Baby Blues

Baby Blues
bab 115 bertemu lagi



Roger benar-benar tak menyangka akhirnya mendapat kabar tentang Rebecca. Dengan segera dia menyiapkan keberangkatannya menuju California.


Selina juga turut serta diajak. Meski awalnya dia sempat heran kenapa secepat ini Roger mengantarkan dirinya kepada Papanya.


"Daddy, kenapa secepat ini mengantarku ke papa? Apa aku nakal dan Daddy tidak mau merawatku?"


"Tidak sayang, karena kita akan bertemu Mommy." ujar Roger penuh harap.


"Apa? mommy? Jadi Mommy bersama Papa?" Selina antusias. Roger pun mengangguk.


...****************...


Rebecca sangat senang meski hanya tiga hari Cindy dan Baby Al menemaninya. Rasanya rindu yang bertumpuk-tumpuk itu terobati sudah.


"Jully, apa kak Aldho akan menjemputmu hari ini?" tanya Rebecca.


"Iya, bilangnya sih mereka akan kesini hari ini" ujar Cindy.


"Mereka? Mereka siapa maksudmu Jully?" seketika Rebecca terkejut dengan ungkapan Cindy.


"Emm.. Itu. Maksudku Kak Aldho" ujar Cindy serba salah.


"Jangan bilang kalian memberitahu Roger mengenai diriku" Rebecca beranjak dari tempat duduknya.


"Rebecca, maafkan aku. Tapi aku rasa ini yang terbaik untukmu. Aku tahu yang kamu alami tidaklah mudah. Tapi aku tidak ingin apa yang aku alami dulu kejadian juga pada dirimu" ujar Cindy.


"Memangnya apa yang terjadi Jully?"


Cindy menghela nafas kemudian menghembuskannya perlahan.


"Sindrom baby blues Rebecca, aku pernah mengalami saat melahirkan Selina. Selama hamil aku mengalami stres dan trauma. Sehingga saat melahirkan aku menolak kehadiran bayiku. Hingga sekarang aku masih merasa bersalah kepada Selina" ujar Cindy.


"Apa efeknya akan separah itu?"


Cindy mengangguk.


"Setiap kali Selina bertanya bagaimana dia lahir dan membandingkan dengan kelahiran Baby Al aku selalu sedih. Aku tidak pernah mau menyentuh bayiku saat itu dan aku ingin mengakhiri hidupku" tak terasa air mata menetes dari netranya.


"Untuk itu ku mohon jangan sampai stress. Aku yakin Roger pasti akan membuatmu lebih baik" ujar Cindy.


Meski ragu namun tak dipungkiri bahwa hatinya masih sangat mencintai Roger. Jika memang ini takdirnya maka Rebecca hanya bisa pasrah. Mungkin takdir Tuhan yang akan mempertemukan mereka kembali.


Tak berselang lama akhirnya mereka mendengar suara mobil Aldho. Cindy begitu antusias karena dia akan bertemu Selina namun Rebecca masih bingung. Akankah dia menjadi canggung saat bertemu Roger.


Saat ketiganya berjalan memasuki rumah tampak Cindy begitu antusias dan bahagia. Selina langsung memeluknya.


Sementara Rebecca masih belum berani menampakkan dirinya. Perasaannya yang campur aduk membuatnya sulit untuk melangkah menemui Roger.


Sedangkan Roger sedari tadi terus mencari sosok Rebecca. Tak berselang lama Pak Anton datang menemui mereka.


"Aldho, Roger. Bagaimana perjalanannya?" tanya Pak Anton.


"Lancar om," jawab Aldho. Aldho sekarang memanggil pak Anton om karena memang sudah akrab.


Sementara Roger hanya diam menunduk tak berani memandang mantan mertuanya itu. Rasa sungkan dan bersalah telah menyakiti Rebecca saat itu masih menghantuinya.


Pak Anton mendekati Roger dan mengusap bahunya.


"Apa kabar nak?" Nak, kata yang keluar dari Pak Anton seketika membuat Roger gemetar.


Bagaimana mungkin Pak Anton masih menyambutnya dengan baik setelah apa yang diperbuat terhadap anaknya.


Roger pun hanya mengangguk pelan. Sorot matanya mengartikan sebuah penyesalan.


"Ayah, maafkan Roger" Roger memberanikan diri memanggil Pak Anton Ayah.


Tak berselang lama Pak Anton langsung memeluk Roger dan mereka pun tak kuasa menahan air matanya.


Suasana haru sekaligus bahagia menyelimuti ruangan itu.


Sementara dari tadi sosok wanita yang tengah memperhatikan mereka dari balik pintu kamarnya.


Air mata terus menetes membasahi wajah cantik itu.


"Ayah, apa aku boleh bertemu Rebecca?" tanya Roger setelah berpelukan dengan Pak Anton.


"Tentu saja nak, dia ada di kamarnya" ujar Pak Anton.


Dia menghirup nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan agar jantungnya berpacu lebih rendah. Tapi semakin dia mendengarkan suara langkah kaki yang mendekati kamarnya jantungnya justru semakin berdebar.


TOK.. TOK.. TOK...


"Sayang, apa kamu di dalam? Boleh ayah masuk?" suara Pak Anton dari balik pintu.


Tak ada jawaban, karena sedari tadi Rebecca terus bergelut dengan pikirannya hingga tak menyadari suara ayahnya.


Pak Anton akhirnya langsung membuka pintu dan masuk meninggalkan Roger sendirian di depan pintu.


"Sayang, apa kamu baik-baik saja?" ujar Pak Anton menghampiri Rebecca.


Rebecca terkesiap saat mengetahui ayahnya sudah berada di dekatnya.


"Ayah... Maaf aku tidak tahu ayah disini" ujar Rebecca sambil menatap sekitar.


"Sayang, apa kamu mau menemuinya?" tanya Pak Anton sembari mengusap lembut kepala Rebecca.


"Si-Siapa.. Ayah?" Rebecca tampak tergagap.


"Roger.."


'Roger? Jadi benar pria itu benar-benar disini? Ini bukan mimpi kan?' batin Rebecca.


"Bagaimana Rebecca?" tanya Pak Anton lagi.


Rebecca pun mengangguk ragu. Namun hal itu dianggap setuju oleh Pak Anton. Segera Pak Anton berjalan keluar untuk memanggil Roger.


Sementara Rebecca kini semakin grogi. Dia terus menggigit bibir bawahnya serta mencubiti jemari tangannya sendiri.


Setelah itu Roger dipersilahkan masuk dan tentu saja dia langsung berjalan memasuki kamar Rebecca.


Dengan langkah pelan mencari keberadaan sosok yang selama ini dia cari. Matanya langsung menangkap sosok itu.


Tampak Rebecca berdiri di balkon membelakanginya. Roger langsung menghampiri wanita yang sangat dia rindukan itu.


"Rebecca"


Suara itu, sudah lama Rebecca tak pernah mendengarnya.


Secepatnya Rebecca menghapus air mata yang berlinang di wajahnya. Nafasnya mulai memburu dan jantungnya seolah berpacu semakin kencang.


Roger menunggu reaksi Rebecca namun tampaknya gadis itu sama sekali tak mau membalikkan badannya hingga akhirnya Roger menyentuh bahunya.


"Rebecca?" panggil Roger lagi.


Rebecca akhirnya berbalik dan untuk pertama kalinya mereka akhirnya saling bersitatap.


Roger menatap wajah Rebecca dengan sangat dalam. Wajah yang selama ini terus menghantuinya dalam pikirannya.


Kemudian dia menatap perut Rebecca yang sudah membesar.


Rebecca memegang perutnya dengan kedua tangannya. Tentu saja hal itu tidak bisa menutupinya.


"Roger..." suara itu akhirnya muncul dari mulut Rebecca.


Roger langsung tersenyum tapi juga berkaca-kaca. Hingga akhirnya air mata meleleh dari sudut netranya.


"A-aku tidak menyangka bisa bertemu kembali denganmu" ujar Roger tak kuasa menahan kebahagiaannya.


Rebecca tidak mengatakan apapun. Dia hanya terus mengusap air matanya.


"Apa ini anak kita?" Roger memandang perut Rebecca.


Rebecca pun mengangguk. Sementara Roger minta ijin untuk memegang perut Rebecca.


Saat memegangnya Roger merasakan pergerakan janin yang ada di dalamnya. Benar-benar membuatnya bahagia sekaligus haru.


Rebecca yang melihat ekspresi Roger tak bisa lagi menahan perasaannya. Dengan cepat dia langsung memeluk Roger. Melepaskan segala kegundahan yang menumpuk di hatinya.


Roger juga langsung membalas pelukan itu. Sementara Rebecca yang menahan tangisannya kini tak mampu lagi.


Dia meluapkan segala emosi yang bercampur aduk hingga membuatnya menangis sekencang-kencangnya.


"Roger.. Aku merindukanmu"...