
"Aku ini ibumu yang melahirkanmu, aku berhak mendapat perhatian dari anakku kan?" ucapan itu terlontar dari mulut Bu Viona membuat Aldho semakin muak.
"Anda memang ibu yang melahirkanku. Tapi aku juga tidak pernah meminta untuk dilahirkan." Hati Aldho bagai teriris kala mengatakan hal itu. Walaupun tidak sepatutnya dia bicara kasar kepada ibunya.
"Maafkan ibu Aldho, saat itu ibu mengalami masa yang sulit. Sekarang aku ingin memperbaiki semuanya. Ku mohon ikutlah denganku" Bu Viona mulai menangis di hadapan Aldho.
Aldho mengusap wajahnya dengan kasar. Dia bingung harus berbuat apa. Namun setiap kali melihat wajah wanita itu hatinya sungguh perih.
"Ya Tuhan, kenapa takdir harus membuatku bertemu dengannya?" gumam Aldho dalam hati.
Tanpa banyak berkata Aldho langsung berjalan pergi meninggalkan Bu Viona sendirian.
Dia menatap nanar wajah Mama Grace. Wanita yang selalu memprioritaskan dirinya bahkan berani mengorbankan apapun untuknya.
Aldho langsung menghampiri mamanya dan mencium tangannya.
"Ma, selamanya Aldho adalah putra Mama Kan? meskipun aku bukan anak kandung mama" sambil berkaca-kaca Aldho memeluk mamanya.
"Tentu saja sayang, kamu adalah anak mama selamanya"
Suasana berubah menjadi haru. Aldho benar-benar tidak ingin berpisah dari keluarganya saat ini. Pak Tirta turut memeluk Aldho begitu juga Cindy. Bak satu kesatuan keluarganya harus utuh sampai kapanpun.
Bu Viona dan Pak Theo menatap dari kejauhan. Jika Pak Theo melihat dengan senang tidak bagi Bu Viona. Dia begitu cemburu melihat Aldho yang dekat dengan keluarga angkatnya.
Namun sayang sekali Bu Viona tidak pernah menyadari bagaimana perasaan Aldho. Hatinya yang begitu sakit karena ibunya sendiri yang enggan menerimanya dan memilih membiarkan di panti asuhan.
.
Saat perjalanan pulang Cindy dan Aldho tak banyak mengobrol. Aldho masih merenungi apa yang telah terjadi hari ini. Dia masih bingung dan sulit menerima kedua orang tua kandungnya terutama Bu Viona.
Sementara Cindy tenggelam dalam lamunannya. Ternyata apa yang dia pikirkan terjadi. Aldho dan Roger adalah saudara sedarah meskipun sifat mereka jauh berbeda.
"Sayang, kamu baik-baik saja kan?" Aldho berusaha mengajak Cindy mengobrol.
"emm.. iya sayang aku baik. Bagaimana perasaanmu?" tanya Cindy.
"Sedikit bingung. Aku besar denganmu dengan orang tua kita dan sekarang aku harus menerima kenyataan tentang orang tua kandungku. Aku masih sulit menerimanya Cindy"
Cindy menyadari perasaan Aldho. Kini dia hanya ingin menghibur suaminya dan tak ingin menambah beban untuknya.
"Sayang apa kamu sibuk malam ini?" tiba-tiba Cindy bertanya kepada Aldho.
"Tidak, jadwalku kosong. Ada apa?"
"Bagaimana jika kita menginap di pondok? Sudah lama sekali kita tidak kesana"
Aldho langsung mengangguk. "Sepertinya itu bukan ide yang buruk"
Akhirnya Aldho dan Cindy pulang untuk mempersiapkan bekal serta berpamitan kepada orang tuanya agar tidak khawatir.
Pondok yang dimaksud Cindy adalah sebuah cottage atau rumah singgah peninggalan neneknya yang berada di dekat kebun teh. Hawa sejuk serta pemandangan yang indah sangat cocok untuk menenangkan diri.
Aldho sudah menyiapkan semua yang diperlukan. Mulai dari makanan serta pakaian. Setelah memastikan keadaan Cindy yang baik-baik saja akhirnya mereka berangkat.
Satu jam lebih berkendara akhirnya Cindy dan Aldho sampai di pondok. Bangunan kecil dengan nuansa kayu di hampir semua bagian ruangannya.
"Selamat sore non Cindy, mas Aldho" sapa Pak Fahri penjaga pondok.
"Selamat sore pak Fahri apa kabar?" balas Aldho.
"Baik mas. Sini saya bantu bawakan barang-barangnya" Pak Fahri membantu membawakan barang-barang Aldho dan Cindy.
Setelah selesai meletakkan barang-barang Cindy langsung berbaring di atas ranjang. Duduk lama di mobil membuat punggungnya terasa sakit.
Aldho menyusul dan tidur miring menghadap Cindy.
"Apa yang kamu lihat?" tanya Cindy saat Aldho memandangi dirinya.
"Aku melihat istriku. Dia terlihat sangat cantik" puji Aldho.
Cindy langsung tertawa mendengar kata-kata Aldho yang terkesan meledek. Padahal saat ini Cindy sedang tidak memakai riasan apapun.
"Apa kamu meledekku? aku sangat kucel saat ini. Tidak pakai make up bahkan tidak menyisir rambut"
Aldho kini justru semakin mendekati Cindy. Dia menelangkup kedua pipi Cindy dengan tangannya.
"Kamu selalu tampak cantik di mataku." Suara berat Aldho nampaknya mulai menghipnotis Cindy.
Sedetik kemudian Aldho sudah bangkit dan duduk di tepi ranjang. Cindy ditarik olehnya dan duduk di atas pangkuan Aldho.
Aldho mulai mendekatkan bibirnya untuk mencium Cindy. Namun tiba-tiba Cindy menghentikannya dan langsung beringsut turun dari pangkuan Aldho.
"Emm.. sebaiknya kita siapkan makan malam dulu" ucap Cindy sembari bersiap meninggalkan kamar.
Aldho hanya diam heran. Sikap istrinya memang tak biasa namun hal itu bisa dimaklumi karena hari mulai petang dan mereka harus menyiapkan makan malam.
Cindy terus berjalan menuju dapur sembari mendekap dadanya. Entah kenapa kali ini Cindy merasa ingin menjauh dari Aldho. Biasanya dia sangat suka di dekat Aldho namun setelah mengetahui fakta bahwa Aldho yang bersaudara dengan Roger membuat hati Cindy terasa ngilu.
Semua hal yang berkaitan dengan Roger masih terasa perih untuk Cindy mengingat perbuatan Roger yang benar-benar menghancurkannya.
Aldho menyusul Cindy yang sedang memasak di dapur. Dia melihat istrinya yang begitu sibuk langsung turun tangan membantunya.
"Aku bantu ya, kamu jangan terlalu lelah" Aldho membantu mengupas sayur dan buah.
Sementara Cindy masih fokus dengan pekerjaannya. Suasana cukup hening kemudian Aldho mulai menjahili Cindy dengan sesekali menciuminya. Namun hal itu tak serta membuat Cindy bereaksi. Hanya beberapa senyuman kecil yang menghiasi wajah cantiknya.
Hingga saat makan malam pun Cindy tak banyak bicara. Dia menyelesaikan makan malamnya dan membereskannya. Setelah itu dia langsung pergi ke kamar merebahkan diri.
"Sayang apa kamu mengantuk? tak ingin lihat pemandangan di luar?" Aldho membelai rambut Cindy.
"Hmmm... aku mengantuk. Badanku rasanya lelah" mendengar keluhan Cindy membuat Aldho merasa iba.
"Mau aku pijitin?" Aldho mulai memegang betis Cindy untuk memijitnya namun langsung ditolak olehnya.
"Tidak usah, aku mau tidur saja. Kak Aldho mau keluar tidak apa-apa aku disini saja" Cindy mulai memejamkan matanya.
"Baiklah, aku keluar sebentar ya. Selamat beristirahat cintaku" Aldho mencium kening Cindy dan membetulkan selimutnya sebelum meninggalkan kamar.
Sesaat Aldho meninggalkan pondok Cindy kembali membuka matanya. Sebenarnya dia tidak mengantuk hanya saja dia sedikit menjaga jarak dari Aldho.
Setiap kali menatap wajah Aldho dia selalu teringat Roger. Dan ingatan itu selalu saat Roger menodainya.
"Maafkan aku Kak Aldho. Aku tidak pernah bermaksud menyakitimu. Aku hanya butuh waktu untuk menyesuaikan diri. Aku begitu benci dengan pikiranku" Tak terasa air mata meleleh membasahi pipi Cindy.
.
.
.
...----------------...