
Setelah menempuh perjalanan panjang Roger sampai juga di Indonesia. Akhirnya dia menjejakkan kakinya ke tempat ini. Banyak kenangan dan suka duka disini.
Roger langsung bergegas menuju kediaman papanya. Dia tidak memberi tahu papanya bahwa dia pulang.
Ketika dia sampai di kediaman papanya Bi Lila langsung menyambutnya.
"A-apa benar ini mas Roger?" sambil berkaca-kaca Bi Lila memperhatikan Roger.
"Iya Bi, ini aku Roger. Dimana papa?" Roger langsung memeluk Bi Lila karena sejak kecil beliau yang selalu mengurusnya.
"Ada mas, bapak tidur di dalam. Lagi kurang enak badan" balas Bi Lila sembari membantu membawa barang-barang Roger.
Dihampiri papanya yang sedang tidur pulas di kamarnya. Sosok pria paruh baya yang sangat dirindukan oleh Roger.
Roger mendekat dan menempelkan tangannya ke dahi Papanya. Terasa lebih panas suhu tubuhnya dibanding dirinya.
"Sejak kapan Papa sakit? Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit Bi?" ucap Roger pelan takut mengganggu istirahat papanya.
"Dua hari yang lalu. Bapak tidak mau dibawa ke rumah sakit jadi mas Aldho yang merawatnya. Ini baru lepas infus tadi pagi." balas Bi Lila.
Roger merasa lega. Aldho juga anaknya jadi sudah semestinya dia merawat papanya.
"Lalu kemana Aldho sekarang?"
"Mas Aldho hari ini tidak bisa menemani, hanya datang sebentar membawa obat karena Selina tidak ada yang menjaga di rumah. Jadi beliau pesan kalau ada apa-apa dengan Bapak suruh menelpon." balas Bi Lila.
Mendengar nama Selina membuat Roger langsung teringat putrinya. Seperti apa dia sekarang? Mungkin saja sudah sebesar anak yang tak sengaja menabraknya di bandara tadi.
Akhirnya Roger mencari tahu tentang putrinya dari Bi Lila karena tak ingin mengganggu papanya yang sedang beristirahat.
"Bi, Selina sudah sebesar apa sekarang?" Roger menghampiri Bi Lila di dapur. Tampak beberapa asisten baru memperhatikan Roger karena tidak pernah bertemu. Namun mereka sudah bisa menebak bahwa Roger adalah putra Pak Theo adik dari Aldho melalui foto-foto yang ada di rumah itu.
Bi Lila menceritakan sosok Selina, cucu kesayangan Pak Theo. Gadis kecil itu juga cukup dekat dengan Bi Lila karena sering menginap di rumah kakeknya.
"Mas Aldho sengaja tidak memberitahu Selina jika Bapak sakit. Kalau tidak dia bisa menangis seharian dan sedih melihat kakeknya sakit. Selina sangat menyayangi Bapak" ungkap Bi Lila.
Betapa terenyuh hati Roger mendengar cerita tentang putrinya. Ya, putri yang dia tinggalkan sejak dalam kandungan.
.
Aldho akhirnya mengajak Cindy untuk pulang ke rumahnya. Aldho sibuk menyetir mobilnya sementara Cindy dan Selina duduk di jok belakang.
Selina tak sekalipun melepaskan pelukannya di tubuh Cindy. Gadis kecil itu seolah tidak ingin berpisah lagi dengan mamanya.
Mereka saling mengobrol dan Selina tak henti-hentinya tentang kegiatan Cindy selama di luar negeri.
Diusapnya rambut halus Selina sembari mengecup puncak kepalanya. Selina juga menyentuh pipi Cindy dengan lembut.
"Ternyata mama jauh lebih cantik aslinya daripada di foto" ungkap Selina sambil tersenyum.
"Selina sayangku inilah yang paling cantik" balas Cindy.
Mendengar mereka saling memuji satu sama lain membuat Aldho begitu bahagia dan lega. Setelah sekian lama akhirnya apa yang dia impikan terwujud yaitu memiliki keluarga lengkap.
"Cindy kamu sudah makan?" tanya Aldho sembari menyetir.
"Belum kak" balas Cindy.
Akhirnya Aldho mengajak mereka makan siang di sebuah restoran China favorit Cindy dulu. Aldho masih mengingat semua kesukaan cindy.
Makanan sudah tiba dan mereka melahap dengan semangat. Aldho sejak tadi memperhatikan Cindy yang sedang menyantap makanannya. Tiba-tiba Cindy mengambil makan di piring Aldho dengan sumpitnya dan hendak menyuapi Aldho.
Dengan sedikit malu-malu akhirnya Aldho membuka mulutnya. Selina yang menyaksikan kedua orang tuanya hanya bisa tersenyum sendiri. Mereka seperti sepasang remaja yang sedang berpacaran.
Selesai makan siang mereka kembali melanjutkan perjalanan pulang. Sampai di rumah Selina langsung menarik Cindy tak sabar ingin menunjukkan koleksi Barbie kepada mamanya.
"Ma, ini adalah koleksi barbie ku. Aku ingin sekali menunjukkan kepada Mama" terlihat boneka barbie berjajar rapi didalam etalase kaca di kamar Selina.
"Mama punya sesuatu untukmu," Cindy mengeluarkan sebuah kotak berisi Boneka Barbie yang diinginkan Selina.
"Woowww Barbie Maripossa, ini yang Selina mau" Selina tampak sangat takjub dengan hadiah dari Cindy.
"Mama selalu ingat Barbie mana yang belum kamu punya. Jadi mama belikan ini"
Sejenak Selina tertegun dengan ucapan Cindy, bagaimana dia mengetahui tentang koleksi barbie Selina.
"Tunggu, jadi ini semua bukan Tante Windy yang belikan? Tapi mama?" ucap Selina tak percaya. Cindy hanya mengangguk dan tersenyum.
Seketika Selina langsung memeluk Cindy dan berterima kasih. Ternyata selama ini Mamanya selalu mempedulikannya.
Setelah puas main dengan Selina kini Cindy menuju kamar Aldho. Di daam Aldho sudah bersiap menyambut Cindy.
"Kak aku mandi dulu ya, gerah" Cindy bergegas ke kamar mandi sementara Aldho hanya mengangguk. Sebenarnya bukan karena gerah namun dia merasa begitu canggung setelah lama tidak bertemu.
Selesai mandi Cindy kembali dibuat bingung karena dia lupa tidak membawa kopernya masuk. Dia berjalan di walk in closet dan benar saja di sana hanya ada pakaian Aldho yang berjajar rapi.
Cindy langsung meraih salah satu kemeja Aldho dan memakainya daripada dia bertelanjang.
Setelah selesai Cindy kembali keluar dengan memakai kemeja Aldho yang nampak kebesaran di badannya.
"Kak, maaf koperku di bawah lupa tidak aku bawa kesini jadi aku pinjam bajunya ya" ucap Cindy ketika menghampiri Aldho.
Aldho bukannya protes malah terpana akan penampilan Cindy. Bukan hanya bertambah cantik namun istrinya itu rupanya terlihat semakin seksi. Tubuh Cindy terlihat lebih berisi dibanding enam tahun yang lalu. Terutama di bagian dadanya.
"Em, eh.. Iya.. Cindy tidak papa" Aldho menjadi salah tingkah sendiri.
Cindy duduk di ranjang sebelah Aldho. Terlihat paha mulus Cindy yang sangat ingin Aldho sentuh. Namun dia berusaha sebisa mungkin untuk tidak melakukannya. Mereka masih canggung.
"Kak terimakasih sudah memberiku kesempatan untuk kembali. Aku janji akan selalu mendampingi mu dan tidak akan pergi lagi" ucap Cindy sembari melirik Aldho yang terlihat salah tingkah.
"I-iya Cindy, aku juga sangat senang akhirnya kamu kembali" Aldho tak berani menatap wajah Cindy.
Cindy yang menyadari keanehan Aldho hanya bisa tersenyum geli. Pasti pria ini merasa canggung.
Perlahan Cindy meraih tangan Aldho dan menautkan jemarinya. Aldho hanya tersenyum malu-malu dan masih tak berani menatap Cindy.
"Kak Aldho kenapa tidak menatapku sih? Aku serem ya?" protes Cindy.
"Tidak... Tidak.. Maksudku. Emm.. Aku malu Cindy. Kita lama tidak bertemu" balas Aldho dengan polosnya.
Cindy hanya bisa tertawa melihat tingkah konyol Aldho.
Kemudian diraihnya dagu Aldho dan Cindy langsung mengecup bibir Aldho dengan lembut, kemudian ciuman itu berganti dengan luma tan yang membuat Aldho langsung ingin membalasnya.
"Aku masih istrimu kan sayang?" bisik Cindy disela-sela ciumannya.
.
.
...****************...