
Tak pernah terbayangkan dibenak Anton bahwa Rebecca diketahui mengandung setelah bercerai. Sampai kapan cobaan ini terus menghampiri putrinya.
Rebecca masih terbaring lemas di kamarnya. Dia melihat ayahnya yang tampak gundah di sampingnya.
"Ayah..." panggil Rebecca pelan.
"Iya sayang, kamu sudah bangun?" Anton menghampiri Rebecca dan mengusap kepalanya.
"Maafkan aku ayah..." air mata menumpuk di sudut netranya yang sudah siap menguar.
"Tidak perlu minta maaf sayang, ini bukan salahmu." Anton berusaha menguatkan dirinya. Sebenarnya hatinya sangat kalut.
"Apa perlu ayah memberi tahu Roger?" ibuhnya.
"Tidak ayah.. Jangan beritahu Roger. Aku tidak siap bertemu dengannya lagi" Rebecca langsung beranjak dari tidurnya. Air mata sudah membasahi pipinya sejak ayahnya menyebut nama Roger.
"Tapi dia ayahnya sayang. Roger berhak tahu dan mungkin ini adalah jalannya kalian kembali bersama" kali ini Anton meraih pundak Rebecca. Membantu menopang tubuhnya yang masih lemas.
Rebecca langsung berhambur ke pelukan ayahnya menangis sekencang-kencangnya.
"Ayah tidak mau kamu menderita sendiri sayang. Ayah tahu kamu masih memikirkan Roger. Ayah tidak keberatan jika kamu kembali dengannya"
"Tapi jangan sekarang ayah. Aku perlu berpikir sendiri." rengek Rebecca dalam tangisannya.
Perasaan Rebecca saat ini sedang berada di titik terendah. Seolah ada bom waktu dalam dirinya yang ingin meledak. Niatannya yang ingin melupakan Roger justru harus menerima kenyataan bahwa dirinya hamil anaknya.
Sejenak dia berpikir apakah dirinya harus memberi tahu Roger dan kembali bersama atau membesarkan anaknya seorang diri kelak. Pikiran itu terus berkecamuk membuat hatinya semakin resah.
.
Keresahan juga dirasakan Aldho. Selain Cindy yang perlahan mulai berubah kini dia harus menerima kabar bahwa kampus tempatnya mengajar akan mengirim dirinya kembali kuliah di Amerika enam bulan lagi.
Padahal satu bulan lagi Cindy akan melahirkan dan sungguh tidak memungkinkan jika dia harus meninggalkan Cindy dan calon anaknya.
Sepanjang hari dia terus memikirkan hal itu. Memang ini adalah peluang besar untuknya tapi juga akan menjadi masalah besar bagi rumah tangganya. Dia tidak ingin kembali berpisah dengan Cindy.
Bahkan Cindy sendiri rela meninggalkan kariernya di Milan yang sudah memuncak demi dirinya.
Beberapa waktu lalu setelah Fashion week Cindy mengumumkan vakum dari pekerjaannya karena hamil. Keputusan itu memang cukup mengejutkan semua pihak terutama para pesohor dunia yang sudah mempercayai hasil rancangannya.
Keputusan berat itu terpaksa dia lakukan karena tidak ingin kembali mengulang masa lalunya.
Demi mengejar karier dia harus kehilangan calon bayi Aldho. Baginya keluarga adalah segalanya.
Kini perusahaan dijalankan oleh Angel meski dia terus berharap Cindy kembali bergabung dengannya suatu saat nanti.
Seharian ini Aldho tampak termenung bahkan saat dia menemani Selina
bermain ke playground. Biasanya Aldho selalu menggoda putrinya bermain namun kali ini dia tampak diam dan hanya memperhatikan dari jauh.
"Papa... Papa... Sini temani aku main" suara Selina baru saja membuyarkan lamunan Aldho.
Sementara Cindy yang duduk menemaninya pun ikut heran. Apakah ini ada kaitannya dengan dia yang sedikit membatasi diri dengan Aldho?
"Papa, besok hari minggu aku boleh menginap di rumah Daddy? Aku kangen Daddy" ujar Selina sembari bermanja di pangkuan Aldho.
"Tentu sayang, papa akan mengantarmu" jawabnya datar.
Padahal biasanya dia akan berkomentar banyak seperti tidak boleh rewel, harus tidur siang, tidak boleh terlalu banyak makan es krim dan lain-lain.
Malam pun tiba, setelah menidurkan Selina kini Cindy pergi ke kamarnya.
Tampak Aldho sedang sibuk dengan laptopnya di meja kerja. Sebelum menghampiri cindy berinisiatif membuatkan kopi untuknya.
"Terima kasih sayang." Aldho menyesap kopi buatan Cindy sambil tersenyum.
"Apa masih banyak pekerjaannya?" kali ini Cindy membelai rambut Aldho dan mulai memijat pundaknya.
"Tidak sayang, aku hanya mempelajari diagnosa pasien" Aldho segera melepas kacamatanya dan meraih tangan Cindy.
"Jangan lakukan itu. Kamu tidak boleh lelah." menghentikan tangan Cindy untuk berhenti memijatnya.
Kemudian Cindy berpindah duduk di pangkuan Aldho.
"Bayinya kangen papa minta dielus" dengan manja Cindy meraih tangan Aldho dan meletakkan di perutnya. Cindy meraih rahang Aldho dan mulai mencium bibirnya dengan lembut.
Tentu saja itu menjadi obat paling mujarab untuk rasa lelahnya. Namun tidak dengan hatinya justru merasa semakin gundah.
Dia sebagai kepala keluarga berkewajiban memberikan kehidupan layak untuk anak istrinya namun dia juga tidak tega meninggalkan keluarganya pergi jauh.
"Sayang, maafkan aku yang akhir-akhir ini sedikit membatasi diri denganmu. Tapi mulai saat ini aku akan kembali seperti dulu. Menjadi istri manja mu" masih berada di pangkuan Aldho, Cindy menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya itu.
Terasa detak jantung Aldho yang berpacu lebih cepat dari biasanya. Serta berkali-kali Aldho menelan salivanya.
"Bicara jujur kepada Cindy atau tidak ya?" pikiran Aldho terus berkutat seputar itu. Akhirnya dia menghirup nafas dalam-dalam.
"Cindy, ada yang ingin aku sampaikan kepadamu" akhirnya mulut Aldho mengeluarkan kata-kata.
"Apa sayang?" Cindy menegakkan kepalanya dan menatap Aldho.
"Sebenarnya kampus akan mengirimku ke Amerika enam bulan lagi Setelah itu aku akan mendapatkan kenaikan jabatan juga gelar dokter utama di rumah sakit. Tapi aku tidak yakin apakah aku harus pergi." keluh Aldho.
Meski berat namun kegundahan yang menumpuk di hatinya terasa lebih lega.
"Berangkat saja sayang, ini kesempatan emas untukmu" ucap Cindy dengan santainya.
"Ta-tapi... Bagaimana mungkin aku akan meninggalkanmu sendiri disini, dua tahun bukan waktu yang sebentar sayang. Sedangkan kamu harus merawat seorang bayi. Itu tidak mudah Cindy. Bagaimana jika anakku tidak mengenalku?" Aldho tampak khawatir membayangkan Cindy harus mengurus bayinya sendiri. Meski ada orang tua namun tidak mungkin dia terus bergantung.
"Siapa bilang aku akan disini. Aku dan Selina bisa ikut denganmu kan? Kita akan tetap bersama" Cindy mengalungkan tangannya memeluk leher Aldho.
"Bagaimana mungkin aku membiarkan suami gantengku pergi sendirian? Aku tidak akan rela" imbuhnya lagi.
Aldho pun terkekeh. Pada akhirnya setelah seharian dia tegang dan murung malam ini akhirnya dia bisa tertawa seperti biasa.
Dengan senyuman dan tawanya yang khas menambah level ketampanan tersendiri untuk Aldho. Itu pula yang membuat Cindy tidak bisa berpaling dari dirinya.
"Sama, aku juga tidak bisa membiarkan bidadari cantikku sendirian disini. Bisa uring-uringan lagi nanti kalau ada pria lain yang melirikmu. Kamu hanya milikku seorang" Aldho menatap wajah Cindy dengan seksama. telunjuknya menyentil ujung hidung Cindy dengan gemas.
Setelah hampir satu bulan mereka berjauhan kini akhirnya keduanya bisa kembali bermesraan seperti semula. Ah, betapa indahnya saat berdua seperti ini.
Berlama-lama memangku Cindy dalam keadaan seperti ini membuat Aldho kembali bernafsu. Sesuatu di bawahnya tampak sudah mengeras dan menonjol dari balik celana boxernya dan Cindy merasakan itu.
"Ehhmmm.." Cindy berdehem melirik Aldho dengan genit.
"Sorry.. " wajah Aldho nampak memerah karena malu bercampur nafsu.
"Sebenarnya aku juga merindukan milikmu itu sayang" bisik Cindy dengan manjanya.
.
.
Bersambung.