
Cindy menatap lehernya yang semula merah kini mulai berubah warna keunguan bekas cengkraman Aldho yang kuat hingga menimbulkan bekas sakit.
Dengan pelan dia mengoleskan salep ke setiap lukanya. Seharian dia mencoba menutupinya dengan kaos turtleneck agar Selina dan orang tuanya tidak curiga.
Cindy mengingat kejadian semalam benar-benar membuatnya trauma.
"Kakak adik sama saja" Cindy mendecih sebal mengingat perbuatan kasar Aldho dan Roger.
Sementara Aldho kini bergegas pulang dan hendak meminta maaf kepada Cindy. Dia terus gelisah sepanjang jalan memikirkan kata-kata yang tepat untuk Cindy.
'perbuatanku sungguh keterlaluan kepadanya. Apa mungkin Cindy masih mau memaafkanku?' sesal Aldho dalam hati.
Sementara di perjalanan cukup macet. Dia terus menghela nafas harap-harap cemas.
Akhirnya setelah perjuangan panjang Aldho berhasil sampai di rumah.
Rumah tampak sepi karena Kedua orang tua Aldho sedang mengajak Selina mengunjungi kerabatnya.
Kini dia mencari keberadaan Cindy. Dengan hati-hati Aldho membuka pintu kamar mereka.
Tampak Cindy termenung di ranjang. Wajahnya sendu memikirkan banyak hal. Hingga Aldho duduk di sebelahnya pun dia tidak menyadari.
Perlahan Aldho menyentuh jemari Cindy. Seketika dia terkesiap dan buyar lamunannya.
"Ehh.. K-Kak Aldho.." saking terkejutnya Cindy sampai terbata.
"Cindy, maafkan aku. Aku benar-benar sudah salah paham denganmu. Maafkan semua perbuatanku" Aldho bersimpuh memohon kepada Cindy.
"Kak.. Aldho.." Cindy tak bisa berkata-kata. Air mata terus membanjiri pipinya.
"Sayang, maaf" ucap Aldho lirih.
Tangis Cindy pun pecah. Dengan terisak dia langsung meraih tubuh Aldho dan memeluknya.
"Aku benar-benar takut Kak Aldho menuduhku seperti itu. Aku tidak ingin hubungan kita renggang" ujar Cindy disela tangisnya.
"Aku tidak akan meninggalkanmu. Maafkan aku" Tiada kata selain maaf yang bisa dilontarkan Aldho.
Hingga akhirnya semua berdamai dan kesedihan Cindy mereda. Mereka saling menanyakan hal satu sama lain.
"Cindy kenapa kamu tidak jujur sejak awal perihal membantu Dimas?" Aldho memulai pertanyaannya.
"Sebenarnya aku ingin memberitahumu tapi Kak Aldho kan tidak suka mengurusi urusan orang lain." balas Cindy.
"Kenapa bisa begitu?" Aldho heran.
"Aku memberitahu tentang Roger dan Rebecca yang bercerai saja Kak Aldho tidak terlalu mengomentarinya. Maka dari itu aku tidak ingin mengusik kak Aldho dengan urusan orang lain" Cindy mencebikkan bibirnya membuat Aldho semakin gemas.
Diraihnya pinggang Cindy yang mulai rata karena ukuran perutnya itu lalu memposisikan Tubuhnya menjadi duduk di pangkuan Aldho.
"Tapi lain kali bisa bilang ya, kalau mau bertemu dengan teman itu jelaskan siapa temannya supaya aku tidak curiga" balas Aldho dengan suara lembutnya.
"Iya-iya maaf.." Cindy mencium pipi Aldho dengan begitu gemas.
Aldho tak tahan dibuatnya. Kemudian dia membalas dengan ciuman bibir.
"Aww.." Cindy sedikit mengernyitkan dahinya.
"Kenapa sayang?" Aldho bertanya heran.
"Sakit" Cindy menunjukkan sudut bibirnya yang membekas luka.
Aldho memperhatikan dan jelas itu perbuatannya. Kemudian melihat bekas lebam di leher Cindy dia langsung teringat perbuatannya semalam.
Aldho memeluk Cindy dengan erat serta menjatuhkan keningnya di bahu Cindy. Cukup lama hingga Cindy merasakan basah di bajunya.
"Kamu menangis sayang?" tanya Cindy lirih.
"Maafkan aku" gumam Aldho lirih tak berani menunjukkan wajahnya.
.
Sudah dua minggu sejak kepergian Rebecca kini Roger mulai merasakan kegalauan yang luar biasa.
Hatinya sudah terlanjur mencintai Rebecca namun kenyataannya dia malah pergi.
"Kamu benar-benar menghukum ku Rebecca."Gumam Roger lirih.
Rebecca bak hilang ditelan bumi.
.
Rebecca Menatap sebuah rumah dengan berwarna putih dengan gaya khas Amerika.
"Ayah, kita benar-benar akan tinggal disini? Lalu bagaimana dengan pekerjaan ayah?" Rebecca sedikit gundah karena tempat ini benar-benar sangat asing untuknya.
"iya sayang, kamu tidak usah khawatir. Ayah memiliki beberapa aset perkebunan anggur peninggalan keluarga. Kita bisa mengelola dan hidup bersama disini" Ayah Rebecca memperlihatkan hamparan kebun anggur belakang rumah tersebut.
Suasana sejuk dan asri begitu terasa di tempat ini. Jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Sangat cocok sebagai tempat untuk menenangkan diri.
Ayah Rebecca memang memiliki aset beberapa hektar perkebunan anggur serta pabrik wine peninggalan keluarganya di California, Amerika Serikat.
Selama bertahun-tahun dia mengelolanya tanpa memberitahu keluarga lain karena dia memang berencana memberikannya kepada Rebecca suatu saat nanti.
Rebecca tampak sangat menyukai tempat itu. Dirinya sebelumnya sudah siap meninggalkan semua tentang masa lalunya.
Meski berat dia yakin dengan tinggal di sini mereka akan memulai segalanya dari awal.
Saat menatap hamparan perkebunan anggur yang luas ingatan tentang Roger tiba-tiba muncul. Dahulu dia sering mengajak Rebecca pergi ke kebun buah saat masih di Milan.
Tak terasa air mata menetes begitu saja. Tak mudah memang melepaskan orang yang begitu disayangi.
"Rebecca ayo ikut ayah ke pabrik. Ayah mau kenalkan tentang pabrik wine. Siapa tahu kamu berminat mengelolanya" Ayah Rebecca mengajak berkeliling pabrik.
Disana mereka disapa oleh beberapa karyawan. Salah satu karyawan tertua bernama Gilmer dan istrinya bernama Maria. Dia menyapa dan mengenalkan dirinya kepada Rebecca.
"Selamat pagi nona, perkenalkan aku Gilmer dan istriku Maria. Jika anda butuh sesuatu panggil saja kami"
Kehangatan dirasakan Rebecca saat berbicara dengan pasangan berusia hampir tuju puluh tahunan itu.
"Terimakasih paman"
Saat Rebecca menuju tempat pemerasan anggur dirinya mencium aroma yang menyengat membuat kepalanya terasa pusing.
"Ayah aku mau kembali ke rumah saja" ujar Rebecca.
"Iya sayang, kamu harus istirahat. Jaga baik-baik kondisimu" Ayah Rebecca mengantar kembali ke rumah.
Dia membaringkan tubuhnya di atas ranjang menatap langit-langit berbahan dasar kayu.
"apa yang dilakukan Roger saat ini? Apakah dia sudah makan? Apa dia sehat?" pikirannya terus berkecamuk seputar Roger. Tentu saja hal itu membuat dadanya semakin sesak.
Sementara dirinya sejak pagi terus merasa mual. Tak biasanya efek obat yang dikonsumsi separah ini. Tubuhnya terasa lemas dan berkunang-kunang padahal sebelumnya tak seperti ini.
Tiba-tiba Rebecca teringat dirinya yang belum datang bulan. Harusnya bulan ini dirinya sudah kedatangan tamu tapi kini hampir tiga minggu belum juga datang.
Iseng-iseng dirinya mengambil alat tes kehamilan. Meski dalam hati dirinya tidak berharap demikian.
Samar-samar Rebecca melihat garis berwarna merah mulai muncul dari alat tersebut.
"Satu garis, akhirnya" Rebecca merasa lega saat melihat alat tersebut.
Namun saat hendak membuangnya Rebecca dikejutkan dengan garis samar-samar mulai muncul hingga menunjukkan dua garis merah.
"A-apa? Kok ada garis lagi?" dengan gemetar Rebecca mengambil alat itu kembali.
Seolah tidak percaya dirinya hamil. Rebecca meminta ayahnya untuk mengantar ke apotik terdekat.
Di membeli empat macam alat tes kehamilan dengan merk berbeda.
Dia berharap mendapatkan hasil negatif.
Sampai di rumah Rebecca langsung mencoba semua alat itu. Dirinya tertunduk lemas ketika mendapati keempat alat itu menunjukkan hasil yang sama.
"Positif?"
.
.
Bersambung