Baby Blues

Baby Blues
bab 56 jujur



"Halo... Aldho..."


"Bicaralah..."


Entah kenapa saat mendengar suara Aldho lidahnya menjadi kelu. Semua Kata-kata yang ingin dia ucapkan seolah hilang semua.


"Halo... Roger kau mendengarku?" Aldho kembali menanyai Roger.


"Eh.. Iya.. A-Aldho. Bagaimana kabarmu?" dengan sedikit gemetar Roger mencoba berbicara dengan Aldho.


"Kabarku baik. Kau ingin bicara apa? Cepat katakan" Aldho berbicara seolah sangat terganggu dengan Roger. Namun dalam hatinya dia ingin sekali mengobrol santai seperti sedia kala.


"Sebenarnya aku hanya ingin tahu kabarmu Aldho. Aku ingin berbicara layaknya kakak dan adik."


Mendengar kata-kata dari Roger membuat Aldho merenung. Sebenarnya dia sangat merindukan Roger namun sakit hatinya yang masih dalam mengalahkan itu semua.


"Apa lagi yang perlu kita bicarakan. Kau telah menghancurkan semua. Kau sendiri juga yang memulainya" ungkap Aldho kesal.


"Ma-maaf Aldho... Mungkin jutaan kali aku minta maaf tidak akan cukup. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih. Kau telah menjaga Cindy"


"Itu sudah kewajibanku untuk menjaga dan melindunginya. Aku tidak akan membiarkan Cindyku mengalami masa-masa sulit lagi"


"Dan asal kau tahu Cindy menunggumu saat itu. Dia berharap banyak padamu. Tapi kau patahkan harapannya seperti itu. Berkali-kali dia mencoba mengakhiri hidupnya bahkan di hari pernikahannya"


"Aku tahu, aku sudah menghancurkan perasaannya. Aldho jika boleh beri aku kesempatan untuk memperbaikinya. Aku ingin sekali bertemu anakku, aku ingin tahu keadaannya" Roger terus berusaha merayu Aldho.


"Apa yang mau diperbaiki? Kau malah akan menambah masalah. Selina baik-baik saja, aku tahu kau ayah biologisnya aku akan memberitahukannya suatu saat nanti. Tapi untuk sekarang tolong biarkan Cindy berdamai dengan keadaan"


Aldho berusaha menahan emosinya. Meski berat tapi dia sadar bahwa Selina adalah putri Roger dan bagaimanapun dia ayahnya.


"Tolong cabut laporannya Aldho aku ingin bertemu putriku" Roger terus memohon.


"Aku tidak bisa menghentikan apa yang sudah ku mulai. Ini adalah kesalahanmu dan kau harus menanggungnya. Baiklah cukup sampai di sini aku harap kau tidak akan menghubungiku lagi" Aldho segera menutup teleponnya sebelum emosinya meledak.


Sementara Roger begitu kesal saat Aldho menolak untuk mencabut laporannya.


"Ah.. Sial" Roger terus menggerutu. Kemudian dia berjalan kembali ke ruang ICU. Dia masih menatap Rebecca dari balik kaca. Tubuhnya terpasang beberapa alat dan selang serta luka-luka yang berada di kepala serta bagian tangannya membuat Roger semakin merasa bersalah.


Kecerobohannya membuat banyak orang terluka karenanya. Pertama Cindy dan sekarang Rebecca, namun kali ini dia ingin memperbaiki keadaan.


Jika sebelumnya dia tidak bisa bertanggung jawab terhadap Cindy setidaknya sekarang dia harus bisa bertanggung jawab terhadap Rebecca. Roger harus membuktikan bahwa dia tidak boleh terus-terusan menjadi seorang pengecut.


.


Cindy mendengar suara tangis Selina. Walau masih sangat mengantuk nyatanya dia harus terbangun dan melihat Selina.


Namun saat membuka mata dia tidak melihat Aldho. Kamar itu sepi hanya ada dirinya dan Selina.


"Sayang, Cup.. Cup.. Kamu haus ya" Cindy segera menggendong Selina dan menyusuinya. Kegiatan rutin yang sekarang dia jalani setiap hari.


Setelah selesai Selina kembali tidur dan Cindy masih menunggu Aldho. Namun tak kunjung kembali akhirnya dia mencoba mencari keberadaan Aldho.


Cindy mencari ke setiap sudut rumah namun tak ketemu. Akhirnya dia mencoba mencari ke luar rumah. Ternyata Aldho sedang duduk termenung sendirian di taman. Terlihat wajahnya tertunduk lesu. Cindy pun menghampirinya.


"Sayang, kenapa duduk di luar sendirian? Kamu tidak tidur?" tanya Cindy.


Aldho sedikit terkejut saat Cindy datang menghampirinya.


"Eh.. Lagi pengen cari udara segar sayang" balas Aldho mencoba menutupi perasaannya.


Namun sebagai seorang istri dan Cindy tahu kebiasaan Aldho dia merasa penasaran.


"Apa yang terjadi? Apa ada masalah?"


Aldho menggelengkan kepala dan hanya tersenyum. Kemudian merengkuh tubuh Cindy.


"Baiklah ayo kita masuk. Dingin" Cindy mengajak Aldho untuk masuk. Namun dia tetap memikirkan apa yang terjadi dengan suaminya.


.


Keesokan harinya seperti biasa semua orang beraktifitas masing-masing. Cindy sibuk mengurus Selina. Hari ini dia ada kelas belajar siang jadi setelah sarapan Aldho mengajak Cindy untuk jalan-jalan di taman dekat rumah bersama Selina.


Suasana pagi yang sejuk serta rindangnya pepohonan di taman membuat Cindy merasa sangat nyaman.


Mereka berjalan menyusuri danau dekat taman. Aldho mengambil Selina dari Strollernya dan menggendong putri kecilnya agar bisa merasakan udara pagi secara bebas.


Namun saat berjalan tiba-tiba mereka tak sengaja mendengar segerombol tetangga yang membicarakan di belakangnya.


"Lihat, bukankah itu anak Pak Tirta yang tinggal di komplek sebelah?" ucap salah seorang ibu-ibu.


"Benar. Namanya Cindy dan itu suaminya Aldho. Dia menikahi kakak angkatnya sendiri" ucap ibu-ibu lainnya.


"Itu putrinya kan? Eh dengar-dengar mereka menikah karena Cindy hamil dengan pria lain. Lihat saja wajah putrinya tidak mirip dengan Aldho"


Cindy dan Aldho mendengar obrolan mereka. Aldho mencoba mengajak Cindy pergi agar merasa nyaman namun dia menolaknya. Cindy malah berjalan menghampiri segerombolan wanita itu.


"Permisi, memang benar kak Aldho bukanlah ayah biologis dari putriku jadi mereka tidak mirip. Dan aku memang mengandung anak dari pria lain. Jika kurang jelas kalian bisa langsung bertanya kepadaku agar tahu semua kebenaran langsung dari sumbernya" Cindy langsung mengutarakan kebenarannya kepada orang-orang itu.


Sementara Aldho hanya bisa tertegun dengan aksi Cindy.


"Kenapa kamu bicarakan itu kepada mereka Cindy?" tanya Aldho heran.


"Lebih baik jujur dan mereka akan berhenti membicarakan kita daripada terus bungkam tapi mereka tak berhenti menggunjing tanpa tahu kebenarannya" ucap Cindy dengan senyum tipis.


Aldho mengusap kepala Cindy dengan lembut. "Akhirnya Cindy ku yang dulu telah kembali"


Mereka melanjutkan jalan-jalan dan memilih untuk tidak lagi mempedulikan omongan orang lain.


Sampai di rumah Cindy sedang bersiap untuk belajar. Aldho menjaga Selina bersama Mama Grace.


"Aldho, bulan depan Cindy ulang tahun. Kamu sudah siapkan kejutan untuknya?" ucap mama Grace.


"Aldho sudah ada rencana ma, tapi itu kejutan secara pribadi. Kalau mama rencananya apa?"


"Mama ingin kita liburan bersama Aldho, tapi Selina masih terlalu kecil jadi sebaiknya kita rayakan di dekat-dekat sini saja"


"Baiklah ma, kita rayakan disini saja."


"Aldho, tapi apa kamu dan Cindy tidak ingin bulan madu? Selama ini kan kalian selalu sibuk di rumah. Keadaan Cindy sepertinya juga sudah baik"


Aldho melirik ke mamanya. Sepertinya mama Grace menginginkan hal itu.


"Ya sebenarnya Aldho mau, tapi Selina masih terlalu kecil ma"


"Biar Selina sama mama. Kalian perlu honey moon. Seperti pengantin pada umumnya"


Aldho langsung tertawa ketika mamanya yang terus memikirkan tentang bulan madu mereka.


"Ada apa sih, kak Aldho tertawa begitu?" tiba-tiba Cindy datang menghampiri mereka.


.


.


.



......................