Baby Blues

Baby Blues
bab 79 perasaan yang belum usai



Sinar matahari mulai menyeruak menembus tirai putih transparan ruangan itu. Rebecca menggeliat pelan dan mulai membuka matanya.


Musim di bulan Februari membuat kota Milan terasa semakin dingin pada pagi hari.


"Sayang dingin" tubuh Rebecca yang hanya berbalut selimut tebal semakin merapatkan di pelukan Roger yang masih terlelap. Bersentuhan langsung dengan kulit Roger membuatnya terasa hangat.


Roger merengkuh tubuh polos Rebecca di balik selimut sembari mengecupi bibirnya.


"Sini peluk aku Cindy sayang" gumam Roger masih dengan mata tertutup.


Seketika Rebecca langsung bangkit saat Roger memanggil nama Cindy. Roger yang merasakan pergerakan dari Rebecca langsung membuka mata.


"Kenapa sayang, katanya dingin"


Rebecca menatap Roger dengan kesal. "tadi kamu panggil aku siapa? Cindy? Sampai seperti itukah kamu memikirkannya?" protes Rebecca.


Roger sedikit bingung namun dia mengingat kembali ucapannya dan barusan memang dia salah memanggil Rebecca. Benar-benar cari perkara.


Seharian Rebecca kesal kepada Roger. Moodnya sudah berantakan sejak pagi sehingga dia terus uring-uringan. Puncaknya adalah ketika diam-diam Roger mencari tahu tentang Cindy di internet. Rupanya Roger memang belum bisa melupakan Cindy.


"Jika kamu masih memikirkannya kenapa tidak susul dia ke Indonesia?" ucap Rebecca saat Roger ketahuan membuka profil Cindy.


"Emm.. Sayang kamu disini? Maaf aku tidak tahu" Roger segera mendekap tubuh Rebecca. Biasanya Rebecca akan sangat senang saat Roger memeluknya namun kali ini dia menolak.


"Aku tahu hatimu masih milik Cindy. Aku tidak bisa terus seperti ini jika tunanganku terus memikirkan orang lain" Rebecca mulai melepas cincin yang melingkar di jemarinya dan memberikan kepada Roger.


"Selesaikan perasaanmu dulu. Aku rela jika harus berpisah daripada kamu tidak bahagia bersamaku" sambil berkaca-kaca Rebecca mencoba merelakan.


"Tapi sayang aku mencintaimu. Aku tidak mau berpisah darimu" Roger terus memohon dan memeluk Rebecca.


Sambil terisak Rebecca mengusap wajah Roger. Diamatinya pria yang sangat dia cintai itu.


"Aku bahagia jika kamu bahagia."


Akhirnya Roger memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan mencari Cindy. Rebecca berusaha tegar bahkan ikut mengantar sampai di bandara.


"Aku janji akan segera kembali. Tunggu aku dan jangan pergi dari apartemenku." Roger mengecup bibir Rebecca sebagai tanda perpisahan.


.


Hari ini Cindy berusaha kembali ke rumah Aldho untuk menemui Selina. Dia masih bertekad untuk kembali dekat dengan buah hatinya.


Namun Selina sama sekali tidak mau menemui Cindy bahkan dia terus mengurung diri di kamar.


Cindy sangat sedih namun dia sadar bahwa itu harus dia terima mengingat selama ini Cindy telah meninggalkannya tanpa kabar.


Begitu pula saat dia melihat Aldho. Pria itu berusaha tegar menghadapi semua hal. Dia bahkan tidak mengatakan apapun saat bertemu kembali dengan Cindy.


"Kak Aldho, bisa kita bicara sebentar?" Cindy menghampiri Aldho dan mereka duduk berdua di taman.


"Ada apa Cindy?" Aldho memandang wajah Cindy yang nampak gusar.


"Kenapa kak Aldho masih sendiri?" tanya Cindy ragu.


"Aku nyaman seperti ini. Selina sudah cukup bagiku" balas Aldho.


Cindy menatap Aldho dengan seksama. Pria tampan yang sangat dia cintai.


"Maafkan aku, aku selalu menyusahkanmu"


Kali ini Aldho menatap balik Cindy. "Kenapa kamu selalu merasa bahwa kamu membuatku susah? Aku tidak pernah susah. Dan aku ingin tanya kenapa kamu pergi saat itu? Apa karena aku memarahimu didepan banyak orang?"


"Siapa bilang Cindy? Aku tidak pernah berpikir menikahimu karena hutang budi. Oh,.. Jadi kamu meragukan cintaku selama ini? Kau egois Cindy." Aldho mulai kecewa dengan ucapan Cindy.


"Bukan begitu Kak Aldho.." Perdebatan mereka tak bisa dihindari dan akhirnya Aldho marah lalu pergi meninggalkan Cindy sendirian di taman samping rumah.


Dengan langkah putus asa akhirnya Cindy pergi meninggalkan rumah itu. Tidak ada yang bisa diharapkan lagi. Selina tidak mau menerimanya dan Aldho sudah marah kepadanya.


Aldho menghampiri putrinya yang tengah meringkuk di kamarnya. Dia mengusap rambut Selina dan bocah itu mulai menatap Aldho.


"Apa Papa sedang sedih?"


Aldho menggeleng lalu tersenyum. Dia berusaha menyembunyikan perasaannya. "Tidak sayang, papa baik-baik saja"


"Pa, apa mama Cindy benar tidak menginginkanku? Kenapa mama Cindy meninggalkanku saat kecil?" Selina masih meratapi perasaannya. Aldho langsung memeluk putrinya tanpa mengatakan apapun karena sejujurnya perasaan Aldho juga bingung.


.


Sementara Renata mendengar kabar tentang kedatangan Cindy. Sebenarnya dia sudah mulai lelah memperjuangkan Aldho. Sehingga dia pasrah jika Aldho harus kembali kepada Cindy.


Namun Viona terus mendesak Renata agar cepat mengambil tindakan.


"Pokoknya tante gak mau tahu kamu harus cepat dapatkan Aldho" desak Viona.


"Aku lelah tante, selama ini aku sudah berjuang demi mendapatkan Aldho tapi nyatanya Aldho hanya mencintai Cindy. Sia-sia usahaku selama ini" keluh Renata.


"Kamu pikir aku tidak lelah juga apa? harus berurusan dengan gadis lamban sepertimu" ungkap Viona mentang-mentang.


"Apa? Tante mengataiku lamban? Bukannya tante yang terus mendesakku agar mendekati Aldho lagi?" Renata merasa tidak terima.


"Bagaimana tidak lamban? Aku sudah berusaha keras menghasut Cindy agar meninggalkan Aldho dan sekarang aku harus membohongi Selina bocah sialan itu agar membenci Cindy. Sebentar lagi aku juga harus memisahkan bocah itu dari Aldho jika bisa. Tapi kamu tidak ada usaha sama sekali" protes Viona.


Diam-diam Renata merekam ucapan Viona. Dia memang sudah lelah menghadapi permintaan Viona.


"Tapi kenapa tante harus menyeret Selina? Dia masih kecil tidak bersalah" kini Renata merasa bahwa Viona sudah keterlaluan.


"Kalau kamu tidak bisa berbuat apa-apa tidak usah protes. Sudah baik kamu tante kasih kesempatan mendekati Aldho. Kalau bukan karena harta orang tuamu mana mungkin aku mau?" Viona mulai keceplosan kali ini.


Renata yang mendengar langsung ucapan Viona merasa murka. Sudah cukup Viona menjadikannya boneka. Kali ini dia harus menceritakan kepada Aldho tentang kejadian sebenarnya. Dia tidak mau terus-terusan berurusan dengan wanita licik itu.


"Aku akan mengatakan semuanya kepada Aldho bahwa kau adalah ibu yang sangat licik" Renata langsung bergegas menemui Aldho dengan mobilnya.


Viona yang panik segera menyusul Renata. Di sepanjang jalan Viona terus memikirkan kata-kata yang dapat meyakinkan Aldho sehingga dia lebih dipercaya dibanding Renata. Padahal tanpa dia sadari Renata sudah memiliki bukti rekaman suaranya.


Renata sampai di kediaman Aldho. Dia bergegas mencari Aldho yang kebetulan ada di rumahnya.


"Aldho aku harus bicara padamu. Ini sangat penting" ucap Renata tergesa-gesa.


"Baiklah ada hal penting apa Renata? Ayo masuk dulu di rumah" balas Aldho.


"Tidak Al, disini saja" jawab Renata.


"Sebenarnya orang yang membuat Cindy meninggalkanmu adalah..." belum sempat Renata meneruskan ucapannya Viona datang dengan wajah marah.


"Renata..." teriak Viona.


.


...****************...