
Hari-hari Cindy kini disibukkan dengan belajar. Dia tidak pernah menyangka bisa mendapatkan kesempatan berada di sekolah mode dan fashion dengan standar internasional.
Meski harus bersusah payah melupakan ingatan tentang Aldho dan Selina dia bertekad kuat akan melakukan yang terbaik.
Selesai dengan sesi belajarnya Angel menghampiri Cindy. Dia melihat Cindy yang selalu tampak murung. "Cindy, bagaimana belajarmu?"
"Baik kak, guru di sini benar-benar kompeten dan metode pembelajarannya sangat mudah dipahami" Tak sia-sia selama ini Cindy belajar bahasa Inggris akhirnya setiap hari dia berinteraksi dengan bahasa itu.
"Cindy mau melihat-lihat suasana kota?" Angel menawarkan Cindy untuk jalan-jalan.
"Boleh kak,"
Akhirnya mereka pergi menyusuri setiap jalanan. Cindy tak henti-hentinya memotret setiap bangunan hingga mereka sampai di katedral Duomo.
Pertama kalinya Cindy pergi ke luar negeri sendiri dan kini dia seolah tak henti-hentinya dibuat takjub.
"Setiap hari kamu bisa kesini Cindy, tak perlu memotretnya terus nanti bisa penuh penyimpanan ponselmu" protes Angel.
Cindy masih tak menghentikan kegiatannya hingga akhirnya ponselnya kehabisan daya dan mati.
"Wah, ponselku kehabisan daya. Aku lupa tidak membawa pengisi daya"
Angel hanya tertawa kecil melihat kelakuan Cindy. Tak dipungkiri usia Cindy yang masih sangat muda memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Sedangkan Angel sudah berusia tiga puluh tahunan, sepantaran dengan usia Aldho sehingga lebih bisa menjaga Cindy.
"Cindy aku sangat ingin buang air kecil. Bisa tunggu aku disini? Aku akan segera kembali" Angel meninggalkan Cindy di halaman katedral sedangkan dia mencari toilet.
Menunggu Angel yang tak kunjung kembali membuat Cindy merasa haus. Sehingga dia berinisiatif untuk membeli minuman dahulu.
Setelah selesai dia mencoba untuk kembali ke tempat semula. Namun sayang sekali semakin sore lokasi tersebut semakin dipadati pengunjung dan Cindy pun bingung mencari arah ke tempat semula dia menunggu Angel.
Dengan terus berusaha mencari jalan justru Cindy semakin tersesat. Dia hendak menghubungi Angel tapi ponselnya mati.
Cindy mulai mengalami serangan panik. Tubuhnya mulai gemetar dan dia sulit mengontrol dirinya. Akhirnya Cindy bersimpuh di tempat itu sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya lalu menangis. Dia benar-benar tidak tahu lagi harus berbuat apa.
Sedangkan Angel yang selesai dari toilet langsung menghampiri Cindy namun gadis itu tidak ada di tempat. Angel mulai khawatir dan mencarinya ke setiap tempat. Dia tidak bisa menghubunginya karena ponsel Cindy mati.
"Yaampun Cindy kamu dimana?" Angel terus berusaha mencari keberadaan Cindy namun hingga malam dia tidak menemukannya.
.
Rebecca sedang di apartemen menunggu Roger yang tak kunjung pulang. Baru saja Roger menghubunginya ternyata dia pulang telat karena ada pertemuan dengan klien.
Daripada bosan akhirnya Rebecca memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar apartemen.
Rebecca berjalan menyusuri jalanan sekitar katedral Duomo tiba-tiba dia melihat sosok yang mencuri perhatiannya.
Seorang gadis bersimpuh sambil menangis. Sepertinya dia seusia dengan dirinya. Dengan segera Rebecca menghampiri gadis tersebut.
"Hey, are u okay?" Rebecca mencoba untuk membantu.
"I'm lost" dengan terus terisak Cindy menjawab Rebecca.
Kemudian Rebecca mencoba mencari tahu tentang Cindy dengan terus menanyainya.
Awalnya Cindy sedikit takut karena menganggap Rebecca orang asing.
Bahkan dia memperkenalkan dirinya dengan nama tengahnya, Julietta.
"Oh ternyata kamu orang Indonesia juga?" Rebecca langsung mengobrol menggunakan bahasa Indonesia setelah tahu asal Cindy.
"Julietta, kamu tidak perlu takut aku akan membantumu menemukan jalan pulang" Akhirnya Rebecca mengantar Cindy ke alamat apartemennya.
"Kak Angel maafkan aku, tadi aku tersesat dan ponselku mati" Cindy langsung berpelukan dengan Angel. Kekhawatiran Angel kini juga telah hilang setelah bertemu Cindy.
Tak lupa Cindy mengenalkan Rebecca dengan Angel. Mulai saat itu Cindy dan Rebecca mulai berteman.
...****************...
Aldho kini sudah memulai aktifitasnya kembali seperti biasa. Dia mencoba untuk tetap profesional dan berusaha kuat demi Selina dan kedua orang tuanya.
Hari-harinya dia habiskan dengan Selina dan kedua orang tuanya. Sesekali dia menginap di rumah Pak Theo dengan mengajak Selina.
Lambat laun Selina juga sudah terbiasa tanpa Cindy. Hanya saja dia selalu menunjuk foto Cindy dengan memangil-manggil mama.
Malam hari ketika hatinya sedang gundah Aldho selalu datang ke danau. Dia mengingat saat-saat dirinya dan Cindy masih memadu kasih.
Sekeras apapun dia mencoba melupakan Cindy tetap saja tidak bisa. Akhirnya Aldho memutuskan untuk selalu mengenang hal baik tentang Cindy.
Aldho melampiaskan perasaannya dengan terus belajar. Mama Grace sempat menawarinya untuk meneruskan beasiswanya yang sempat tertunda di Amerika.
"Aldho, jika kamu masih berminat mengejar studimu ke Amerika Mama tidak akan keberatan. Biar mama jaga Selina" meski berat Mama Grace berusaha untuk membuat Aldho kembali menemukan kebahagiaannya.
"Tidak ma, Aldho tidak mungkin meninggalkan Selina. Anak itu tidak bersalah ma, dia sudah ditinggalkan oleh orang tua kandungnya. Aku tidak ingin jauh dari Selina"
"Kamu adalah kekuatan mama Al, mama hanya ingin kamu bahagia" Mama Grace langsung memeluk Aldho.
Sementara Viona yang terus mendesak Aldho agar dekat dengan Renata justru menimbulkan masalah baru. Aldho yang kesal dengan ulah Viona kembali bersitegang dengannya. Alhasil kini Viona kembali menelan pil pahit karena Aldho tidak ingin bertemu dengannya.
"Theo bantu aku. Aldho kembali marah padaku, tolong buat dia memaafkanku" Viona terus merengek kepada Pak Theo. Biasanya dia langsung dituruti namun kali ini Pak Theo justru tidak mau tahu.
"Salahmu sendiri terus mencari gara-gara dengan Aldho. Sudah untung kamu masih diakui ibu olehnya." jawab Pak Theo acuh.
...****************...
Roger sudah kembali ke apartemennya namun dia tidak menemukan Rebecca. Bahkan Rebecca juga tidak menjawab telepon darinya. Hal itu membuat Roger menjadi khawatir.
"Jangan-jangan Rebecca terkena masalah lagi dengan keluarganya"
Entah kenapa akhir-akhir ini Roger mulai memikirkan Rebecca. Gadis itu diam-diam mulai mencuri perhatian Roger.
Kesehariannya yang selalu bersama dengan Rebecca mula-mula membuat Roger ingin membuka hati untuknya.
Namun entah kenapa saat ingin berhubungan dengan Rebecca selalu saja Roger teringat akan Cindy. Seolah Cindy tak bisa hilang dari hidupnya.
"Apakah ini hukuman dari Tuhan karena telah mencampakkan Cindy" gumam Roger dalam hati.
Setelah menunggu beberapa saat Rebecca kembali pulang ke apartemen. Roger yang khawatir langsung menghampiri Rebecca dan memeluknya.
"Darimana saja? Aku menghubungimu tidak diangkat." omel Roger.
"Aku tidak apa-apa Roger. Maaf tadi aku mengantar pulang seseorang yang tersesat. Dia baru tinggal disini jadi tidak hafal arah" Rebecca melihat kekhawatiran di wajah Roger.
"Aku sangat khawatir kepadamu" Roger mengusap kepala Rebecca dengan lembut.
"Aku baik-baik saja Roger" tanpa menunggu lama Rebecca langsung mengecup bibir Roger.
.
...****************...