
Cindy menyiapkan makanan di kotak makan dan segera pergi ke rumah sakit. Di perjalanan Cindy tidak sabar bertemu Aldho. Sejak semalam dia selalu ingin melihat pria itu.
Sampai di rumah sakit Cindy menelepon Aldho namun belum dijawab. Mungkin saja dia masih belum selesai rapat. Akhirnya dia mengambil nomor antrian untuk memeriksakan kandungannya ke poli obgyn. Saat menunggu antrian Elisa berjalan melintasi depan poli dan menemukan Cindy disana.
"Hai Cindy, sedang apa disini?" Elisa datang menyapa Cindy
"Hai kak Elisa, aku sedang mengantri di poli obgyn"
Elisa merasa heran kenapa Cindy memeriksakan dirinya ke obgyn. Namun tak mau berprasangka dia tak membahasnya. Kemudian Elisa melihat Cindy membawa kotak makan.
"Cindy kenapa bawa kotak makan?" tanya Elisa.
"Oh, ini aku membawa bekal untuk Kak Aldho. Tadi dia tidak sempat sarapan karena ada meeting"
"Oh Cindy, kamu memang sangat perhatian pada kakakmu. Kamu bisa menitipkannya padaku, akan ku sampaikan kepadanya" namun segera ditolak oleh Cindy karena tujuannya mengantar bekal adalah ingin bertemu Aldho.
Hingga akhirnya giliran Cindy dipanggil. Dia berpamitan kepada Elisa untuk menemui dokter. Bersamaan terlihat Aldho berlari menghampiri Cindy.
"Cindy maaf aku baru selesai rapat. Apa sudah giliranmu?" sambil ngos-ngosan Aldho menanyai Cindy. Kemudian mereka masuk ke dalam ruangan bersama.
Elisa melihat keanehan yang terjadi pada Cindy. Sepertinya gadis itu terlihat lebih gemuk namun kenapa Aldho sampai menemaninya ke poli obgyn, apakah Cindy sedang sakit?
Di dalam ruangan Dokter Helena menyapa Cindy dan Aldho.
"Selamat Pagi Cindy, hari ini lebih pagi datangnya ya?" tanya dokter Helena.
"Iya bu dokter, sekalian saya mengantar sarapan untuk Kak Aldho" Cindy nampak melirik Aldho yang sedang tersenyum padanya.
"Wah... kalian sungguh manis" puji dokter Helena.
Kemudian Cindy mulai menjalani pemeriksaan. Aldho mendampinginya dan ikut mengamati pertumbuhan janin. Terlihat di layar monitor sosok janin yang dikandung Cindy.
Tangan Cindy bergetar tatkala melihatnya. Sebenarnya dia masih belum terlalu menerima itu. Aldho mengecup lembut kening Cindy.
"Semua akan baik-baik saja sayang" ucap Aldho menenangkan Cindy.
Dokter Helena ikut terharu melihat kesabaran Aldho menguatkan Cindy. Perawat nampak bingung karena dia pikir Roger adalah suaminya kenapa sekarang selalu Aldho yang menemani.
Selesai memeriksakan kandungannya Cindy mengajak Aldho untuk sarapan dengan bekal yang dibawa Cindy.
"Kak Aldho belum sarapan kan? aku memasak ini spesial untukmu" Cindy mengeluarkan kotak makan dan menyajikannya untuk Aldho.
"Wah.. ini terlihat sangat enak. Tapi jika sebanyak ini aku tidak akan mampu menghabiskannya. Ayo kita makan bersama"
Akhirnya Cindy ikut menikmati makanan bersama Aldho.
Aldho tak berhenti tersenyum menyaksikan Cindy yang begitu lahap dengan makanannya. Efek kehamilannya membuat nafsu makan Cindy meningkat.
"Kenapa melihat saja, ayo ikut makan kak" protes Cindy.
"Baiklah ini aku juga makan sayang, masakanmu enak sekali" puji Aldho.
Cindy nampak bahagia begitupun dengan Aldho. Hingga akhirnya Elisa menghampiri mereka.
"Selamat pagi Cindy, Pak Dokter"
"Ya, selamat pagi Elisa,ada apa?"
Tiba-tiba tanpa permisi Elisa duduk disamping Aldho membuat Cindy mulai terusik.
"Bolehkan saya bergabung disini?"
"Memangnya kamu tidak ada pekerjaan?" tanya Aldho.
"Saya berganti sift. Ini sebenarnya akan pulang"
Aldho tidak terlalu menggubris Elisa. Dia menyelesaikan sarapannya supaya lebih cepat dia pergi menghindari Elisa.
"Sayang setelah ini kamu mau kemana?" tanya Aldho sembari membantu Cindy mengemasi makanan.
"Aku ingin menemui Windy, aku mau minta maaf kepadanya"
Aldho tersenyum dan mengelus rambut Cindy lembut.
"Bagus..hati-hati dijalan ya"
Kemudian Cindy bangkit dari tempat duduknya dan berpamitan kepada Elisa.
"Kak saya pergi dulu" Elisa nampak bangga karena terlihat akrab dengan Cindy didepan Aldho.
"Kak Aldho aku pergi dulu"
Aldho menghampiri Cindy dan mengecup pipinya. Sontak membuat Elisa terkejut. Kenapa kakak adik bertingkah semesra ini.
" Karena dia istriku" jawab Aldho sambil berlalu meninggalkan Elisa.
Bak disambar petir Elisa mendengarkan ucapan Aldho. Gadis yang dia kenal untuk mendekati Aldho ternyata adalah istrinya.
.
Cindy menghubungi Windy berharap dia mau bertemu dengannya.
"Halo, Windy kamu sibuk?" tanya Cindy.
"Aku masih di sekolah Cindy, ada apa?"
"Aku ingin bertemu denganmu sepulang sekolah. Apa boleh?"
"Baiklah, aku akan memberi tahu Zara dan Tika"
"Jangan, aku ingin bertemu denganmu saja"
"Baiklah kita bertemu di cafe biasa ya"
Cindy berangkat ke cafe untuk menunggu kedatangan Windy. Setengah jam kemudian nampak Windy datang dengan seragam sekolahnya.
"Hai Cindy, sudah lama menunggu?" Sapa Windy dengan wajah manis seperti biasanya.
"Hai Windy, tidak juga. Baru beberapa menit lalu aku disini" Cindy nampak masih canggung dengan Windy atas kejadian kemarin.
"Aku tidak tahu harus mulai dari mana, tapi yang pasti maafkan aku" ucap Cindy sambil menunduk. Dia begitu malu menatap Windy.
"Aku sudah memaafkanmu Cindy," ucap Windy sembari menepuk punggung tangan Cindy.
"Aku begitu keterlaluan kepadamu, tidak seharusnya aku berkata kasar seperti itu. Aku sungguh malu Windy" Cindy mencoba menahan air matanya namun akhirnya lolos juga. Dia begitu menyesal atas perbuatannya.
Windy mengetahui bahwa Cindy menangis membuatnya langsung berpindah tempat duduk ke sebelahnya dan memeluk Cindy.
"Oh Cindy sayang, kenapa kamu menangis?"
"Aku takut kamu akan membenciku dan tidak mau berteman denganku lagi"
Diantara sahabat Cindy, Windy memang yang paling mengerti keadaan Cindy. Dia begitu peka dengan Cindy.
"Aku sudah mendengar semua dari Kak Aldho, terimakasih banyak Windy kamu benar-benar menyelamatkanku" ucap Cindy sungguh-sungguh.
"Sama-sama Cindy, aku hanya ingin kamu bahagia. Ngomong-ngomong bagaimana hubunganmu dengan Kak Aldho?"
Cindy nampak tersenyum malu-malu, dan hal itu disadari oleh Windy.
"Ayolah ceritakan padaku" desak Windy.
"Dia menyatakan perasaannya padaku," ucap Cindy sembari tersipu.
Mendengar hal itu membuat Windy kegirangan hingga tidak sadar beberapa orang di cafe memperhatikannya.
"Aku benar-benar bahagia, Cindy aku tahu kamu juga menyukainya kan?"
Cindy mengangguk dengan penuh senyum di wajahnya.
Cindy mengirim pesan kepada Aldho beserta potret dirinya yang sedang bersama Windy.
"Sayang, aku sudah berbaikan dengan Windy"
Aldho membaca pesan tersebut ikut senang.
"Bagus sayang, semoga kalian bahagia selalu. I love u"
Cindy langsung tersipu membaca pesan dari Aldho. seperti ini ternyata jatuh cinta. Windy yang mengetahui sahabatnya sedang dimabuk cinta tak henti-hentinya menggoda Cindy.
Saat sedang asyik bercengkrama dengan Windy tiba-tiba Cindy mendengar ponselnya berdering. Saat memeriksa ponselnya dia melihat nomor asing yang menelepon. Sepertinya juga bukan nomor telepon dari negara ini.
Daripada penasaran akhirnya Cindy mengangkat teleponnya.
"Halo..."
"Halo, Cindy..? jawab seorang di telepon itu.
Saat mendengar suara di telepon itu membuat Cindy langsung berubah ekspresinya. Dia tahu betul suara pria di telepon itu.
"Roger...."
.
.