Baby Blues

Baby Blues
bab 82 Tragis



Aldho dan Cindy saling melepas rindu. Cinta yang membara diantara mereka seolah tak pernah padam meski telah berpisah selama enam tahun.


Cindy begitu menikmati cumbuan Aldho yang terus membuatnya meremang. Dengan terus mendekap tubuh Cindy dia bergerilya di dalam leher Cindy.


"Akh.. Sayang.." Cindy meremas rambut Aldho saat merasakan geli di lehernya.


Begitu menikmati keintiman tiba-tiba dia mendengar seseorang membuka pintu cukup keras.


"Papa... Temani aku tidur, aku takut" tiba-tiba Selina masuk ke dalam kamar Aldho. Sontak saja Cindy langsung loncat dari pangkuan Aldho.


"Sayangku, ada apa?" Aldho salah tingkah sendiri saat melihat Selina yang datang tiba-tiba.


"Papa aku takut tidur sendiri. Boleh ya temani aku?" Selina terlihat gelisah.


Aldho langsung memeluk Selina dan menggendongnya.


"Iya sayang tentu saja. Kamu mimpi buruk lagi?" pertanyaan Aldho langsung dibalas anggukan oleh Selina.


Cindy terharu melihat Aldho yang begitu perhatian terhadap Selina. Sementara Aldho kini menidurkan Selina ke ranjangnya.


"Mama, kenapa mama pakai baju Papa?" Selina melihat Cindy yang sedang memakai kemeja Aldho.


"Oh, itu. Tadi Mama lupa bawa kopernya ke atas jadi mama pinjam baju Papa dulu" balas Cindy sedikit kikuk.


"Tapi mama tetap terlihat cantik" lagi-lagi Selina memuji Cindy dan tentu saja balasannya adalah kecupan manis dari Cindy.


Selina tidur meringkuk dalam pelukan Aldho sementara Cindy yang berada di sebelah Selina ikut mengusap bahu putri kecilnya.


Aldho menatap wajah cantik Cindy sambil menahan tawa karena ulah mereka yang kepergok Selina.


"Sepertinya aku punya saingan sekarang" gumam Cindy sembari membelai pipi Aldho.


Jika dulu mereka begitu bebas melakukan apapun kini harus kucing-kucingan dulu dengan Selina.


Meskipun gagal membuat adik untuk Selina namun Aldho tetap bahagia karena akhirnya dia kembali mendapatkan keluarga yang utuh.


.


Keesokan paginya Cindy sibuk membuat sarapan dibantu oleh Selina. Sedangkan Aldho sedang menyiram tanaman milik ayahnya.


Terdengar suara deru knalpot mobil memasuki halaman rumah. Rupanya Pak Tirta dan Mama Grace sudah pulang dari perjalanannya.


Mama Grace turun dari mobil dia langsung menghampiri Aldho.


"Selina dimana Al?"


"Ada ma di dalam" Aldho sengaja tidak memberitahu bahwa Cindy juga berada di dalam rumah.


"Nenek...." Selina langsung berlari memeluk neneknya.


"Hati-hati sayang jangan lari" ucapan Cindy langsung tertangkap oleh mama Grace. Dia tidak menyangka bahwa Cindy ternyata ada di dalam rumahnya.


"Cindy, kamu disini sayang?" Mama Grace tampak sangat bahagia dan langsung memeluk putrinya.


Pak Tirta yang mengetahui juga ikut bahagia. Dia langsung menyambut Cindy.


Cindy sudah menyiapkan masakan untuk sarapan. Akhirnya setelah sekian lama keluarga itu melaksanakan makan bersama seperti sedia kala. Bahkan kini sudah ada anggota baru yaitu Selina.


"Kakek, sekarang aku sudah punya mama cantik." ungkap Selina dengan bangganya.


.


Kehadiran Roger membuat kesehatan Pak Theo semakin baik. Dia begitu bahagia akhirnya putra yang dia tunggu datang juga.


Roger menceritakan niatnya pulang adalah untuk mencari Cindy. Namun Pak Theo justru memintanya untuk melupakan Cindy. Biar bagaimanapun Cindy sudah memiliki pilihan hidup sendiri. Namun sayangnya Roger tetap kekeuh ingin kembali memperjuangkan Cindy dengan dalih Selina sebagai alasannya. Hal itu membuat Pak Theo menjadi gelisah.


"Ayolah Roger, kamu jangan nekad. Sudah cukup jangan ganggu kehidupan mereka." keluh Pak Theo.


...****************...


Semenjak Renata mengadu kepada Aldho kini Viona menjadi sangat membencinya. Bahkan Renata memutus semua akses dengan Viona karena beberapa kali nenek licik itu mengancam akan mencelakainya.


Renata juga sudah mengundurkan diri dari rumah sakit karena ingin memulai hidup baru dan melupakan Aldho. Dia benar-benar sudah mengikhlaskan hubungan Cindy dan Aldho.


Renata yang ketakutan tidak jadi membeli barang dan segera pergi dari minimarket tersebut.


"Hey mau kemana kamu, sial" umpat Viona ketika Renata pergi dengan mobilnya.


Tak ingin kehilangan Renata maka Viona segera menyusul menggunakan mobilnya. Dia terus mengejar Renata dengan kecepatan tinggi.


Renata begitu panik ketika mengetahui Viona mengejarnya.


"Dasar nenek lampir gila" Keluh Renata sembari memacu kendaraannya.


Aksi kejar kejaran pun tak terelakkan.


Meski sudah lanjut usia namun Viona yang memiliki tekad besar tak menyurutkan niatnya untuk mengejar Renata.


Saat jarak mereka semakin dekat dengan penuh ambisi Viona untuk mencelakai Renata segera menabrakkan mobilnya ke arah gadis itu.


Keduanya hilang kendali, mobil Renata membentur pembatas jalan namun mobil yang ditumpangi Viona naasnya malah menabrak truk besar dari lawan arah. Benturan yang sangat keras membuat mobil Viona terguling dan meledak seketika. Renata yang setengah sadar menyaksikan kejadian itu dengan mata dan kepalanya sendiri.


Dia hanya bisa menangis sebelum pingsan tak sadarkan diri.


.


Aldho tak henti-hentinya menggoda Cindy saat Selina ikut kakeknya menanam bunga di taman.


Bak pasangan yang dimabuk asmara mereka seolah tak bisa jauh satu sama lain.


"Sayang, sudah dong aku mau ke toilet nih" Rengek Cindy saat Aldho terus menghujaninya dengan ciuman. Kadang-kadang menggelitik perut Cindy karena gemas.


Tiba-tiba ponsel Aldho berbunyi. Ada telepon dari nomor yang tidak dikenal.


"Halo, selamat siang apa benar ini dengan saudara Aldho anggota keluarga dari Ibu Viona?" ucap seorang laki-laki.


"iya benar, dengan saya sendiri. Maaf apa ada yang bisa saya bantu?"


"Kami dari pihak kepolisian ingin melaporkan bahwa telah terjadi kecelakaan lalu lintas yang melibatkan saudara Viona. Saat ini jenazah sedang berada di rumah sakit untuk proses penyelidikan" ucap pria tersebut.


Bak tersambar petir Aldho benar-benar tidak menyangka bahwa Ibunya mengalami kecelakaan. Aldho langsung terduduk lemas di tepi ranjang.


Cindy yang baru saja keluar dari toilet terkejut melihat Aldho yang tampak sedih.


"Sayang, ada apa? Apa yang terjadi?" Cindy langsung menghampiri Aldho.


Aldho langsung memeluk Cindy dengan erat. Menenggelamkan wajahnya di pelukan itu.


"Ibu, ibu Vio kecelakaan. Baru saja polisi mengabari bahwa dia terlibat kecelakaan dan jenazahnya berada di rumah sakit"


Cindy yang terkejut mencoba menenangkan Aldho. Biar bagaimanapun Aldho adalah putra satu-satunya Viona.


Setelah mengabari semuanya Aldho bergegas ke rumah sakit bersama Pak Tirta untuk mengurus jenazahnya.


Kecelakaan yang parah membuat jasad Viona nampak sangat mengerikan, hampir tak dikenali karena terbakar seluruhnya. Aldho sebagai anaknya hampir pingsan melihat keadaan ibunya yang meninggal secara tragis.


Akhirnya setelah selesai mengurus jenazah Viona Aldho menyiapkan pemakaman. Pak Theo turut membantu semua persiapannya. Dia melarang Roger untuk muncul dulu di hadapan Aldho dan Cindy karena saat ini mereka sedang berkabung.


Pemakaman berlangsung, Aldho tak kuasa menahan kesedihannya. Meski sering terjadi cekcok namun dia adalah ibunya. Bahkan belum lama ini mereka telah bertengkar.


Cindy dan Selina berusaha menenangkan Aldho. Mereka terus menguatkan.


"Sayang, yang sabar ya. Kamu harus kuat" Cindy memeluk Aldho yang terlihat lemas.


"Papa jangan nangis terus ya, Selina sayang Papa." ucap gadis kecil itu.


Sementara dari kejauhan Roger menyaksikan momen dimana Cindy dan Selina terus memberi perhatian kepada Aldho.


"Harusnya aku yang mendapatkannya" gumam Roger dengan mata berkaca-kaca.


.


...****************...