Baby Blues

Baby Blues
bab 80 jangan pergi



Renata sangat terkejut saat Viona datang menyusulnya. Terlihat wajah Viona yang sedang marah.


"Kamu mau mengatakan apa Renata? Siapa yang membuat Cindy pergi?" Aldho penasaran dengan ucapan Renata.


"Aldho, jangan percaya ucapan gadis licik itu" titah Viona sembari menunjuk Renata.


"Ayolah ada apa ini?" Aldho mulai kesal.


Sementara Selina yang mendengar suara gaduh di luar menjadi penasaran. Saat ini kakek dan neneknya pergi ke Cianjur dan baru besok mereka pulang, lantas siapa yang berbicara dengan papanya.


Akhirnya Selina pergi mencari tahu dan diam-diam dia memperhatikan papanya yang sedang berbicara dengan Renata dan neneknya Viona. Sepertinya mereka terlihat serius.


"Ibumu yang telah membuatnya pergi Aldho, tante Viona yang melakukannya" Renata langsung mengungkapkan kepada Aldho.


PLAKKK...!!!


Tamparan keras Viona mendarat di pipi Renata. Langsung saja Aldho memarahi Viona karena sikapnya yang suka main tangan.


"Gadis tidak tahu malu, lihat Aldho dia berani memfitnahku. Aku ini ibumu sendiri mana mungkin tega melakukan hal itu."


Tanpa menunggu lama Renata langsung memutar rekaman pembicaraannya dengan Viona dengan volume cukup keras.


"Aku sudah berusaha keras menghasut Cindy agar meninggalkan Aldho dan sekarang aku harus membohongi Selina bocah sialan itu agar membenci Cindy. Sebentar lagi aku juga harus memisahkan bocah itu dari Aldho jika bisa. Tapi kamu tidak ada usaha sama sekali"


Suara Viona terdengar sangat jelas di dalam rekaman itu. Selina yang mendengarnya langsung kecewa.


"Jadi selama ini nenek Vio membohongiku? Mama tidak benci padaku?" gumam Selina penuh sesal.


"Ini jelas-jelas suara tante Viona ibu kamu Aldho, selama ini dia terus menekanku agar terus mendekatimu. Tapi aku tahu hatimu hanya untuk Cindy. Aku sudah muak dengan nenek lampir ini" ungkap Renata kesal.


"Keterlaluan kamu Renata" Viona hendak melayangkan tamparan untuk Renata namun Aldho langsung menangkap tangannya.


"Ibu yang keterlaluan. Ibu tega memisahkan aku dengan wanita yang sangat aku cintai. Dan sekarang ibu tega menghasut Selina? Dia salah apa sampai ibu tidak suka kepada Cindy?" Aldho mengungkapkan kekesalannya.


Belum sempat Viona menjawabnya tiba-tiba Selina berlari keluar menghampirinya.


"Nenek jahat, nenek pembohong, aku benci nenek" ucap Selina dengan berurai air mata, kemudian dia berlari kembali ke dalam rumah. Aldho segera menyusulnya.


Sementara Cindy kini sibuk mengemasi barang-barangnya ke dalam koper.


"Cindy, kamu mau kemana? Jangan bilang kamu kamu balik sekarang" tanya Windy saat memasuki kamarnya. Karena selama ini Cindy tidur bersama Windy untuk mengobati rasa kangennya.


"Iya Win, aku mau kembali sekarang." balas Cindy dengan muram.


"Tapi kenapa secepat ini? Apa Kak Aldho dan Selina menolakmu?" Windy terlihat panik.


Cindy mengangguk pelan."Selina sangat membenciku bahkan dia terus mengurung dirinya di dalam kamar seharian. Sementara Kak Aldho benar, aku memang egois." ungkap Cindy penuh penyesalan.


"Tapi Cindy, cobalah kembali. Aku yakin mereka akan menerimamu kembali. Tinggallah beberapa hari lagi" Windy sedikit memohon. Namun tampaknya Cindy tetap kekeuh untuk pergi.


Akhirnya mau tidak mau Windy harus rela melepas kembali sahabatnya. Setelah berpamitan dengan orang tua Windy akhirnya Cindy pergi ke bandara diantar oleh sahabatnya itu.


"Jaga dirimu baik-baik. Tetap menghubungiku, aku akan menjenguk mu jika ada waktu luang" Windy memeluk Cindy dengan erat untuk perpisahan mereka. Windy tidak langsung pulang karena pesawat Cindy baru berangkat satu jam lagi.


Sedangkan Selina kini sedang menangis di kamarnya sembari memeluk foto Cindy.


"Sayang, kamu baik-baik saja?" Aldho menghampiri putri kecilnya.


"Papa, aku menyesal sudah membenci mama, aku ingin bertemu mama dan minta maaf" sambil terisak Selina memeluk Aldho.


"Iya sayang, kita cari mama ya" Aldho mengajak Selina bergegas menyusul Cindy ke rumah Windy.


Sampai di rumah Windy Aldho bertemu orang tua Windy.


"Selamat siang tante, saya mau bertemu Cindy apa masih disini?" Aldho bertanya kepada orang tua Windy.


"Papa, apa mama pergi lagi?" Selina tampak berkaca-kaca.


"Kalau tidak salah dengar katanya pesawatnya berangkat satu jam lagi mungkin jika kalian bergegas masih bisa bertemu"


Akhirnya Aldho dan Selina bergegas ke bandara. Jalanan yang sedikit macet membuat Aldho semakin resah. Dia terus berharap masih bisa bertemu Cindy.


Aldho mencoba untuk menghubungi Windy namun dia tidak mengangkatnya.


Selina juga terlihat gelisah. Tak henti-hentinya mengusap air mata.


Sampai juga mereka di bandara. Aldho dan Selina bergegas mencari keberadaan Cindy. Dia berpapasan dengan Windy yang hendak pulang karena pesawat Cindy akan berangkat.


"Windy, dimana Cindy?" Aldho sambil terengah-engah karena berlari.


"Dia ada di sana, pesawatnya akan segera berangkat" Windy menunjuk ke ruang tunggu di bandara itu.


Karena tak ingin kehilangan mamanya lagi. Selina terus berlari hingga tak sengaja menabrak seorang pria berwajah blasteran seperti Aldho.


"I'm sorry" ucap Selina singkat dan terus melanjutkan mencari keberadaan Cindy.


Aldho yang melihat Selina berlari langsung menyusulnya karena khawatir putrinya tersesat diantara banyak orang.


Cindy mendengar peringatan keberangkatan maskapainya segera bangkit dari tempat duduknya dan hendak pergi. Dia mulai melangkah sembari menarik kopernya.


"Mama...." samar-samar Cindy mendengar suara anak kecil, namun dia tak terlalu peduli mungkin hanya seorang anak yang memanggil ibunya.


"Mama Cindy jangan pergi..."


Ketika mendengar namanya Cindy langsung menoleh ke belakang. Dia sangat terkejut saat Selina berlari ke arahnya.


"Mama jangan pergi... Selina mau mama tetap disini" sambil terisak Selina langsung memeluk Cindy.


"Sayang... Selina ini benar kamu kan?" Cindy seolah tidak percaya.


"Maafkan aku ma, aku sayang mama. Jangan pergi lagi ya ma" Selina memohon.


Cindy langsung memeluknya dengan erat seolah tak ingin melepaskan lagi putri kecilnya.


"Iya sayang, mama tidak akan pergi"


Cindy melihat Aldho yang tengah berdiri di depannya. Aldho tak kuasa menyembunyikan senyum bahagianya kala melihat Cindy bersama Selina.


Dengan mata berkaca-kaca Cindy berdiri menatap Aldho. "Kak Aldho..."


Aldho langsung meraih tubuh Cindy dan mencium bibirnya. Cindy membalas ciuman itu dengan penuh cinta. Tak peduli lagi saat ini mereka sedang di tempat umum.


Selina yang berada di antara mereka hanya bisa menutup wajahnya.


Rupanya Windy belum pulang. Dia menyaksikan momen dramatis pertemuan ketiga insan tersebut dan mengabadikannya dengan merekam video melalui ponselnya. Dia tersenyum dan menitikkan air mata bahagia.


Aldho begitu menikmati ciumannya terhadap Cindy hingga lupa dengan keberadaan Selina.


"Pa.. pa..." suara Selina langsung mengakhiri ciuman mesra itu. Aldho dan Cindy tampak malu-malu ketika kedapatan berciuman di depan putrinya.


Aldho langsung menggendong Selina dan mereka bertiga saling berpelukan.


"Jangan pergi lagi Cindy, aku ingin kita bersama-sama lagi" ucap Aldho di sela-sela pelukannya.


.


...****************...