
Aldho sampai di kediamannya. Dia melihat dua mobil terparkir di halaman rumahnya. Mobil itu sama sekali tidak asing untuknya.
Pak Tirta dan Cindy mencoba membantu Aldho berjalan karena kakinya yang masih cidera.
Saat membuka pintu Tampak Pak Theo, Viona dan Mama Grace yang sudah menunggu kedatangan Aldho.
Aldho sudah menduga pasti ada kehebohan sesampainya di rumah. Tak ayal kedua orang tuanya juga sama paniknya.
"Aldho bagaimana bisa seperti ini nak?" ucap Viona.
"Kamu baik-baik saja Aldho?" Ujar Pak Theo.
"Yaampun sayang, mama terus kepikiran dengan keadaanmu" Mama Grace tak kalah hebohnya dengan mereka berdua.
Aldho sampai bingung menimpali seberondong pertanyaan mereka. Dia hanya bisa menghela nafas panjang.
"Papa, mama, ibu, Aldho baik-baik saja. Kecelakaannya tidak begitu parah dan ini kaki Aldho hanya terkilir. Tidak ada yang perlu ditakuti" ujar Aldho mencoba menjelaskan.
"Tidak apa-apa bagaimana? Itu banyak luka di lengan juga dagu dan pelipis mu" omel Viona.
"Sebentar lagi juga sembuh bu, Selina mana ma? Aku sudah sangat merindukan dia" ujar Aldho.
"Dia sedang tidur, kamu istirahat saja Aldho jangan banyak aktifitas dulu" ucap Mama Grace.
Percuma saja Aldho memberitahu ayahnya untuk tidak mengabari orang tuanya dulu jika pada akhirnya Mama Grace yang telah memberitahu mereka. Dan akhirnya kehebohan ini tak dapat dibendung.
Karena kaki Aldho sedang sakit sehingga dia beristirahat di kamar tamu yang berada di bawah. Cindy pun membantunya pergi ke kamar. Dia dengan telaten menyiapkan segala kebutuhan Aldho.
.
Seminggu berlalu, keadaan Aldho masih belum pulih sepenuhnya. Padahal hari ini seharusnya mereka berangkat ke Bali untuk berbulan madu hadiah dari mama Grace.
Cindy memutuskan untuk menunda liburan mereka dan lebih fokus untuk kesembuhan Aldho. Hal itu membuat Aldho merasa tidak enak hati.
"Cindy, maaf ya gara-gara aku kita jadi batal liburan"
Cindy mendekati Aldho, dia mengusap lembut rambut suaminya.
"Tidak apa-apa, yang penting kesembuhanmu dulu sayang"
Aldho merasa sangat beruntung. Selama dia sakit Cindy benar-benar cekatan dalam mengurusnya begitu juga mengurus Selina.
Cindy yang dulu hanyalah gadis manja kini telah berubah menjadi wanita yang rajin dan mandiri.
...****************...
Rebecca masih memperhatikan Roger yang nampak begitu sedih. Sejak bertemu pria itu Rebecca melihat kesedihan yang disembunyikan Roger.
Rebecca mencoba melihat layar ponsel Roger yang sejak tadi dia lihat dengan wajah kusutnya.
"Siapa mereka? Mantan kekasihmu?" tanya Rebecca.
Roger sadar akan lamunannya dan memandang Rebecca.
"Ya, dia adalah Cindy" balas Roger.
"Kau begitu mencintainya? Lantas kenapa kalian berpisah?" tanya Rebecca lagi.
Roger menghela nafas berat.
"Karena aku telah mengkhianatinya, aku yang meninggalkannya. Dan sekarang aku hanya bisa menyesal" Roger tak kuasa menahan kesedihannya.
Rebecca melihat Roger tampak sangat berbeda. Pria yang dikenalnya sangat acuh dan dingin ternyata bisa bersedih bahkan tak sungkan menangis di depan orang lain.
Karena bingung harus bagaimana akhirnya Rebecca mengusap bahu Roger agar lebih tenang.
"Roger, percayalah semua akan indah pada waktunya. Jika dia berjodoh denganmu dia pasti akan kembali kepadamu" ujar Rebecca berusaha membuat Roger tenang.
"Masalahnya sekarang sudah terlambat. Aku sudah menghancurkan hatinya juga masa depannya. Tidak mungkin lagi dia sudi menerimaku. Bahkan sekedar melihat putriku saja aku tidak mampu"
Rebecca nampak terkejut ketika Roger mengatakan putrinya.
"Tunggu, maksudmu bayi yang ada di foto ini adalah anakmu?"
Rebecca tidak menyangka Roger memiliki masa lalu se kelam itu. Tapi dia tetap mendengarkan cerita Roger hingga selesai.
"Aku benar-benar merasa kasihan terhadap Cindy, pasti dia mengalami hari-hari yang sulit saat itu" ungkap Rebecca.
Meski kesal terhadap Roger namun dia bisa memaklumi bahwa setiap manusia pasti memiliki kesalahan di masa lalunya.
"Sebenarnya aku menyukai Cindy sejak lama tapi aku merasa tidak enak terhadap Aldho. Harusnya aku tidak pernah mendengarkan ucapan mama dan aku akan hidup bahagia bersama Cindy" sesal Roger.
Baru kali ini Roger mau menceritakan masalahnya kepada orang lain. Sejauh ini hanya Aldho tempat Roger meluapkan segala keluh kesahnya.
Namun entah kenapa saat bercerita dengan Rebecca rasanya sangat lega. Mungkin karena Rebecca selalu menanggapi positif setiap ucapan Roger.
Hari-hari berlalu keadaan Rebecca sudah mulai membaik. Dokter juga sudah memperbolehkan Rebecca untuk pulang. Namun hingga saat ini keluarga Rebecca tidak ada yang menjemput. Akhirnya Roger yang mengantarnya pulang
"Rebecca, jadi kamu mau pulang kemana? ke rumah orang tuamu?" tanya Roger.
"iya, karena aku memang tinggal bersama mereka" balas Rebecca.
Melihat ekspresi Rebecca yang kurang senang akhirnya Roger memberanikan diri untuk bertanya padanya.
"Apa hubunganmu dengan keluargamu baik-baik saja?"
"Sebenarnya Hubunganku tidak terlalu baik. Terlebih saat ini saudara tiriku sekarang tinggal serumah bersamaku. Dia benar-benar menyebalkan. Dan ayahku selalu menurutinya dibanding aku. Karena dia tidak ingin kehilangan istrinya." balas Rebecca.
Mendengar keluhan Rebecca membuat Roger menjadi iba.
"Apa kamu mau tinggal di apartemen bersamaku?" tawar Roger.
"Oh, tidak. Aku tidak ingin merepotkanmu" tolak Rebecca.
Meskipun mereka pernah berhubungan namun tak serta merta membuat Rebecca langsung mengiyakan tawaran Roger. Baginya Roger masih asing dan hal itu akan menimbulkan kecanggungan. Terlebih hubungan mereka hanya sebatas teman biasa.
"Tapi aku tidak tega melihatmu seperti ini semakin susah"
"Aku bisa mengatasinya. Dan simpan saja tawaranmu itu. Akan ku pikirkan kapan-kapan jika aku menginginkannya" balas Rebecca.
Akhirnya Roger menuruti permintaan Rebecca. Dia mengantarnya ke rumah orang tua Rebecca.
Sampai disana Roger segera membantu Rebecca masuk ke rumah. Kebetulan ayah Rebecca sedang ada urusan di luar negeri dan hanya ada ibu tirinya.
Kedua orang tua Rebecca memang kenal baik dengan ibu Roger sehingga mereka menyambut dengan baik.
Roger mengantar Rebecca ke kamarnya namun dia dibuat terkejut saat adik tiri Rebecca sudah mengganti semua barang-barang Rebecca menjadi miliknya.
"Erin, kenapa kamarku berubah begini?" protes Rebecca.
"Maaf kak, aku pikir kamu tidak akan kembali jadi aku memakai kamarmu. Tapi mama sudah memindahkan semua barangmu di kamar lain. Tidak apa-apa kan?"
Terlihat Rebecca menahan kecewa. Akhirnya dia pergi ke kamar lain untuk ditempati. Kamar yang lebih kecil yang sepertinya bekas gudang.
"Kamu yakin tidak apa-apa tinggal di kamar ini?"
"Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa seperti ini"
Roger berpamitan setelah mengantar Rebecca. Di perjalanan dia baru ingat jika ponsel Rebecca tertinggal di mobilnya. Akhirnya dia putar balik kembali dan berniat langsung mengembalikan ponselnya.
Sampai di rumah Rebecca Roger melihat pintu rumah masih terbuka. Saat hendak memanggil pemilik rumah dia mendengar ada suara gaduh dari dalam.
"Akhh.. Ampun sakit..." Roger mendengar seseorang mengaduh kesakitan.
Dia semakin penasaran dan langsung masuk mencari sumber suara. Alangkah terkejutnya saat dia melihat ibu dan saudara tirinya tengah mencekik leher Rebecca.
"Kenapa tidak mati saja, seharusnya kamu pergi dari sini dan menyusul ibumu" ucap Ibu Tiri Rebecca.
ini nihhh Rebecca nihhh.... Kayaknya bisa bikin Roger oleng. Biar gak mikirin Cindy terus.
.
.