
Roger dan Rebecca memberi salam perpisahan kepada keluarga yang hendak kembali pulang. Satu persatu memberi ucapan selamat kepada kedua mempelai untuk melanjutkan berbulan madu.
Tampak Cindy dan Aldho dengan santainya tidak ikut rombongan.
"Loh, kalian bukannya bersiap pulang?" Roger heran dengan keduanya.
"Kita akan tinggal disini 3 hari lagi. Memangnya kalian saja yang mau honey moon? Kami juga lah" ucap Aldho dengan entengnya.
"Dasar, awas jangan ganggu bulan madu kita" ujar Roger kesal. Karena terakhir kali mereka jalan bersama Roger dan Rebecca dibuat repot oleh ulah kakaknya itu.
"Tenang, kami tidak akan tinggal di villa ini. Jadi jangan khawatir. Kita akan terpisah" ujar Aldho.
"Syukurlah..." gumam Rebecca.
Akhirnya Aldho dan Cindy mengemasi barang-barangnya dan pindah ke villa privat di daerah ubud. Mereka sengaja melakukan liburan terpisah agar tidak ada yang merasa diganggu satu sama lain.
Villa itu sangat cocok untuk pasangan dan pemandangan persawahan terasering membuat suasana kian indah.
Sementara Roger masih berada di Villa yang sama. Rencananya mereka akan tinggal selama seminggu.
Roger hendak masuk ke dalam villa tiba-tiba mamanya datang menghampiri.
"Roger, dimana Rebecca?" Tanya mamanya.
"Di dalam ma, ada apa? Ku kira mama sudah pulang" balas Roger.
"Belum sayang Mama ada perlu dengan Rebecca dulu."
Akhirnya Roger memanggil Rebecca untuk menemui mamanya.
"Ma?ada apa?" Rebecca datang menemui ibu mertuanya.
"Sayang, ada yang ingin bertemu denganmu" ucap Mama Roger sedikit ragu.
Rebecca hanya mengangguk dan bertanya siapa yang ingin menemuinya.
Tak lama kemudian datanglah seorang pria paruh baya mendekati mereka.
"Ayah?" sontak Rebecca langsung berteriak ketika melihat ayahnya.
"Rebecca.. Maafkan ayah." Pria itu menunduk tak berani menatap.
"Kenapa ayah minta maaf?" balas Rebecca.
Sementara Roger yang hampir emosi melihat ayah Rebecca kini ditarik mamanya untuk menjauh dulu. Memberi ruang untuk ayah dan anak itu berbicara.
"Kemarin ayah menyaksikan pernikahanmu. Kamu terlihat begitu bahagia. Tapi yang membuat ayah sangat menyesal adalah ketika aku tidak bisa mengantar putriku sendiri ke pernikahan. Justru orang lain yang mengantarnya"
Rebecca hanya terdiam. Selama ini dia tidak pernah diperlakukan baik oleh ayahnya.
"Kadang orang lain pula memperlakukanku lebih baik dari ayah" ujar Rebecca.
Dia masih sulit menerima ayahnya semenjak kejadian yang lalu. Saat ibu tirinya berusaha menghabisinya namun ayahnya malah tak pernah membela dirinya.
"Baiklah, semoga pernikahanmu selalu diberi kebahagiaan. Ayah pamit dulu"
Pria itu pergi meninggalkan Rebecca. Sementara gadis itu hanya bisa menangis terisak. Sebenarnya Rebecca sangat merindukan ayahnya namun dia tidak bisa melakukan apa-apa. Hubungan antara mereka sudah rusak sebelumnya.
"Sayang kamu baik-baik saja?" Roger langsung menghampiri istrinya.
Rebecca langsung menangis dalam pelukan Roger. Hanya dia seseorang yang menjadi penguat Rebecca selama ini.
Mama Roger akhirnya pamit pergi. Kini tinggal mereka berdua di Villa. Roger berusaha memperbaiki mood Rebecca yang jelek setelah bertemu ayahnya. Setelah seharian hanya di Villa akhirnya Roger memutuskan untuk menikmati sunset di salah satu Club di daerah Nusa Dua.
Tak disangka Aldho dan Cindy kini telah berada di club tersebut. Mereka sedang menikmati indahnya suasana matahari terbenam dengan lanskap lautan biru yang mulai berwarna keemasan karena senja.
Cindy terlihat begitu sexy mengenakan bikini two piece berwarna merah. Sementara Aldho bertelanjang dada dan hanya memakai celana renang.
Roger dan Rebecca sedang mencari tempat untuk duduk. Tak sengaja Rebecca melihat Aldho dan Cindy.
"Sayang, bukankah itu Kak Aldho dan Jully?" ujar Rebecca sembari menunjuk ke arah yang dimaksud.
Roger menepuk jidatnya. Benar-benar mereka berniat untuk menghindar justru malah bertemu.
Roger pura-pura tidak tahu saja agar mereka tidak menghampirinya. Namun sial saat Aldho naik untuk memesan minuman dia melihat keberadaan Roger dan Rebecca.
"Rupanya kalian disini juga?" Aldho menepuk bahu Roger.
"Eh, Aldho. Iya aku baru saja datang. Tidak kusangka kita bertemu disini" ujar Roger sedikit kaku.
"Tenang aku tidak akan merepotkan kalian" ujar Aldho dengan tersenyum ramah.
Akhirnya mau tidak mau mereka harus kembali bersama. Kini Cindy dan Rebecca sedang asyik berswafoto berdua di kolam renang sementara Aldho dan Roger memilih untuk duduk santai dipinggir kolam.
"Aku senang melihat Rebecca kembali tersenyum" ujar Roger sembari memandangi istrinya.
"Memangnya kenapa Rebecca?" tanya Aldho.
"Tadi ayahnya datang. Tau sendiri kan ayah Rebecca selalu memperlakukan dia dengan buruk. Tiba-tiba dia datang meminta maaf. Seharian aku bingung membuatnya kembali tersenyum" ujar Roger.
Aldho hanya terkekeh. "Itu hanya permulaan. Cindy bahkan lebih parah. Dulu aku harus ekstra menjaganya sampai minta bantuan psikiater. Setiap kali moodnya jelek dia selalu berusaha melukai dirinya. Bahkan berkali-kali mencoba untuk bunuh diri. Sekarang melihatnya kembali normal membuatku senang bukan kepalang"
Roger mulai menyadari apa yang dialami Cindy tak lepas dari perbuatannya. "Sorry Dho, semua itu pasti karena ulahku"
Sadar akan ucapan Roger Aldho segera mengubah topik dan berusaha mengembalikan suasana. Baginya itu semua hanyalah masa lalu. Setiap orang tak luput dari kesalahan.
"Sayang ayo sini" tiba-tiba Cindy dan Rebecca berteriak untuk memanggil suaminya agar bergabung.
Mereka menikmati sore itu dengan bahagia. Tak ada yang saling direpotkan malahan mereka melanjutkan untuk makan malam bersama sebelum kembali ke penginapan masing-masing.
Sampai di Villa Aldho kembali melancarkan jurusnya. Dia tak henti-hentinya mencumbui Cindy. Bak pengantin baru mereka saling melampiaskan hasratnya.
Saat sedang berada di puncak kenikmatan tiba-tiba Aldho mendengar suara dering di ponselnya.
"Sayang, nggak diangkat..?" ujar Cindy sambil terengah-engah.
"Nggak ah.. Nanggung" tolak Aldho.
Mereka tak menghiraukan ponselnya yang terus berdering. Aldho justru semakin gencar bermain kuda-kudaan bersama Cindy.
Ditempat lain Roger hanya bisa gigit jari dan menghela nafas panjang karena harus menahan hasratnya karena Rebecca tengah tertidur pulas.
Sebelumnya Rebecca mengaku kepalanya pusing sehingga Roger memintanya untuk istirahat dulu. Malahan sekarang tak kunjung bangun.
Aldho dan Cindy terkulai lemas setelah mengalami pelepasan bersama. Mereka saling menatap dan melempar senyuman. Dibelai pipi Aldho yang basah penuh peluh.
"sayang, bagaimana kalau tadi yang menelepon bukan ayah tapi Selina?" tanya Cindy.
"Besok saja aku akan menelponnya balik. Sekarang sudah malam mungkin dia tidur" ujar Aldho.
"Tumben Selina mau pulang bersama Ayah dan mama, kamu kasih tahu apa?" tanya Cindy kembali.
"Aku bilang kalau kita mau bikin adek," balas Aldho dengan entengnya sebelum matanya tertutup karena mengantuk berat.
"Dasar nakal" sambil terkikik Cindy mencium bibir Aldho dan menggigitnya dengan lembut.
.
.
Bersambung..