
Aldho dan Pak Tirta sedang berbincang sembari menunggu pesanan kopi datang.
"Ada apa dengan Cindy Aldho?" tanya pak Tirta.
"Trauma Cindy sepertinya semakin memburuk ayah, setiap kali memikirkan suatu masalah dia mencoba untuk menyakiti dirinya sendiri. Aku takut ini berdampak buruk untuknya. Apa sebaiknya dia perlu konseling?"
Pak Tirta menghela nafas, dia tahu ini akan terjadi.
"Baiklah nanti ayah akan bicara pelan-pelan dengan Cindy. Maafkan ayah Aldho sudah memberimu beban berat ini"
"Tidak apa-apa ayah, Aldho menerima Cindy apa adanya. Aku akan berusaha sebisa mungkin membahagiakannya."
"Ayah bangga padamu nak, lalu bagaimana hubunganmu dengan Cindy saat ini?" tanya Pak Tirta penasaran.
"Sudah ada kemajuan ayah, tapi mungkin Aldho terlalu buru-buru jadi mungkin dia merasa kurang nyaman"
Aldho memang terbiasa berdiskusi dengan ayahnya dalam segala urusan.
"Al, dulu ayah sama mamamu dijodohkan dan sama sekali belum mengenal satu sama lain, jadi dua minggu pernikahan kami tidur berpisah. Belum lagi mantan pacar ayah yang begitu seksi itu masih terus mengejar ayah, jadi ayah harus benar-benar menjaga perasaan"
"Lalu bagaimana ayah bisa memenangkan hati mama?" Aldho penasaran.
"Ayah ini kan punya sejuta pesona, ayah terus menggodanya dengan membuat mamamu cemburu, dan masalah ranjang itu.." Aldho segera memotong pembicaraan ayahnya sebelum terlampau jauh.
"Ayah mertua, apa ayah sadar sekarang ini berbicara dengan menantumu? berani-beraninya membicarakan urusan ranjang denganku" ledek Aldho.
Seketika Pak Tirta langsung tertawa.
"Oh iya, Aku sungguh jadi mertuamu sekarang. Aku jadi sungkan"
Dua pria ini memang selalu klop dalam segala urusan. Mereka tidak terlihat seperti ayah dan anak, namun lebih seperti seorang sahabat.
Malam semakin larut akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Sampai di rumah Aldho mendapati Cindy yang sudah tertidur pulas. Aldho mendekati istrinya itu mengecup keningnya dan memeluknya dari belakang.
.
Sinar mentari pagi mulai menyeruak menembus tirai transparan di jendela kamar Cindy. Aldho yang masih terlelap mulai mengerjapkan matanya. Tangannya meraba ranjang mencari sosok Cindy namun tidak ada.
Dengan segera dia terbangun. Sepertinya dia bangun kesiangan dan benar saja saat melihat jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul 06.30. Untung saja Aldho berangkat ke rumah sakit masih pukul 09.00 nanti.
Aldho segera ke toilet setelah itu mencari Cindy. Di ruang keluarga sudah berkumpul Cindy, Ayah serta Mamanya.
"Sudah bangun Aldho?" sapa Pak Tirta.
"Iya ayah, bangunku kesiangan. Cindy kenapa tidak membangunkan aku?" protes Aldo.
"Kak Aldho tidur sangat pulas. Aku sudah membangunkanmu berkali-kali" Cindy sedikit memanyunkan bibirnya kemudian Aldho mencubit pipinya.
"Hehe, maafkan aku"
"Kak, Aku sudah memutuskan untuk konseling" ucap Cindy.
"Benarkah? aku ikut senang mendengarnya Cindy" Aldho langsung memeluk Cindy karena bahagia.
"Tapi dengan satu syarat"
"Apa?"
"Aku mau konseling jika kak Aldho yang menemaniku. Dan hanya kak Aldho yang boleh menemaniku"
"Baik sayang, aku akan selalu menemanimu" Aldho bersemangat.
Semenjak hamil Cindy mengalami krisis kepercayaan diri. Dia begitu enggan bertemu orang baru. Terlebih saat ini perutnya sudah mulai membuncit pasti orang-orang akan mempertanyakan kehamilannya di usia yang masih sangat muda.
Akhirnya Cindy memilih konseling di rumah sakit tempat Aldho bekerja. Aldho segera mendaftarkan Cindy untuk konseling. Karena lebih cepat lebih baik
.
Hari ini adalah hari pertama Cindy memulai konselingnya. Aldho sudah bersiap meluangkan waktunya untuk menemani Cindy.
Saat memasuki ruangan dokter nampak Cindy sedikit cemas. Dia tak melepaskan genggaman tangannya pada Aldho sama sekali.
"Selamat pagi Bu dokter Sarah" sapa Aldho.
Cindy sedikit tertegun saat memasuki ruangan konseling. Tempatnya cukup nyaman tidak seperti ruang periksa dokter yang lain. Ini lebih tepat seperti suasana rumah.
Cindy dan Aldho dipersilahkan duduk di sofa hijau yang nampak nyaman. Dokter Sarah memulai perkenalan dengan Cindy. Dia nampak ramah dan menyenangkan jauh dari bayangan Cindy yang menyeramkan.
"Bagaimana kabarmu Cindy? Aku panggil nama saja ya supaya lebih santai. Disini kita adalah teman" ucap Dokter Sarah.
Aldho sebelumnya sudah menemui dokter Sarah dan menceritakan semua tentang Cindy. Jadi Dokter Sarah lebih mudah untuk memulai terapi konseling.
Kurang lebih satu jam Cindy melakukan konseling. Dari awalnya yang begitu tertutup kini Cindy sudah mulai terbuka dan merasa cepat akrab dengan Dokter Sarah. Baginya pengalaman pertama konseling ini cukup menyenangkan.
"Sekian untuk hari ini Cindy, semoga harimu menyenangkan" Ucap Dokter Sarah menutup konseling.
Cindy dan Aldho keluar dari ruangan itu. Terlihat dari ekspresi wajahnya dia nampak lebih baik.
"Bagaimana perasaanmu sayang?" tanya Aldho.
"Lebih baik dari yang aku kira. Ternyata Dokter Sarah cukup menyenangkan" balas Cindy bersemangat.
"Masih ada waktu satu jam sebelum aku memulai praktek. Kamu mau pulang atau mampir ke suatu tempat?"
"Kita pulang saja. Tapi nanti malam belikan aku martabak favoritku"
"Dengan senang hati tuan puteri" Aldho semakin merapatkan rangkulannya. Kini dia sudah tidak canggung lagi memperlihatkan kemesraan di depan banyak orang. Toh dia masih memakai baju santai jadi tidak banyak pasien yang mengenalinya sebagai dokter.
.
Mama Grace terlihat cemas di rumah menunggu Cindy. Dia khawatir jika Cindy tidak mau menerima konselingnya. Tak lama kemudian Cindy terlihat sudah sampai di rumah.
"Cindy, bagaimana sayang konselingmu?"
Cindy nampak tersenyum lalu memeluk mamanya.
"Semua berjalan dengan baik ma, jangan khawatir" ucap Aldho menenangkan Mama Grace.
"Syukurlah sayang, semoga ini jadi yang terbaik untukmu" Mama Grace mengusap lembut kepala Cindy.
Bagaimanapun Cindy adalah anak perempuan satu-satunya yang dia miliki. Setelah semua kejadian yang menimpa Cindy membuat Mama Grace selalu cemas.
"Baiklah Cindy mau ganti baju dulu ma," Cindy berpamitan kepada Mamanya untuk menuju kamar.
"Aldho juga akan kembali ke rumah sakit ma"
"Tunggu Aldho" Mama Grace memeluk Aldho dengan erat. Dia benar-benar merasa bangga dengan Aldho.
"Aldho terimakasih banyak nak, jika bukan karena kamu Mama tidak tahu bagaimana menghadapi ini semua."
"Aldho juga berterima kasih banyak kepada Mama yang telah membesarkanku hingga menjadi seperti sekarang ini. Jika bukan Mama dan Ayah Aldho tidak akan tahu jadi apa. Karena Aldho tidak memiliki siapa-siapa selain kalian"
"Aldho, mama ingin bertanya sesuatu kepadamu"
"Baik ma, ada apa?"
"Jika saja orang tuamu masih ada apakah kamu akan kembali kepada orang tuamu dan meninggalkan Mama dan ayah?" Mama Grace nampak kembali cemas.
"Ma, orang tua Aldho adalah Ayah dan Mama. Mana mungkin Aldho meninggalkan kalian? Mama jangan banyak fikiran. Mama harus memikirkan kesehatan juga." Aldho kembali memeluk Mama Grace untuk membuatnya tenang.
"Maafkan mama nak" gumam Mama Grace lirih.
.
.
.
lanjut episode selanjutnya.