
Aldho sedang mempelajari tentang sindrom Baby blues di internet seperti yang dikatakan oleh dokter Sarah.
Tentang apa sebenarnya sindrom tersebut serta cara menanganinya.
Namun karena penasaran akhirnya Aldho memutuskan untuk menemui dokter Sarah dan berkonsultasi langsung.
"Maaf, bu Dokter bila senggang ada yang ingin saya tanyakan" ucap Aldho ketika bertemu dokter Sarah di koridor.
"Saya sedang senggang, bila pak Aldho senggang mari"
Akhirnya Aldho mengobrol di ruangan Dokter Sarah agar lebih intens.
"Saya masih penasaran dengan sindrom baby blues yang anda katakan tadi sore bu" tanya Aldho.
"Baiklah, begini pak Aldho sindrom baby blues adalah kondisi dimana ibu pasca salin mengalami perasaan sedih dan emosional karena kelahirannya. Biasanya pasien mengalami hal itu setelah melahirkan umumnya berlangsung hingga dua minggu. Bisa sembuh dengan sendirinya namun juga bisa memburuk menjadi postpartum depression atau bahasa awamnya depresi pasca melahirkan dan hal itu tidak bisa dianggap sepele karena bisa membahayakan ibu maupun bayi. Emosi yang tidak terkontrol membuat ibu bisa bertindak nekat seperti menyakiti dirinya maupun bayinya." Dokter Sarah menjelaskan dengan gamblang.
"Dan yang saya khawatirkan Nona Cindy memiliki kemungkinan mengalami hal itu lebih besar mengingat trauma di masa lalu yang cukup serius. Pak Dokter harus siap secara mental dan emosional untuk menghadapinya. Anda harus tenang dan telaten sedikit demi sedikit melatih dan memberi semangat nona Cindy." lanjutnya.
"Baiklah Bu Dokter. Saya paham sekarang, terimakasih banyak atas penjelasannya" ucap Aldho.
"Sama-sama Pak Aldho, saya yakin anda pasti bisa. Jangan pernah ada kata menyerah untuk orang yang kita cintai" ucap Dokter Sarah menyemangati.
Tak terasa sudah hampir jam 11 malam dan itu waktunya Aldho untuk pulang. Kebetulan Ayahnya juga pulang di jam yang sama sehingga Aldho langsung menyusul Pak Tirta ke rumah sakit tempatnya bekerja.
Pak Tirta sudah menunggu di depan loby rumah sakit. Aldho langsung menghampirinya. Beberapa perawat dan staf rumah sakit yang melihat Aldho begitu terpesona akan ketampanannya.
"Jadi itu anak angkat Pak Dokter Tirta yang katanya menikahi putri Pak Tirta sendiri. Pantas saja memang dia setampan itu pasti tidak rela jika sampai menikah dengan orang lain" ucap salah satu staf.
"Ayah sudah menunggu lama?" tanya Aldho sembari membawakan tas Pak Tirta.
"Tidak kok, ayah juga baru selesai. Aldho kamu sudah mengantuk belum?"
"Belum yah ada apa?"
"Ngopi dulu yuk, lama kita tidak nongkrong bareng" ajak pak Tirta.
"Oke, tempat biasa ya Yah" Aldho langsung mengemudikan mobilnya ke kedai kopi tempat mereka biasa menghabiskan waktu bersama.
Mereka duduk santai sambil menikmati kopi dan mengobrol satu sama lain. Saling tukar pendapat dan menceritakan kejadian hari ini serta konsultasinya tentang kondisi Cindy.
"Ayah, aku sudah memutuskan untuk lakukan tes DNA. aku sudah membicarakan ini dengan mereka" ungkap Aldho berusaha menutupi kecemasannya.
Pak Tirta menyadari perasaan Aldho dan dia berusaha menghiburnya. "Ayah akan selalu mendukungmu apapun keputusanmu. Ayah hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu"
"Oh iya yah. Aku masih penasaran dengan Ayah Jake dan Mama Rosa yang sebenarnya. Siapa mereka?"
"Jadi begini ceritanya, Jake adalah teman Ayah saat kuliah. Dia menikahi Rosa orang Irlandia. Saat ayah dan mamamu berkunjung ke negaranya mereka bercerita jika akan mengadopsi mu namun saat di perjalanan ke panti asuhan untuk menjemputmu tiba-tiba mereka mengalami kecelakaan yang merenggut nyawa mereka."
"Ayah akhirnya yang mengurusi kematian mereka serta menemukan dokumen adopsi dan ayah penasaran. Saat di panti asuhan Mamamu melihat dirimu yang masih kecil dia langsung jatuh hati dan bersikeras untuk mengadopsimu" imbuhnya.
"Hmmm.. jadi seharusnya aku diadopsi mereka." ucap Aldho sembari menyeruput kopinya.
"Ayah melakukannya untuk menghormati sahabat Ayah serta ingin membuatmu merasa dimiliki dan tidak berkecil hati. "
Aldho tersenyum mendengar cerita Ayahnya. Dia merasa begitu beruntung mendapatkan orang tua sebaik Pak Tirta.
"Ayah setelah mendengar penjelasanmu aku merasa sangat beruntung menjadi putramu"
Interaksi antar ayah dan anak ini memang sangat dekat. Bahkan mereka terkadang seperti seorang sahabat.
Waktu semakin malam dan akhirnya mereka pulang ke rumah.
Aldho langsung menuju kamarnya namun tidak mendapati Cindy di sana. Sejenak Aldho merasa panik segera mencari istrinya itu.
Saat melintasi kamar lamanya yang pintunya terbuka dia mendapati Cindy tengah tertidur di dalam.
Aldho segera masuk dan mendapati Cindy yang tengah tertidur pulas sembari memegangi pigura foto. Aldho mengambil pigura itu dan melihatnya. Ternyata itu potret dirinya bersama Roger dulu.
Aldho memandangi foto itu sambil mengusap wajahnya. Ada rasa sesak dalam hatinya. Roger dulu adalah sahabatnya yang paling dekat. Bahkan dia menganggap Roger seperti adiknya namun dia malah mengkhianatinya.
Dia mengingat masa-masa dimana dirinya masih menikmati waktu dengan Roger. Lalu memandangi Cindy yang tengah mengalami masa-masa sulit karena ulah Roger. Hatinya seperti teriris oleh sebilah pisau.
Aldho menyimpan kembali foto itu di laci nakas dan berbaring disebelah Cindy sembari mengamati wajah sendu wanita pujaan hatinya.
Terlihat bekas air mata di sudut bulu mata lentiknya. Aldho mengusap lembut dan menciumi pipi Cindy membuat gadis itu mengerjapkan mata.
"Sayang sudah pulang?" tanya Cindy dengan suara parau.
"Iya sayang, tidurlah lagi. Kamu harus istirahat." ucap Aldho sembari mengelus pipi Cindy.
Cindy langsung memeluk Aldho dan menempelkan kepalanya di dada bidang Aldho.
.
Pagi telah tiba, Cindy dan Aldho bangun dari ranjang serta memulai aktivitas masing-masing.
Cindy selesai mandi dan hanya membalut dirinya menggunakan handuk. Aldho yang sedang membereskan kamar memandangi istrinya dengan penuh kagum.
"Hayo, mikirin apa sambil lihatin aku begitu" goda Cindy.
"Tidak, aku hanya berpikir kenapa istriku selalu cantik dalam segala hal" puji Aldho.
Cindy langsung salah tingkah ketika Aldho memujinya. Berkali-kali Aldho selalu memujinya dan hal itu selalu sukses membuat Cindy salah tingkah.
"Tapi aku punya banyak kekurangan. Aku banyak menyusahkanmu" ucap Cindy dengan nada lirih.
Aldho mendekati Cindy dan memeluknya dari belakang. Cindy memandang pemandangan itu didepan cermin. Terlihat Aldho begitu mengagumi Cindy.
"Cause I want you and all your flaws, aku mencintaimu bahkan jika itu kekuranganmu. Aku tidak menginginkan kesempurnaan dan yang kuinginkan hanyalah dirimu. Jadilah dirimu sendiri" ucapan Aldho benar-benar tulus terlihat dari sorot matanya.
Cindy yang mendengar pengakuan itu dari mulut Aldho hanya bisa bangga dan terharu. Dia begitu beruntung memiliki sosok suami yang sangat tulus mencintainya. Tak terasa air mengalir di sudut matanya. Bukan kesedihan namun air mata bahagia.
"Terimakasih sayang, terimakasih" Cindy langsung mengecup bibi Aldho dengan penuh cinta.
.
.
.
......................