Baby Blues

Baby Blues
bab 72 tempat baru



Aldho mengerjapkan kedua matanya. Suara samar-samar Selina yang menangis lama kelamaan terdengar cukup keras hingga akhirnya dia tersadar dari tidur pulasnya.


"Sayang, kamu sudah bangun. Dimana mamamu?" Aldho mulai bangun dan beranjak untuk menggendong Selina sembari mencari keberadaan Cindy.


Dia mencari di toilet namun tidak ada kemudian dia melihat sebuah amplop putih tergeletak di atas bantal Cindy.


Sambil terus menggendong dan menenangkan Selina Aldho membuka amplop itu. Dia terkejut saat membaca setiap tulisan yang ternyata ditulis Cindy untuknya.


"Sayang, aku minta maaf aku sudah banyak membuatmu menderita. Aku sudah membuatmu merelakan cita-cita dan keinginanmu.


Aku juga bukan istri dan ibu yang baik untuk kalian. Aku berharap kamu bahagia dan bisa memilih seseorang yang bisa membahagiakanmu. Bukannya terus-terusan memberi beban sepertiku.


Aku titip Selina, aku percaya kamu bisa merawat dan membesarkannya dengan baik. Aku sangat mencintaimu sampai kapanpun tapi aku tidak bisa terus menahanmu disisiku.


^^^Yang selalu mencintaimu, Cindy"^^^


Aldho langsung lemas setelah membaca surat dari Cindy. Seolah tak percaya dia langsung menggeledah barang-barang milik Cindy dan benar saja dia sudah pergi. Tak cukup disitu Aldho berusaha menghubungi Cindy namun nomornya sudah tidak aktif.


Aldho segera mengajak Selina turun ke bawah mencari kedua orang tuanya. Ternyata mama Grace juga mendapat surat dari Cindy dan menangis sejadi-jadinya saat menyadari bahwa Cindy telah pergi dari rumah. Pak Tirta hanya terkulai lemas tak percaya. Sebelumnya dia berusaha menghubungi semua teman-teman Cindy namun dia tidak mendapatkan hasilnya.


Aldho yang tak percaya akan perginya Cindy hendak mencari menggunakan mobil namun Pak Tirta menahannya.


"Cindy sudah membuat keputusan ini. Mungkin dia sudah jauh" ungkap Pak Tirta.


"Tidak ayah, dia tidak mungkin meninggalkan aku dan Selina. Atas dasar apa dia pergi dariku" emosi Aldho kini tak dapat terbendung lagi.


Mama Grace dengan cepat mengambil alih Selina dan membawanya pergi. Membiarkan Aldho menenangkan dirinya dan dibantu Pak Tirta.


"Ayah, kenapa Cindy meninggalkan aku, apa dia tidak mencintaiku?" Aldho menangis sejadi-jadinya. Pak Tirta hanya bisa memeluk dan mendekap Aldho yang kini duduk bersimpuh di lantai.


Hatinya benar-benar hancur. Aldho tak pernah menyangka hal ini akan terjadi. Dia bahkan tidak sanggup membayangkan bagaiman nanti dia menjalankan hari-hatinya tanpa ada Cindy disisinya.


Sementara Cindy kini telah berada di dalam pesawat perjalanan menuju Italia.


Sebelumnya dia bertemu dengan tutornya yang membantunya mengurus semua beasiswanya.


"Cindy, nanti setelah sampai di bandara Malpensa Italia kamu akan dijemput oleh seorang wanita bernama Angel. Dia orang Indonesia juga staf di Accademia del lusso tempat kamu belajar. Jadi kamu bisa meminta bantuan apapun kepadanya. Semoga sukses Cindy." Ungkap Fara, tutor Cindy.


"Terimakasih kak Fara"


Setelah perjalanan sekitar 16 jam lamanya Cindy mengudara akhirnya dia sampai dan pertama kalinya memijakkan kakinya di negri Pizza tersebut. Dan disinilah Akhirnya Cindy mengadu nasib.


Cindy sedang menghubungi seseorang yang bernama Angel.


"Cindy?" sapa seorang perempuan cantik.


"Kamu Cindy kan? Aku Angel" ucap wanita itu kembali.


"Oh, iya aku Cindy. Senang bertemu denganmu" Cindy dan Angel saling berkenalan.


"Fara sering menceritakanmu. Dia juga memperlihatkan hasil rancanganmu yang luar biasa. Aku rasa kamu benar-benar berbakat Cindy" ungkap Angel.


Cindy hanya mengangguk pelan. Sebenarnya dia masih memikirkan tentang Aldho dan Selina. Ini untuk pertama kalinya dia jauh dari mereka.


Cindy dan Angel menaiki taksi dan menyusuri jalan-jalan kota Milan. Memang benar bahwa kota itu disebut pusat Fashion dunia. Merk-merk fashion terkenal dunia berjajar disepanjang jalan. Dipadukan dengan arsitektur bergaya khas Eropa menambah kesan manis kota tersebut.


Cindy dan Angel berhenti di jalan Via Monte Napoleone. Di sanalah sekolah fashion tempat Cindy akan belajar.


"Cindy kita sudah sampai" Cindy mengeluarkan barang bawaannya dibantu Angel. Dia mulai memasuki gedung tersebut.


Setelah menyelesaikan administrasi dia diantar Angel untuk beristirahat di salah satu asrama yang disediakan.


Cindy memasuki ruangan tersebut. Kamar sederhana yang akan jadi tempat tinggal Cindy selama disini.


Cindy mengeluarkan sebuah bingkai foto yang berisi potret dirinya, Aldho dan Selina. Dipandanginya wajah kedua orang tersebut lalu dia mendekapnya dengan erat.


Air mata sudah mengalir membanjiri wajah Cindy. Dia tak kuasa menahan kesedihannya.


"Kalian sedang apa sekarang? Aku berharap baik-baik saja" gumam Cindy dalam tangisnya.


.


Semenjak kepergian Cindy rumah terasa sangat sepi. Aldho lebih banyak diam begitu juga dengan Mama Grace dan Pak Tirta. Biasanya mereka selalu mengobrol dan menghabiskan waktu bersama saling bercanda namun kini terasa hampa.


Hanya Selina yang berhasil membuat suasana rumah itu sedikit hidup. Namun terkadang Selina masih rewel dan mencari keberadaan Cindy. Hal itu pula yang membuat semua orang bertambah sedih terutama Aldho.


Beberapa hari ini Aldho kehilangan selera makannya. Dia lebih sering menyendiri dan jarang sekali keluar rumah.


Setiap malam dia tak berhenti memikirkan Cindy, kadang dia menangis dengan terisak sambil memeluk baju Cindy sampai tertidur.


Mama Grace ikut prihatin melihat keadaan Aldho yang semakin kurus. Dia seolah kehilangan gairah hidup. Tubuhnya semakin tidak terawat.


Di rumah sakit Aldho juga berubah menjadi sosok yang pendiam dan penyendiri jauh. Jauh sekali dengan sosok Aldho yang dulu.


Kabar tentang kepergian Cindy cepat menyebar dan kini hampir semua staf rumah sakit tahu bahwa Cindy telah pergi meninggalkan Aldho.


Renata dan Viona yang mendengar Cindy telah pergi dari rumah merasa sangat bahagia. Akhirnya apa yang dia inginkan terwujud.


Tak henti-hentinya mereka berusaha membuat rencana agar Aldho kembali dekat dengan Renata namun hal itu sia-sia. Aldho tetap tidak bergeming dan kini semakin misterius.


"Tante, aku harus bagaimana? Aldho masih saja cuek kepadaku" rengek Renata.


"Sabar dong sayang, kamu harus berusaha mendekatinya lebih keras lagi. Setidaknya penghalangnya sudah pergi" ucap Viona penuh kepercayaan diri.


.


Seminggu berlalu.


Aldho sedang sibuk menemani Selina. Sesekali dia mengecek ponselnya siapa tahu ada sebuah keajaiban Cindy menghubunginya. Namun semua itu hanyalah harapan belaka.


"Aldho, makan malam yuk. Mama buatkan opor ayam kesukaan kamu" Mama Grace menghampiri Aldho di kamarnya.


"Nanti saja ma, Aldho belum pengen makan" balas Aldho cuek.


Mama Grace mendekati Aldho dan mengusap punggung tangannya. Memperhatikan jemarinya yang mulai ikut kurus.


"Dari pagi kamu belum makan Aldho, jangan siksa dirimu seperti ini. Lihatlah Selina, jika bukan untukmu setidaknya untuknya. Dia membutuhkanmu Aldho, dan Mama hanya punya kamu" Mama Grace berusaha membujuk Aldho.


"Ma, aku sangat merindukan Cindy. Aku terus khawatir dengan keadaannya" Aldho kembali terisak. Mama Grace segera memeluk putranya tersebut.


"Mama juga sayang, untuk itu Mama mohon bertahanlah"


Selina yang melihat Aldho dan Mama Grace saling berpelukan segera berlari dan ikut memeluk Aldho.


"Papa...."


...****************...