
"kenapa Mama minta maaf?" Aldho ternyata mendengar suara Mamanya yang meminta maaf.
"Tidak apa-apa Al, Mama hanya berpikir sudah menyulitkanmu akhir-akhir ini"
Sepertinya ada sesuatu yang ingin dikatakan oleh Mama Grace kepada Aldho namun ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakannya.
.
Aldho kembali ke rumah sakit untuk menyelesaikan pekerjaannya. Jadwal praktek sore ini tidak terlalu ramai sehingga dia bisa sedikit bersantai.
Di perjalanan pulang tidak lupa membeli martabak untuk Cindy. Saat menunggu Aldho melihat sebuah toserba. Dia akhirnya membeli satu set buku sketsa beserta alat tulisnya berharap Cindy mau memulai hobi lamanya yaitu menggambar desain baju.
Aldho sampai di rumah mendapati Cindy sedang bermain ponsel di kamar. Dia berniat memberi kejutan kepada Cindy namun indera penciuman Cindy lebih tajam dan langsung berbalik melihat Aldho yang membawa martabak.
"Yahh... gagal" dengus Aldho.
"Gagal kenapa kak?" tanya Cindy heran.
"Padahal aku berniat mengejutkanmu. Tapi malah kamu berbalik duluan"
Cindy langsung tertawa. Niat jahil Aldho ternyata digagalkan oleh Cindy.
"Penciumanku lebih tajam jadi saat Kak Aldho membawa martabak itu aku sudah bisa menebaknya"
"Lalu, penciumanmu yang mana lagi yang lebih tajam?" Aldho mendekati wajah Cindy. Hingga semakin dekat tidak ada jarak yang menghalangi.
"Apakah penciuman yang ini?" Aldho mulai mengecup lembut bibir Cindy. Kecupan itu berubah menjadi ciuman panas sebelum akhirnya mereka mendengar suara ketukan pintu.
Cindy buru-buru melepas Aldho membuat pria itu mendengus kesal.
"hmmm... kenapa harus sekarang" dengan malas Aldho membuka pintu dan ternyata Mama Grace sedang membawa segelas susu.
"Cindy belum minum susunya tadi" Mama Grace memberikan segelas susu tersebut kepada Aldho.
"Baik ma, terimakasih"
Aldho menutup pintu dan memberikan susu tersebut kepada Cindy.
"Sayang minum susunya dulu"
"Sebentar aku mau makan martabaknya dulu" Cindy selalu banyak alasan jika disuruh meminum susu. Dia tidak menyukai rasa susu yang membuatnya ingin mual namun Mama Grace selalu rutin membuatkannya susu. Tak jarang diam-diam dia membuangnya atau menyuruh Aldho yang meminumnya.
"Jangan banyak-banyak nanti kekenyangan tidak jadi minum susu. Jangan bilang aku yang meminumnya lagi" protes Aldho.
"Ayolah kak Aldho aku tidak suka minum susu itu. Nanti aku malah mual" rengek Cindy.
"Aku bosan Cindy minum susu ini. Aku mau susu yang lain"
"Susu apa?" tanya Cindy penasaran.
"Susu yang itu" Aldho melirik genit ke arah Cindy.
"AAWWW...." Cindy langsung mencubit paha Aldho.
"Mulai nakal ya" Cindy memukul dada Aldho yang malah membuat Aldho memeluknya.
"Cindy aku merindukan dirimu yang ceria seperti ini?" Aldho memeluk dan menciumi pipi Cindy.
"Kak Aldho, maukah kamu sedikit bersabar menghadapi aku?"
"Tentu saja sayang,"
Walaupun hanya memeluk dan menciumi Cindy membuat Aldho cukup bahagia. Rasa lelahnya seharian bekerja terasa hilang saat melihat Cindy di rumah. Namun saat Cindy mengalami masalah membuatnya sangat stres.
"Cindy, sebenarnya aku besok ada undangan pesta ke salah satu teman yang menikah. Apa kamu mau ikut pergi denganku?"
Cindy yang sedang menyantap martabak langsung berhenti mengunyah. Dia menatap Aldho dengan sedikit cemas.
"Haruskah aku ikut?" ucap Cindy ragu.
"Aku bosan selalu datang sendiri Cindy. Aku ingin kamu menemaniku"
Sebenarnya Cindy enggan pergi ke pesta dengan banyak orang asing. Tapi ini demi Aldho yang telah berbuat banyak untuknya. Akhirnya Cindy mengiyakan ajakan Aldho.
"Oh iya aku juga punya kejutan lagi untukmu Cindy" Aldho mengambil kantong plastik berisi perlengkapan menggambar untuk Cindy.
"Apa ini kak?"
"Aku pikir kamu perlu melanjutkan hobimu. Kamu berbakat Cindy, jangan di sia-siakan begitu saja."
"Percuma saja kak, semua sudah ku lupakan." jawab Cindy pesimis.
"Tidak ada yang tidak mungkin selama kamu mau berusaha Cindy. Aku percaya suatu saat nanti kamu akan sukses" Aldho terus berusaha meyakinkan Cindy. Dia percaya dengan ini Cindy akan memiliki kesibukan dan perlahan melupakan traumanya.
"Baiklah akan ku coba" Cindy menerima kembali hadiah dari Aldho. Kali ini dia akan mencoba kembali meneruskan hobinya.
.
Keesokan harinya, Cindy masih bingung antara ikut Aldho ke pesta atau tidak. Namun jika dia menolak lagi pasti Aldho akan kecewa. Tapi di sisi lain dia bingung jika harus bertemu banyak orang asing.
Akhirnya Cindy meminta saran kepada Mamanya yang jelas jawabannya adalah Cindy harus datang ke pesta tersebut.
Akhirnya Cindy memutuskan untuk ikut ke pesta. Namun masalah baru muncul yaitu semua gaunnya tidak ada yang muat. Karena tubuh Cindy kini semakin berisi dan perutnya semakin membuncit.
"Ya Tuhan, aku harus pakai apa?" ucap Cindy frustasi.
Bersamaan ponselnya berdering. Aldho yang menghubungi Cindy.
"Halo, Kak Aldho"
"Iya Cindy, bagaimana kamu jadi kan ikut ke pesta?"
"Jadi, tapi masalahnya bajuku banyak yang tidak muat"
"Tenang sayang, setelah ini aku pulang bawakan gaun untukmu"
Cindy merasa lega ketika Aldho memberinya gaun.
Sekarang dia sedang bersiap merias diri sembari menunggu kedatangan Aldho. Tak lama kemudian Aldho datang dan Cindy segera memakai gaun yang dibawanya.
Kali ini Cindy sudah siap untuk pergi ke pesta.
Kecantikan Cindy nampak begitu terpancar ketika memakai gaun berwarna abu muda. Membuat Aldho tak berhenti menatapnya.
"Apa aku terlihat aneh? kenapa terus menatapku seperti itu?" Cindy nampak cemas.
"Tidak sayang kamu terlihat sangat cantik."
Perut Cindy yang mulai membuncit sedikit tertutupi oleh model gaun yang sedikit bervolume sehingga membuat Cindy lebih percaya diri. Pilihan Aldho memang selalu tepat.
Begitupun dengan Aldho nampak mempesona ketika memakai jas serba hitam. Kesan maskulin dan seksi membuat Cindy mencuri-curi pandang terhadap Aldho.
"Sayang sudah siap?" tanya Aldho sembari memegang tangan Cindy.
Aldho mempersilahkan Cind masuk mobil untuk berangkat ke pesta.
Di dalam rumah Mama Grace dan pak Tirta nampak bahagia akhirnya Cindy mau keluar menemui banyak orang.
Setengah jam perjalanan akhirnya mereka sampai di hotel tempat pesta diadakan. Cindy yang sedikit grogi memasuki ruangan tempat pesta di adakan. Aldho berusaha membuat Cindy nyaman dengan terus memegang tangan Cindy.
"Tidak usah cemas. Aku selalu bersamamu" Bisik Aldho ketika memasuki ruangan.
Aldho memperkenalkan teman-temannya kepada Cindy. Perasaan canggung itu perlahan mulai mereda. Kini Cindy sudah bisa berbaur dengan beberapa teman Aldho.
"Sayang aku mau ke toilet dulu" bisik Cindy kepada Aldho.
"baik sayang, mau ku antar?"
"tidak perlu aku bisa pergi sendiri"
Akhirnya Cindy pergi ke toilet sendiri. Sedangkan Aldho menunggu Cindy dengan berbincang dengan salah satu teman.
Tiba-tiba seorang wanita yang Aldho sangat kenali dulu tiba dan memanggilnya.
"Aldho..."
.
.
.