
Roger begitu bingung. Dia harus memilih salah satu diantara perusahaan atau menikah dengan Cindy.
Namun mendengar perkataan ibunya yang akan memberikan perusahaan kepada Alex saudara tirinya membuat Roger tidak tahan. Baginya reputasi diatas segalanya. Dia tidak mau jika seumur hidupnya harus hidup dibawah Alex sehingga dengan berat hati Roger terpaksa merelakan Cindy.
Pagi-pagi sekali sebelum fajar Roger mengemasi barang-barangnya. Tidak banyak hanya beberapa pakaian dan berkas-berkas yang diperlukan. Dia keluar rumah disaat semua orang masih tertidur. Kebetulan petugas keamanan dirumahnya sedang pergi ke toilet sehingga dengan cepat dia bisa keluar dari rumah.
Di luar taksi online yang dia pesan sudah menunggu.
Dengan berat hati Roger meninggalkan semua yang ada di rumah.
"Maafkan aku ayah" gumam Roger lirih.
Mobil terus melaju menuju bandara. Sebenarnya jadwal penerbangannya masih pukul 8 pagi namun Roger sengaja pergi lebih awal agar tidak ada yang tahu kepergiannya.
Roger menunggu di bandara sembari memeriksa ponselnya. Dia harus segera mengganti nomor ponselnya agar tidak ada yang bisa menghubunginya.
Saat keberangkatannya tinggal setengah jam lagi tiba-tiba seseorang memanggilnya dari belakang.
"Pak Roger?"
Roger menoleh dan ternyata itu adalah Dokter Helena. Dokter yang biasa memeriksa kandungan Cindy.
"Bu Dokter. Bu dokter sedang apa disini?" sapa Roger.
"Oh, saya sedang menunggu kerabat yang datang dari Paris. Pak Roger sendiri sedang apa? dimana Bu Cindy?" tanya Dokter Helena sembari mengedarkan pandangannya mencari Cindy.
"em, saya akan keluar kota. Apa bu dokter masih lama disini?"
"ya, mungkin masih setengah jam lagi. Ada apa?"
"tunggu sebentar" tiba-tiba Roger berlari ke sebuah pusat informasi untuk meminta kertas dan alat tulis. Dia mencoba menuliskan sesuatu lalu memberikan kepada dokter Helena.
"Bu dokter, jika bertemu Cindy tolong berikan surat ini" Roger menyodorkan sebuah kertas.
"tapi.. anda, mau kemana?"
"Maaf, saya tidak ada waktu lagi. Permisi" Roger berdiri dan segera pergi meninggalkan dokter Helena.
.
Cindy merasa malas untuk bangun pagi ini. Dia mengusap-usap wajahnya lalu mulai menggeliat. Perlahan dia mengedarkan pandangannya. Tidak ada yang berbeda. Ruangan yang biasa dia tempati untuk istirahat.
Tiba-tiba perutnya serasa seperti dikocok membuatnya menjadi mual. Dia buru-buru berlari ke toilet.
"Cindy, kau dimana?" teriak Aldho saat memasuki kamar.
Cindy tidak menjawab hanya suara gemericik air serta suara Cindy sedang memuntahkan sesuatu. Aldho segera menghampiri Cindy.
"Cindy kau mual lagi?" Aldho mencoba membantu Cindy dengan memijat tengkuknya.
"Tubuhku terasa sangat lemas kak" Cindy menyandarkan tubuhnya ke tembok dan langsung ditangkap oleh Aldho. Dia langsung menggendong Cindy dan menidurkannya ke ranjang.
Aldho mengambil alat tensi dan yang lainnya.
"Ada apa Aldho?" tanya Mama Grace saat berpapasan.
"Sepertinya Cindy sakit ma"
Mama Grace segera mengikuti Aldho ke kamar Cindy. Begitupun pak Tirta menyusul mereka.Memeriksa kondisi Cindy.
"Tekanan darahnya 90/100 yah, sepertinya dia mengalami dehidrasi. Kemarin seharian tidak mau makan" ucap Aldho.
"Baiklah ayah akan menyiapkan cairan infus"
Memiliki keluarga seorang dokter memudahkan Cindy untuk penanganan kesehatannya.
Cindy hanya diam dengan tatapan hampa. Gairahnya seakan hilang karena ulah Roger yang berkali-kali membuatnya kecewa.
Selang infus terpasang di tangan kiri Cindy. Dia tetap tidak bergeming walaupun Mama Grace terus membujuknya untuk makan.
"Ma, biar aku saja" Aldho meminta piring yang dibawa Mama Grace.
"Cindy, makanlah walaupun sedikit. Kau tidak bisa menghukum dirimu seperti ini. Ini bukan kesalahanmu"
Cindy yang semula diam kini mulai menatap Aldho.
Mendengar hal itu membuat hati Aldho ikut sakit. Kejadian yang tidak menyenangkan terus dialami Cindy.
"Kemari, adikku sayang. Ini adalah proses untuk menguatkan dirimu. Jika kamu mampu melewati semua ini maka kamu akan menjadi orang yang luar biasa" Aldho memeluk Cindy untuk menenangkan.
"Tapi ini semua rasanya tidak adil"
"Aku tahu itu. Ujian setiap orang pasti berbeda. Tapi kita harus menghadapi semuanya di depan mata. Kau punya aku, mama dan ayah. Kami semua menyayangimu"
Cindy merasa sedikit lega atas apa yang Aldho ucapkan. Mengingat keluarganya yang begitu menyayanginya sudah membuat Cindy merasa aman.
"Mulai sekarang, sayangilah dirimu sendiri dan jangan menyulitkannya. Tubuhmu sudah bekerja keras untukmu tolong jangan hukum dia terus-terusan"
Bujukan Aldho berhasil dan kini Cindy sudah mau makan makanan yang disiapkan. Dengan telaten Aldho menyuapi Cindy sampai habis.
Mama Grace begitu lega. Hanya Aldho yang bisa menaklukkan keras kepalanya Cindy.
.
Dua minggu berlalu, keadaan Cindy sudah mulai membaik. Aldho masih setia menemani dan tidur di sofa kamar Cindy. Sebenarnya Cindy tidak tega melihat Aldho setiap hari hanya tidur di sofa kecil namun dia masih canggung untuk mengatakan jika Aldho boleh tidur seranjang bersamanya.
"Cindy hari ini jadwalmu periksa ke dokter kan?" tanya Mama Grace.
"Iya ma,"
"Baiklah nanti Mama yang menemanimu"
Aldho mendengar percakapan kedua orang tersebut dan langsung menyahutnya.
"Biar aku saja ma, Hari ini jadwal praktekku sore. Pagi ini saja aku antar Cindy" jawab Aldho.
Mama Grace mengiyakan saja. Setidaknya jika bersama Aldho membuat Cindy bisa lebih tenang.
Cindy bersiap-siap untuk ke dokter kandungan begitupun juga Aldho. Tak lama mereka sampai di rumah sakit tempat Cindy periksa yang sama dengan tempat Aldho bekerja.
Sebelumnya Cindy sudah mendaftar dari rumah sehingga membuatnya tidak terlalu mengantri.
"Selamat Pagi Bu Cindy, bagaimana kabar anda?" sapa Dokter Helena.
" Selamat pagi Bu Dokter, kabar saya baik"
"Pak dokter Aldo, selamat pagi. Anda yang mengantar hari ini?" ucap dokter Helena saat melihat Aldho.
"Selamat pagi bu dokter. Ya jadwal praktek saya sore hari jadi bisa mengantar" balas Aldho.
Dokter mempersilahkan Cindy untuk berbaring dan dia memeriksa Cindy dengan begitu telaten.
"Hasilnya semua baik hanya tekanan darahnya yang sedikit rendah, perbanyak asupan makanan yang kaya protein" ucap Dokter Helena.
"Terimakasih dokter" balas Cindy saat menerima resep dokter.
"Emm, Bu Cindy. Saya ingin memberikan sesuatu. Beberapa saat lalu saya tidak sengaja bertemu Pak Roger. Dia menitipkan ini padaku" ucap Dokter Helena sembari memberikan secarik kertas.
Mendengar nama Roger membuat hati Cindy seakan dihujam pisau. Nama itu kembali terngiang di telinganya.
"Apa ini dok?" tanya Cindy ragu.
"Maaf, saya tidak tahu. Mungkin anda bisa melihatnya sendiri"
Akhirnya dengan tangan gemetar Cindy menerima kertas tersebut dan membukanya.
Cindy membaca dengan seksama isi surat itu. Air matanya berhasil meloloskan diri dari sarangnya.
"Cindy. Kamu baik-baik saja?" Aldho mulai sedikit panik.
Cindy langsung menghamburkan dirinya ke pelukan Aldho. Tangisannya tak terbendung lagi.
"Kak Aldho, dia sangat jahat"
.
.
.