
Aldho terkejut saat melihat Renata meneleponnya. Segera dia memasukkan ponselnya kembali ke saku.
"Siapa yang menelepon sayang? Kenapa tidak diangkat?" tanya Cindy penasaran.
"Oh, iya itu temanku. Sebentar aku angkat dulu" Aldho mengambil ponselnya saat berbunyi kembali.
Aldho beranjak dari dapur dan pergi ke halaman untuk mengangkat telepon dari Renata.
"Halo, ada apa Renata?" tanya Aldho.
"Aldho apa kamu kehilangan cincinmu? Aku sudah mengirim foto di ponselmu tadi" ucap Renata.
Aldho segera mengecek jemarinya ternyata benar. Dia tidak memakai cincin.
"Sebentar aku lihat fotonya" Aldho segera membuka pesan dari Renata. Ternyata itu adalah cincin pernikahan Aldho.
"Iya itu milikku. Bagaimana bisa ada padamu?" tanya Aldho penasaran.
"Kemarin saat makan malam aku tidak sengaja menemukan cincin tergeletak di bawah kakiku. Ku pikir aku pernah melihatnya kamu memakai itu. Jadi kamu bisa ambil nanti" ujar Renata.
"Baiklah terimakasih Renata, nanti sebelum ke rumah sakit aku akan mampir mengambilnya"
Aldho kembali ke dapur untuk menemui Cindy setelah menelepon Renata.
"Aku bantu mengiris sayur ya sayang" Aldho mengambil wortel dan hendak mengirisnya.
Namun Cindy melihat Aldho tidak memakai cincin kawinnya dan langsung bertanya.
"Sayang dimana cincinmu?" tanya Cindy.
Aldho sedikit bingung saat Cindy bertanya tentang cincinnya. Jika dia bilang ada pada Renata pasti akan terjadi pertengkaran lagi.
"Oh, itu tadi aku mandi dan melepasnya. Aku lupa memakainya lagi." ujar Aldho terpaksa berbohong.
"Oh, yaudah nanti dipakai lagi. Jangan sampai hilang ya" ucap Cindy. Aldho hanya mengangguk pelan.
"iya sayang"
.
Aldho bersiap untuk berangkat ke rumah sakit. Dia berangkat setengah jam lebih awal karena memiliki janji dengan Renata untuk mengambil cincin.
Setelah berpamitan dengan Cindy Aldho langsung meluncur ke tempat Renata mengadakan janji.
Aldho sampai di sebuah restoran dan langsung menemui Renata yang sedang duduk santai di kursi dekat jendela.
"Hai, Renata. Kamu sudah menunggu lama?" sapa Aldho.
"Hai Aldho, aku belum lama kok. Santai saja di sini" balas Renata.
Renata menawarkan Aldho makan siang namun ditolaknya karena Aldho sudah makan siang bersama Cindy di rumah. Kemudian Renata mengeluarkan cincin milik Aldho dan mengembalikannya.
"Terimakasih Renata, aku tidak tahu bagaimana mengatakannya kepada Cindy jika ini sampai hilang" ungkap Aldho.
"Sama-sama Al, untung saja aku langsung tahu itu cincinmu"balas Renata.
"Maaf Renata, aku sedikit buru-buru karena mau ke rumah sakit. Jadi aku tidak bisa menemanimu lebih lama" ujar Aldho.
"Oh, it's okay. Aku juga akan pergi. Terimakasih sudah menemaniku makan siang walaupun kamu tidak mau makan" ungkap Renata.
Saat hendak pergi entah dari mana tiba-tiba Viona datang menghampiri Aldho dan Renata.
"Aldho, kamu disini?" Sapa Viona.
"Ibu, dari mana bu?" balas Aldho.
Saat hendak membalas Aldho Viona menoleh dan melihat Renata yang bersama Aldho.
"Renata?" Viona tampak terkejut.
"Tante Vio..." sapa Renata.
"Kalian saling kenal?" tanya Aldho.
"Tante Vio ini sahabat mamaku, kami sudah sangat akrab. Kamu juga kenal tante Vio ternyata?" ucap Renata.
"Dia ibuku. Maaf aku buru-buru sepertinya harus pergi" ungkap Aldho berpamitan kepada Viona dan Renata.
Sementara Renata masih mengobrol dengan Viona. Pastinya bercerita tentang Aldho.
"Iya tante. Kami terpaksa putus karena ayah menjodohkan dengan pria lain. Saat aku ingin kembali sekarang Aldho malah sudah menikah" ungkap Renata.
Sejenak Viona berpikir mungkin Renata adalah wanita yang lebih cocok dengan Aldho dibanding Cindy.
"Kamu mau tante bantu dekat lagi dengan Aldho?" tawar Viona.
"Ah, jangan tante. Aldho kan sudah punya istri. Tidak baik mengganggu rumah tangga orang lain" tolak Renata.
"Tapi kalau Aldho sudah sendiri, maksudnya sudah tidak punya istri kamu mau dekat dengannya lagi?" tanya Viona.
Renata hanya tersenyum malu-malu. Namun dia tidak mau berharap terlalu banyak.
"Tante akan usahakan kamu bersama Aldho lagi. Tapi kamu harus bersabar. Sebenarnya tante juga kurang suka dengan Cindy yang terlalu kekanak-kanakan untuk Aldho"
...****************...
Roger mengantar Rebecca ke salah satu kamar di apartemennya.
"Rebecca mulai sekarang ini jadi kamarmu. Kamu bisa pakai semua yang ada disini. Jika ada yang kurang bilang saja padaku" ucap Roger.
Sepertinya Roger memang benar-benar menginginkan Rebecca untuk tinggal bersamanya.
"Terimakasih Roger. Tapi aku harus mengambil pakaianku dulu. Aku tidak bawa apapun kesini" ucap Rebecca.
"Kamu mau mengambil barang-barang mu ke rumah itu lagi?" tanya Roger sedikit mengotot. Rebecca hanya mengangguk karena dia memang tidak membawa apapun saat datang ke tempat Roger.
"Katakan apa saja yang kamu butuhkan aku akan membelikan semuanya untukmu. Jangan harap kamu kembali ke tempat terkutuk sarang nenek sihir itu lagi" sanggah Roger.
Akhirnya mau tidak mau Rebecca menuruti kemauan Roger. Dia mencatat semua kebutuhannya. Tidak banyak hanya beberapa pakaian dan pelembab kulit.
Roger mengetahui hal itu tidaklah cukup untuk perlengkapan Rebecca akhirnya dengan inisiatif sendiri Roger memesan lagi tanpa sepengetahuan Rebecca.
"Pesananmu mungkin akan datang sore jadi sementara pakai pakaianku saja dulu. Tidak apa kan?" Roger memberikan piyama miliknya yang berukuran paling kecil.
Rebecca memakai piyama Roger dan tetu saja masih kebesaran. Namun hanya itu yang bisa dia pakai.
Di dapur Roger menyiapkan makanan untuknya juga Rebecca.
"Mau aku bantu?" Rebecca menghampiri Roger yang terlihat sibuk memotong sayuran.
"Tidak perlu. Kamu istirahat saja" Roger masih fokus dengan pekerjaannya namun saat menoleh ke arah Rebecca dia dibuat kagum.
Walaupun memakai baju kebesaran tak mengurangi kecantikan Rebecca. Apalagi terlihat tulang selangkanya yang menonjol mengintip dari balik kerah baju menambah kesan sexy gadis tersebut.
Sebagai pria normal hal itu cukup membuat Roger meremang.
Roger meletakkan pisau yang dia pegang dan berjalan mendekati Rebecca. Dia semakin mendekat dan menatap Rebecca dalam.Hal itu membuat Rebecca jadi semakin salah tingkah.
"Pakai yang benar bajunya" Roger membetulkan kerah baju Rebecca dan menutupi sebisa mungkin.
Setelah sore hari bel pintu apartemen berbunyi. Semua pakaian dan perlengkapan Rebecca sudah datang namun dia dibuat terkejut akan barang yang begitu banyak. Padahal dia tidak memesan sebanyak ini.
"A-aku tidak pesan barang sebanyak ini. Mungkin ini salah alamat" Rebecca nampak masih bingung.
"Aku yang pesan ini semua untukmu. Aku tahu kebutuhan wanita tidak sesederhana itu" ucap Roger.
...****************...
Cindy sedang membereskan kamarnya mumpung Selina dijaga oleh mamanya. Ketika membersihkan meja dia tidak sengaja menyenggol figura yang berisi foto pernikahannya dengan Aldho.
PPYYAAARRRR......
Figura tersebut jatuh dan kacanya tersebar di lantai. Cindy mencoba untuk memunguti pecahan kaca tersebut.
"aduh.." tangannya terkena pecahan kaca dan darah segar langsung mengalir dari telapak tangannya.
Cindy meringis kesakitan tapi entah kenapa perasaannya menjadi aneh. Firasatnya seperti akan terjadi sesuatu.
.
.
...****************...