
Aldho mendengar semua percakapan antara Cindy dan Rebecca. Dirinya benar-benar tidak menyangka bahwa selama ini Roger masih berusaha mengejar Cindy.
Namun Cindy juga tak pernah menceritakan hal ini kepada Aldho. Itu yang membuat Aldho semakin kecewa.
Malam ini Aldho memutuskan untuk pulang dari rumah sakit. Dia bahkan tidak menengok keadaan Roger sama sekali setelah menjalani operasi meski saat ini telah siuman.
Di sepanjang jalan Aldho sibuk menyetir mobilnya tanpa berbicara sama sekali. Cindy tau bahwa saat ini suasana hati Aldho sedang tidak baik sehingga dia pun tak berani memulai pembicaraan.
"Kak Aldho..." Cindy memberanikan diri berbicara dengan Aldho.
"Sudah sampai" ucap Aldho singkat ketika mereka sudah memasuki halaman rumah.
Aldho memarkirkan mobilnya di garasi dan segera keluar tanpa menoleh ke arah Cindy sekalipun.
Cindy hanya bisa diam dan mengikuti Aldho dari belakang.
Keadaan rumah sangat sepi karena memang saat ini sudah lewat tengah malam.
Aldho mengganti pakaiannya dan langsung beranjak tidur. Cindy yang keluar dari toilet melihat Aldho yang terlentang memejamkan matanya.
"Sepertinya sekarang bukan saatnya untuk berbicara" batin Cindy.
Akhirnya dia membaringkan dirinya disamping Aldho. Diusapnya pipi Aldho dan Cindy mencium kening Aldho.
"Good night, Honey" Cindy mengulurkan tangannya untuk memeluk Aldho namun tak disangka Aldho justru memiringkan tubuhnya dan membelakangi Cindy seolah tidak mau disentuh olehnya.
Cindy sadar penolakan Aldho. Sudah hampir satu jam dia masih terjaga. Dia menatap punggung Aldho berharap pria itu mengubah posisi tidurnya menghadap dirinya.
Akhirnya Cindy beranjak dari tempat tidurnya dan keluar dari kamar itu. Sementara Aldho yang pura-pura tidur merasakan Cindy yang meninggalkan ranjangnya.
"Maafkan aku Cindy. Tapi saat ini aku benar-benar kesal" gumam Aldho dalam hati.
Cindy duduk di taman membiarkan tubuhnya diterpa angin malam yang mulai menusuk pori-pori kulitnya. Air mata terus mengalir membasahi pipi mulusnya.
Hatinya benar-benar gelisah, kalut memikirkan semua kejadian ini. Terlebih saat Aldho mengabaikannya itu adalah penyiksaan terberat untuknya. Sambil terisak Cindy mulai bangkit dan kembali masuk rumah.
Dia hendak kembali ke kamar namun jika melihat Aldho pasti membuatnya tak bisa berhenti menangis. Akhirnya Cindy pergi ke kamar Selina.
Dia memperhatikan putri kecilnya yang sedang tertidur pulas. Diusapnya bocah itu dan Cindy mencium ujung kepalanya kemudian Cindy memeluk Selina.
"Maafkan Mama yang pernah mengabaikanmu karena menganggap kehadiranmu hanyalah kesalahan. Tapi kini mama sadar hadirnya dirimu adalah anugerah besar yang diberikan Tuhan untukku. Biarlah mama yang menghadapi kejamnya dunia ini. Tumbuhlah menjadi sosok yang kuat kelak" batin Cindy.
Cindy menahan sesak didalam dadanya. Dia berharap saat terbangun nanti dirinya bisa lebih kuat menghadapi segala masalah.
.
Rebecca menghampiri Roger yang kini telah sadar. Dia menatap suaminya yang tubuhnya terdapat perban dan beberapa luka. Meski dalam hatinya ingin sekali marah namun dia mencoba menahannya.
"Sayang, kamu disini" ucap Roger saat melihat kehadiran Rebecca.
Rebecca mencoba untuk tetap tersenyum. Kemudian dia meraih tangan Roger dan menggenggamnya.
Tanpa berbicara Rebecca hanya bisa menangis. Dia terus terisak.
"Sayang, jangan menangis sungguh aku tidak apa-apa. Sebentar lagi pasti sembuh" Roger mencoba untuk menenangkan Rebecca.
Padahal tangisan itu bukanlah tangisan sedih karena keadaan Roger. Tetapi tangisan kekecewaan Rebecca yang mengetahui perasaan Roger kepada Cindy.
Pak Theo hanya bisa menahan sesak di dalam dadanya kala melihat kesedihan Rebecca. Menantunya adalah gadis yang sangat baik namun malang sekali Roger malah memberinya kekecewaan.
...****************...
Selina merasakan tidurnya yang begitu nyenyak dan hangat. Dia menghirup aroma tubuh yang sangat dia kenal dan itu juga sangat dia sukai.
Matanya langsung terbuka dan melihat mamanya tengah terlelap sembari memeluknya.
Dia langsung tersenyum saat melihat Cindy. Diusapnya pipi mamanya itu kemudian mengecupnya dengan penuh cinta. Cindy merasakan kecupan itu dan membuatnya mulai terbangun.
"Selamat pagi Mama" sapa Selina.
Cindy pun langsung tersenyum melihat putrinya yang sudah bangun. Diusapnya kepala Selina.
"Selamat pagi kesayangan Mama" Cindy mengecup kening Selina.
"Tumben mama tidur sini? Papa mana Ma?" Selina tampak mencari keberadaan Aldho karena biasanya merek akan tidur bertiga.
"Papa tidur di kamarnya" ucap Cindy.
Selina memperhatikan wajah Cindy yang tampak sembab. "Mama habis nangis?"
"Tidak sayang, memang begini wajah mama saat bangun tidur" Cindy mencoba membohongi Selina.
Mereka tak langsung bangun melainkan saling mengobrol satu sama lain. Mendengar cerita Selina membuat hati Cindy sedikit tenang.
Saat Cindy beranjak ke kamarnya dia sudah tidak mendapati Aldho. Dia mencari ke bawah juga tidak ada Aldho bahkan mobilnya pun tidak ada di garasi.
Cindy mulai gelisah. Kemudian Mama Grace mendatanginya dan memberitahu bahwa Aldho pergi bekerja pagi-pagi sekali. Padahal Cindy menatap jam dinding masih menunjukkan pukul 06.17 pagi.
"Dia berangkat sepagi ini? Bahkan tidak pamitan kepadaku" Cindy semakin dibuat gelisah.
Sementara Aldho kini tengah berdiam diri di pinggir danau. Tempat biasa dia kunjungi saat suasana hatinya sedang buruk.
Seharian ini Aldho memilih untuk diam dan fokus membahas masalah pekerjaan saja. Bahkan dia tidak menanyakan keadaan Roger sama sekali membuat Pak Theo juga dirundung nestapa.
Dia begitu khawatir jika hubungan kedua putranya kembali memburuk atas kejadian ini. Padahal dia sudah susah payah membuat hubungan mereka baik.
Seharian ini Cindy sama sekali tidak menerima pesan dari Aldho. Padahal biasanya Aldho akan selalu perhatian kepada Cindy bak remaja yang masih pacaran.
Hingga pulang pun Aldho terlihat cuek dan sama sekali tidak berbicara sepatah katapun dengan Cindy. Hal itu membuat hati Cindy semakin sakit. Ini adalah pertama kalinya Aldho mengabaikan Cindy.
Cindy melihat jam sudah menunjukkan pukul 22.30 malam dan Aldho belum juga masuk ke kamar. Dia semakin gelisah dan mencari Aldho.
Ternyata pria itu sedang menghisap rokoknya di taman. Cindy sangat hafal jika Aldho sudah merokok itu artinya dia sedang mengalami perasaan yang buruk.
Cindy mulai berjalan menghampiri Aldho karena dia sudah tak tahan dengan perlakuannya.
Aldho yang melihat Cindy duduk disampingnya langsung mematikan rokoknya.
"Jangan duduk disini. Asap Rokok buruk untukmu" ucap Aldho singkat.
"Lebih buruk lagi saat kamu mengabaikanku." balas Cindy yang mulai berkaca-kaca.
Aldho menggaruk kepalanya dan menghela nafas panjang.
"Aku benar-benar kecewa Cindy, kanapa kamu tidak pernah jujur menceritakan kepadaku sejak awal" ujar Aldho memulai pembicaraannya.
"Ma-maaf, aku hanya ingin menjaga perasaanmu. Aku tidak ingin merusak hubungan kakak dan adik. Tapi aku sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengan Roger" ucap cindy terbata.
"Hubunganku dengan Roger sudah rusak sejak awal Cindy. Kamu tahu betapa sakitnya saat aku mengetahui hal ini?. Aku suamimu Cindy, harusnya akulah yang menjadi garis terdepan untuk melindungi mu. Aku tidak bisa membayangkan betapa ketakutannya kamu menghadapi Roger saat itu. Aku merasa jadi suami yang tidak berguna untukmu" Aldho mengusap wajahnya dengan kasar.
Kini Aldho menatap Cindy dengan begitu dalam.
"Aku tahu kamu tidak memiliki hubungan dengan Roger. Aku percaya kesetiaanmu Cindy. Tapi tolong jangan menyembunyikan apapun dariku apalagi seperti kejadian ini. Aku tidak bisa melihatmu tersiksa."
Cindy langsung menangis dan berhambur ke pelukan Aldho.
"Aku sangat mencintaimu Kak Aldho. Kamulah cinta pertama dan terakhirku. Maafkan aku, maafkan kesalahanku"
.
Bersambung...