
Cindy sudah diperbolehkan untuk pulang. Dia begitu lega akhirnya bisa kembali ke rumah.
Di sepanjang perjalanan pulang Cindy hanya diam dan menatap pemandangan jalan dari balik kaca mobil.
"Selina pasti sangat senang akhirnya kamu pulang sayang" Aldho berusaha mencairkan suasana dengan mengajak Cindy mengobrol namun Cindy masih diam.
Ditatapnya Aldho sebentar kemudian kembali menatap jalan dengan nanar.
"Sayang mau langsung pulang atau beli sesuatu dulu?" Aldho kembali bertanya.
Cindy hanya menggeleng. Yang dia inginkan hanyalah pulang.
Bukan tanpa sebab diamnya Cindy terhadap Aldho. Dia hanya terus merasa bersalah atas apa yang telah menimpanya. Dia juga terus memikirkan ucapan Viona.
Sampai di rumah mereka langsung disambut oleh Mama Grace yang sedang menggendong Selina.
Selina langsung memanggil Aldho. Dia memang sangat dekat dengan Aldho.
"Sayang, kamu kangen papa ya" Aldho langsung memeluk dan menciumi Selina dengan gemas.
Mama Grace rupanya sudah menyiapkan berbagai hidangan kesukaan Cindy dan Aldho. Dia ingin memberikan yang terbaik sementara tidak bisa menemani Cindy selama di rumah sakit.
"ma, maaf ya Cindy sudah merepotkan mama untuk menjaga Selina" ungkap Cindy sembari memeluk ibunya.
"Tidak apa-apa sayang, kamu kembali sehat mama sudah sangat bahagia"
Cindy kembali ke kamarnya, saat hendak masuk dia melihat Aldho yang sedang bermain-main dengan Selina. Aldho yang sangat menikmati kebersamaan dengan Selina tak sadar bahwa Cindy sedang mengamatinya sejak tadi.
"Sayang, lihat siapa itu" Aldho mulai menyadari Cindy berada di depan pintu.
"Ma..ma.." tiba-tiba Kata-kata keluar dari mulut kecil itu. Sontak saja Cindy terkejut dan langsung menghampiri Selina. Itu adalah pertama kali Cindy mendengar suara Selina memanggilnya.
"Sayang, kamu memanggil mama" Cindy mulai berkaca-kaca. Dia benar-benar merasa dirinya seorang ibu.
"Kalau ini siapa?" Aldho menunjuk dirinya sendiri.
"Pa.. Pa.." ucap bayi mungil itu.
"Sejak kapan dia pandai memanggil kita?" Cindy seolah tak percaya.
"Aku juga terkejut tadi tiba-tiba dia terus memanggilku Papa" balas Aldho.
Cindy seolah mendapatkan kembali semangatnya setelah mendengar kata-kata pertama putrinya.
Aldho kembali bahagia saat melihat senyum Cindy yang beberapa hari ini seolah hilang ditelan bumi.
"Kamu begitu cantik saat tersenyum sayang" Aldho meraih tangan Cindy dan menciumnya.
Hari-hari mereka lewati dan Selina yang tumbuh semakin pintar dan sehat menjadikan semangat untuk Cindy. Perlahan namun pasti akhirnya trauma yang dialami Cindy berangsur hilang.
.
Tak terasa dua minggu berlalu dan besok adalah ulang tahun Selina. Cindy dan Aldho menyiapkan sebuah pesta kecil-kecilan di halaman rumah yang dihadiri oleh keluarga serta beberapa sahabat dekat saja.
Aldho dan ayahnya sudah menyiapkan dekorasi serta yang lain menyiapkan berbagai macam makanan dan camilan. Tak lupa kue ulang tahun nan cantik telah Cindy siapkan.
Beberapa keluarga sudah datang termasuk Pak Theo serta teman-teman Aldho. Zara dan Windy datang berdua karena Tika sedang melanjutkan studi ke Singapura.
Cindy begitu senang dengan kehadiran kedua sahabatnya karena sudah lama mereka tidak bertemu.
"Cindy kau terlihat semakin cantik saja" puji Zara. Sedangkan Windy sibuk menggendong Selina.
"Selina benar-benar lucu dan menggemaskan. Jika ada Tika dia pasti sangatlah senang" ungkap Windy.
Tak hanya mulai pandai berbicara Selina kini sudah bisa berjalan sendiri dengan kedua kaki mungilnya.
Hal itu pula membuat Cindy dan Aldho sedikit kewalahan karena Selina begitu aktif.
"Kenapa Renata ada di sini? Bukankah dia mantan kekasih kak Aldho?" tanya Zara kepada Cindy.
"Dia dekat dengan Ibu Vio, mertuaku" balas Cindy sedikit jengkel.
"Sudahlah Cindy tak perlu risau. Lihat saja dari tadi Kak Aldho tak berhenti memandangimu. Dia begitu tergila-gila kepadamu" goda Windy.
Memang benar Aldho selalu mencuri pandang terhadap Cindy meskipun dia sedang menjamu beberapa tamunya.
Cindy yang memakai gaun polkadot dengan tatanan rambut sederhana membuat Aldho tak bisa memalingkan pandangannya. Hingga dia mengirim pesan singkat ke ponsel Cindy.
Saat sedang sibuk berbincang Cindy mendengar ponselnya berbunyi. Rupanya pesan dari Aldho. Meskipun dia sedikit heran kenapa Aldho mengirimi pesan di ponselnya.
"Sayang kau terlihat sangat cantik.. Benar-benar cantik. Harusnya aku menciummu terlebih dahulu"
Membaca pesan dari Aldho membuat Cindy tersenyum salah tingkah. Zara yang menyadari sikap Cindy segera mencari tahu dengan mengintip ponselnya.
"Oh Ya Tuhan, kalian ini benar-benar. Harusnya kalian menghargai kaum jomblo seperti aku begini" omel Zara.
Tiba pada acara inti Cindy dan Aldho yang menggendong Selina bersiap untuk meniup lilin. Selina yang begitu antusias melihat kue dengan cepat meraih dengan jemari kecilnya sehingga membuat semua orang tertawa.
Suasana pesta yang meriah ditambah Selina yang menerima kado dan ucapan dari para tamu. Tak lupa mereka melakukan swafoto bersama.
Aldho dan Cindy sibuk berbincang dengan para tamu hingga tak sadar mereka lepas pengawasan terhadap Selina.
Bocah kecil itu berjalan sendiri dan meraih sebuah benda kecil yang yang jatuh di tanah dan memakannya hingga membuatnya tersedak.
"Selina... Selina..." Renata menyadari terjadi sesuatu terhadap Selina dan langsung menghampirinya.
"Aldho, sepertinya Selina tersedak"
Aldho segera berlari untuk menyelamatkan Selina.
Sementara Cindy yang melihat kejadian itu hanya bisa diam terpaku. Pannic attack yang dia alami membuatnya sulit melakukan sesuatu. Tubuhnya gemetar dan lidahnya kelu. Nafasnya mulai tersengal.
Aldho dan Renata segera melakukan tindakan untuk mengeluarkan benda yang tertelan oleh Selina. Mereka berusaha keras untuk menyelamatkan Selina yang sudah kesulitan bernafas.
Melihat Selina yang tak kunjung membaik membuat Cindy semakin histeris. Hingga dia tidak menyadari tentang perintah Aldho untuk mengambilkan tisu untuk membersihkan liur Selina.
Hal itu membuat suasana semakin panik. Cindy bahkan mulai berteriak dan menangis histeris.
"Cindy diamlah, jika kamu tidak bisa membantu setidaknya jangan membuat suasana semakin panik." Aldho membentak Cindy dengan suara yang cukup keras hingga membuat semua orang yang ada ikut terkejut.
Pertama kalinya dalam hidup Cindy dibentak oleh Aldho didepan banyak orang. Cindy diam seketika namun dalam hatinya hancur berkeping-keping.
Akhirnya Selina berhasil diselamatkan. Semua orang merasa lega namun Cindy yang merasa dirinya tidak berguna perlahan mundur dan berlari meninggalkan tempatnya.
"Cindy, mau kemana?" Windy mencoba untuk menahannya namun sia-sia.
Dengan berurai air mata Cindy terus berlari dengan gontai tak peduli akan menabrak sesuatu di depannya dan Aldho yang menyadari perbuatannya segera mengikuti Cindy.
Suasana jadi canggung, akhirnya beberapa tamu memutuskan untuk pulang karena merasa iba terhadap Cindy.
Viona dan Renata seolah menduduki kemenangannya. Tanpa berbuat banyak hal mereka berhasil membuat Aldho marah dan mempermalukan Cindy didepan banyak orang.
"Tante kita berhasil" bisik Renata kepada Viona.
"Tunggu dulu sayang, masih ada sentuhan akhir dari tante" balas Viona dengan senyum piciknya.
.
......***************......