Baby Blues

Baby Blues
Bab 7 Putus sekolah



Semua orang begitu cemas saat ini. Cindy sedang duduk di ranjang ditemani Mama Grace. Sedangkan Ayahnya mondar-mandir di depan pintu menunggu kedatangan Aldho.


"Ayah, aku takut terjadi sesuatu dengan Kak Aldho" Cindy mulai khawatir.


"Aldho bukan orang yang gegabah. Ayah yakin dia akan baik-baik saja" Pak Tirta mencoba menenangkan suasana.


" Tapi kenapa dia keluar membawa stik golf milik ayah? Apa jangan-jangan dia menghajar Kak Roger?" sambung Cindy.


Belum sempat Pak Tirta menjawab Cindy tiba-tiba terdengar deru knalpot mobil Aldho. Dengan cepat mereka segera ke ruang depan untuk memastikan keadaan Aldho.


Aldho keluar dari mobil dengan membawa stik golf milik ayahnya.


"Aldho kau dari mana saja?" Pak Tirta langsung menanyai Aldho.


"Maaf ayah. Aldho merusak stik golf milikmu" Aldho berlalu sembari menyerahkan stik golf yang sedikit bengkok.


"Apa yang sebenarnya kamu lakukan Aldho?" tanya Pak Tirta penasaran.


Aldho tidak menjawab. Dia terus berjalan memasuki kamar dan menutup pintunya. Hal itu membuat Pak Tirta semakin khawatir.


"Ayah biar aku saja yang bicara dengan kak Aldho" Cindy mencoba menghibur ayahnya.


"Kak, boleh aku masuk?" Cindy mengetuk pintu kamar Aldho.


Aldho tidak menjawab. Pasti dia masih kesal jadi Cindy langsung membuka pintu kamar yang tidak terkunci. Terlihat Aldho duduk di atas ranjang.


" Kak Aldho kau baik-baik saja? Aku sangat mengkhawatirkanmu" Cindy menghampiri Aldho dan meraih tangannya. Memeriksa apakah ada luka di tangan Aldho.


"Aku baik-baik saja. Cindy maafkan kakak, semua ini salahku. Andai saja waktu itu aku tidak mengirim pesan kepada Roger untuk mengawasimu. Tidak, Andai saja waktu itu aku tidak meninggalkanmu sendiri pasti semua ini tidak akan terjadi" Aldho menundukkan kepalanya tidak mampu melihat wajah Cindy.


"Tidak kak, Kak Aldho tidak salah. Semua ini terjadi bukan karena kak Aldho." Cindy mencoba membela Aldho.


"Akan aku pastikan bajingan itu mempertanggung jawabkan perbuatannya"


.


Di rumah Roger mencoba untuk bangkit dari lantai namun badannya sangat sakit hingga akhirnya Bi Lila datang untuk membantunya.


Terdapat luka pukulan di sekujur tubuhnya terutama di punggung dan wajah.


"Tuan, sebaiknya kita ke rumah sakit. Ini benar-benar parah" ucap Bi Lila.


" Tidak bi, aku tidak ingin orang lain penasaran dengan keadaanku. Aku yang salah dan aku harus menerima hukuman ini" Roger berusaha berdiri dengan dipapah Bi Lila kemudian dia membaringkan tubuhnya di atas ranjang sembari meringkuk kesakitan.


"Bagaimana jika saya panggilkan dokter kemari?" tawar Bi Lila.


"Baiklah, terserah" Roger hanya bisa meringis menahan sakit dia mengingat saat melihat air mata Aldho yang mengalir menangisi Cindy membuat Roger semakin sakit. Perasaan bersalah itu terus menghantuinya. Bagi Roger, Aldho bukan hanya sahabat baginya namun lebih seperti kakak untuknya. Apa jadinya jika Aldho tidak ingin menerima Roger lagi.


"Maafkan aku Aldho, maafkan aku.." gumam Roger lirih.


.


Hari ini Cindy tetap berangkat sekolah. Sejauh ini tidak ada orang lain yang tahu tentang kehamilannya selain Roger dan keluarganya. Dengan ragu Cindy melangkah menuju ruang kelas. Beberapa hari tidak masuk sekolah menjadikan dirinya terasa asing. Dia lebih banyak diam dan menyendiri bahkan saat teman-temannya mengajak ke kantin Cindy hanya diam di ruang kelas. Kehamilannya yang masih terbilang muda membuat indera penciumannya menjadi sensitif. Bau masakan di kantin membuatnya mual dan hal itu pasti akan mencurigakan jika Cindy terus mengalami mual.


"Cindy apa kau baik-baik saja? Kelihatannya kamu sedikit pucat. Mau dibawakan makanan dari kantin?" tanya Windy.


"Emm. Tidak usah, aku baik-baik saja hanya sedang tidak berselera makan" tolak Cindy.


"Nanti kita boleh main ke rumahmu Cindy? Sudah lama kita tidak main ke rumahmu. Aku sudah sangat merindukan kudapan buatan Mamamu" tanya Tika yang ikut nimbrung di bangku Cindy.


"Kau ini ingin makan kudapan Mama Cindy apa ingin melihat Kak Aldho?" Goda Windy.


"Dua-duanya boleh" jawab Tika cekikikan.


Hingga saat pulang sekolah Cindy sedikit menghindari teman-temannya membuat mereka merasa ada kejanggalan pada gadis yang biasanya periang itu.


Kali ini Ayahnya yang menjemput Cindy. Begitu mobil datang Cindy segera masuk. Dia merasa tidak nyaman berada di antara banyak orang. Rasanya seperti sesak di hatinya.


" Hai Cindy. Bagaimana harimu?" tanya Pak Tirta.


"Sedikit berbeda ayah, Aku merasa tidak nyaman bertemu banyak orang" Cindy menghela nafas.


"Cindy, Ayah tahu ini sulit untukmu. Kau harus sabar. Ayah sangat menyayangimu dan tidak pernah berkurang sedikitpun" Pak Tirta mengelus rambut anak gadisnya dengan penuh kasih sayang.


"Ayah, tumben ayah yang jemput kemana Kaka Aldho?" tanya Cindy.


"Kakakmu sedang ada urusan"


Aldho sedang menjalani tes wawancara di sebuah rumah sakit swasta besar dekat rumahnya. Sepertinya dia bersiap untuk melepaskan kesempatan beasiswanya di Amerika. Meninggalkan keluarganya disaat ada masalah seperti ini bukanlah saat yang tepat. Apalagi Roger adalah pria yang tidak bisa memiliki komitmen dalam hubungan. Hal ini membuat Aldho mulai pusing memikirkan jika Roger tidak mau bertanggung jawab terhadap kehamilan Cindy dan hanya akan mempermainkan adiknya.


"Ah, Sial.." Aldho terus menggerutu di sepanjang perjalanan.


.


Hari-hari yang melelahkan Cindy jalani saat ke sekolah. Perubahan hormon masa kehamilannya membuat dirinya kesulitan menjalani beberapa aktifitas. Dia menjadi sangat rapuh dan mudah lelah. Saat pelajaran yang membutuhkan tenaga seperti olah raga sangat menyulitkannya. Biasanya dia sangat bersemangat saat berlari mengitari lapangan namun kali ini badannya seperti mau tumbang. Belum lagi saat mencium bau keringat teman-temannya membuatnya selalu mual.


"Cindy kau baik-baik saja? Istirahat saja ke UKS jika sakit" Zara membantu Cindy yang sedang muntah di toilet.


"Aku baik-baik saja Zara"


"Tapi kau terlihat sangat pucat" Zara khawatir melihat keadaan Cindy yang tampak menahan sakit.


Kesialan Cindy tidak berhenti disini. Saat ini sedang ada tes urine yang diadakan sekolahnya secara dadakan karena beberapa waktu lalu ada salah satu siswa yang kedapatan membawa narkotika sehingga untuk mengantisipasi semua siswa diminta untuk menjalani tes. Dan ada tambahan untuk siswa perempuan yaitu tes kehamilan. Cindy sangat kebingungan namun dia hanya bisa pasrah menjalani tes tersebut.


Satu persatu hasil keluar dan siswa yang dinyatakan bersih tidak akan diambil tindakan lebih lanjut.


Cindy menerima surat pemberitahuan untuk orang tuanya agar menghadap ke kepala sekolah. Dengan pasrah akhirnya dia menyerahkan surat tersebut ke orang tuanya.


Keesokan harinya Mama Grace beserta Pak Tirta sedang menghadap kepala sekolah. Mereka sudah bisa menebak apa yang akan dibahas oleh kepala sekolah. Sedangkan Cindy sedang duduk di luar ruangan kepala sekolah ditemani Aldho. Terlihat gadis itu tampak gelisah terlebih saat teman-teman sekelasnya silih berganti membicarakannya. Bagaimana mungkin Cindy seorang gadis berprestasi serta berasal dari keluarga yang cukup terpandang bisa terlibat masalah.


"Sudah, jangan terlalu di pikirkan. Semua akan baik-baik saja" Aldho mencoba untuk memberi semangat.


Di dalam ruang kepala sekolah, Bu Helena selaku kepala sekolah menjelaskan hasil tes urine yang dijalani Cindy.


"Sebelumnya saya mohon maaf, berdasarkan hasil tes urine yang dilakukan siswa kemarin saya mendapati hasil positif dari Cindy. Apa anda tahu bahwa Cindy sedang mengandung?" tanya Bu Helena.


Mama Grace hanya menunduk lesu menahan air mata. Pak Tirta mengangguk mengiyakan pertanyaan Bu Helena.


"Cindy mengalami pelecehan seksual beberapa waktu lalu. Dia menolak untuk melaporkan ke polisi. Ini bukan kesalahannya" Pak Tirta mencoba menjelaskan.


"Jika benar begitu, saya ingin mendengar langsung kesaksian dari Cindy."


Cindy dipanggil ke ruang kepala sekolah untuk memberikan kesaksiannya. Dengan berlinang air mata Cindy menceritakan semua yang dia alami.


"Kami sungguh prihatin dengan kejadian ini. Namun peraturan tetap peraturan. Cindy tidak bisa melanjutkan sekolahnya karena kondisinya yang sedang mengandung" ucap Kepala Sekolah.


Hal ini membuat Aldho memprotes. Namun tetap saja hal itu tidak membuat Bu Helena mengubah keputusannya.


"Baiklah, jika ini keputusannya saya akan terima" ucap Cindy menahan kecewa.


.


.


😭😭 sabar ya Cindy