
Setelah perjalanan panjang Jakarta-Los Angeles memakan waktu hampir 19 jam. Akhirnya Aldho dan Cindy serta Baby Al menapakkan kakinya di negeri Paman Sam tersebut.
Mereka kini telah sampai di apartemen yang akan ditempati selama di sini. Jaraknya tak jauh dari kampus tempat Aldho menuntut ilmu. Beruntung Aldho memiliki kenalan bernama Andrew. Mereka bertemu saat seminar kedokteran. Dan sekarang dia lah yang menyiapkan apartemen serta beberapa keperluan untuk Aldho.
University of California, adalah kampus tempat Aldho mengenyam pendidikan selama dua tahun kedepan.
Jika saja saat itu Cindy tidak mengalami masalah saat bersama Roger dulu pasti Aldho sudah menjadi alumni di sini.
Namun semua adalah kehendak Tuhan. Meski telat kini Aldho akhirnya bisa melanjutkan cita-citanya.
"Sayang, istirahatlah mumpung Baby Al tidur" Aldho meraih bayi mungil itu dari gendongan Cindy dan menidurkan di atas ranjang.
Dia tahu istrinya sangat kelelahan karena perjalanan jauh ini.
"Iya sayang, tapi perutku sekarang lapar lagi, padahal tadi sudah makan lima kali" ujar Cindy.
"Baiklah aku akan buatkan makan ya,"
"Aldho membuatkan Cindy pasta karena bahan makanan yang tersedia saat ini hanya itu.
Beberapa saat kemudian pasta buatan Aldho sudah siap. Dia langsung mengantarkan ke kamar Cindy.
Cindy yang kelaparan segera memakan pasta tersebut sampai habis.
"Pelan-pelan sayang, tidak ada yang merebutnya" Aldho meledek Cindy.
"Aku sangat lapar, Baby Al kuat banget menyusu sampai kebas pu tingku" dengan santainya Cindy mengeluh.
Namun pikiran Aldho justru ke arah lain. membayangkan dia yang melakukan itu.
"Tapi kalau aku yang melakukannya apa juga terasa kebas?" bisik Aldho.
Cindy yang sebelumnya fokus menatap makanan kini mulai membelalakkan matanya mendengar ucapan vulgar Aldho.
"Mulai deh, aku jadi nggak fokus makan nih." tampak pipi Cindy mulai merona.
"Tapi enak kan kalau aku yang melakukannya. Buktinya kamu selalu men de sah." sambil terkikik Aldho kembali menggoda Cindy.
"Sayang..." bibir Cindy pun mulai mengerucut.
Tiba-tiba Cindy langsung bangkit dan naik ke pangkuan Aldho.
Cindy menatap wajah Aldho dengan tatapan menggoda. Ibu jarinya membelai bibir Aldho dengan sangat lembut hingga menimbulkan sensasi gatal untuknya.
Cindy mendekatkan wajahnya kemudian mengecup lembut ujung bibir Aldho. Sementara Aldho yang ingin membalas ciumannya segera di tahan oleh telunjuk Cindy. "Alhasil dia hanya bisa pasrah dengan perlakuan istrinya.
Ciuman Cindy perlahan mulai menjalar ke leher dan mengecupi jakunnya. Aldho pun mendongak sembari merasakan tubuhnya yang mulai meremang.
Tangan Cindy tak tinggal diam. Dia meraba tengkuk Aldho serta yang kiri menelusuri dadanya yang masih terbalut kaos.
"Hmmm... Baby.." gumam Aldho merasakan sensasi nikmat di tubuhnya.
Cindy pun mulai merasakan benda yang mengeras dibawahnya duduk.
"Kalau menggoda itu jangan setengah-setengah" tiba-tiba Cindy melepaskan diri dan beranjak dari pangkuan Aldho.
Dia berjalan keluar membawa piring sambil menjulurkan lidah kepada Aldho.
"Akh.. sayang lanjut dong.." gerutu Aldho yang tubuhnya masih bergejolak.
****************
Tak terasa hampir satu bulan Aldho dan Cindy tinggal di tempat itu. Beruntung mereka mendapatkan tetangga yang baik-baik.
Bahkan Cindy sering diajak jalan-jalan keluar dengan tetangga sebelah apartemennya agar tidak jenuh.
Sementara Aldho selain belajar di kampus dia juga mendapat kesempatan magang di salah satu rumah sakit ternama di sana.
Meski waktunya sedikit berkurang untuk keluarga namun Cindy tetap setia menemani dan menantinya saat pulang. Tak jarang dia harus berangkat pagi dan kembali larut malam.
"Sayang, akhir pekan Andrew ingin mengajak kita ke festival Wine. Ikut ya sekalian jalan-jalan" sejak pindah Aldho memang belum sempat mengajaknya jalan-jalan. Cindy pun menurutinya.
Setelah waktunya tiba Cindy dan Aldho sudah bersiap. Lokasinya berada di pusat kota LA tidak jauh dari apartemennya.
Cindy dan Aldho pun semangat untuk berangkat.
Baby Al pun sepertinya sangat suka bepergian juga. Terbukti bayi itu sama sekali tidak rewel.
Setelah beberapa saat perjalanan mereka sampai di tempat.
Berbagai macam wine dengan label masing-masing perusahaan yang ada di California berjajar di setiap boat. Disana juga terdapat demo tentang wine mulai dari proses pemanenan anggur hingga pengolahan wine hingga menjadi produk berkualitas.
Yang paling disenangi oleh Aldho tentunya adalah mencicipi wine secara langsung.
Sementara Cindy yang masih menyusui tidak bisa ikut melakukannya. Dia hanya melihat-lihat pameran dan mencicipi beberapa kudapan sehat.
Namun ada satu hal yang menarik perhatiannya. Salah satu boat wine yang berada di antara boat lainnya. Entah kenapa hati Cindy tergerak untuk kesana.
"Sayang, aku mau kesana. Temani aku ya" Cindy memanggil Aldho untuk menemaninya. Berada di tempat asing yang ramai membuatnya was-was karena dia membawa bayi.
Saat berada di boat itu Cindy memperhatikan beberapa produk wine yang di display. Salah satu Wine unggulannya adalah La Rochelle.
Aldho pun langsung mencicipi wine tersebut dan dia langsung tertarik dan membelinya. Saat hendak melakukan pembayaran tiba-tiba ada seorang pria paruh baya datang.
"Pak, beliau tertarik ingin membeli wine kita" ucap pria bule yang menjaga boat tersebut kepada pria itu.
"Permisi tuan, terimakasih sudah tertarik dengan produk kami" ucapnya kepada Aldho.
Aldho yang awalnya tidak begitu memperhatikan pria itu tiba-tiba langsung menoleh saat mendengar suaranya.
"Pak Anton?" seketika Aldho langsung mengenali pria itu.
Sementara Cindy yang asyik berkeliling boat pun langsung menghampiri Aldho.
"Pak Anton kan? Ayahnya Rebecca?" Cindy juga terkejut.
"Aldho, Cindy.." Pak Anton serasa tak percaya melihat kehadiran mereka.
Dunia ini terlalu sempit. Bahkan Pak Anton yang pergi jauh ke negeri seberang tidak menyangka akhirnya bertemu dengan dua insan ini. Bahkan Cindy sudah menggendong seorang bayi.
"pak Anton apa kabar? Pak Anton sekarang tinggal disini?"Cindy langsung menanyai Pak Anton dengan tidak sabar.
"Iya Cindy, saya tinggal disini bersama Rebecca. Sebenarnya di kebun anggur kami. Satu hari perjalanan darat" ujar Pak Anton.
"Kalian sendiri? Bagaimana bisa disini?" tanya Pak Anton.
"Kami sekarang tinggal di sini Pak, saya melanjutkan kuliah" ujar Aldho.
"Lalu dimana Rebecca?" tanya Cindy lagi.
"Dia sedang di rumah.." wajah Pak Anton tampak menyiratkan kecemasan.
"Apa terjadi sesuatu pak?" Aldho pun bertanya karena penasaran.
"Jadi begini..." ucapan pak Anton sempat terpotong. Dia masih bingung apakah harus berbicara jujur kepada mereka atau tidak.
Namun melihat Cindy yang tengah menggendong bayi dia membayangkan Rebecca. Apakah mungkin putrinya nanti melahirkan tanpa ada sosok suami dan ayah untuk bayinya.
Aldho dan Cindy masih menunggu jawaban Pak Anton.
"Rebecca saat ini sedang hamil besar..." ujar Pak Anton.
"Maafkan ayah Rebecca. Ayah terpaksa memberitahu mereka karena ayah tidak ingin kamu menderita sendiri membesarkan anakmu kelak" Pak Anton.
.
.