Baby Blues

Baby Blues
bab 107 Perasaan Canggung



Rebecca tertunduk lemas tak percaya dengan apa yang dia lihat. Tangisnya pecah berharap ini hanyalah mimpi.


Berulang kali dia menepuk dan mencubit pipinya, kenyataan tetaplah kenyataan. Rebecca sedang mengandung saat ini.


Ayah Rebecca yang penasaran dengan putrinya terus mengetuk pintu toilet.


"Rebecca apa terjadi sesuatu? Kamu baik-baik saja sayang?" terdengar dari nada suaranya yang khawatir.


Rebecca tak kunjung menjawabnya. Dia masih mengatur nafas dan mempersiapkan suaranya agar tidak terdengar parau.


"T-tidak apa-apa ayah" ucapannya segera dia percepat.


"Baiklah, Bibi Maria sudah siapkan makan malam. Ayah tunggu di meja makan ya" ujar Ayah Rebecca dari balik pintu.


Rebecca tak mungkin membiarkan ayahnya menunggu lebih lama. Akhirnya dia menguatkan dirinya agar terlihat biasa saja.


Berkali-kali Rebecca menghela nafas panjang sebelum akhirnya mendekati meja makan.


Meski kedua matanya tampak sembab namun Anton, ayah Rebecca tak berani menanyakan langsung. Dia masih merasa canggung karena selama ini mereka tak pernah sedekat ini.


Sepanjang makan malam keduanya tampak diam. Hingga selesai pun Rebecca tak mengeluarkan kata-kata.


"Rebecca" Suara lembut keluar dari mulut Anton.


"Iya ayah?" balas Rebecca pelan.


"Boleh ayah memelukmu?"


Suara itu terdengar pelan namun sangat mengena di hati Rebecca. Untuk pertama kalinya dia mendengar sang ayah meminta pelukan.


Jika saja bisa digambarkan mungkin dia ingin meloncat kegirangan. Namun perasaan canggung masih menjalarinya sehingga dia hanya bisa mengangguk pelan.


Anton pun langsung meraih tubuh putrinya dan Rebecca menyambut pelukan itu. Dia jatuhkan kepalanya di dada Anton merasakan detak jantung ayahnya yang terasa lebih cepat berpacu.


Rebecca meremas kuat kemeja ayahnya seolah ada gejolak dalam hatinya. Sebuah kerinduan teramat dalam karena ini adalah pertama kali untuknya merasakan pelukan seorang ayah.


Sekuat tenaga Rebecca mencoba untuk menahan air matanya namun sekeras apapun dia mencobanya air mata itu tetap meleleh.


Isakan lembut yang lama-lama menjadi kuat hingga Anton merasakan tangisan Rebecca.


Anton mendengar tangisan tersebut mengingatkannya akan tangisan Rebecca sewaktu pertama kali dia lahir di dunia.


"Ayah, aku merindukanmu. Jangan tinggalkan aku lagi ya. Hanya ayah yang aku punya saat ini"


Anton pun tak kuasa menahan haru. Dia memeluk Rebecca semakin erat ingin putri kesayangannya tetap berada disisinya.


"Iya sayang, iya.. Ayah akan selalu bersamamu. Maafkan ayah selama ini tidak pernah mempedulikanmu" Ucap Anton penuh penyesalan.


Nyatanya pelukan sang ayah mampu mengurangi rasa kalut dalam hati Rebecca setelah mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung. Hanya saja dia belum berani mengatakan kepada ayahnya perihal tersebut.


.


Aldho mengantarkan Cindy untuk periksa ke dokter kandungan. Sebenarnya ini belum jadwalnya untuk kontrol namun Aldho khawatir akan keadaan Cindy setelah kejadian kemarin.


"Bu Dokter, saya ingin mengetahui keadaan Cindy." Aldho berbicara kepada dokter Helena. Dokter kandungan Cindy.


"Pak Aldho tumben, pemeriksaan Ibu Cindy kan masih dua minggu lagi" ujar Dokter Helena.


"Sebenarnya ada kejadian yang kurang menyenangkan" Aldho terdiam sejenak.


"Saya melakukan hubungan terlalu bersemangat hingga lupa waktu dan tidak sadar Cindy sedang mengandung. Dan saya menumpahkannya di dalam. Apakah itu berbahaya untuk kandungannya?" Aldho mengatakan dengan jujur kepada Dokter Helena.


Sementara Cindy hanya bisa tertunduk malu. Wajahnya sudah merona merah.


Dokter Helena pun menimpali dengan senyuman. Hanya bisa membatin dengan kelakuan suami satu ini. Benar-benar Bar-Bar.


"Bagaimana dokter keadaan Cindy dan janinnya? Apa ada masalah?" Aldho terus merasa cemas.


"Syukurlah kandungan Ibu Cindy baik-baik saja. Janinnya sudah kuat karena usianya yang telah menginjak trimester ke tiga. Tapi mohon diperhatikan untuk berhubungan lebih baik dilakukan dengan hati-hati takutnya akan membahayakan janinnya" Aldho pun mendengarkan penjelasan dengan seksama.


Sementara Cindy hanya melirik Aldho tak berani berucap sama sekali.


"I'm sorry" Aldho meraih tangan Cindy saat mereka keluar ruangan.


Cindy pun mengangguk pelan. Dia tahu ini adalah bentuk tanggung jawab Aldho untuk dirinya.


Memang semua orang tak luput dari kesalahan. Begitu juga dengan Aldho. Tapi trauma Cindy juga tak sepenuhnya bisa hilang begitu saja.


Sejak kejadian itu Cindy sedikit membatasi diri dengan Aldho bahkan dia lebih sering tidur bersama Selina membuat Aldho merasa semakin bersalah.


.


"Sayang, cantik kan anak kita" Ujar Rebecca yang sedang menggendong bayi perempuan.


"Iya sayang, dia begitu cantik. Seperti kamu sayang" Roger mengusap rambut bayi tersebut yang terasa sangat lembut.


Senyum bahagia terpancar dari wajah cantik Rebecca. Namun tiba-tiba Rebecca berjalan pergi meninggalkan Roger sendirian.


"Sayang, mau kemana?" Roger berusaha mengejar Rebecca namun semakin dia mengejar Rebecca semakin menjauh.


"Rebecca jangan tinggalkan aku...."


Roger terhenyak tiba-tiba saat dirinya bangun tidur. Mimpinya terasa begitu nyata membuat dirinya seolah mengalami kejadian sungguhan.


Roger merasa pusing dan mual setiap pagi. Sudah seminggu sejak mimpi itu dia mengalaminya namun saat periksa ke dokter dirinya sama sekali tidak mengalami masalah.


Dia terus berpikir apa sebenarnya yang terjadi dengan dirinya. Tiba-tiba dia teringat Aldho saat awal-awal Cindy hamil. Aldho mengalami mual dan pusing setiap hari seperti seorang wanita hamil.


Pikirannya pun melayang. Mengingat terakhir kali berhubungan dengan Rebecca hingga mereka bercerai.


"Apa jangan-jangan Rebecca hamil?" gumam Roger dalam kemelut pikirannya.


Namun dia segera menepis hal itu. Tidak mungkin Rebecca hamil dan tidak memberitahunya. Kalaupun Rebecca hamil pasti akan ada kabar dan dia mungkin akan sangat senang.


Angan-angan pun mulai terbentang dalam pikirannya. Membayangkan jika dia mendapatkan seorang anak dari Rebecca pasti dia sangat senang.


Namun tidak dengan Rebecca. Kali ini dia sedang berada dalam kegelisahan. Dia terus menatap kelima alat tes kehamilan itu dengan nanar. Sesekali mengusap perutnya.


Rebecca bingung harus berbuat apa. Dia ingin memberitahu ayahnya namun belum memiliki keberanian.


Sementara dia memikirkan Roger. Apakah Roger perlu tahu tentang ini atau tidak.


Jika sampai Roger tahu tentang hal ini maka dia akan berusaha kembali. Tapi Rebecca sudah berjanji dengan dirinya sendiri bahwa dia akan melupakan Roger.


"Ya Tuhan, hukuman macam apa lagi yang harus aku terima?" gumam Rebecca dalam tangisnya.


Tiba-tiba kepalanya terasa sangat pusing dan pandangannya mulai kabur. Semakin dia berusaha terjaga semakin terasa berkunang-kunang penglihatannya.


Akhirnya tak berapa lama tubuhnya ambruk hingga menimpa vas bunga yang berada di atas meja.


PYARRRR.....


Suara pecahan kaca langsung menggema di dalam rumah itu. Bibi Maria yang sedang berada di dapur langsung mencari sumber suara.


Dia tampak histeris ketika mendapati Rebecca sudah jatuh tak sadarkan diri di lantai.


.


Bersambung..