pintu dan memanggil Aldho namun tidak ada balasan. Akhirnya dia langsung membuka pintu kamar tersebut dan masuk ke dalam.
Terlihat Aldho yang sedang tidur terlelap di atas ranjang. Dia hanya mengenakan boxer pendek dan bertelanjang dada. Handuknya juga tergeletak begitu saja di atas kasur.
"hmm... rupanya tertidur" Cindy mengambil handuk tersebut lalu meletakkannya di kamar mandi.
"Kak, bangun... waktunya sarapan" Cindy menepuk-nepuk lengan Aldho namun tidak ada respon. Sepertinya dia sudah sangat lelap.
Akhirnya Cindy menggoyang-goyangkan lengan Aldho sedikit keras agar cepat bangun. Namun yang terjadi malah Aldho meraih tangan Cindy dan menarik tubuhnya hingga terjatuh di atas Aldho. Dengan mata masih terpejam Aldho menggulingkan tubuh Cindy dan merengkuhnya.
Seperti guling hidup Aldho mengunci tubuh Cindy dengan dekapan tubuhnya yang kekar. Cindy tidak bisa bergerak dan hanya bisa diam menatap wajah tampan Aldho yang terlelap.
Deru nafasnya serta aroma tubuhnya yang wangi sabun masih menempel membuat Cindy merasa nyaman. Aldho merapatkan kakinya membuat benda menonjol di bawah terasa oleh Cindy.
Sontak membuat dirinya memerah. Membayangkan hal-hal jauh dari angannya yang bahkan tidak terpikirkan selama ini. Gadis kecil itu kini mulai beranjak dewasa. Perlahan dia memperhatikan setiap inci wajah Aldho, bahkan dia menyadari bahwa Aldho memiliki bulu mata yang begitu indah.
Berangsur ke bibir membuat Cindy mengingat kejadian kemarin siang saat Aldho hampir menciumnya. Ternyata waktu itu Cindy sudah terbangun namun melihat Aldho yang begitu dekat dengannya membuat dia tidak jadi membuka mata karena canggung.
"Apa kau begitu menginginkannya?" gumam Cindy lirih.
Kemudian Cindy mulai mendekatkan bibirnya dan mengecup bibir Aldho dengan lembut. Dia melakukannya dengan sangat hati-hati agar Aldho tidak terbangun karena dia akan sangat malu jika Aldho sampai tahu.
.
Mama Grace menunggu Cindy yang tak kunjung turun untuk sarapan.
"Ma, apa anak-anak tidak sarapan?"
"Aku sudah menyuruh Cindy untuk memanggil Aldho ke bawah tapi kenapa sampai sekarang belum kembali?"
Akhirnya Mama Grace menghampiri Cindy dan Aldho di kamar Aldho.
Terlihat pintu yang tidak menutup sempurna sehingga Mama Grace langsung membuka dan memasukinya. Namun alangkah terkejutnya melihat Cindy dan Aldho sedang bercumbu di atas ranjang. Bahkan Aldho kini hanya memakai pakaian dalam.
Mama Grace segera menutup kembali pintunya dengan hati-hati.
"Astaga,, bahkan mereka belum sarapan" Mama Grace berlalu tanpa mengganggu mereka.
"Dimana ma anak-anak?" tanya Pak Tirta menunggu di meja makan.
"hmmm... kita duluan saja sepertinya mereka akan melewatkan sarapan" sorot mata Mama Grace seperti mengartikan sesuatu.
Pak Tirta yang mengerti maksud istrinya langsung tertawa.
"mama, kayak dulu tidak begitu juga" goda Pak Tirta yang langsung dibalas oleh cubit Mama Grace.
"emm.. sayang. Tapi sepertinya aku juga ingin seperti itu" bisik Pak Tirta menggoda.
.
Aldho sedang mimpi yang begitu indah. Dia bermimpi dihampiri oleh Cindy yang datang dan menciumnya. Dia begitu senang dan memeluk Cindy. Mimpi yang seperti nyata Aldho bisa merasakan aroma tubuh Cindy bahkan lekuk tubuhnya.
Kemudian dia mendengar sebuah bunyi yang tidak asing baginya. Lama kelamaan akhirnya Aldho tersadar bahwa itu adalah bunyi panggilan masuk di ponselnya. Dengan segera dia membuka mata namun dia begitu terkejut saat mendapati Cindy sedang dipeluknya.
"Cindy?" ucap Aldho. Dia merasakan hal berbeda dari tubuhnya yang ternyata dia belum memakai pakaian dan hanya mengenakan celana pendek. Aldho langsung mengangkat tangannya yang diikuti helaan nafas Cindy.
"Huufftt... akhirnya.. tubuhku terasa kesemutan semua tidak bisa bergerak" ucap Cindy bernafas lega.
"emm.. Cindy, kenapa kamu disini?" tanya Aldho bingung.
" Aku sedang membangunkanmu untuk sarapan tapi kak Aldho malah menarik tubuhku dan mendekapnya." dengus Cindy kesal.
"emm.. maaf. Maaf Cindy" Aldho terlihat malu akan tingkahnya. Kemudian dia mendengar ponselnya berdering lagi.
Dia melihat nomor tidak dikenal yang memanggil.
"Cindy aku angkat telepon dulu" pinta Aldho yang dibalas anggukan oleh Cindy. Aldho berjalan ke dekat jendela mengangkat teleponnya.
"Halo, selamat pagi. Dengan siapa ini?"
"Halo, selamat pagi. Saya Elisa pak Aldho. Perawat neonatus yang kemarin terjebak di lift bersama anda"
"Oh, ada apa Elisa?"
"Pak Aldho kemarin saya menemukan nametag anda terjatuh di lantai. Saya ingin mengembalikannya. Bagaimana kalau kita bertemu hari ini?" tanya Elisa.
"Oh, maaf hari ini Minggu saya jadwalnya libur. Jadi tidak bisa ke rumah sakit. Titipkan saja ke loby atau perawat lain. Atau hari senin saja bisa kamu berikan padaku"
"emmm, pak Aldho sejujurnya saya ingin mengajak anda bertemu sekalian memberikan ucapan terimakasih atas kejadian kemarin. Bagaimana kalau kita mengobrol di kafe?"
"Maaf Elisa hari ini saya ada acara. Jika tidak ada yang disampaikan lagi saya tutup teleponnya. Saya agak sibuk sekarang. Selamat pagi"
Aldho mematikan panggilan di ponselnya. Dia tahu itu hanyalah alibi Elisa untuk mendekatinya.
Cindy masih duduk diatas ranjang Aldho sembari memperhatikan suaminya yang berbicara di telepon. Tubuh kekar Aldho yang terkena sinar mata hari semakin membuatnya terlihat sexy. Diam-diam Cindy mulai menikmati pemandangan yang ada di depannya.
"Cindy, emm.. hari ini kamu sibuk?" tanya Aldho.
"Tidak" balas Cindy.
"Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan?" tanya Aldho.
"emm.. boleh.." jawab Cindy antusias.
.
flashback:
Elisa merasa sedikit sebal karena petugas berhasil mengeluarkan mereka dari jebakan lift. Momen berduaan dengan Aldho harus berakhir dan kini dia akan sulit mendapatkan kesempatan seperti ini.
Saat berjalan keluar lift Aldho tidak sengaja menjatuhkan nametag miliknya.
Elisa yang mengetahui segera mengambil diam-diam dan menyimpan di saku seragamnya.
"Aku akan menggunakan ini sebagai alasan bertemu dengannya. Elisa kamu harus terus berjuang pantang menyerah untuk mendapatkan dokter tampan itu" gumam Elisa dalam hati.
.
.