
"Apa maksudmu Cindy adalah istrimu?" Roger tidak percaya dengan ucapan Aldho.
"Asal kau tahu, saat kau meninggalkan Cindy di hari pernikahannya akulah yang menggantikan posisimu"
"Tidak.. tidak bisa begitu Aldho, kenapa kamu selancang itu menikahi Cindy?" Roger merasa tidak terima dengan keputusan Aldho.
"Bukankah kamu yang tidak tahu diri, menghancurkan masa depan Cindy dan meninggalkan dia begitu saja. Cindy mengalami trauma berat hingga harus ditangani oleh psikiater. Berkali-kali dia mencoba menyakiti dirinya sendiri bahkan ingin mengakhiri dirinya. Roger tolong lepaskan Cindy dan jangan pernah menghubunginya lagi. Itu akan memperparah keadaannya" Panjang lebar Aldho mengungkapkan semua keadaan Cindy agar Roger mau membuka matanya. Dia terlalu dibutakan oleh ego hingga membuat Cindy terus tersiksa.
"a-apa.. Cindy..." belum sempat Roger meneruskan kata-katanya Aldho buru-buru menutup teleponnya karena Cindy mulai menemukan Aldho.
"Kak Aldho, ada apa?" Cindy nampak penasaran.
"Tidak ada apa-apa Cindy?"
"Lalu siapa yang menelepon?"Cindy masih penasaran.
"Itu, dia agen asuransi yang terus memaksaku mendaftar asuransi" Aldho terpaksa membohongi Cindy untuk kebaikannya.
Untung saja Cindy percaya dengan ucapan Aldho. Dia tidak lagi penasaran dengan Aldho.
Di tempat lain Roger begitu frustasi. Sebenarnya dia ingin pulang dan menemui Cindy menebus semua kesalahannya. Namun pernyataan Aldho bahwa telah menikahi Cindy membuat Roger semakin patah hati.
Dia diperdaya oleh ibunya yang begitu berambisi hingga melepaskan Cindy gadis yang dicintainya. Namun nasi telah menjadi bubur. Semua sia-sia.
Ditambah kenyataan bahwa Cindy mengalami trauma berat membuat Roger semakin bersalah.
"Cindy... maafkan aku Cindy..." Roger hanya bisa menyesali perbuatannya.
.
Hari-hari Cindy bersama Aldho semakin romantis. Semenjak kejadian malam itu Aldho dan Cindy bagai dua pasang burung merpati yang sedang jatuh cinta.
Aldho tidak bisa menahan sikapnya hingga terkadang saat bermesraan kepergok oleh orang tuanya.
Seperti saat ini Cindy sedang memasak tiba-tiba Aldho datang langsung memeluknya dari belakang tanpa melihat keberadaan Mama Grace.
"Ehhemm..." decak Mama Grace.
Aldho langsung melepas pelukan di tubuh Cindy.
"Emm.. Mama.. Aldho mau ambil air dingin" Aldho menjadi salah tingkah kemudian mengambil sebotol air dingin menuangkan di gelas dan menghabiskannya tanpa tersisa.
Cindy hanya bisa menahan tawa begitupun dengan Mama Grace. Melihat kelakuan kedua anaknya membuat dia geleng-geleng kepala. Begitulah jika dua insan sedang dimabuk asmara.
"Sepertinya suamimu sedang merindukanmu Cindy."Goda Mama Grace.
"Mama.... jangan gitu deh. Cindy jadi malu" rengek Cindy.
"Tidak apa-apa sayang. Itu hal wajar" bisik Mama Grace.
Akhir-akhir ini baik Mama Grace maupun pak Tirta suka menggoda Cindy dan Aldho. Bukan apa-apa mereka hanya ingin menghilangkan rasa canggung.
"Ma, sepertinya Cindy benar-benar jatuh cinta kepada Kak Aldho" ungkap Cindy malu-malu.
Senyum di bibir Mama Grace langsung merekah. Dia begitu bahagia mendengar pengakuan Cindy.
"Itu baik sayang, Aldho adalah suami yang baik jadi kamu patut mencintainya" Mama Grace selalu mendukung hubungan Cindy.
Karena hal itu pula perlahan Cindy mampu mengatasi traumanya.
.
Konseling berjalan dengan lancar. Hari ini jadwal konseling yang ke tiga. Masih tetap dengan janjinya Aldho setia mengantar dan menemani Cindy untuk menemui dokter Sarah.
Elisa memang sangat suka penasaran dengan kehidupan orang lain terutama yang berhubungan dengan Aldho. Akhirnya setelah berbagai cara mencari informasi dia mengetahui fakta bahwa Cindy mengalami trauma.
Lambat laun gosip mulai menyebar namun karena berbagai opini orang lain akhirnya mereka membicarakan hal-hal yang jauh dari kenyataan.
Ada yang bilang Cindy trauma karena pernikahannya yang masih terlalu muda. Lalu Cindy trauma karena dipaksa menikah dengan Aldho, dan lebih parah lagi Cindy trauma karena dihamili Aldho kakak angkatnya sendiri.
Hal itu mulai mempengaruhi kiprah Aldho di rumah sakit. Setiap orang membicarakan Aldho dengan buruk. Hanya dokter Helena dan Dokter Sarah yang mengerti keadaan sebenarnya. Walaupun begitu Aldho tetap cuek tidak ingin mengambil pusing masalah ini.
Namun masalah ini akhirnya terdengar oleh Cindy, dia begitu marah ketika nama baik Aldho harus tercoreng.
"Aku tidak ingin konseling lagi" ungkap Cindy kepada Aldho.
"Kenapa Cindy?" Aldho nampak terkejut dengan keputusan Cindy.
"semua orang jahat kepada Kak Aldho. Mereka membicarakan hal buruk tentangmu" Cindy mulai merasa sedih lagi.
Aldho tak tinggal diam. Dia memeluk istrinya dan meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Cindy, kita tak bisa lepas dari omongan orang, biarkan saja toh lambat laun mereka pasti melupakannya." Aldho memang tidak terlalu mempedulikan pendapat orang lain tentang dirinya. Namun tidak dengan Cindy. Dia bertekad untuk memberitahu semua orang di rumah sakit agar berhenti mengolok Aldho.
Hari ini adalah waktu Cindy memeriksakan kandungannya. Dia sudah mempersiapkan semua yang akan dia lakukan untuk memperbaiki nama Aldho.
Cindy sedang mengambil nomor antrian untuk periksa namun tak sengaja mendengar seorang menggunjing tentang dirinya dan Aldho. Diam-diam Cindy mencari tahu siapa dalang penyebar gosip di rumah sakit ini. Ternyata tak lain adalah Elisa. Perawat yang pernah menyukai Aldho. Pantas saja dia berusaha menjelekkan nama Aldho dan Cindy.
Cindy masih diam tidak ingin menggertak Elisa untuk saat ini. Dia masih fokus untuk kontrol kandungannya.
Hingga selesai dengan sesi pemeriksaannya Cindy berjalan menghampiri Elisa yang sedang bersama beberapa perawat lain.
"Hai Elisa, apa kabar? lama tidak bertemu" sapa Cindy.
"Hai Cindy, kabarku baik. Bagaimana kabarmu? ku lihat kamu sering datang ke rumah sakit ini. Bukan hanya periksa kandungan ya?" Elisa mencoba mencari titik lemah Cindy.
"Iya, aku memang sering sekali datang ke rumah sakit karena aku harus mengikuti konseling" balas Cindy.
"Memangnya ada apa denganmu Cindy sampai ikut konseling?"
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin menjadi istri dan ibu yang ideal untuk suami dan calon anakku. Tahu sendiri kan kehamilan pertama membuat emosi tidak stabil. Oleh karena itu aku memilih melakukan konseling. Dan suamiku selalu mendukungku" Cindy mencoba meluruskan gosip yang beredar.
"Wow, nona Cindy anda benar-benar wanita yang bijak. Mempersiapkan diri sejak dini itu sangat baik" balas salah satu perawat.
"Oh Elisa, ternyata ceritamu sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan yang ada" ucap salah satu perawat yang lain. Elisa nampak salah tingkah karena dia telah menyebar gosip yang tidak baik tentang Aldho dan Cindy.
Sekarang tugas Cindy memperbaiki nama Aldho sudah selesai.
Aldho selesai berganti baju dan bersiap menjemput Cindy di loby karena jam kerjanya juga sudah berakhir. Mereka berjalan ke basemen menuju mobil Aldho. Cindy yang menyadari Elisa diam-diam membututi mereka tertantang untuk menggodanya.
Aldho hendak masuk mobil namun dicegah oleh Cindy.
"Ada apa Cindy?" tanya Aldho heran.
Tanpa berkata-kata Cindy langsung memeluk Aldho dan..
ccuppp...
Cindy mencium bibir Aldho dengan begitu mesra.
.
.
.