
"Aldho.."
Seorang wanita cantik menghampiri Aldho yang sedang berbincang dengan beberapa temannya. Aldho terkejut melihat sosok wanita itu.
"Renata.."
Wanita itu adalah mantan kekasih Aldho sejak SMA hingga kuliah. Hubungan yang dijalaninya selama kurang lebih 7 tahun putus ditengah jalan karena Renata memutuskan untuk menikah dengan pria lain.
Renata tampak begitu bahagia saat bertemu Aldho. Namun tidak bagi Aldho., baginya Renata hanya mantan kekasihnya yang pernah melukai perasaannya.
"Aldho apa kabar?" sapa Renata.
"Kabarku baik" jawab Aldho singkat.
Renata sejenak diam menunggu Aldho berbicara lagi namun Aldho tak bergeming.
"Apa kamu tidak menanyakan kabarku?" ucap Renata kembali.
"Tidak, melihatmu saja sudah tahu kabarmu pasti baik"
"Aldho aku senang sekali bertemu denganmu disini" Renata mencoba terus memulai obrolan.
Aldho sebenarnya sedang was-was jika Cindy marah melihat dia bersama Renata.
"Kenapa lama sekali Cindy" gumam Aldho lirih.
Tak lama kemudian datang salah satu teman Aldho yang bernama Dion. Dia adalah teman Renata juga saat di kampus.
"Hei Aldho kemana istrimu?" tanya Dion.
"Dia sedang ke toilet" jawab Aldho.
Renata langsung terkejut saat mendengar Dion menyebut istri Aldho.
"Aldho kamu sudah menikah?"tanya Renata terkejut.
Aldho hanya mengangguk. Kemudian Dion yang melanjutkan pembicaraan.
"Aldho benar-benar beruntung dia memiliki istri yang begitu cantik dan masih sangat muda. Seperti daun yang masih kuncup-kuncupnya" puji Dion.
Hal itu membuat Renata semakin penasaran.
"Dimana suamimu Renata?" tanya Aldho yamg dari tadi tidak melihat keberadaan suami Renata.
"Sebenarnya, aku sudah bercerai dengan suamiku" jawab Renata murung.
Sementara di toilet Cindy sedang berada di dalam bilik. Saat selesai dan hendak keluar tiba-tiba dia mendengar dua orang sedang mengobrol.
"Hey, kamu tahu kenapa Renata sekarang kembali ke Indonesia lagi?" ucap salah seorang wanita.
"Tidak, ada apa memangnya?" jawab yang satunya.
"Aku dengar dia bercerai dengan suaminya yang kaya raya itu. Dan kini dia berusaha mencari mantan kekasihnya. Ada yang bilang jika Renata sulit melupakan mantan pacarnya itu"
"Memang siapa mantan pacarnya?"
"Kamu tahu Aldho anak angkatnya dokter Tirta yang sekarang juga menjadi dokter?"
"Oh, iya yang sekarang menikah dengan adik angkatnya itu kan?"
"Betul sekali, sepertinya Aldho menikah juga untuk pengalihan perasaannya. Secara mereka menjalin hubungan cukup lama"
Cindy sadar akan siapa yang mereka bicarakan. Akhirnya dengan keberanian Cindy keluar dari bilik toilet yang membuat dua orang wanita itu kelabakan karena mengetahui Cindy adalah istri Aldho.
Cindy hanya menyapa dengan senyuman mengerikan. Membuat dua wanita itu semakin takut.
Cindy terus gelisah memikirkan ucapan dua wanita itu lagi. Dia segera mencari keberadaan Aldho.
Cindy melihat Aldho yang sedang berbincang dengan seseorang kemudian langsung menghampirinya.
"Cindy, lama sekali" tanya Aldho.
"Maaf, sedikit masalah tadi. tapi sudah selesai" balas Cindy.
"Hai Cindy, rupanya kalian datang bersama?" tanya Renata.
"Kak Renata..." balas Cindy.
"Ini dia istri Aldho, cantik sekali bukan?" balas Dion.
"Hah, kalian ini ada-ada saja bercandanya" elak Renata.
"Benar Cindy adalah istriku" jawab Aldho sembari menggenggam tangan Cindy.
Renata seperti tersambar petir saat itu juga. Dia tidak percaya bahwa Cindy benar-benar istri Aldho.
" Tunggu, apa-apaan ini?" Renata tampak bingung.
Renata hanya bisa menyesak di dalam hatinya. Kebahagiaannya bertemu kembali dengan Aldho kini harus tersisa pahit karena kenyataan bahwa Aldho telah menjadi milik orang lain.
"Aldho kita perlu bicara empat mata" Renata meraih tangan Aldho namun tangan yang lainnya tetap menggenggam erat Cindy.
"Cindy, ku mohon. Berikan aku sedikit waktu" pinta Renata.
Akhirnya Cindy melepaskan genggaman Aldho. Dia memberi waktu untuk Renata dan Aldho berbicara. Walaupun dalam hatinya dia sangat cemburu.
Cindy hanya bisa memandangi Renata yang berjalan menggenggam tangan Aldho dan semakin menjauh dari pandangannya.
"Cindy, kamu baik-baik saja?" tanya Dion teman Aldho.
"Aku baik kak" jawab Cindy singkat.
"Aldho bukan tipe laki-laki yang suka mempermainkan wanita. Aku tahu dia sejak dulu. Jadi kamu tidak perlu khawatir" Ucapan Dion sejenak menenangkan gadis itu.
Renata terus menarik tangan Aldho ditengah kerumunan tamu. Hal itu membuat beberapa orang membicarakannya.
"Kita mau kemana Renata?" protes Aldho.
Akhirnya dia berhenti di sebuah balkon gedung itu. Tempatnya memang sedikit sepi jadi mereka leluasa untuk berbicara.
"Jelaskan padaku apa yang terjadi Aldho"
"Mau jelaskan apa lagi memang itu kenyataannya. Cindy adalah istriku sekarang"
Tiba-tiba tangis Renata pecah. Hatinya begitu sakit saat menerima kenyataan bahwa Aldho audah menikah.
"Tapi kenapa harus Cindy?"
"Memangnya kenapa Cindy? Dia gadis yang baik dan bahkan aku mencintainya." mendengar ucapan Aldho semakin membuat Renata sakit hati.
"Aldho ini adalah berita yang sangat menyakitkan untukku" rengek Renata.
"Itulah yang aku rasakan dua tahun lalu"
Aldho menghela nafas kasar.
"Aldho maafkan aku, tapi sekarang aku sadar betapa bahagianya saat aku bersamamu. Hanya kamu yang mengerti aku Al. Bahkan aku sekarang telah bercerai dengan suamiku" Renata tak henti-hentinya meyakinkan Aldho dengan menangis.
Aldho sama sekali tak menggubris dan berjalan meninggalkan Renata. Dia ingin cepat-cepat menemui Cindy.
Cindy tengah berdiri di depan kaca jendela ruangan itu. Dia menatap nanar ke arah luar melihat hiruk pikuk sudut kota itu. Ini adalah caranya menutupi rasa cemburu terhadap Aldho.
"Sayang, maafkan aku" Aldho menghampiri Cindy dengan khawatir. Dia takut gadis itu marah.
Cindy tersenyum dan mengangguk.
"Tidak apa-apa aku mengerti." Aldho memeluk dan mencium Cindy sebagai bentuk ungkapan kasih sayangnya.
Renata pergi entah kemana sedangkan Aldho dan Cindy masih menikmati pesta tersebut. Hingga pukul 22.00 akhirnya Aldho berpamitan untuk pulang.
"Cindy, ayo kita pulang" Aldho membukakan pintu mobil untuk Cindy.
"Tidak, aku tidak mau pulang" tolak Cindy.
"Apa maksudmu tidak pulang?"
"Entahlah, aku tidak ingin tidur di rumah malam ini" sepertinya Cindy sedikit ngambek.
"Maksudmu kita menginap di hotel saja?"
"Terserah yang penting tidak di rumah"
Akhirnya Aldho memesan salah satu kamar suite room yang ada di hotel tersebut.
Sejak dari loby hingga di lift Cindy tidak mengatakan sepatah katapun. Aldho yang berdiri di sampingnya hanya bisa diam. Dia tahu Cindy sedang marah tapi berbicara disaat seperti ini bukanlah waktu yang tepat.
Mereka sampai di depan pintu kamar dan Aldho membuka pintu tersebut mempersilahkan Cindy untuk memasuki kamar hotel.
ruangan itu cukup luas dengan desain modern. Tampak dinding kaca yang luas menembus pemandangan indah kota di malam hari.
"Cindy, maafkan..." belum sempat Aldho meneruskan ucapannya Cindy sudah menyergap Aldho dengan ciumannya.
Cindy terus menarik tubuh Aldho dan tak berhenti menciuminya.
"Anggap saja ini malam pertama kita" ucap Cindy di sela-sela ciumannya.
.
.