
Cindy membanting pintu kamar dengan kesal. Dia benar-benar tidak menyangka mertuanya membicarakan Aldho dengan Renata seperti itu.
Ditambah lagi Aldho ternyata diam-diam masih menemui Renata membuatnya semakin sakit hati.
"Cindy, dengarkan penjelasanku dulu" Aldho berusaha membuat Cindy mengerti.
"Penjelasan apa lagi? Sudah jelas ibu Vio mengatakan seperti itu. Ternyata selama ini Kak Aldho masih memiliki hubungan dengan Renata? Kak Aldho jahat" Cindy sudah terlanjur emosi dan terus memukul dada Aldho.
"Aku gak ada hubungan apapun dengan Renata sayang, aku cuma cinta sama kamu"
"Bohong" Cindy terus menangis dan Aldho tanpa ragu langsung memeluk Cindy. Walaupun dia terus meronta tak sedikitpun Aldho melonggarkan pelukannya bahkan kini semakin erat.
"Oke, aku memang bertemu Renata beberapa waktu lalu" Mendengar ucapan Aldho membuat Cindy semakin terisak.
"Jadi waktu kami makan malam bersama alumni tidak sengaja cincinku lepas dan Renata menemukan cincin itu. Jadi kami bertemu hanya untuk mengambil cincin tidak lebih Cindy, dan itu pun hanya sebentar dan kebetulan bertemu ibu Vio" Aldho coba jelaskan kejadian sebenarnya. Dia tahu ini akan jadi masalah baru karena dia berbohong.
"Apa? Cincinmu hilang? Jadi waktu itu kak Aldho bilang cincinnya lepas di kamar mandi bohong lagi?" Cindy semakin marah terhadap Aldho.
"Maaf sayang, aku tidak berani jujur langsung padamu" Aldho mulai menyesal.
"Apa lagi? Hah? Soal Renata ternyata satu tim dengan Kak Aldho pun juga tidak jujur? Kenapa Kak Aldho jadi seperti ini?" Cindy sekuat tenaga melepaskan diri dari pelukan Aldho.
Dia terus terisak sembari menutupkan kedua tangan di wajahnya.
"Aku baru tahu Renata kerja di rumah sakit itu kemarin Cindy, aku ingin memberitahumu tapi aku pikir waktunya belum tepat" Aldho mulai kehabisan kata-kata. Dia sadar ketidakjujurannya membuat Cindy kecewa.
"Harusnya Kak Aldho katakan saja yang sebenarnya, Aku akan lega jika suamiku yang mengatakannya langsung. Mendengar kabar itu dari orang lain membuatku semakin kecewa. Terlebih bu Vio yang mengatakannya. Hatiku semakin sakit" Cindy kini menangis dengan keras.
"maaf Cindy..." ucap Aldho lirih. Dia tak berani melakukan apapun. Hanya melihat Cindy yang terisak sambil memunggunginya. Karena saa ini sedang emosi dijelaskan bagaimanapun Aldho tetap salah.
Sementara di bawah Mama Grace dan Pak Tirta mendengar suara pertengkaran Cindy dan Aldho membuat mereka ikut sedih. Namun tidak dengan Viona, diam-diam dia menyembunyikan senyuman jahatnya karena telah berhasil memuat Aldho dan Cindy bertengkar.
Pak Tirta mengajak Selina ke taman agar cucu kesayangannya itu tidak terganggu.
"Harusnya jangan katakan itu di depan Cindy, hargai perasaan dia" Mama Grace kini mulai kesal dengan Viona, lagi-lagi dia membuat masalah untuk Cindy.
"Aku minta maaf, aku kan tidak tahu. Aku pikir Aldho dan Renata berteman biasa" sengaja Viona pura-pura tidak mengetahui hubungan mereka.
"Baiklah, sepertinya suasana di sini kurang mendukung. Aku minta maaf sekali lagi Grace sudah mengacaukan sarapan kalian. Aku pamit pulang saja" Begitulah Viona, setelah membuat kekacauan dia tanpa bersalah pergi begitu saja. Tapi Mama Grace merasa lega setidaknya wanita itu pergi juga dari hadapannya.
Satu jam berlalu Aldho dan Cindy belum juga keluar dari kamar walaupun Mama Grace sudah tidak mendengar suara dari keduanya namun tetap saja dia masih khawatir.
Di kamar Cindy sudah tidak menangis namun hatinya masih sangat kesal.
"Sayang," Aldho mencoba menyentuh punggung tangan Cindy namun dengan cepat Cindy menepisnya.
Tanpa menoleh ke arah Aldho Cindy berjalan ke luar kamar dan meninggalkan Aldho sendirian.
Cindy menghela nafas panjang sebelum menuruni tangga. Dia melihat Mama Grace yang sedang duduk di ruang keluarga sendirian langsung dia hampiri.
"Ma..." Cindy langsung memeluk mamanya sambil kembali terisak.
Mama Grace tak mengatakan apapun hanya memeluk Cindy dan mengusap kepalanya membiarkan putrinya menangis dan mengontrol emosinya sendiri.
Sementara Aldho hanya bisa menyaksikan Cindy yang memeluk mamanya dari lantai atas. Mama Grace yang menyadari keberadaan Aldho hanya memberinya isyarat untuk tidak khawatir.
"Aku kesal ma sama Kak Aldho, dia membohongiku"rengek Cindy setelah tangisannya mereda.
"Dan tentang Renata, dia hanya masa lalu Aldho. Setiap orang memiliki masa lalu dan kita tidak bisa mengubahnya. Jangan khawatir sayang Aldho adalah pria yang setia, dia tidak mudah berpaling ke lain hati." sambung Mama Grace.
"Aku sangat mencintai kak Aldho ma" perlahan Cindy mulai menyadari perkataan Mamanya. Benar juga cemburu buta tidak akan menyelesaikan masalah.
Aldho berjalan menghampiri ayahnya yang sedang menimang Selina di taman.
"Selina tidur yah?" tanya Aldho sembari menggantikan ayahnya menggendong Selina.
"Baru saja, untung tidak rewel tadi pas mau tidur"
Aldho duduk di gazebo taman bersama Pak Tirta. Sejenak dia melihat ayahnya yang tampak santai.
"Ayah, maaf ya, bukan maksud Aldho untuk melukai perasaan Cindy. Aldho hanya ingin menjaga perasaannya namun justru menyakitinya" Aldho menundukkan kepalanya karena merasa malu.
Pak Tirta mengusap bahu Aldho " Tidak apa-apa Al, selisih paham itu wajar dalam pernikahan. Kadang tindakan yang kita rasa benar belum tentu baik dimata orang lain. Terutama perempuan" kali ini Pak Tirta sedikit berbisik.
"Memang bisa begitu ayah?" Aldho kini mulai serius mendengar ayahnya.
"Cindy itu persis seperti mamamu, dulu ayah juga pernah mengalaminya. Mamamu sangat cemburu dengan mantan pacar ayah bahkan dia sampai datang ke rumah. Tentu saja Mamamu marah besar dan hampir minta cerai" jelas Pak Tirta.
"Lalu apa yang ayah lakukan?" Aldho mulai penasaran.
"Ayah diam, biarkan mamamu meluapkan emosi sampai habis tenaganya. Saat mereda barulah ayah berbicara kepadanya. Karena perempuan tidak akan mau mendengarkan penjelasan apapun jika sedang emosi, justru akan memperparah keadaan. Itulah misteri perempuan dan apa yang Cindy lakukan adalah bentuk cintanya yang besar untukmu" Kini Aldho mulai paham dengan apa yang dibicarakan ayahnya dan hal itu akan dia praktekkan kepada Cindy.
"Baik ayah, terima kasih"
"Jangan lupa beri kejutan romantis" imbuh Pak Tirta.
.
Setelah makan malam semua orang kembali dengan kesibukan masing-masing. Mama Grace dan Pak Tirta menghabiskan waktu bersama cucunya dan ini adalah kesempatan untuk Aldho mempraktekkan apa yang diajarkan oleh ayahnya
Cindy sedang sibuk melipat baju Selina di kamar kemudian Aldho menghampirinya dan membantu Cindy.
"Cindy, maafkan aku. Aku benar-benar menyesal atas apa yang telah aku perbuat kepadamu" Aldho mencoba meminta maaf kepada Cindy, dan Cindy pun mulai meresponnya.
Dia berbalik menatap Aldho, terlihat ekspresinya masih kesal namun dari sorot matanya dia begitu mencintai Aldho.
"jangan diulangi lagi" balas Cindy pelan.
"Iya sayang, pasti. Aku juga akan profesional dalam pekerjaanku. Kamu jangan pernah meragukanku" Kini Cindy langsung memeluk Aldho dengan erat. Semua rasa kesalnya terhadap Aldho kini sudah hilang.
"Aku punya sesuatu untukmu" Aldho mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna hitam.
"Apa ini?" Cindy penasaran.
"Bukalah"
.
.
...****************...