
Cindy sudah diperbolehkan pulang ke rumah hari ini. Di sepanjang perjalanan dia hanya diam sembari menatap luar kaca mobil.
Di kursi belakang Mama Grace nampak menggendong cucunya. Dia begitu bahagia dan tak henti-hentinya memandangi sosok bayi mungil yang tengah tertidur itu.
Aldho fokus menyetir mobil sesekali melihat Mamanya dari kaca spion yang terlihat bahagia mendapatkan cucu. Sementara Cindy nampak acuh dengan hal itu.
Sesaat kemudian mereka sudah sampai di rumah. Aldho membantu bawa barang-barang dan memapah Cindy.
"Sayang mau di bawah dulu atau langsung ke kamar?" tanya Aldho.
"Ke kamar" jawab Cindy singkat.
Akhirnya mereka menuju ke kamar namun saat tiba di depan tangga Aldho langsung mengangkat tubuh Cindy dan menggendongnya. Cindy terkejut dengan perlakuan Aldho namun tak protes.
Aldho melangkahkan kakinya satu persatu menaiki tangga sambil membopong Cindy. Cindy yang mulanya cuek kini mulai memperhatikan wajah suaminya.
Dilihatnya wajah tampan itu yang penuh kesabaran menemani Cindy. Perlahan dia mulai menyandarkan kepalanya di bahu Aldho dan tangannya melingkar memeluk lehernya.
Terasa kerinduan yang teramat dalam karena beberapa minggu ini dia berpisah jauh dengan Aldho. Tak ada kata-kata namun bahasa tubuhnya sudah mewakili semua.
Aldho hanya tersenyum melihat Cindy yang nampak manja di pelukannya. Sikap Cindy ini yang paling disukai oleh Aldho.
Sampai di kamar Aldho merebahkan tubuh Cindy dengan pelan di atas ranjang. Aldho mengelus kepala Cindy dengan lembut lalu mengecup keningnya.
"Bagaimana kabarmu sayang? Masih sakit?" ucap Aldho pelan.
Cindy mengangguk. Sejenak terlihat genangan air di sudut matanya. Ingin sekali dia mengungkapkan banyak hal kepada Aldho namun lidahnya kelu. Hanya tersisa sesak di dalam dadanya.
"Hatiku yang sakit..." ucap Cindy lirih.
Melihat kesedihan istrinya membuat Aldho ikut sedih. Dia langsung mendudukkan Cindy dan memeluknya dari belakang.
"Ceritakan sayang, jangan dipendam supaya tidak menyakiti hatimu" balas Aldho.
"Dia terus mengingatkanku akan pria itu dan kejadian itu. Aku benar-benar takut.. " ucap Cindy sambil terisak.
"Sayang, dengarkan aku.. Semua yang sudah terjadi biarlah terjadi. Hal itu tidak akan terjadi di masa depan dan ada aku, aku yang akan selalu melindungimu. Dan bayi itu adalah anak kita. Akulah ayahnya jadi jangan pernah merasa takut"
Cindy merasa begitu tenang saat bersama Aldho. Hanya Aldho lah yang selalu sabar menghadapinya. Bahkan mamanya terkadang masih belum sepenuhnya mampu memahami Cindy.
Di bawah Mama Grace sangat senang memeluk dan menggendong cucunya. Dia menidurkan bayi itu di kamarnya. Seharusnya kamar lama Aldho sudah disiapkan untuk kamar bayi mereka namun karena kondisi Cindy yang masih terguncang pasca melahirkan sehingga sementara waktu Mama Grace yang merawatnya.
Tak berselang lama terdengar bunyi bel pintu. Aldho yang sedang di dapur membuatkan susu langsung membuka pintu.
"Halo selamat siang kak Aldho,.."
"Hai, kalian... ayo silahkan masuk"
Zara, Tika dan Windy yang datang. Mereka sudah membawa Buket bunga serta bungkusan kado yang diperuntukkan Cindy dan bayinya.
"Kak selamat ya atas kelahiran baby nya" ucap Zara.
"Terimakasih Zara"
"Dimana Cindy dan bayinya?" tanya Tika.
"Sebentar aku panggilan Mama" Aldho berlalu memanggil mamanya. Tak lama kemudian Mama Grace datang menggendong bayinya.
"Halo onty-onty cantik... Selamat siang" ucap Mama Grace menyambut teman-teman Cindy.
"Mama... Selamat ya ma.. Ini bayinya? Cantik sekali. Mirip Cindy"
Mereka bergantian saling menggendong bayi tersebut. Mama Grace nampak bahagia melihat mereka begitu antusias. Andaikan Cindy yang seperti itu mereka pasti bahagia.
Aldho datang membawakan minuman untuk teman-teman Cindy. Lalu Windy bertanya kepada Aldho.
"Kak Al, dimana Cindy?"
"emm.. Dia ada di atas." ucap Aldho sedikit cemas.
"Kak, ada apa?" Windy merasa sesuatu terjadi dengan Cindy.
"Kasian sekali Cindy, itu pasti sangat berat untuknya. Kak boleh kami menemuinya?" tanya Zara.
"Boleh, tapi aku tanya dulu Cindy agar dia tidak panik"
Akhirnya Aldho menghampiri Cindy ke kamarnya. Cindy masih rebahan di atas ranjang sembari bermain dengan ponselnya.
"Sayang, ada Zara, Tika dan windy ingin menemuimu. Boleh kan?" tanya Aldho.
Cindy masih diam. Lalu menatap Aldho.
"Tapi bagaimana kalau mereka menanyaiku macam-macam?"
"Tidak sayang, mereka hanya merindukanmu. Mereka sahabatmu pasti tahu apa saja kebiasaannya. Siapa tahu setelah bertemu mereka kamu lebih bahagia"
Setelah beberapa saat membujuk Cindy akhirnya dia mau. Dengan bahagia teman-temannya datang ke kamarnya untuk menghibur Cindy.
"Waw Cindy ini pertama kali aku memasuki kamar suami istri. Rasanya berbeda," ucap Tika.
"Berbeda bagaimana lagi Tika?" tanya Zara.
"Dulu kamar Cindy sangat girly dan sedikit berantakan. Sekarang sangat rapi. Dan juga deretan foto ini membuat baper. Ups terutama yang ini" Tika mengamati setiap deret foto Cindy dan Aldho yang berjajar rapi di atas nakas. Satu foto yang ditunjuk Tika adalah potret Cindy dan Aldho yang berciuman mesra.
Cindy tersenyum melihat tingkah teman-temannya. Rasa rindu terobati dengan kedatangan mereka.
Aldho hendak mengambil ponsel di kamarnya melihat Cindy yang mulai bisa tersenyum. Hal itu membuat hati Aldho merasa bahagia.
"Kak Aldho ngapain disitu?" tanya Tika.
"Em.. Aku mau ambil ponsel, tapi takut mengganggu kalian"
Akhirnya mereka mengijinkan Aldho masuk. Segera Aldho mengambil ponselnya, saat melihat Cindy dia tak tahan lalu menghampiri untuk mencium keningnya sebentar.
"Awww.. Kalian benar-benar mengejek para jomblo ya" protes Zara.
.
Viona masih tidak terima dengan apa yang terjadi. Dia begitu muak dengan keluarga Cindy sekarang. Bisa-bisanya mereka menggunakan Aldho untuk menutupi Aib Cindy.
Akhirnya tanpa banyak pertimbangan Viona datang ke rumah Cindy.
"Viona,.." Mama Grace membuka pintu. Belum sempat meneruskan ucapannya Viona langsung masuk ke dalam rumah dan menuju kamar Cindy.
"Mau kemana Viona?" teriak mama Grace namun tak dihiraukan oleh Viona.
Viona sampai di depan pintu kamar Cindy. Dia melihat kamarnya yang nampak ramai oleh teman-teman Cindy. Dia begitu murka melihat Cindy yang sedang bahagia bercengkrama dengan teman-temannya.
Akhirnya tanpa lama-lama Viona langsung masuk ke kamar tersebut mendekati Cindy dan..
PLAAKKK...!!!!
"Bisa-bisanya kamu berbahagia di sini sedangkan putraku harus menanggung beban anakmu" Viona berbicara dengan nada kasar sambil menunjuk-nunjuk wajah Cindy.
Cindy yang begitu terkejut hanya bisa meringis kesakitan karena tamparan ibu mertuanya yang mendarat keras di pipi sebelah kanan.
"Maaf, ibu ini siapa? Datang-datang langsung marah dan menyakiti teman kami" protes Windy.
"Kamu anak kecil tidak tahu apa-apa. Mau aku tampar sekalian?" Viona mengangkat tangannya dan hendak menampar Windy pula.
Namun tangannya terasa berat, ternyata Aldho sudah memegang tangan Viona.
"jika kau lakukan lagi maka aku tidak segan akan melukaimu" gertak Aldho.
.
.
...----------------...