
Selina sudah bersiap untuk kencannya. Dia mengenakan pakaian terbaik yang dibeli bersama Aldho kemarin. Sementara Aldho juga sudah tampan mengenakan pakaiannya.
"Sudah siap sayang?" Aldho langsung menggandeng Selina menuju mobil audi berwarna silver milik Aldho.
Setelah beberapa saat perjalanan mereka sampai di salah satu restoran steak mewah. Aldho yang sudah memesan meja khusus pasangan langsung dilayani oleh waiters.
Keduanya duduk berhadapan dan tak lupa kursi khusus untuk Selina lebih tinggi sehingga dia bisa menjangkau meja dengan mudah.
Jika orang lain mengira Aldho memiliki kekasih baru maka salah besar. Ini adalah kencan mereka. Makan malam pasangan ayah dan putrinya. Setiap bulan mereka selalu melakukan makan malam berdua di tempat yang spesial seperti ini.
Tanpa menunggu lama steak pesanan mereka sudah datang. Aldho segera meraih steak milik Selina.
"Papa aku mau memotongnya sendiri" rengek Selina.
"Tidak sayang, pisau ini terlalu besar untukmu. Papa tidak mau tangan cantikmu terluka" perlakuan manis Aldho kepada Selina tak jarang mengundang decak kagum beberapa orang yang menyaksikannya.
Keduanya menikmati makanan bersama sembari diselingi cerita-cerita Selina seputar kegiatannya juga teman-temannya.
Selina sudah mendapatkan berlimpah kasih sayang dari Aldho sehingga dia tidak pernah mengeluh jika dia harus hidup tanpa sosok ibu disisinya.
Namun sebagai seorang anak pasti Selina sering bertanya perihal ibunya. Kenapa ibunya sekarang tidak ada di sisinya.
Aldho dengan bijak memberi pengertian kepada Selina jika ibunya adalah seorang yang hebat, dia sedang meraih cita-citanya. Aldho juga menekankan Selina untuk tidak membenci Cindy jika suatu saat nanti ada kesempatan bertemu.
Selesai dengan makan malamnya Selina ternyata sudah mengantuk bahkan dia tertidur di mobil sehingga Aldho pulang dan menggendongnya ketika sampai di rumah.
"Aldho, bisa bicara dengan mama sebentar?" Mama Grace menghampiri Aldho yang baru datang.
"Iya ma, Aldho tidurkan Selina dulu"
Setelah menidurkan Selina Aldho segera turun untuk menemui mamanya. Mereka mengobrol santai di taman.
"Aldho, sudah enam tahun kamu sendiri. Apa kamu tidak kepikiran untuk mencari pendamping hidup? Mama rela sayang jika kamu menikah lagi" Mama Grace mengusap lembut pipi putranya.
Aldho meraih tangan Mama Grace dan mencium punggung tangannya.
"Ma, Aldho sudah bahagia seperti ini. Aldho punya kalian semua itu saja sudah cukup."
"Tapi Aldho, tidak baik kamu terus sendiri. Lupakanlah Cindy, kita bahkan tidak tahu dimana dia dan bagaimana keadaannya" ungkap Mama Grace sambil berkaca-kaca.
Merasa terus didesak oleh mamanya akhirnya Aldho mulai jujur kepada Mamanya.
"Ma, Cindy baik-baik saja. Dia sekarang menjadi wanita hebat dan sukses"
Mama Grace terkejut dengan pengakuan Aldho. "Kamu pernah bertemu Cindy?"
Aldho mengangguk. Akhirnya dia menceritakan semuanya yang kejadiannya berlangsung lima bulan lalu.
Lima bulan yang lalu....
Seperti biasa Windy selalu main ke rumah Aldho dan memberikan beberapa barang untuk Selina. Awalnya Aldho biasa saja saat Windy mengatakan bahwa Barang-barang itu dibelinya saat berkunjung ke luar negri. Namun karena seringnya dia memberi barang-barang mahal membuat Aldho curiga sehingga dia meminta Windy untuk jujur.
Windy awalnya mengelak namun melihat Aldho yang sudah seperti kakaknya sendiri akhirnya dia menceritakan semua tentang Cindy.
"Cindy sekarang di Milan kak, dia jadi desainer sukses. Bulan depan adalah runaway fashion shownya."
Aldho yang semula tidak percaya kini mulai percaya dengan melihat bukti-bukti tentang Cindy. Karena beberapa kali Windy mengunjungi Cindy di Milan.
Akhirnya Aldho bertekad untuk menemui Cindy ke Italia. Dia memberitahu keluarganya bahwa dia ditransfer ke rumah sakit di luar daerah selama seminggu.
Tiba di Milan Aldho segera mendaftar untuk undangan fashion show Cindy. Aldho menyaksikan sendiri saat itu Cindy tengah berjalan dan berpidato di depan para pesohor dunia.
Hatinya tergugah saat Cindy mengumumkan asal nama merk dagangnya.
"Nama Alsey Milano adalah gabungan dari beberapa nama orang-orang terpenting dalam hidup saya. Al dan Se. Mereka adalah cinta di hidup saya dan selamanya akan menjadi cinta satu-satunya untuk saya" ungkap Cindy dalam pidatonya.
Mendengar ungkapan Cindy membuat Aldho benar-benar terharu. Ingin sekali Aldho menghampiri Cindy namun dia tak mau merusak momen di hari pentingnya. Sehingga Aldho kembali pulang saat itu. Setidaknya melihat Cindy dalam keadaan baik sudah membuatnya lega.
"Jadi Cindy di Milan? Kenapa kamu tidak mengajaknya pulang?" Mama Grace tak kuasa menahan air matanya.
"Aku tidak ingin membuat Cindy sedih di hari bahagianya ma, melihatnya sehat dan baik sudah membuatku bahagia".
.
...****************...
Cindy sedang beristirahat makan siang. Dia menunggu kabar dari Windy tentang keadaan Aldho dan Selina. Selama ini dia mengetahui tentang kabar keluarganya dari Windy. Berulang kali Windy membujuk Cindy untuk kembali pulang namun dia tidak pernah mau. Dia tidak memiliki keberanian untuk menemui keluarganya.
Diusapnya cincin yang melingkar di jari manisnya sambil mengingat saat Aldho melamar Cindy. Itu adalah momen paling indah yang Cindy alami dan selamanya tak akan pernah lupa.
"Heyy... Jangan melamun terus nona" tiba-tiba Rebecca datang menghampiri Cindy.
"Yaampun Becca kamu mengagetkanku" Cindy menekan dadanya yang berdebar karena terkejut.
"Ada apa Jully? Sepertinya kamu sedang ada masalah?" Rebecca mencoba untuk mencari tahu kegelisahan Cindy. Cindy hanya tersenyum dan mengisyaratkan bahwa dirinya baik-baik saja.
Kemudian dengan wajah sumringahnya Rebecca menunjukkan jemarinya yang memakai sebuah cincin berlian.
Cindy tidak mengerti apa maksud sahabatnya karena tak biasanya Rebecca pamer sesuatu kepada Cindy.
"Dia melamarku Jully, akhirnya apa yang aku tunggu kini telah terwujud" ungkap Rebecca penuh bahagia.
"Rebecca selamat ya.. Aku sangat bahagia mendengarnya" Cindy langsung memeluk Rebecca dengan bahagia.
"Nanti aku akan mentraktir kamu makan malam karena selama ini sudah membantuku. Sekalian aku kenalkan tunanganku kepadamu"
Cindy langsung mengiyakan tawaran Rebecca. Karena dia juga penasaran dengan oria yang telah membuat sahabatnya jatuh hati.
.
Tiba waktunya makan malam Cindy sudah bersolek dan bersiap untuk makan malam bersama Rebecca dan tunangannya. Dia menuju sebuah restoran yang Rebecca maksudkan.
Setelah sampai di restoran tersebut Cindy mencari keberadaan Rebecca dan tak berselang lama dia menemukannya. Rebecca dengan cantiknya melambaikan tangan ke arah Cindy. Tampak seorang pria duduk didepan Rebecca. Cindy hanya melihat punggungnya saja.
"Hai Jully, kemarilah" sapa Rebecca.
Cindy segera menghampiri Rebecca.
"Sayang, kenalkan ini Julietta sahabatku yang sering aku ceritakan padamu" Rebecca memberitahu Roger.
"Jully ini adalah..." belum sempat Rebecca meneruskan ucapannya Cindy langsung memotongnya.
"Roger..."
"Cindy..."
Keduanya benar-benar terkejut. Cindy tidak menyangka bahwa dia akan bertemu dengan Roger. Begitupun dengan Roger.
.
Bersambung...