Baby Blues

Baby Blues
bab 76 malam yang pahit



Bak tersambar petir malam itu Cindy bertemu seorang yang paling tidak ingin dia temui dalam hidupnya. Melihat Roger membuat luka lama Cindy seolah kembali menganga.


Dengan cepat Cindy langsung berlari keluar dari restoran tersebut. Sementara Roger yang tak ingin kehilangan Cindy segera berlari menyusulnya.


"Cindy jangan pergi" Roger berusaha menjangkau Cindy.


Tersisa Rebecca yang berdiri mematung. Dia benar-benar tidak menyangka akan berakhir seperti ini. Bagaimana bisa sahabatnya selama ini adalah seorang yang selalu tersimpan di hati tunangannya.


Cindy menangis sejadi-jadinya di luar restoran. Dia kembali mengingat masa-masa terberatnya saat Roger mulai menghancurkan hidupnya.


"Cindy, benarkah itu kamu?" Roger berdiri di hadapan Cindy seolah tak percaya.


Cindy hendak pergi namun Roger segera menangkap lengan Cindy.


"Lepaskan aku" Cindy terus meronta.


Dengan berkaca-kaca Roger tak menyangka bahwa dia berhadapan dengan wanita yang selalu dia pikirkan selama ini.


"Cindy, aku tidak menyangka ini kamu. Aku sangat ingin bertemu denganmu Cindy. Andaikan aku bisa memutar waktu aku tidak akan pernah melepasmu" Roger terus mengungkapkan isi hatinya tanpa mempedulikan Rebecca yang kini berdiri di belakang mereka.


"Kau... Kau yang telah menghancurkan hidupku. Kau pria bajingan yang tak punya tanggung jawab" emosi Cindy kini mulai memuncak. Air mata bercucuran membasahi wajah Cindy.


"Cindy maafkan aku, saat itu aku.."


PLAAKKK...!!!!


Cindy sudah tidak tahan dengan Roger sehingga dia langsung menamparnya dengan keras. Hal itulah yang sangat ingin Cindy lakukan sejak dulu.


"Kau bilang maaf? Kau tahu bagaimana menanggung semua beban itu sendiri ketika kau kabur di hari pernikahan kita? Aku hampir gila dan menghabisi hidupku karenamu"


Roger langsung lemas hingga cengkeramannya di lengan Cindy terlepas. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu Cindy langsung berlari dan pergi menggunakan taxi.


Sampai di apartemennya Cindy langsung menangis sejadi-jadinya. Hatinya benar-benar sakit. Luka lama dan rasa trauma yang susah payah di lawan kini seolah kembali menghantuinya.


Dia kembali mengingat malam dimana perbuatan bejat Roger kala itu. Hatinya seperti dihujam sebilah pisau. Begitu pedih dan menyesakkan.


Sementara Roger kembali ke apartemennya bersama Rebecca. Tak ada obrolan diantara mereka. Roger yang duduk termenung di sofa seolah tak percaya bahwa Cindy berada didepan matanya.


Rebecca mengambil es batu dan kain untuk mengompres pipi Roger yang memerah karena tamparan Cindy.


Perlahan dia mengompres pipi Roger dengan lembut. Di situ Roger baru menyadari keberadaan rebecca.


Roger memegang tangan Rebecca yang sibuk mengompresnya. Terlihat tatapan wanita itu nampak menyimpan kesedihan.


"Sayang, maafkan aku. Aku tadi kelepasan." sesal Roger.


Rebecca tersenyum tipis. Dia berusaha menutupi perasaannya yang sebenarnya begitu sakit. Dicampakkan oleh tunangannya sendiri.


"Jadi dia adalah Cindy, wanita yang mengandung telah putrimu?" tanya Rebecca lirih.


Roger mengangguk, seolah dia tak punya keberanian menatap Rebecca.


"Sayang, maafkan aku" Roger langsung memeluk Rebecca. Meski membalas pelukan Roger sebenarnya hati Rebecca begitu sesak mengingat bagaimana tatapan Roger kepada Cindy. Tatapan yang tak pernah dia dapatkan dari Roger.


Rebecca mencoba menghubungi Cindy untuk memastikan apakah dia pulang dengan selamat. Namun berkali-kali Cindy menolak telepon darinya.


"Ya Tuhan, angkat teleponmu Jully" Rebecca sangat cemas.


Sementara Cindy melihat nama Rebecca di layar ponselnya terus menelepon. Dia tidak ingin berbicara dengannya sekarang sehingga Cindy terus menolak panggilannya.


Cindy berusaha untuk berdamai dengan keadaannya. Dia mencoba merebahkan diri di ranjang untuk menenangkan diri. Namun lagi-lagi ponselnya berbunyi. Kesal dengan panggilan yang terus masuk membuatnya hendak mematikan ponselnya.


Namun dia berubah pikiran saat melihat Windy yang menelepon. Cindy langsung mengangkat teleponnya siapa tahu dia membawa kabar tentang Selina putrinya.


"Halo Windy, ada apa?" Cindy mencoba berbicara sejelas mungkin agar tidak terlihat dia usai menangis.


"Halo Cindy..." justru suara Windy terlihat gemetar. Sepertinya dia sedang menangis.


"Tika... Tika meninggal dunia Cindy" tangis Windy kini mulai pecah.


Baru saja Cindy berusaha menenangkan diri dari masalahnya dengan Roger kini ditambah kabar duka dari sahabatnya.


Windy meminta agar Cindy pulang menghadiri pemakaman Tika, mengingat dia pernah berujar bahwa para sahabatnya harus ada di peristirahatan terakhirnya.


Cindy yang awalnya enggan kembali akhirnya mulai menurutinya mengingat Tika adalah sahabatnya.


"Ba-baiklah.. Aku akan datang, aku akan cari jadwal penerbangan tercepat" balas Cindy yang tentu saja disambut lega oleh Windy.


"Jenazahnya masih di Singapura. Pemakamannya mungkin dilaksanakan lusa. Jadi masih ada waktu untukmu Cindy"


Cindy langsung mempersiapkan semua yang dia perlukan. Karena dia mendapatkan jadwal penerbangan pagi-pagi sekali. Semua serba mendadak dan dia hanya membawa barang-barang sedikit.


Meski Cindy sangat ingin kembali ke Indonesia namun dia juga merasa bimbang. Dia sangat merindukan keluarganya tetapi dia tak memiliki cukup keberanian untuk bertemu mereka, terutama Aldho.


Cindy menatap Foto Aldho yang terbungkus bingkai di meja kamarnya. Pria yang selalu ada didalam hatinya.


"Aku sangat merindukanmu"


...****************...


Bertahun-tahun Viona mencoba untuk membuat Aldho melupakan Cindy namun sia-sia. Semakin dia berusaha memaksa Aldho pada akhirnya mereka justru bertengkar.


Viona benar-benar harus putar otak karena Renata pun sudah mulai menyerah menghadapi Aldho.


Akhirnya terbersit di pikirannya untuk memanfaatkan Selina. Karena Selina adalah kelemahan Aldho. Pria itu pasti menuruti semua permintaan Selina.


Viona segera melancarkan aksinya dengan berpura-pura mengunjungi Selina lalu mengajaknya berjalan-jalan di taman.


Viona mengajak Selina makan es krim bersama. "Sayang, lihatlah orang-orang di ujung itu" Viona menunjuk seorang anak yang sedang bermain dengan kedua orang tuanya.


"Ada apa Nenek?" balas Selina.


"Apa kamu tidak ingin memiliki keluarga yang lengkap? Papa dan Mama" ujar Viona.


"Tapi papa bilang kami berdua sudah cukupenyenangkan" balas Selina.


"Tapi jika memiliki dua orang tua kebahagiaanmu akan lengkap sayang" bujuk Viona.


Sejenak Selina terdiam. Dia sedang merenungkan ucapan neneknya. Benar juga jika dia memiliki orang tua lengkap pasti lebih bahagia.


"Sebenarnya aku mau mama, tapi Papa bilang mamaku masih mengejar cita-citanya" balas Selina polos.


"Semua orang bisa menjadi mamamu sayang, asalkan dia menyayangimu. Contohnya adalah tante Renata" Viona terus mempengaruhi Selina.


"kenapa tante Renata nek?"


"Karena Tante Renata sangat menyayangimu, jadi dia cocok jadi mamamu" ungkap Viona.


"Tapi tante Windy juga sayang Selina. Dia sering membelikan aku hadiah" balas Selina.


Viona mendengus kesal. Ternyata Selina tidak mudah dipengaruhi. Bocah kecil itu persis mamanya yang selalu memiliki jawaban saat orang lain berbicara.


"pokoknya bilang saja kepada papamu bahwa kamu ingin Tante Renata jadi mama kamu. Hanya boleh tante Renata yang lainnya tidak boleh" Kini ucapan Viona sedikit mengintimidasi Selina hingga membuat gadis kecil itu mulai takut.


"I-iya nenek"


.


.


...****************...