Baby Blues

Baby Blues
bab 102 Rebecca Kritis



Setelah di periksa oleh dokter di Instalasi Gawat Darurat kini Rebecca langsung dipindahkan ke ruang ICU.


Dokter yang menangani Rebecca tampak sangat serius membuat Roger semakin gelisah. Dia terus mondar mandir menunggu penjelasan dokter.


"Apakah anda keluarga pasien?" tanya Dokter.


"Iya, saya suaminya dok. Bagaimana keadaan istri saya?"


"Begini Pak, dari hasil pemeriksaan kami istri anda mengalami kondisi langka yaitu anemia aplastik, kondisi dimana tubuh pasien kekurangan sel darah secara drastis. Ini disebabkan oleh kerusakan pada sumsum tulang yang menyebabkan tubuh berhenti menghasilkan sel darah." dokter tersebut menjelaskan kepada Roger.


"Lalu bagaimana dok? bukankah itu sangat berbahaya untuk istri saya?" Roger mulai frustasi.


"Kondisi pasien saat ini memang cukup kritis sehingga kami perlu donor transplantasi sumsum tulang belakang yang cocok secepatnya. Untuk sekarang kami menyiasatinya dengan jalan pemberian transfusi darah"


Roger pun tak kuasa menahan kesedihannya. Bagaimana mungkin dia bisa mengabaikan kondisi istrinya yang saat ini sedang sekarat.


Pak Theo yang menemani Roger juga tak kuasa menahan kesedihannya. Selama ini Rebecca bahkan tak pernah mengeluhkan sakit apapun. Gadis itu terlihat selalu tegar.


"Biar aku saja pa yang mendonor. Jika itu cocok dengan rebecca" Akhirnya Roger pun langsung mendaftarkan diri untuk menjadi pendonor.


Dia menjalani serangkaian pemeriksaan untuk melihat apakah dirinya cocok untuk menjadi pendonor Rebecca. Namun sayang sekali dirinya tidak cocok sebagai pendonor untuk Rebecca.


Hatinya begitu cemas memikirkan bagaimana mendapatkan pendonor dengan cepat.


Terbersit ingatannya yaitu Aldho. Dia seorang dokter pasti memiliki banyak koneksi. Akhirnya Roger mencoba untuk menelpon Aldho.


Sementara Aldho telah tertidur lelap katena saat ini memang hampir tengah malam.


Berkali-kali ponselnya berdering akhirnya Aldho mencoba mengeceknya. Melihat nama Roger membuatnya enggan untuk menjawab. Dia kembali tidur.


Namun ponsel itu tak berhenti berdering hingga membuat Cindy pun merasa bising.


"Sayang, ponselmu terus berbunyi. Siapa sih telpon malam-malam begini?" rengek Cindy.


"Setan.." Jawab Aldho singkat. Kemudian dia mematikan ponselnya dan meraih tubuh Cindy untuk dipeluk.


Keesokan paginya Aldho mendengar suara pintu yang diketuk. Dia melihat saat ini masih jam lima pagi.


"Hmmm.. Siapa sih pagi-pagi begini mencariku?" dengan malas Aldho mengambil celana pendek dan kaosnya yang tergeletak di lantai.


"Ayah, ada apa yah? Ini masih sangat pagi" gumam Aldho dengan mata yang masih terpejam sebelah.


"Apa ponselmu mati semalaman? Papamu menghubungi Ayah katanya Rebecca masuk rumah sakit. Kondisinya kritis" omel Pak Tirta.


Aldho langsung membelalakkan matanya.


"Apa? Rebecca kritis? Bagaimana bisa Ayah?" Aldho langsung hilang kantuknya seketika.


"Ayah juga kurang tahu. Lebih baik kita ke rumah sakit sekarang" ujar Pak Tirta.


Akhirnya Aldho membangunkan Cindy dan memberitahu tentang kondisi Rebecca.


Cindy yang terkejut langsung bergegas ke toilet dan bersiap mendatangi rumah sakit.


Mereka sampai di rumah sakit dan langsung menghampiri Pak Theo. Aldho segera menanyakan kondisi Rebecca kepada dokter yang kebetulan juga kenalannya.


Panjang lebar dokter menjelaskan keadaan Rebecca kepada Aldho. Dia pun ikut terkejut sekaligus prihatin mendengarkan keadaan adik iparnya tersebut.


"Pa, bukankah Rebecca masih memiliki seorang ayah? Bisa saja dia bisa menjadi pendonor. Karena kerabat yang masih memiliki hubungan darah biasanya memiliki peluang besar kecocokan selnya" ujar Aldho kepada Pak Theo.


Pak Theo akhirnya mengabari ibu Roger tentang kondisi Rebecca saat ini. Akhirnya ibu Roger berinisiatif memberitahu ayah Rebecca.


Sementara Roger hanya bisa diam termenung mendengar obrolan Aldho dan Papanya dari jauh. Dia hendak bertanya langsung kepada Aldho namun tampaknya Aldho sama sekali mengabaikannya.


Aldho, Pak Tirta dan Cindy pun pergi ke kafetaria di rumah sakit tersebut untuk sarapan. Karena mereka belum sempat mengisi perutnya sama sekali.


Saat hampir selesai sarapan tiba-tiba Roger mendatanginya.


"Kenapa setan itu kesini?" gumam Aldho.


Cindy langsung mengerti saat Aldho semalam mengatakan setan yang menelpon berarti itu Roger.


Pak Tirta menyapa Roger. Sementara Cindy hanya mengangguk pelan. Aldho tetap diam seolah tak menyadari keberadaan Roger.


"Aldho semalam aku meneleponmu kenapa tidak kau angkat?" tanya Roger.


Aldho menatap Roger dengan tatapan yang tajam.


"Males" jawab Aldho singkat.


"Aldho, sebenarnya ada apa denganmu? Aku hanya ingin bicara baik-baik kepadamu. Kenapa kau berubah seperti ini?" protes Roger.


Aldho pun langsung beranjak dari duduknya. Wajahnya sudah memerah karena emosinya.


"Kau ingin tahu aku kenapa? Ini semua karena ulahmu yang tak berhenti mengganggu istriku." Aldho meraih kerah baju Roger.


"Aldho, ini tempat umum. Jaga emosi kamu nak" ujar Pak Tirta melerai keduanya.


Aldho pun melepas genggamannya. Namun sorot matanya seolah masih menantang Roger untuk duel.


"Awas kau macam-macam kepada istriku" bisik Aldho dengan sarkas.


Cindy hanya bisa diam mematung. Dia begitu takut jika terjadi hal-hal diluar dugaan.


"Aku memang salah. Aku egois Aldho. Untuk beberapa saat aku memang masih memikirkan Cindy. Tapi kini aku sadar perbuatanku tidaklah benar. Mulai sekarang aku akan lebih berhati-hati. Maafkan aku Cindy, Aldho, Om Tirta" Roger meminta maaf dengan tulus.


Sebenarnya Aldho masih merasa iba dengan Roger. Ditambah saat ini dia sedang tertimpa musibah.


Tak ada yang bisa dilakukan Aldho selain pergi menghindari Roger. Dia tidak ingin emosinya kembali tersulut saat melihat wajahnya.


"Aku permisi dulu" Aldho berjalan cepat meninggalkan tempat itu.


Cindy pun langsung mengikuti Aldho. Namun karena jalan Aldho yang cepat membuatnya kehilangan pria itu.


Dia mencari ke setiap sudut tempat namun tidak menemukannya. Akhirnya dia mencoba mencari Aldho di mobil. Benar saja dia sedang duduk merenung di dalam mobil.


"Sayang kamu baik-baik saja?" Cindy duduk di kursi sebelah Aldho.


"Aku bingung harus bagaimana. Melihat Roger membuatku sangat muak. Jika saja tidak ada Ayah pasti aku sudah menghajarnya."


.


Rebecca merasakan dirinya seakan terbang di awang-awang. Di sebuah tempat yang sangat sunyi tak ada siapapun.


Kemudian dia melihat sosok wanita yang begitu dikenalnya.


"Mama... itu mama kan?" wanita itu menoleh dan menghampiri Rebecca.


"Iya sayang, ini mama" ujar wanita itu.


"Ma, Rebecca rindu mama... Biarkan Rebecca ikut mama ya" air mata membasahi pipi Rebecca.


"Sayang, mama ingin sekali mengajakmu tapi ada seseorang yang lebih membutuhkanmu"


.


Dokter terus berupaya menyelamatkan Rebecca yang detak jantungnya kian melemah.


"Dokter sepertinya pasien sulit bertahan lebih lama" ucap dokter residen yang memeriksa tanpa vital Rebecca.


Dokter pun memberitahu Roger dan Pak Theo agar cepat menemukan pendonor.


"Kondisi pasien benar-benar kritis. Kami takut dia tidak bisa bertahan lebih lama"


Roger menahan sakit di wajahnya akibat pukulan Aldho dan semakin sakit di dalam dadanya memikirkan kondisi Rebecca.


.


.


Bersambung...