Baby Blues

Baby Blues
bab 26 cemas



"Cindy, dia begitu terpukul atas kejadian yang menimpanya hingga menimbulkan trauma yang teramat dalam di hidupnya. Dia berusaha keras menghadapi itu namun baru-baru ini Roger kembali menghubunginya membuat pikirannya kembali kacau" Mama Grace mencoba jelaskan apa yang terjadi dengan anak-anaknya kepada Pak Theo.


"Sedangkan Aldho terus menyalahkan dirinya atas semua kejadian ini. Dia menanggung beban besar dengan mengorbankan cita-citanya demi menjaga Cindy. Sampai kapan anak-anakku terus mengalami kesialan ini?" lanjut Mama Grace dengan putus asa.


Pak Theo hanya bisa duduk termenung meratapi ulah anaknya yang sekarang ini entah kemana. Sejak kepergian Roger di hari itu Pak Theo sama sekali tidak tahu keberadaannya. Bahkan sama sekali Roger tidak pernah menghubungi ayahnya.


Pria tua itu hanya bisa meminta maaf berkali-kali walaupun permintaan maafnya tidak akan menyelesaikan masalah bagi keluarga Cindy.


"Saya benar-benar minta maaf Bu Grace, sayangnya Roger sama sekali tidak pernah menghubungi saya, bahkan sekarang saya tidak tahu keberadaannya" sesal Pak Theo.


Mama Grace hanya bisa menelan pil pahit tatkala kedatangannya ke rumah itu tak membuahkan hasil.


"Baiklah saya permisi dulu" ucap Mama Grace menahan kecewa.


"Biarkan sopir mengantar anda pulang" ungkap Pak Theo.


"Tidak perlu" Mama Grace berlalu tanpa lama-lama.


.


Cindy mengerjapkan kedua matanya dan melihat Aldho yang sedang tertidur di sebelahnya. Wajahnya terlihat lelah walaupun saat ini sudah berganti pakaian rumahan. Cindy membelai lembut pipi suaminya.


"maaf Kak Aldho aku sudah menyusahkanmu" gumam Cindy sembari mengusap rambut Aldho.


Cindy hendak bangun namun tangan Aldho mencegahnya, dia justru menarik tubuh Cindy hingga terjatuh di atas tubuh Aldho.


"tetaplah disini, jangan kemana-mana" Aldho menyesap bibir ranum Cindy. Lalu membenamkan kepalanya di leher gadis itu.


Cindy merasakan sensasi berbeda saat Aldho menyentuhnya. Sedangkan Aldho terus menggoda Cindy dengan kecupan-kecupannya.


"aku sudah membolos setengah jam kerjaku untukmu. Sekarang kau harus bertanggung jawab." Aldho mulai menyusupkan tangannya ke dalam blouse yang Cindy kenakan.


Jemari Aldho yang menyentuh setiap jengkal kulitnya berhasil membuatnya meremang. Gadis polos itu memang belum pernah merasakan sentuhan dari seorang pria seintim ini. Tangan Aldho terus menjelajahi punggungnya hingga berhasil menggapai kaitan penyangga miliknya.


Aldho langsung membalikkan tubuh Cindy terlentang dan kini dia berada di atas gadis itu. Aldho langsung menyibakkan blouse yang Cindy kenakan dan menarik penyangga yang dia pakai hingga terpampang kedua bukit sensitif miliknya.


Aldho tertegun sejenak melihat pemandangan di depannya. Cindy hanya bisa terpejam tidak berani menatap wajah Aldho yang sudah memerah.


Seperti kehausan Aldho langsung meraih milik Cindy dan melahapnya bergantian.


Sensasi luar biasa yang Cindy rasakan hingga tanpa sadar mengeluarkan suara yang membuat Aldho semakin bergairah.


"akhh.." Cindy merasakan tubuhnya seperti dihinggapi ribuan kupu-kupu.


Sedangkan Aldho terus melancarkan aksinya dengan menciumi setiap jengkal kulit putih Cindy. Terus ke bawah menciumi perut Cindy yang mulai membuncit membuat Cindy semakin meremang.


Tangan Aldho mulai membuka pengait dan resleting celana yang dikenakan Cindy hingga sekarang berhasil lolos. Kini tubuh Cindy sudah nyaris bugil. Aldho terus menghujani Cindy dengan kecupan serta ******* dari bibir lembabnya hingga sukses membuat Cindy merasakan panas dingin.


Aldho berhasil mencapai inti Cindy dan mulai membenamkan jemarinya di bawah sana. Tubuhnya semakin meremang membuat Cindy menggelinjang dan meremas rambut Aldho. Dia terus menekan kepala Aldho untuk melakukan lebih dalam. Satu jari Aldho berhasil meloloskan diri ke dalam inti tersebut. Namun seolah tersadar Cindy langsung membuka mata dan mendorong tubuh Aldho menjauh darinya.


"A-apa yang kakak lakukan?" Cindy langsung menurunkan blousenya serta menarik selimut untuk menutup tubuh bawahnya.


"Aku suamimu Cindy, tak apa kan kita melakukannya" protes Aldho.


Cindy bergeming, kedua tangannya menelangkup menutupi wajahnya. dia mulai terisak.


"Maaf.. maafkan aku kak"


"Cindy, jangan menangis maafkan aku. aku yang salah" Aldho menyesal.


"Aku teringat saat itu, saat dia melecehkanku." Cindy kembali terisak. Traumanya memang masih menghantuinya.


"Oh, Cindy maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya tanpa persetujuanmu. Istirahatlah aku akan ke toilet dulu" Aldho merenung di dalam toilet. Dia merasa begitu bersalah.


Begitu pula dengan Cindy, dia bingung dengan dirinya. Di sisi lain dia juga merasa bersalah dengan Aldho karena tidak bisa menjadi istri yang baik untuknya. Namun setiap kali Aldho menyentuhnya dia selalu mengingat kejadian mengerikan itu. Lalu teringat wajah Roger yang semakin membuatnya ketakutan.


Cindy sedang membantu Mama Grace memasak makan malam. Saat memotong sayuran dia terus melamun akan kejadian itu hingga tak sadar tangannya teriris pisau. Bukan hanya satu bahkan tiga jarinya teriris namun dia masih tidak menyadari.


"Cindy tanganmu berdarah" pekik Mama Grace.


Cindy baru menyadarinya dan darah sudah mengucur di jemarinya.


Aldho yang mendengar teriakan Mama Grace langsung menghampiri ke dapur.


"Cindy apa yang terjadi" Aldho memeriksa tangan Cindy dan langsung mengambil obat untuknya.


"Sudah Cindy biar mama yang meneruskan memasaknya"


Aldho mengajak Cindy ke ruang keluarga dan mengobati tangannya. Dia terkejut karena jarinya yang terkena pisau bukan hanya satu.


"apa yang kamu pikirkan? Apa aku yang membuatmu seperti ini?" tanya Aldho sembari memplester luka Cindy.


"Maafkan aku kak aku belum bisa menjadi istri yang baik untukmu" Cindy terlihat cemas.


"Cindy, bagaimanapun kamu adalah istri terbaikku" Aldho hanya bisa memeluk dan menenangkan Cindy.


.


Semua berkumpul di rumah, Pak Tirta juga sudah pulang bekerja. Saatnya makan malam. Suasana seperti biasanya, keluarga itu saling menyayangi satu sama lain.


"Cindy ada apa dengan tanganmu?" Pak Tirta menanyakan tangan Cindy yang terdapat banyak plester.


"Oh, ini tidak sengaja tergores pisau ayah" jawab Cindy santai.


Pak Tirta mengamati wajah Aldho dan Mama Grace yang terlihat cemas. Sepertinya ada kejadian yang kurang menyenangkan hari ini.


"Lain kali hati-hati sayang," ucap Pak Tirta.


"Baik ayah"


Makan malam selesai dan mereka kini sudah bersantai. Pak Tirta sedang mengamati tanamannya di taman dan Aldho menghampiri ayahnya.


"Ayah, apa ayah sibuk?" tanya Aldho.


"Tidak Al, ada apa?"


"Ada yang ingin Aldho bicarakan, tapi bisa kita bicara di luar?"


"Baiklah"


Aldho berpamitan kepada mamanya dan Cindy untuk keluar sebentar dengan ayahnya. Kemudian mereka berangkat ke salah satu kedai kopi yang tak jauh dari rumahnya.


"Ada apa Aldho? sepertinya ada sesuatu yang terjadi?" tanya pak Tirta penasaran.


"Ayah ini tentang Cindy, sepertinya Cindy tidak baik-baik saja" ungkap Aldho penuh kecemasan.


.


.


.


jangan lupa dukung karya ini dengan like dan giftnya teman-teman..